Jakarta, 2 Mei 2025 - Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai soko guru pendidikan Indonesia pada era pergerakan. Di masa kiprahnya sebagai intelektual pada awal abad ke-20 inilah ia banyak memberikan pokok-pokok pengajaran pendidikan yang emansipatoris. Pendidikan untuk semua, pendidikan yang memerdekakan, pendidikan yang berorientasi pada anak, trilogi pendidikan adalah beberapa sumbangsih pemikirannya terkait dunia pendidikan kala itu yang masih dinikmati oleh segelintir elit dan priyayi.
Maka tidak berlebihan saat merayakan hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959. Hardiknas sejatinya adalah perayaan anak semua bangsa, para insan pendidikan Indonesia. Ajakan untuk menatap masa depan pendidikan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan masih senantiasa relevan digaungkan sekaligus dilakukan.
Dalam konteks inilah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) hadir sebagai salah satu motor penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. LPDP mengelola Dana Abadi di Bidang Pendidikan yang digunakan untuk mendanai berbagai layanan kemajuan pendidikan seperti Beasiswa S2, dan S3, riset inovatif produktif, peningkatan perguruan tinggi negeri, serta program kebudayaan penyokong pelestarian dan pengembangan kapasitas budaya.
Beasiswa yang Berdampak
Hingga kini, ribuan anak bangsa telah menjadi penerima manfaat LPDP, tersebar di berbagai penjuru Tanah Air maupun mancanegara, dan berkontribusi aktif dalam bidang akademik, pemerintahan, industri, sosial, hingga kewirausahaan. Akumulasi jumlah penerima beasiswa LPDP per 31 Desember 2024 sebanyak 54.149 orang.
Jumlah mahasiswa ongoing adalah 18.126 orang dengan persentase penerima beasiswa menempuh studi di dalam negeri sebanyak 59,77% (10.834 orang) dan luar negeri sebanyak 40,23% (7.292 orang). Alumni penerima Beasiswa LPDP sebanyak 26.034 orang. Berdasarkan data tracer study, sebesar 66,50% Alumni bekerja di sektor publik dan 33,50% Alumni bekerja di sektor privat.
LPDP turut mendanai berbagai program beasiswa yang dijalankan oleh Kemendikbudristek dan Kemenag baik degree maupun non-degree dalam tajuk Beasiswa Kolaborasi. Pertumbuhan jumlah peminat yang cukup signifikan ditandai dengan realisasi penyaluran beasiswa yang mencapai 99,77%. Sampai dengan 31 Desember 2024, Beasiswa Kemendikbursitek yang dimulai dari tahun 2020 telah menghasilkan total 574.878 orang yang proses studinya dibiayai oleh LPDP. Sedangkan untuk Beasiswa Kemenag yang mulai didanai LPDP tahun 2022 telah menghasilkan 40.252 orang.
Riset untuk Kemajuan Bersama
Layanan pendanaan riset oleh LPDP kini terfokus tersalur pada berbagai program yang dijalankan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Bertajuk Riset Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), LPDP telah mendanai sebesar Rp220.791.545.258 miliar sampai penghujung Desember 2024.
Selain itu masih terdapat sejumlah riset native yang pernah diselenggarakan oleh LPDP bertajuk Riset Inovatif Produktif (RISPRO). Banyak diantaranya masih berstatus ongoing. Jumlah totalnya adalah sebesar 3.249 proyek dengan total pendanaan sebesar Rp3.229,64 miliar. Sedangkan terdapat 1.074 proyek berstatus selesai dengan total penyaluran pendanaan sebesar Rp1.078,59 miliar.
Kebudayaan Nasional
Salah satu dampak luas dari pemajuan pendidikan adalah berdenyutnya kebudayaan yang lahir dari kreativitas dan daya kritis para anak bangsa. Layanan dukungan atas pemajuan kegiatan kebudayaan melalui penyaluran Dana Abadi Kebudayaan (DAKB) oleh LPDP mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun sebelumnya yaitu mencapai 397,61% atau naik empat kali lipat dari tahun 2023.
Terdapat total 542 pelaku seni budaya penerima manfaat DAKB yang terpilih melalui program Dana Indonesiana yang dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan. Dari total tersebut, dana sebesar Rp223 miliar telah tersalur dengan tujuh skema program yang tersedia.
Demikianlah kilas kinerja LPDP dalam perannya meningkatkan mutu pendidikan nasional.Memaknai Hardiknas hari ini, kita diingatkan bahwa investasi terbesar bangsa bukanlah pada sumber daya alam, melainkan pada manusia yang terdidik, berpikir kritis, dan memiliki integritas. Melalui peran strategis LPDP dalam mendanai pendidikan tinggi, riset, dan kebudayaan, Indonesia telah dan akan terus menyiapkan generasi masa depan yang siap memimpin, mencipta, dan mengabdi.



