Jakarta, 5 Desember 2024 – Ajang pemberian Apresiasi Talenta telah sampai pada babak terakhir di tahun 2024. Kali ini, Prof Dr. Zaki Su’ud, M.Eng, selaku Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi dinobatkan mendapat Siwabessy Award.
Siwabessy Award diberikan langsung oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko kepada Prof Zaki di Auditorium BJ Habibie, BRIN Kawasan Jakarta Pusat. Ini sekaligus kali pertama Siwabessy Award diberikan kepada tokoh ilmuwan sejak seleksi diselenggarakan pada 2022.
Pemberian Siwabessy Award kepada Prof Zuhud sejalan dengan kiprahnya mengabdikan diri mempelajari keilmuwan bidang nuklir sejak lebih dari tiga dekade silam. Ia kemudian dikenal karena kepiawaiannya dalam mendesain reactor nuklir beserta sistem keamanannya.
Prof Zaki menamatkan studi S2 dan S3 di Tokyo Institute of Technology di Department of Nuclear Engineering Graduate School of Science and Engineering. Program doktornya diselesaikan hanya dalam waktu tiga tahun (1992-1995).
Setelah menimba ilmu dari Negeri Sakura, pria kelahiran Wonosobo 1962 silam ini mengembangkan penelitian dalam dua bidang yaitu analisa dan desain Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) generasi lanjut serta dalam bidang instrumentasi. Sedangkan dalam bidang analisa dan desain PLTN generasi lanjut dilakukan pengembangan lebih lanjut dari program difusi dan burnup, serta program analisa kecelakaan yang ada dengan sejumlah pengembangan model dan fitur.
Sejalan dengan kemajuan komputer, penelitian Prof Zaki dalam 10 tahun terakhir adalah mengembangkan program Montecarlo dan analisis tiga dimensi yang lebih akurat seperti yang banyak digunakan di seluruh dunia. Prof Zaki mengembangkan sejumlah komputer klaster untuk melakukan komputasi paralel guna menunjang penelitian analisis reaktor nuklir yang lebih canggih.
Guru Besar pada bidang Fisika Nuklir ini optimis melihat perkembangan keilmuan nuklir di tangan generasi muda Indonesia. Derasnya arus informasi dan kebutuhan akan energi turut mendorong minat para penerus bangsa untuk melanjutkan bidang yang ditekuninya.
“Jadi secara prinsip sebetulnya animo masyarakat sudah mulai tinggi karena generasi milennial cukup taktis dalam melihat informasi dan peluang. Ketika melihat peluang nuklir sudah cukup tinggi, mereka justru cukup antusias untuk mempelajarinya” ujar Zaki dalam testimoni profilnya.
Prof Zaki tercatat telah memiliki 228 paper yang terdaftar scopus dan lebih dari 100 publikasi jurnal nasional serta proceeding. Ia juga menghasilkan karya yang sedang diproses paten hak ciptanya untuk desain reactor mecandel generasi terbaru serta perangkat lunak analisis reaktoir nuklir.
Selain pemberian Siwabessy Award juga terdapat orasi ilmiah G.A Siwabessy Memorial Lecture yang dibawakan oleh Dr. Liem Peng Hong, seorang ahli nuklir nasional yang telah banyak berkontribusi di dalam dan luar negeri.
Pria yang lahir dan besar di Semarang ini menempuh pendidikan S-1 Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada, mendapat tugas belajar pascasarjana bidang Teknik Nuklir di Tokyo Institute of Technology (TIT) Jepang mulai tahun 1987. Selanjutnya menyelesaikan S-3 dengan predikat cumlaude pada 1993 di kampus yang sama.
Karier Liem di dunia nuklir tak bisa dipandang remeh. Pasca lulus S3, ia ditempatkan di Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) G.A. Siwabessy (RSG GAS) di Bidang Fisika Reaktor (BFR). Saat berkarier di Jepang, Liem turut mengalami dua kecelakaan nuklir utama yakni kecelakaan kekritisan JCO Tokaimura pada September 1999 (berjarak lima kilometer dari rumah) dan kecelakaan parah PLTN Fukushima Dai-Ichi pada Maret 2011 (berjarak 125 km dari rumah). Pengalaman berharga dan langka ini tentunya memberikan kelebihan tersendiri terhadap kegiatan litbang kenukliran yang ditekuninya.
Dalam orasi ilmiahnya Liem turut memperkenalkan tiga tema penelitian dan pengembangan nuklir untuk generasi penerus, yaitu fisika reaktor, data nuklir, dan fisika inti. Ketiganya ini dinilai Liem menjadi peluang kontribusi IPTEK di bidang nuklir dan bagian dari pemecahan masalah di masa depan.
“Kata kuncinya adalah frontier yang punya arti bahwa kita ada peluang yg besar untuk berkontribusi ke IPTEK dan penyelesaian masalah. Generasi mendatang itu menjadi penting bagi kita karena tidak bisa bertumpu pada saya dan Pak Zuhud yg sudah hampir pensiun, tetapi kita harus memberikan tema2 yg bisa membangkitkan minat dan impian.” ujar Liem di depan para tamu undangan.
Atas dedikasi panjang kedua ilmuwan nasional di bidang fisika nuklir, Penerima Siwabessy Award berhak mendapat hadiah apresiasi sebesar Rp400 juta dari Dana Abadi Penelitian (DAP) yang dikelola oleh LPDP. Sementara orasi ilmiah G.A Siwabessy Memorial Lecture mendapat Rp25 juta.
Latar Belakang Penghargaan G.A. Siwabessy
LPDP turut mendukung program apresiasi talenta yang diberikan oleh BRIN. Melalui #UangKita yang dikembangkan lewat Dana Abadi Penelitian, LPDP mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,675 miliar untuk lima pemenang program Apresiasi Talenta Riset dan Inovasi, yaitu Sarwono Award, Habibie Prize, Indonesia Innovator Award, Nurtanio Award, dan Siwabessy Award.
Penghargaan G.A. Siwabessy diambil dari nama salah satu radiolog pertama di Indonesia. Pada tahun 1954, bangsa Indonesia khawatir dengan adanya percobaan-percobaan senjata nuklir di wilayah Pasifik setelah terjadinya Perang Dunia ke-2. Presiden Soekarno saat itu menunjuk GA. Siwabessy sebagai ketua panitia negara untuk melakukan penyelidikan radioaktivitet untuk mengetahui apakah Indonesia terkontaminasi debu radioaktif dari percobaan nuklir di Pasifik.
Saat itu, dilakukanlah penyelidikan di wilayah timur Indonesia dan ternyata tidak ditemukan adanya kontaminasi terhadap debu radioaktif tersebut. G.A. Siwabessy sangat aktif terhadap perkembangan kenukliran, hingga diketahui bahwa pemanfaatan nuklir tidak hanya untuk persenjataan atau energi saja, namun untuk berbagai bidang, seperti bidang kesehatan, pertanian, peternakan, industri, dan lingkungan.
Pada 1964, Presiden Soekarno menunjuk G.A. Siwabessy sebagai Menteri Badan Tenaga Atom Nasional, dan pada 1966 juga ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi atas jasa-jasa G.A. Siwabessy terhadap perkembangan kenukliran, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan G.A. Siwabessy Memorial Lecture Tahun 2023.
Diharapkan melalui program beasiswa dan riset dari pendanaan LPDP akan mampu melahirkan para ahli nuklir Indonesia yang andal di masa mendatang.



