Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Kegiatan CoP Kereta Cepat Merah Putih
Berita

Kereta Cepat Merah Putih, Jalan Panjang Menuju Kemandirian Transportasi Nasional

Penulis
Tony Firman
Rabu,
18 Juni 2025

Jakarta, 17 Juni 2025 - Di tengah geliat pembangunan infrastruktur transportasi nasional, wacana kemandirian teknologi kereta api berkecepatan tinggi kembali mencuat. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama pemangku kepentingan strategis menggelar forum Community of Practice (CoP) bertajuk “Kereta Cepat Merah Putih” pada Selasa (17/5) pagi guna menajamkan arah keberlanjutan proyek ini.

Para narasumber terdiri dari Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) Dr. Ir. Hermanto Dwiatmoko, M.Sc., IPU, ASEAN Eng sekaligus moderator acara, Direktur Sarana Perkeretaapian, Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Pandu Yunianto, ATD, M.Eng.Sc, Koordinator Divisi Kereta Api dan Transportasi Berkelanjutan (eks PT INKA) Dr. Ir. Yunendar Aryo Handoko, IPM, MM dan Direktur Pengembangan PT INKA (Persero Roppiq Lutfi Azhar.

Dalam sambutannya, Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto menekankan tentang pentingnya riset transformasional yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tapi juga berdampak nyata pada industri.

“Kereta Cepat Merah Putih (KCMP) bukan sekadar proyek infrastruktur, ini simbol kemandirian teknologi nasional. LPDP telah mengalokasikan Rp39 miliar untuk mendanai riset dari 19 tim perguruan tinggi,” ujar Ayom.
 

Pengembangan kereta cepat buatan anak bangsa memang sudah berjalan. Salah satunya yang sempat ramai di publik adalah hasil rancang bangunan eksterior dan interior dari kereta cepat yang dilakukan oleh peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Proyek riset ini dapat berjalan hingga selesai dengan pendanaan dari LPDP melalui program Riset Inovatif Produktif (RISPRO) Kompetisi.

Woosh buatan Tiongkok telah sukses menancapkan tonggak sebagai angkutan kereta cepat yang sanggup memangkas jarak Jakarta dan Bandung menjadi kurang dari satu jam. Namun KCMP berbeda. Ini adalah inisiatif terpisah yang sebenarnya telah digagas pemerintah Indonesia dan berjalan mendapat dukungan pendanaan dari LPDP dan dikerjakan oleh berbagai institusi dan peneliti anak bangsa.

Pandu Yunianto menjelaskan bahwa proyek KCMP didasarkan pada Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) yang didefinisikan sebagai moda transportasi kereta dengan kecepatan di atas 200 km/jam. Rencananya, KCMP dirancang dengan kecepatan operasional 200 km/jam dan kecepatan desain 220 km/jam.

“KCMP adalah kereta cepat buatan Indonesia. Ini bukan upgrade atau pengembangan dari proyek Woosh, tapi jalur dan sistem yang berdiri sendiri,” ungkap Pandu.

Peta jalan perkeretaapian nasional tertuang dalam PM No. 296/2020 menetapkan rute Jakarta-Bandung diteruskan ke Jogja dan Surabaya. Namun rute ini masih menjadi kajian lebih dalam terutama terkait efisiensi dan memunculkan opsi jalur utara yaitu melewati Semarang dan berakhir di Surabaya.

Sementara Yunendar Aryo Handoko menyebut bahwa inisiatif KCMP muncul sebagai respons terhadap keterbatasan transfer teknologi Whoosh. Ia menilai keberhasilan Whoosh patut diapresiasi, tapi tidak cukup untuk membangun industri kereta cepat dalam negeri.

“Whoosh memberikan pelajaran penting, tapi jangan berhenti sebagai pengguna. Kita harus kuasai desain sistem, mulai dari bogie, interior, sistem rem, hingga telekomunikasi. Itu misi utama KCMP,” tegas Yunendar.

Adapun roadmap KCMP mencakup tahap perancangan desain awal (2020–2023), validasi teknis dan audit standar (2024–2025), produksi komponen dan prototipe uji (2026), dan terakhir uji fungsi dan integrasi sistem (2027).

