Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Felix Degei bersama ibunya ketika ditemui di kediamannya di Nabire, Papua Barat. Foto oleh Lunar Project
Awardeestory

Cerita Felix Degei, Lulusan Adelaide yang Memilih Pulang Menjadi Guru Honorer Memajukan Pendidikan Anak-Anak Papua

Penulis
Tony Firman
Selasa,
3 Maret 2026

Papua adalah tanah yang kerap dijuluki surga di ufuk timur Indonesia. Hutan hujannya yang megah telah diakui sebagai salah satu pusat megabiodiversitas dunia. Rimba yang rapat, lembah-lembah dalam yang diselimuti kabut pagi, tebing terjal, hingga pegunungan tinggi yang menjulang membentuk wajah Papua yang agung dan nyaris purba. 

Keelokan alam Papua inilah sekaligus menghadirkan tantangan geografis yang tak pernah sederhana. Pemerataan akses layanan dasar masih menjadi permasalahan utama dan struktural. Banyak sekolah berdiri dalam keterbatasan. Kekurangan tenaga pendidik, infrastruktur yang minim, serta aksesibilitas yang rendah, khususnya di wilayah pedalaman yang hanya dapat dijangkau berjam-jam perjalanan darat  atau hanya bisa lewat udara. 

Dalam situasi demikian, ribuan anak menghadapi ancaman putus sekolah akibat kendala jarak, faktor keamanan, dan tekanan ekonomi keluarga. 

Ada kisah nyata di mana anak-anak di kampung Putaapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah sekolahnya hanya menyediakan sampai kelas empat SD saja. Tak ada cara lain selain harus berangkat menuju kampung tetangga, Modio namanya, yang berjarak 26 kilometer.

Felix Degei, laki-laki kelahiran Kampung Putaapa pada 1988 silam adalah salah satu anak-anak yang harus menempuh perjalanan itu. Alat transportasi satu-satunya adalah kekuatan fisiknya sendiri. Rombongan ini berjalan kaki membelah hutan dan menerjang sungai saban hari.

“Pulang pergi itu pagi berangkat subuh sudah mulai jalan (kaki). Lalu habis sekolah pulang lagi. Begitu terus selama dua tahun” tutur Felix mengenang perjalanan 26 kilometer yang selalu membekas di ingatan.

Degei sendiri adalah salah satu marga asli Suku Mee, salah satu suku terbesar di Tanah Papua yang banyak terkonsentrasi di Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Felix adalah anak ketiga dari enam bersaudara, dua kakaknya telah lebih dulu meninggal dunia. Ayahnya seorang pensiunan Guru Agama Katolik di SD Negeri Inpres 1 Bumi Mulia Wanggar Nabire, sosok yang menanamkan disiplin belajar dan keberanian bermimpi, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang menjaga api semangat untuk suami dan menghadirkan kasih sayang bagi anak-anaknya.

Kondisi kampung kelahirannya di Putaapa sampai saat ini bahkan belum sepenuhnya terhubung listrik dan internet. Dalam situasi demikian, ada banyak anak-anak menghadapi ancaman putus sekolah akibat kendala jarak, faktor keamanan, dan tekanan ekonomi keluarga. 

Felix kecil masih ingat betul saat ia duduk dan menenteng radio Tiens milik ayahnya. Radio itu menangkap siaran jauh dari Melbourne. Setiap kali penyiar menyebut, “Radio Australia dari Melbourne,” ia menyimpan kalimat itu dalam-dalam. Suatu hari, katanya pada diri sendiri, ia akan sampai ke sana. Di sinilah mimpi itu mulai disimpan.

Berpuluh tahun kemudian tepatnya tahun 2017, Felix benar-benar mencapai Australia. Tepatnya menempuh studi Master of Education di The University of Adelaide dengan Beasiswa LPDP. Pria sederhana ini pulang dan sampai kini mengabdikan penuh menjadi guru honorer di sebuah SMA di Nabire.

Jelas apa yang didapat Felix bukan kondisi lazim di lingkungannya bertumbuh. Tetapi mimpi selalu membuka jalannya bagi orang yang tekun mencari.

Mimpi Itu Tumbuh Dari Radio dan Romo

Wawasan tentang dunia luar awalnya sempit. Saat SMP, Felix mengira kuliah paling prestisius adalah sekolah tinggi di Nabire. Jayapura terasa jauh, apalagi luar negeri. Namun ada dua peristiwa kecil yang ternyata cukup membekas besar hingga mempengaruhi proyeksi pikirannya.

Pertama, siaran “Radio Australia dari Melbourne” yang kerap ditangkap radio ayahnya. Setiap kali penyiar menyebut Melbourne, Felix kecil berbisik dalam hati, suatu hari ia akan sampai ke sana.

Teman-temannya yang mendengar celetukan Felix tentu saja bereaksi heran dan setengah mentertawakan. Jangankan ke Melbourne, ke kampung ibukota distrik saja sulit, apalagi sampai ke kota besar seperti Nabire atau malah ke luar negeri.

Felix tidak kecut hati. Lagipula apa yang diungkapkan teman-temannya juga sangat masuk akal dan mencerminkan realitas yang terjadi. Hanya saja Felix juga teringat oleh wejangan ayahnya tentang bagaimana harus meretas batas terkait sekolah tinggi.

“Kalau mau lihat orang yang beda warna kulit, beda rambut, mau ingin coba makanan yang beda dengan kita, mau ingin mengalami iklim, cuaca yang berbeda, ya harus belajar, teko lah, yang artinya sekolah” kenang Felix.

