Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Prototipe BRAJA WX-1, radar uaca non-polarimetrik buatan anak bangsa. Dok Tim Periset
Berita

Perkuat Mitigasi Bencana dengan Riset Braja WX-1, Radar Cuaca Non-Polarimetrik Buatan Dalam Negeri

Penulis
Tony Firman
Selasa,
2 Desember 2025

Jakarta, 2 Desember 2025 – Akhir pekan di penghujung November adalah duka di Sumatera. Banjir besar disertai tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membawa ratusan korban jiwa, hancurnya infrastruktur, dan ribuan orang mengungsi. Indonesia sebagai negara kepulauan kerap dihadapkan pada ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan lainnya. Dalam kondisi krisis iklim saat ini, bencana alam tidak lagi hanya murni anomali, tetapi karena perubahan ekstrim yang didorong oleh aktivitas manusia yang telah mengganggu keseimbangan lingkungan.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan peningkatan bencana yang signifikan. Hingga per awal Desember 2025, tercatat ada 2.987 kejadian bencana alam di seluruh Indonesia, di mana mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi, dengan 1.502 kejadian banjir yang terdata. Urgensi mitigasi bencana di Indonesia saat ini semakin besar, terlebih dengan adanya bencana di Sumatera yang baru terjadi.

Mitigasi bencana mutlak dilakukan di era krisis iklim global sekarang. Pemberian pemahaman peningkatan kemampuan menghadapi bencana saja tidak cukup. Ia harus berdampingan dengan intervensi penggunaan teknologi mutakhir. Pengembangan radar cuaca yang diberi nama BRAJA WX-1 sedang dilakukan oleh Pusat Standardisasi Instrumen Meteorologi, Klimatologi, dan. Geofisika.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan. Geofisika (BMKG) memiliki peran vital dalam mendiseminasikan informasi cuaca untuk mitigasi. Meskipun telah mengoperasikan 192 stasiun pengamatan dan 41 radar cuaca, Indonesia menghadapi tantangan besar karena kondisi geografisnya. Kekurangan perangkat radar cini menyebabkan keterbatasan jangkauan. Jaringan radar statis yang ada belum mampu mencakup seluruh wilayah, menyisakan area 'blankspot' yang tidak termonitor, terutama di daerah dengan topografi kompleks dan pulau-pulau terpencil. 

Puluhan radar BMKG sebagian besar diproduksi di luar negeri, yang mengakibatkan waktu pemeliharaan dan perbaikan menjadi lama.  Oleh karena itu, BMKG membutuhkan solusi inovatif dari ketergantungan impor, berupa radar berjangkauan pendek dan bersifat portable yang dapat digunakan untuk mendeteksi cuaca ekstrem secara cepat dan fleksibel di daerah yang belum terjangkau.

Sejak September tahun 2020 melalui pendanaan Riset Inovatif dan Produktif (RISPRO), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berkontrak dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diwakili oleh Dr. Rahmat Triyono, ST., Dipl., M.Sc selaku Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (PSIMKG) mendanai riset terkait Pengembangan Teknologi Radar Cuaca Non-Polarimetrik yang diberi nama BRAJA WX-1. Nilai pendanaan riset selama tiga tahun adalah Rp 4,1 miliar dan masih berstatus on going.

Riset BRAJA WX-1 diketuai oleh Dr. Erwin Eka Syahputra Makmur dari BMKG dengan menggandeng industri teknologi dalam negeri, PT Dua Empat Tujuh (Solusi247). Sekaligus merupakan salah satu mata rantai dalam rangkaian riset berkelanjutan mengenai radar cuaca yang telah dilakukan oleh tim peneliti sejak tahun 2015 dan masih akan terus disempurnakan. Adapun kebutuhan jumlah radar cuaca berdasarkan Rencana Induk Penyelenggaraan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Tahun 2017-2041 idealnya ada penambahan sebanyak 40 radar cuaca dual polarization yang terdiri dari 20 X-Band, 15 C Band dan 5 S-Band. 

BRAJA WX-1 adalah jenis radar yang beroperasi pada frekuensi X band yang dapat dipasang secara portable maupun fix. Daya pancarnya adalah 30 watt dengan konsumsi daya rendah yaitu kurang dari 600 watt.  Proses produksi sepenuhnya dibangun oleh tenaga anak bangsa yang telah berpengalaman dengan riset ini sejak 2005. Radar ini memiliki beberapa karakteristik dan aplikasi spesifik yang membuatnya berguna dalam berbagai situasi cuaca. Sederet keunggulan dari radar BRAJA WX-1 karya anak bangsa ini meliputi:

  1. Resolusi Tinggi: Karena panjang gelombangnya yang lebih pendek dibandingkan radar S band atau C band, radar X band dapat memberikan resolusi yang lebih tinggi. Ini memungkinkan deteksi detail yang lebih kecil dalam formasi cuaca, seperti partikel hujan dan struktur badai yang lebih halus.
  2. Penggunaan dalam Area Terbatas: Radar X band sangat efektif dalam pemantauan cuaca pada skala lokal atau dalam area terbatas. Mereka sering digunakan di bandara, kota besar, atau wilayah yang memerlukan pemantauan cuaca dengan detail tinggi.
  3. Deteksi Presipitasi: Radar X band sangat sensitif terhadap presipitasi, seperti hujan, salju, dan hujan es. Ini membuatnya ideal untuk aplikasi yang memerlukan deteksi dan analisis presipitasi yang presisi.
  4. Mobilitas dan Fleksibilitas: Karena ukurannya yang relatif lebih kecil, radar X band dapat dipasang pada kendaraan atau struktur bergerak lainnya. Ini memungkinkan penggunaan yang fleksibel dalam situasi darurat atau untuk studi cuaca di lokasi yang berbeda.
  5. Penggunaan dalam Penelitian: Radar X band sering digunakan dalam penelitian meteorologi untuk mempelajari proses mikrofisika awan dan presipitasi. Keakuratan dan resolusi tinggi dari radar ini memberikan data yang sangat berharga untuk analisis ilmiah.
  6. Keterbatasan dalam Penetrasi Hujan: Meskipun radar X band memiliki banyak keunggulan, mereka juga memiliki keterbatasan. Gelombang mikro dengan panjang gelombang lebih pendek cenderung lebih mudah diserap dan terhambat oleh presipitasi berat. Ini dapat mengurangi kemampuan radar untuk menembus hujan deras dan memberikan data di belakang area hujan yang sangat intens.

Sederet inovasi kecanggihan BRAJA WX-1 diharapkan menjadi solusi strategis untuk memperkuat jaringan pemantauan cuaca BMKG, mengurangi ketergantungan pada produk asing, dan menyediakan informasi peringatan dini yang lebih cepat dan akurat, terutama di daerah yang paling membutuhkan, guna meningkatkan ketahanan bangsa dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Jangkauan yang optimal untuk blankspot, serta fitur nowcasting untuk prakiraan cuaca jangka pendek yang canggih, kehadiran Radar Cuaca Non-Polarimetrik buatan anak bangsa ini diharapkan dapat menjadi game changer dalam memperkuat sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi di seluruh pelosok Indonesia.

Berita Terkait

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

Berita | 20-04-2026

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Berita | 15-04-2026

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul

Berita | 10-04-2026

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul