Jakarta, 29 April 2026 - Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memastikan kembali mendukung pendanaan program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) dan Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara (Semesta) Skema Pendanaan APBN.
Kepastian keberlanjutan dukungan pendanaan ditandai dengan kegiatan Kick Off Program Bestari Saintek sekaligus Program Semesta yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi Brian Yuliarto serta Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto di Auditorium Grha Kemendiktisaintek pada Kamis (29/4) siang.
Program berfokus pada pemanfaatan sains dan teknologi berbasis potensi daerah dengan menghimpun komoditas, talenta, dan jejaring lokal untuk menghasilkan solusi yang tepat guna dan terukur. Hasilnya diharapkan dapat menjawab persoalan konkret, sehingga perguruan tinggi dapat berperan sebagai motor lahirnya inovasi yang terimplementasi dengan baik.
LPDP memberikan dukungan pendanaan dengan total alokasi sebesar Rp57,5 miliar, dengan tingkat penyerapan mencapai hampir 100%. Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem riset nasional yang terintegrasi dan berdampak.
Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto menyampaikan bahwa pendanaan riset merupakan investasi jangka panjang yang harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. LPDP terus mendorong agar setiap pendanaan dapat menghasilkan inovasi yang dapat diadopsi dan dimanfaatkan secara luas agar turut bersaing secara global di bidang riset dan inovasi sehingga mampu menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“LPDP menaruh harapan besar pada program Bestari Saintek. Harapannya, peluncuran ini benar-benar dapat memberi dampak dan hasil di sekitar kita, mendorong kolaborasi partisipatif, dan memanfaatkan hasil riset untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” jelas Ayom.
Pada program Bestari Saintek, sebanyak 8.951 pendaftar mengikuti tahap penyampaian Expression of Interest (EoI), dengan 2.499 pengusul melanjutkan ke tahap dokumen EoI dan 545 proposal masuk pada tahap pengajuan proposal teknis. Dari proses seleksi tersebut, 122 tim riset dinyatakan lolos dan mendapatkan pendanaan. Hal ini disampaikan oleh
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani menjelaskan, proses seleksi menghasilkan 122 tim riset yang dinyatakan lolos dan berhak mendapatkan pendanaan.
“Hanya 4,9% total pendaftar yang berhasil terpilih. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi dan standar evaluasi yang kompetitif. Tema dari proposal terpilih terbagi menjadi 8 sektor, yakni pangan dan pertanian, kemaritiman, sosial humaniora, seni budaya, dan pendidikan, teknologi komunikasi dan informasi, kebencanaan, kesehatan dan obat, energi baru dan terbarukan, serta material maju,” jelas Ahmad Najib.
Program Bestari Saintek mendorong Non-Traditional Research Output (NTRO), yaitu luaran riset yang tidak hanya berupa publikasi ilmiah, tetapi juga prototipe, model bisnis, kebijakan, hingga inovasi yang siap diimplementasikan di masyarakat dan industri. Kolaborasi luas dalam program ini melibatkan 56 mitra industri, 64 perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan lain, termasuk mitra internasional dan media. Sepanjang pelaksanaan program, 122 tim riset terpilih didukung oleh 341 mitra dan melibatkan 854 dosen serta tenaga kependidikan.
Sementara itu dalam sambutannya Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan riset yang dilakukan tetap harus berkontribusi pada pengembangan keilmuan yang tidak hanya melalui penerbitan jurnal ilmiah tetapi mempunyai dampak nyata.
“Harus kita lanjutkan menjadi karya nyata yang benar-benar bisa digunakan dan memudahkan kehidupan masyarakat di sekitar kita,” tegas Brian Yuliarto.
Acara Kick Off Program Bestari Saintek sekaligus Program Semesta 2026 ini selain dihadiri oleh puluhan stakeholder yang terlibat, juga mengundang lebih dari 50 industri besar dalam negeri yang berperan krusial dalam memproduksi hasil riset. Hadir pula lebih dari 60 perguruan tinggi serta vokasi, dan sejumlah lembaga internasional.
Editor: Tony Firman