Sejak 2019, tim riset telah mengelompokkan pekerjaan proyek besar ini ke dalam empat klaster, yaitu Carbody & Bogie dikerjakan ITB, UGM, UNS, Interior & Exterior dikerjakan ITS, Telkom University, Politeknik Negeri Madiun, Propulsi dan Sistem Rem dikerjakan UNS, UNDIP dan Prasarana & Operasi oleh Telkom University.

Ada lebih 19 tim riset yang mengerjakan proyek KCMP di berbagai institusi kampus yang terlibat. Penelitian mencakup seluruh klaster teknologi seperti carbody dan bogie, sistem propulsi dan kontrol, interior-eksterior, serta prasarana dan operasional.

Proyek ini juga membuka peluang bagi UKM dan industri tier 1 sampai 3 sebagai penyedia komponen lokal untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

Pengujian struktur carbody dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sementara crashworthiness test dikerjakan oleh ITB. Untuk bogie, proses desain dan fatigue test masih menunggu slot pengujian karena antri dengan proyek KRL Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Sejauh ini secara keseluruhan telah ada 26 judul riset dari konsorsium, menghasilkan 16 publikasi internasional, 9 kekayaan intelektual, serta melibatkan 150 mahasiswa dalam proyek berbasis studi.

INKA Siap Memproduksi Kereta Cepat Merah Putih

PT INKA ditunjuk sebagai pihak utama dalam pengembangan dan manufaktur sarana Kereta Cepat Merah Putih (KCMP). Peran INKA tidak hanya sebagai perakit akhir, tetapi juga sebagai sistem integrator penuh, dari desain teknis, pengujian, sampai sertifikasi.

Direktur Pengembangan PT INKA Roppiq Luthfi Azhar menyatakan kesiapan industrinya sebagai integrator nasional. Ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki kemampuan manufaktur untuk kereta cepat.

Roppiq menyampaikan bahwa PT INKA telah menyelesaikan berbagai aspek penting, di antaranya desain dan uji carbody, termasuk crashworthiness, desain dan JIG untuk bogie telah siap dan uji fatigue masih antre di BRIN, testbed sistem propulsi skala kecil sudah dibangun, pengadaan vendor untuk sistem interior dan HVAC sedang berjalan, dan test track sepanjang 1 km tengah disiapkan di Banyuwangi untuk pengujian dinamis kereta.

“INKA siap memanufaktur kereta kecepatan tinggi ini. Kemampuan carbody sudah kami siapkan, artinya sudah siap uji untuk proses selanjutnya,” ujar Roppiq.

PT INKA kini mengandalkan dua fasilitas utama yaitu di Madiun dengan fokus pada engineering, perakitan kereta konvensional serta di Banyuwangi yang dirancang khusus untuk kereta berbasis teknologi tinggi (seperti KCMP), termasuk fasilitas aluminium line, stainless line, dan lintasan uji (test track) dengan parameter presisi tinggi.

Namun sederet kendala dalam proyek panjang KCMP juga perlu menjadi perhatian dan penyelesaian. Beberapa diantaranya seperti perlunya sinergi chemistry antar tim riset dari berbagai universitas yang berbeda agar lebih optimal, perlunya institusi utama yang memimpin integrasi teknologi, logistik, hingga sertifikasi hingga perlunya revisi regulasi UU No. 23/2007 dan PM 296/2020 yang dinilai belum sepenuhnya mendukung kereta cepat generasi baru.

Dalam penutupnya Ayom mengatakan posisi LPDP dapat sebagai katalis yang tidak cuma memberi pendanaan, tetapi siap menjadi kurator arah riset nasional yang sejalan dengan proses evaluasi para penerima dana riset.

Pada akhirnya, Kereta Cepat Merah Putih bukan proyek satu institusi atau satu dekade. Ini adalah proyek lintas generasi, simbol bahwa Indonesia bisa mengakselerasi lompatan teknologi berbasis pada kekuatan nasional.

Berita Terkait

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

Berita | 20-04-2026

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Berita | 15-04-2026

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul

Berita | 10-04-2026

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul