Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Letkol Tek. Y.H Yogaswara, awardee LPDP PK-6
Awardeestory

Bertemu dengan Letkol Tek Y.H. Yogaswara, Pelopor Pengembangan Senjata Terpandu di Indonesia

Penulis
Dimas Wahyudi dan Tony Firman
Senin,
28 Oktober 2024

Tidak banyak prajurit Tentara Nasional Indonesia yang menempuh pendidikan tertinggi hingga doktor. Jenjang karier seorang tentara banyak terbentuk dari pengalaman penugasan serta mengikuti berbagai pendidikan militer yang tersedia.

Bagi Letkol Tek. YH Yogaswara itu tidaklah cukup. Pria kelahiran Cicalengka ini telah mengantongi gelar Ph.D Aerospace Engineering dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Bukan tanpa alasan tentu saja, Letkol Yoga akrab ia disapa, adalah seorang peneliti aerospace dan aeronautika di Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbang AU). Bekal ilmu yang bagus sudah sepatutnya dimiliki untuk menunjang keahliannya.

Terlebih saat mengetik namanya di mesin pencari, muncul seutas berita bahwa ia terlibat dalam keberhasilan uji coba operasional selusin bom TAG-82 pada pesawat tempur F-16. Sebuah pencapaian yang tidak lepas dari hasil produk pendidikan tinggi berkualitas.

Satu dekade sudah Letkol Yoga ini berangkat ke Korea Selatan. Berhasil merampungkan disertasi dari salah satu kampus yang dikenal nomor wahid pada bidang sains dan teknologi, kompetitif, sekaligus pelopor dalam pendidikan dan penelitian ilmiah.

Di kala informasi mengenai LPDP belum semasif saat ini kala itu, Letkol Yoga adalah satu dari empat orang lain perwakilan TNI Angkatan Udara yang mendapat kesempatan studi lanjut dengan beasiswa LPDP, angkatan PK-006.

Sambutan baik memuluskan janji kami untuk bertemu di Kota Kembang beberapa pekan lalu. Di ruangan kerjanya, kami diterima dengan hangat. Bayangan sikap tegas dan cenderung dingin itu tak terjadi. Sembari mempersiapkan set up wawancara, kami banyak berbincang dan membuat suasana semakin cair.

Menjemput Jalan Karier sebagai Prajurit

Letkol Yoga tak pernah berpikir untuk menjadi tentara sebelumnya. Terlahir dari keluarga guru membuat sarjana dari Prodi Fisika, Universitas Padjadjaran ini juga ingin menjadi pendidik, “perencanaan karir saya justru ingin menjadi dosen saja”, ungkapnya. Di tengah proses seleksi dosen UNPAD, sebuah lowongan untuk lulusan Fisika dibuka pula di Perwira Prajurit Karier TNI.

Ketika tiba saatnya untuk memilih, Letkol Yoga berada di persimpangan jalan, atas restu dan saran dari sang ibu, Letkol Yoga memilih menjadi perwira, “di keluarga kami belum ada tentara. Terus ya sudah akhirnya saya mau mengambil keputusan untuk melanjutkan di tentara dan meninggalkan seleksi sebagai dosen di UNPAD”, kenangnya.

Kapasitas keilmuan yang mumpuni membuat Letkol Yoga ditempatkan mengisi pos jabatan peneliti. Selama 20 tahun terakhir menjadi prajurit TNI Angkatan Udara, selama itu pula ia mengabdikan keilmuannya sebagai peneliti, khususnya pada pengembangan bom, roket, misil, hingga pesawat terbang tanpa awak .

Demi menunjang karier dan kontribusinya, ia kemudian melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan beasiswa TNI Angkatan Udara di bidang Aeronautika dan Astronautika hingga lulus pada tahun 2013. Selepas lulus dari KAIST pada tahun 2018, Letkol Yoga yang saat itu masih berpangkat Kapten, mengawali karier akademik sebagai dosen tetap non-organik di Universitas Pertahanan RI. “Hingga saat ini saya mengajar di Fakultas Sains dan Teknologi Pertahanan. Ternyata DNA guru masih mendominasi dalam aliran darah saya”, ujarnya setengah bergurau.

Melawan Turbulensi, Konsisten Tuntaskan Studi

Pada saat berkuliah di ITB, Letkol Yoga ikut dilibatkan dalam kegiatan kerja sama pengembangan pesawat tempur Korea-Indonesia, KFX-IFX. Kesempatan itu mempertemukannya dengan salah satu profesor dari KAIST yang memiliki kompetensi dalam perancangan senjata terpandu dan salah satu sosok penting dalam perkembangan teknologi dan industri pertahanan di Korea.

Perjumpaan di kesempatan ini membangkitkan semangat Letkol Yoga, ia bertekad untuk berguru ke Korea dan mengejar gelar doktornya di program Aerospace Engineering dengan konsentrasi dalam bidang Dinamika, Panduan, dan Kendali Terbang.

“Saya pernah mencoba untuk daftar S3 di tempat lain, sebut saja misalnya di negara Amerika atau di Eropa, namun ternyata untuk bidang kompetensi yang saya tuju mensyaratkan beberapa hal yang tidak mungkin saya penuhi. Di antaranya adalah peserta di bidang itu harus warga negara Amerika misalnya, warga negara Eropa, atau negara yang memiliki kerja sama pertahanan dengan Amerika atau NATO”, terang Letkol Yoga.

Di tahun 2013 kala itu, jenis dan informasi beasiswa tidak semasif sekarang, begitu pun dalam internal TNI Angkatan Udara, “terus terang saya sama sekali tidak tahu LPDP saat itu”, terangnya sambil tertawa. Namun niat tulus Letkol Yoga untuk menuntut ilmu dijawab takdir, beasiswa LPDP baru saja dibuka, informasi yang kala itu baru disampaikan secara tradisional dari instansi ke instansi, sampai pula di TNI Angkatan Udara.

Setelah melalui rangkaian seleksi, Letkol Yoga menjadi satu dari empat orang anggota TNI Angkatan Udara yang terpilih, mereka inilah prajurit TNI yang paling awal mendapat manfaat beasiswa LPDP, Letkol Yoga bergabung di PK-006.

Perjuangan sesungguhnya baru dimulai, orang bilang Ph,D is a marathon, it requires endurance, perseverance, and a well-thought-out strategy, itu pula yang harus dihadapi Letkol Yoga. “Orang Korea itu sangat terkenal dengan prinsip ppali-ppali. Semuanya harus serba cepat, semua harus serba berkualitas. Dan ketika saya masuk ke KAIST, saya berada di dalam salah satu kampus paling inovatif di dunia.. Bisa kebayang saya berada di neraka engineering sesungguhnya”, kenang pahitnya menjalani studi S3.

Selama kurun waktu Letkol Yoga kuliah, KAIST menerapkan kebijakan untuk meningkatkan dukungan kesehatan mental menyusul banyaknya insiden bunuh diri di kampus. Salah satu kebijakan saat itu adalah seluruh mahasiswa KAIST wajib melaksanakan pemeriksaan kesehatan fisik dan mental. "Ternyata hasil pemeriksaan pada tahun ke-3 menunjukan saya mengalami gejala depresi. Alhamdulillah saya dapat mengatasi gangguan ini, salah satunya karena didampingi keluarga sebagai support system yang baik”, ungkapnya.

Beruntung, keluarga inti yang jadi pasak penyangga perjalanan hidupnya turut ia boyong ke Korea. Meski sang istri kala itu juga punya tantangannya sendiri karena turut melanjutkan studi doktor di Chungnam National University, sikap suportif yang ditunjukkan satu sama lain membawa bahtera yang kerap rapuh ini berhasil melewati ganasnya ombak kehidupan mahasiswa doktor. Kisahnya ini ia tuturkan dengan senyum tanda kelegaan, ada rasa bangga bahwa ia pernah melewati satu tahap paling krusial dalam hidupnya.

Kontribusi Pertahanan Dirgantara Bangsa

Sejenak memanggil memori, ingatannya kembali ke satu dekade lalu, di sudut bebatuan Gunung Salak saat ia menjalani PK, ia menulis esai yang isinya masih ia pegang sampai kini. “Saya masih menyimpan tuh tulisannya, saya akan menjadi apa gitu ya. Kalau tidak salah waktu itu saya menulis, saya akan menjadi ahli dalam bidang teknologi dan industri pertahanan di Indonesia, saya masih ingat sekali. Itu sebuah tulisan, monument buat saya, dan itu akan menjadi sebuah titik untuk merefleksikan saya saat ini ada di mana sih, dari mana saya berasal, dan kemana saya akan melangkah ”.

Untuk ukuran regional ASEAN, kekuatan pertahanan Indonesia memang masih memimpin, namun di tataran global, teknologi kita masih cukup tertinggal, dan inilah gap yang berusaha Letkol Yoga isi dengan kontribusinya. Sebagai Kepala Laboratorium Senjata dan Amunisi di Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara, kontribusi Letkol Yoga membentang dari masalah teknis maupun strategis.

Dengan ilmu yang ia bawa dari KAIST, ia merombak dan membakukan tata kelola penelitian dan pengembangan alutsista yang selama ini masih digarap konvensional bahkan terkesan ala kadarnya. Penelitian alutsista di negara maju manapun berawal dari tata kelola yang baik, berkat penerapan system engineering yang ia hadirkan di TNI Angkatan Udara, penelitian dan pengembangan alutsista menjadi lebih disiplin dan meminimalkan risiko kegagalan.

Dengan disiplin riset yang tepat, baru-baru ini Letkol Yoga dan tim mampu mengembangkan berbagai jenis bom, roket, maupun pesawat terbang tanpa awak. Namun capaian ini masih menyisakan ruang pengembangan dalam bidang senjata terpandu dan sistem otonomus yang memerlukan peran pemerintah, perguruan tinggi, dan industri yang lebih solid.

Prajurit Harus Sekolah Tinggi

Tanggung jawab luar biasa besar ada di pundak para prajurit garda terdepan. Menghadirkan keamanan, kedaulatan, dan tiap-tiap nyawa warga sipil dari ancaman teror dan peperangan. Dengan kemajuan yang kian modern, kapasitas berpikir, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan mereka harus terus beradaptasi.

“Menurut saya, justru seorang tentara harus belajar dan sekolah yang tinggi, harus cerdas, karena tentara berada pada posisi mengambil keputusan strategis dan itu membutuhkan basis knowledge yang tidak sedikit”, jawab Letkol Yoga ketika ditanya mengapa tentara harus sekolah tinggi.

Pekerjaan rumah memang masih panjang, namun harapan untuk kemajuan tak boleh hilang. Harapan itu bagi Letkol Yoga adalah LPDP. Menutup perbincangan kami, harapannya kurang lebih sama seperti para alumni LPDP lain yang telah kami temui sebelumnya, ya, agar semakin banyak prajurit TNI yang dapat memanfaatkan fasilitas beasiswa LPDP. Semua untuk Indonesia.

Berita Terkait

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri