Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Peraih Nurtanio Award Dr.-Ing. Ir. Wahyudi Hasbi, S.Si., M. Kom. dan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture Prof. Premana Wardayanti Premadi, Ph.D., Foto oleh Diky Andika
Berita

Dedikasi Riset Pengembangan Satelit Antariksa Nasional Antarkan Wahyudi Hasbi Raih Nurtanio Award 2025

Penulis
Dimas Wahyudi
Jumat,
28 November 2025

Jakarta, 27 November 2025 - Ajang apresiasi terbesar kepada insan, tokoh, ilmuwan, dan profesional terbaik bangsa di bidang dirgantara dan antariksa, Nurtanio Award dan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture, kembali digelar oleh BRIN di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis, (27/11), menandai penyelenggaraan keempat sejak pertama kali diadakan pada 2022.

Pemenang Nurtanio Award

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit yang sekaligus Peneliti Ahli Utama BRIN, Dr.-Ing. Ir. Wahyudi Hasbi, S.Si., M. Kom. ditahbiskan sebagai pemenang Nurtanio Award tahun 2025 ini. Apresiasi yang sangat tepat sasaran dengan perjalanan karier dan kontribusi keilmuannya yang merentang setidaknya 22 tahun pada dunia penerbangan dan antariksa nasional. 

Wahyudi Hasbi lahir di Biak, Papua, pada 25 Oktober 1976. Ia menamatkan pendidikan sarjana di Departemen Fisika, Universitas Hasanuddin, dan mendapat gelar magister di bidang Ilmu Komputer, Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2020 lalu, ia berhasil menamatkan pendidikan doktornya dari Technische Universität Berlin, tak main-main, ia lulus dengan predikat summa cum laude. Selain itu ia juga mendapatkan gelar Insinyur Profesional tahun 2022 dari Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia.

Sejak pertama kali berkarier di LAPAN tahun 2003, tangan dinginnya telah memainkan peran penting dan strategis dalam banyak proyek-proyek teknologi satelit, di antaranya LAPAN-TUBSAT, mikrosatelit Indonesia pertama. Ia juga ditunjuk sebagai Chief Engineer dalam pengembangan satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI (2010-2013) dan LAPAN-A3/LAPAN-IPB. Teknologi yang ia kembangkan menyumbang kontribusi besar pada mitigasi dan komunikasi saat bencana, pemetaan sumber daya, hingga pertahanan dan keamanan. Atas jasa dan kontribusinya, ia juga mendapat anugerah Satyalancana Wira Karya dari Presiden Repuplik Indonesia (2016).

Sebagai seorang peneliti, ia juga produktif menerbitkan berbagai karya tulis ilmiah. Tak kurang dari 70 judul tulisan, baik yang ditulis sendiri maupun berkolaborasi dengan periset lainnya pada skala nasional maupun internasional (Scopus h-index:7 dan google scholar h-index: 8). Ia juga pemilik dari berbagai macam paten yang terkait dengan teknologi mikrosatelit, sistem satelit, komunikasi satelit, dan teknik komunikasi. 

Pemenang Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture 

Panggung penghargaan dan orasi ilmiah Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture dipersembahkan kepada Prof. Premana Wardayanti Premadi, Ph.D., seorang profesor astrofisika dan kosmologi dari Program Studi Astronomi, ITB. Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Peran Sains dan Teknologi Antariksa dalam Upaya Memahami Diri dan Semesta”, ia menguraikan peran pengetahuan antariksa dalam membuka pemahaman mengenai alam semesta sekaligus kontribusinya terhadap pengembangan ilmu lintas disiplin di Indonesia.

Nama Prof. Premana tentu bukan nama asing di dunia astronomi nasional. Perempuan kelahiran Surabaya, 13 Juli 1964 ini berhasil menamatkan pendidikan astronominya dari ITB pada tahun 1988, dan kemudian mendapat gelar doktor dari University of Texas at Austin, Amerika Serikat pada tahun 1996. Ia adalah perempuan Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar doktor di bidang astrofisika. 

