Jakarta, 26 Oktober 2024 – Dukungan pemerintah terhadap inovasi daerah terus ditunjukkan guna mencapai kemandirian ekonomi daerah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi kembali meluncurkan program inovatif kemitraan antara Perguruan Tinggi Penyelenggara Program Pendidikan Vokasi (PTPPPV) dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) pada Jumat (26/10) siang.
Program bertajuk Katalisator Kemitraan Berdikari ini dirancang untuk mendorong terciptanya inovasi yang berdampak pada peningkatan nilai tambah ekonomi, baik di komunitas masyarakat maupun di sektor industri.
Terdapat dua skema program yang diluncurkan yaitu, Skema Emas (Ekonomi Mandiri dan Sejahtera) yang berfokus pada pengembangan produk tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menyelesaikan masalah lokal, dan meningkatkan nilai jual komoditas unggulan daerah. Batas maksimum pendanaan yang bisa diajukan adalah sebesar Rp500 juta per usulan.
Skema kedua bernama Skema Berlian (Berdaya saing, Efektif dan Berkelanjutan) yang ditujukan untuk menciptakan produk berstandar industri yang dapat memenuhi rantai pasok industri, mendorong transfer pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Direktur Kemitraan dan Penyelarasan DUDI Adi Nuryanto yang hadir dalam acara peluncuran tersebut mengatakan bahwa program ini adalah wujud nyata dukungan dan dorongan untuk kemandirian ekonomi daerah melalui inovasi dan kolaborasi berbagai pihak terkait.
“Kami berharap program ini dapat menjadi katalisator bagi terciptanya ekosistem kemitraan yang solid dan berkelanjutan, serta menghasilkan produk dan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat dan industri." ujar Adi Nuryanto di Aula Pullman Central Park siang itu.
Katalisator Kemitraan Berdikari ini merupakan kelanjutan dari Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah (Program Ekosmira) yang telah sukses dilaksanakan pada tahun sebelumnya. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberikan komitmen pendanaan sebesar Rp55 miliar dengan skema multiyears selama tiga tahun dari 2023 sampai 2025 mendatang.
Pada tahun perdana penyaluran pendanaan untuk Program Ekosmira, tercatat ada 20 tim konsorsium yang mendapat pendanaan dengan total Rp15 miliar. Program Ekosmira telah menghasilkan berbagai inovasi di berbagai daerah, seperti pengembangan varietas padi tahan wereng di Jawa Tengah, pembuatan alat pengering kopi berbasis energi surya di Sumatera Utara, dan pembuatan pupuk organik dari limbah kelapa sawit di Kalimantan Barat.
Keberhasilan di tahun pertama tersebut akhirnya mendorong kesepakatan antara LPDP dan Ditjen Pendidikan Vokasi untuk menambah pendanaan riset di tahun kedua dan ketiga dengan total pendanaan keseluruhan menjadi Rp90 miliar. Adapun perubahan rincian alokasinya adalah pada tahun 2024 yang semula Rp 20 miliar menjadi Rp40 miliar, dan tahun 2025 semula Rp20 miliar menjadi Rp35 miliar.
Program ini akan diselenggarakan di 27 provinsi di seluruh Indonesia dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk PTPPPV, SMK, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), DUDI, pemerintah daerah, BUMD, BUMDes, Kadin daerah, Badan Riset dan Inovasi Daerah, serta komunitas masyarakat.
Kemendikbudristek berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan program ini melalui pendampingan, fasilitasi akses permodalan, dan jejaring pemasaran. Program Katalisator Kemitraan Berdikari diharapkan dapat memperkuat link and match antara PTPPPV dengan DUDI, sehingga lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu LPDP yang dihadiri oleh Purwana selaku Kepala Divisi Pendanaan Riset mengapresiasi program peningkatan ekosistem kemitraan yang melibatkan berbagai stakeholders yang di tahun pertama telah menghasilkan skenario workforce planning dan innovation planning unggulan dari masing-masing daerah.
LPDP berharap agar rencana ketenagakerjaan dan inovasi di tahun pertama dapat diimplementasikan di pendanaan riset tahun berikutnya, dengan demikian program Katalisator Kemitraan Berdikari menjadi program yang berdampak bagi terbentuknya sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.



