Jatinangor, 10 Juni 2026 - Hawa sejuk khas dataran tinggi menyapa rombongan tim Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) saat tiba di kawasan Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Jatinangor pada Rabu (10/6/) pagi. Kedatangan LPDP adalah dalam rangka meninjau implementasi kerja sama antara LPDP, Central South University (CSU), dan perusahaan GEM Co., Ltd.
Di sini berdiri Laboratorium Riset Bersama GEM–ITB–CSU sebagai bagian transfer teknologi pengetahuan terkait riset di bidang metalurgi. Deretan alat penelitian berteknologi tinggi berdiri rapi. Berbagai instrumen ini bekerjantuk mengolah material dan menguji teknologi baterai itu.
Kehadiran Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso dan Kepala Divisi Pengembangan dan Kerja Sama LPDP Agam Bayu Suryanto disambut hangat oleh Wakil General Manager GEM Xu Pengyun. Rombongan diajak meninjau langsung semua fasilitas laboratorium modern yang tersedia. Tampak selain peralatan riset yang canggih, terdapat ruang kelas dan area belajar yang biasa dipakai untuk menampung mahasiswa ITB saat menjalani mata kuliah di laboratorium ini.
Dwi Larso mengatakan dalam pembukanya bahwa laboratorium yang mempertemukan perguruan tinggi dan industri tersebut menjadi contoh nyata bagaimana investasi pendidikan dapat menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
"Saya sangat gembira melihat laboratorium ini. Untuk saya, laboratorium itu hidup. Maksudnya pelajar, sivitas akademika, termasuk dosen dan industri, datang ke lab ini untuk mengambil kesempatan," kata Dwi Larso.
Menurutnya, kolaborasi kampus dan industri penting agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara langsung oleh sektor produktif.
"Jika dilihat dari industri, maka harus digunakan oleh industri. Harus menjadi teknologi yang paling inovatif yang terjadi dalam laboratorium," ujarnya.
Ada banyak yang dibahas dalam pertemuan jajaran perwakilan GEM dengan LPDP. Komitmen untuk memastikan program ini berjalan dan penguatan serta peningkatan kerja sama kebermanfaatan bagi talenta terbaik bangsa menjadi aspek utama yang berhasil disepakati.
Dwi Larso mengindikasikan ambisi yang lebih besar untuk menjajaki kerja sama serupa dengan universitas-universitas lain di Tiongkok, termasuk Tsinghua University, sekaligus penempatan internship di kota-kota industri seperti Shenzen, Xiamen, dan Changsha sendiri.
214 Penerima Beasiswa dalam Enam Tahun Kerja Sama
Program Beasiswa Kerja Sama Indonesia–Tiongkok di CSU pertama kali diselenggarakan pada 2020 atas inisiatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Investasi (Kemenkomarves), dengan fokus awal pada bidang Metalurgi dan Sains Material. Program ini dirancang untuk jenjang Magister (S2) dengan durasi tiga tahun menggunakan skema co-funding. LPDP mendanai tahun pertama perkuliahan di CSU, sementara GEM Co., Ltd. sebagai perusahaan daur ulang dan manufaktur material energi asal Tiongkok menanggung biaya tahun kedua dan ketiga, termasuk masa magang industri.
Hingga 2026, program Beasiswa LPDP - CSU telah menjangkau 214 penerima beasiswa dari enam angkatan dengan kuota total mencapai 341 posisi. Ini belum termasuk angkatan 2026 yang sedang dalam proses tahap seleksi penerimaan.
Sebanyak 20 alumni angkatan perdana pada 2020 telah membuktikan diri dengan kualitas pendidikan Tiongkok dengan mencatatkan karier di sektor pertambangan. Ada sembilan yang berkiprah di PT QMB New Energy Material selaku anak perusahaan GEM yang beroperasi di Indonesia. Sementara sisanya tersebar di perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional strategis, termasuk Freeport Indonesia, PT Merdeka Copper Gold, dan PT United Tractors.
Program ini terus dikembangkan. Sejak 2024 menambahkan dua bidang baru yaitu Ekonomi dan Perdagangan Internasional, serta Transportasi. Tercatat pada 2026 sebanyak 164 penerima beasiswa masih aktif menempuh pendidikan, dan pendaftaran untuk angkatan berikutnya telah dibuka sejak 29 Mei hingga 30 Juni 2025 untuk bidang Metalurgi serta Ekonomi dan Perdagangan Internasional.
Talenta Masa Depan Bangsa yang Berkarier di Laboratorium Jatinangor
Suara alat-alat laboratorium memang nyaris tidak terdengar di sela percakapan para peneliti muda yang sibuk memeriksa hasil eksperimen mereka. Para peneliti di Laboratorium GEM–ITB–CSU Jatinangor ini datang dari berbagai daerah, termasuk keberadaan lima penerima Beasiswa LPDP - CSU Metalurgi. Ada yang berasal dari Sumatera Utara, ada yang dari Jawa Barat, ada pula yang sebelumnya tidak pernah membayangkan bisa belajar hingga ke Tiongkok.
Elvida Margaretha Situmeang, alumni angkatan kedua yang kini bekerja di laboratorium tersebut, mengaku program ini membawanya pada pekerjaan yang sejak lama diimpikan.