Pada periode tahun 2018-2023, ia menjadi orang nomor satu di Observatorium Bosscha, menjadikannya perempuan pertama yang mengepalai observatorium tersebut sejak pertama kali beroperasi memandang galaksi Bima Sakti dari langit Bandung pada tahun 1923 lalu. Namanya juga abadi menjadi nama salah satu batu pada sabuk asteroid utama Bima Sakti, yaitu Asteroid 12937 Premadi. Nama astronom Indonesia pertama yang melayang bersama hampir dua juta asteroid lainnya di antara planet Jupiter dan Mars.

Karya dan penelitiannya menyumbang fondasi penting pada pengembangan teknologi teleskop di berbagai belahan dunia. Tulisannya mengenai Simulasi Komputasional Lensa Gravitasi Kosmologis terhadap Distribusi Supernova dirujuk dalam rancangan program saintifik teleskop ultra modern Legacy Survey of Space and Time Rubin Observatory yang baru beroperasi tahun 2025 dan Nancy Grace Roman Space Telescope yang akan diluncurkan tahun 2027 mendatang. 

Sadar bahwa pencapaiannya seperti saat ini telah didorong oleh rasa keingintahuan sejak kecil, ia juga mendekatkan pengetahuan astronomi kepada anak usia 4-10 tahun melalui proyek Universe Awareness for Children (UNAWE) Indonesia yang menjadi bagian dari UNAWE Internasional. Keinginannya untuk menyebarkan pengetahuan astronomi juga menyasar masyarakat daerah yang selama ini tak banyak tersentuh oleh pamor astronomi modern, salah satunya terwujud dalam peran strategisnya dalam pengembangan Observatorium Nasional Timau di Kupang. 

Atas berbagai kontribusi karya, sumbangsih keilmuan, kepemimpinan, dan kiprahnya mempromosikan astronomi sebagai sarana pendidikan, Prof. Premadi dianugerahi Honorary Fellowship dari Royal Astronomical Society (RAS) tahun 2023, perhimpunan ilmuan bidang astronomi paling bergengsi di dunia yang berkantor di London, Inggris. 

“Saya ingin sekali mengatakan bahwa mimpi kita belum selesai, masih banyak yang ingin kita lakukan bersama-sama”, tutup perempuan yang telah melewati banyak batas yang belum pernah ditembus oleh perempuan Indonesia sebelumnya ini.

Dukungan Penuh LPDP untuk Apresiasi Ilmuwan

Program Apresiasi Talenta Riset dan Inovasi yang diselenggarakan oleh BRIN tiap tahunnya ini adalah kegiatan strategis yang didukung oleh LPDP, khususnya terkait dengan pemberian insentif penghargaan bagi pemenang. Ilmuwan peraih Nurtanio Award berhak mendapatkan apresiasi insentif tunia sebesar Rp400 juta. Sementara untuk peraih Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture mendapat Rp25 juta. 

Kepala BRIN, Prof. Arif Satria juga hadir dan menyerahkan penghargaan secara langsung. Dalam sambutannya, ia turut menjelaskan semangat para talenta riset dan inovasi dalam embaga yang dipimpinnya harus bergerak dan berkolaborasi dalam mengawal era 5.0, “isu sustainability, isu humanity, dan isu resiliency, itu tiga isu yang harus dikawal dalam transformasi teknologi di Indonesia, sehingga yang kita bangun adalah peradaban”, ungkapnya. 

Berita Terkait

LPDP Pastikan Dukungan Penuh Dana Indonesiaraya, Ingin Tingkatkan Partisipasi Pelaku Budaya di 15 Provinsi Termasuk Daerah 3T

Berita | 05-05-2026

LPDP Pastikan Dukungan Penuh Dana Indonesiaraya, Ingin Tingkatkan Partisipasi Pelaku Budaya di 15 Provinsi Termasuk Daerah 3T

LPDP Danai Riset Bestari Saintek  dan Semesta tahun 2026 untuk Perkuat Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Lintas Sektor

Berita | 04-05-2026

LPDP Danai Riset Bestari Saintek dan Semesta tahun 2026 untuk Perkuat Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Lintas Sektor

LPDP Buka 6 Program Beasiswa Co-Funding di Empat Negara, Peluang Lebih Besar bagi Calon Pendaftar

Berita | 20-04-2026

LPDP Buka 6 Program Beasiswa Co-Funding di Empat Negara, Peluang Lebih Besar bagi Calon Pendaftar