"Karena waktu itu aku pengen banget untuk kerja sebagai R&D, untuk ngerjain penelitian dan berinovasi. Jadi waktu dapat pekerjaan di sini, aku sangat senang," kata lulusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara itu.
Ia mengaku awalnya sempat ragu mendaftar LPDP karena menganggap persyaratannya tidak mudah. Namun keberaniannya mengambil kesempatan justru membuka jalan menuju karier riset yang selama ini dicita-citakan.
"Program yang aku ambil menurutku sangat bagus karena nggak cuma belajar di kelas, tapi langsung apply ke industri. Jadi aku ngerasa aku harus daftar program ini," ujarnya yang masih ingin menargetkan pendidikan doktoral di bidang material dan baterai.
Cerita serupa datang dari Ririn Handayani, alumni angkatan 2022.
"LPDP bukan cuma membantu secara finansial, tetapi juga mendukung pengembangan skill dan profesionalisme kami sebagai mahasiswa," ujarnya.
Pengalaman kuliah di CSU dan bekerja di laboratorium membuat ilmu yang dipelajari dapat langsung diterapkan dalam penelitian baterai dan material maju.
"Karena sudah relate dengan major yang diambil pas lagi di China tentang metalurgi dan materials untuk pengembangan baterai, itu juga sudah bisa diaplikasikan langsung untuk skala penelitian di laboratorium ini. Jadi menyenangkan," katanya.
Lulus dari Beasiswa LPDP - CSU memang tidak diwajibkan untuk bekerja di perusahaan GEM. Tetapi harus diakui peluang untuk bekerja di sana menjadi besar. Namun perusahaan memberikan skema priority recruitment yang membuka akses langsung bagi para lulusan untuk memasuki industri.
"GEM memberikan kesempatan kepada kita. Ini menurutku suatu kesempatan yang baik, apalagi kita baru lulus dan belum punya banyak pengalaman. Jadi dengan kita lulus dan ditawari pekerjaan langsung itu sangat bagus," ujar Anissya Putri Maharani yang kini berperan sebagai R&D Engineer di laboratorium Jatinangor.
Bagi Anissya pribadi, kesempatan tersebut menjadi lompatan besar dalam perjalanan kariernya.
"Begitu lulus langsung join di GEM yang merupakan perusahaan multinasional, jadi standarnya lebih di atas rata-rata fresh graduate di Indonesia," katanya.
Hal senada disampaikan Ni Made Radha Jiwantini. Setelah menyelesaikan studi di CSU dan menjalani magang di Tiongkok, Radha kini terlibat dalam penelitian daur ulang baterai di laboratorium Bandung.
"Alatnya lengkap banget. Mungkin kita tidak menemukan lagi di lab-lab lain di Indonesia. Karena topik penelitian saya memang recycling baterai, jadi di sini sudah sangat menunjang," ujarnya.
Selain akses terhadap fasilitas penelitian, Radha juga merasakan manfaat jejaring akademik yang terbuka luas.
"Saya bisa berdiskusi bersama profesor-profesor di ITB tentang metalurgi. Jadi memang banyak kesempatan yang saya dapatkan setelah lulus ini, baik dalam dunia riset maupun pengembangan diri," ujarnya yang lulusan S1 Pendidikan Fisika dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja Bali ini.
Mimpinya masih terus ingin belajar dan terlibat dalam pengembangan industri daur ulang baterai nasional yang ilmu dan terapannya masih relatif baru di Indonesia.
Satu orang yang masih berstatus mahasiswa aktif penerima Beasiswa LPDP - CSU adalah Amrullah Gilang. Keberadaannya di sini adalah dalam rangka magang dan menilai bahwa keunikan program terletak pada integrasi antara pendidikan, magang industri, dan penelitian.
Dalam skema tiga tahun studi S2 Beasiswa LPDP - CSU tersebut, mahasiswa menjalani perkuliahan di CSU pada tahun pertama, kemudian memasuki fase magang dan penelitian pada tahun kedua di berbagai lokasi GEM di Tiongkok maupun Indonesia, termasuk laboratorium riset bersama di Bandung dan fasilitas industri di Morowali.
Model pembelajaran seperti inilah yang membuat program tidak hanya menghasilkan lulusan bergelar magister, tetapi juga peneliti dan profesional yang telah memiliki pengalaman industri sejak sebelum wisuda.
Indonesia sebagai pemilik sumber daya mineral logam nikel memainkan peran kunci di tengah perlombaan global menguasai rantai pasok kendaraan listrik. Sebagai tuan rumah pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia tidak bisa menjadi penonton atas arus deras pengangkutan dan pemanfaatan nikel oleh negara-negara lain.
Bangsa ini harus mendapat bagiannya berupa pengelolaan berdikari atas kekayaan alamnya sendiri. Di sinilah ruang kolaborasi itu hadir, yang bukan hanya menghasilkan lulusan berijazah, melainkan memfasilitasi berkembangnya ilmuwan, insinyur, dan pada akhirnya pemimpin industri masa depan.
Dan semuanya berawal dari satu kesempatan yang berani diambil oleh anak-anak muda Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi.