Sosok ayah inilah yang menanamkan disiplin belajar dan keberanian bermimpi pada diri Felix sedari kecil. Setelah lulus SD, ia melanjutkan ke SMP YPPK Santo Fransiskus Assisi di Moanemani yang kini ibu kota Kabupaten Dogiyai. Lalu kemudian merantau lebih jauh ke Nabire untuk bersekolah di SMA YPPK Adhi Luhur. Rangkaian perpindahan dari kampung terpencil ke pusat kabupaten dan kemudian ke ibu kota wilayah itulah yang secara perlahan memperluas cakrawala berpikirnya.

Saat duduk di Kelas XI SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, seorang pastor Jesuit membacakan biografi seorang imam asal Mee yang menyelesaikan studi doktoral di Roma. Felix terhenyak, jika seseorang dari suku yang sama, dari tanah dan makanan yang sama, bisa menembus Vatikan, maka batas-batas itu sesungguhnya imajiner.

“Saat itulah saya langsung optimis bahwa ini pastor yang sesama suku sudah pernah seperti ini, pasti saya juga bisa. Itu menjadi milestone atau the jumping stone. Saya langsung lompat bahwa itu pasti saya bisa” tutur Felix.

Sejak saat itu, mimpinya tak lagi berhenti di Nabire atau Jayapura saat menempuh S1. Ia ingin melangkah lebih jauh.

Gagal di AAS, Terima Berkat di LPDP

Felix melanjutkan studi S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas Cenderawasih dan lulus pada 2012. Ia sempat menjadi asisten dosen. Tahun 2013, ia mendapat kesempatan kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Denpasar Bali. Di sanalah ia mulai mengenal berbagai beasiswa internasional seperti Australia Awards, Fulbright, Chevening, dan ada LPDP.

Dirinya tertarik melamar Australia Awards tapi gagal. Ia mengikuti pelatihan English Language Training Assistance (ELTA) yang didanai Kedutaan Australia. Ia mencoba lagi. Ia menunggu. Pengumuman tak kunjung datang.

Di tengah ketidakpastian itu, ia melamar LPDP. Sebelumnya Felix mengaku belum mendengar terkait LPDP kendati sudah mulai meluncurkan program beasiswanya sejak 2013. Baru beberapa tahun kemudian Beasiswa LPDP mulai terdengar. 

“Jadi sejak saat itu yang sebelumnya hanya menaruh hati ke Australia Award Scholarship (AAS) itu, saya berpikir LPDP juga bagus ini.” ucapnya tertawa.

Tahun 2016, kabar baik datang lebih cepat. Felix dinyatakan diterima sebagai awardee Beasiswa LPDP skema Daerah Afirmasi.

“Puji Tuhan, Tuhan buka jalan, dan saya di 2016 itu menjadi salah satu penerima LPDP.” kenangnya saat pertama kali mendapat pengumuman kelulusan.

Kata “afirmasi” adalah pengakuan bahwa tidak semua orang bisa memulai dari garis start yang sama. Hambatan struktural seperti yang dialami Felix dan rekan-rekan Papua pada umumnya hanya dapat dipecahkan dengan terobosan jemput bola. Berbagai persyaratan khusus yang dimudahkan telah memungkinkan talenta-talenta unggul seperti Felix merasakan pendidikan kelas dunia. 

Salah satu keunggulan Beasiswa Daerah Afirmasi adalah dihilangkannya syarat sertifikat bahasa pada saat pendaftaran. Sebagai gantinya, peserta yang lolos diberikan fasilitas penuh kursus bahasa Inggris atau disebut Pengayaan Bahasa (PB). 

Ketika itu Felix mengikuti PB di Universitas Negeri Malang. Biaya pengayaan bahasa, tempat tinggal, hingga uang saku diberikan penuh oleh LPDP guna memastikan peserta didik mendapat skor IELTS terbaik untuk bisa memulai perkuliahan. 

Australia bukan lagi hanya angan yang didengar sayup-sayup menyapa dari radio. Felix benar-benar mencapai negeri tetangga itu dengan seluruh kegigihan yang ia bangun dan lakoni selama ini. Pada Januari 2017 berangkat ke Australia untuk menempuh Master of Education di The University of Adelaide. 

Sebelum berangkat Felix telah melacak jejaringnya terutama saat di ELTA dan persiapan AAS kala itu. Lalu menemukan seorang guru asal Merauke yang sedang studi di Flinders University. 

“Kakak, ibu kita sama-sama dari pedalaman Papua, saya ada rencana seperti ini, saya ingin lanjut dan kiranya ibu bisa bantu saya untuk setelmennya dulu?” sapa Felix saat menghubunginya dari media sosial.

Guru itu menjemputnya di bandara dan menampungnya dua minggu pertama sembari mencari tempat. Felix akhirnya mendapat share house tidak jauh dari kampus dan tinggal di sana bersama delapan orang lainnya, dia sendiri yang berasal dari Indonesia.

“Kalau mau survive, mau komunikasi dengan mereka, harus pakai bahasa Inggris,” ujarnya. 

Ia memaksa diri bertanya di kelas, mendatangi writing center, dan memanfaatkan setiap fasilitas kampus. Tentang adaptasi, ia berkata, “Puji Tuhan saya tidak mengalami culture shock yang terlalu berlebihan, karena saya memang datang untuk belajar. Yang saya tidak tahu, saya tanya.” 

Lingkungan multikultural itu, alih-alih menakutkan, justru mempercepat pertumbuhannya yang langsung menguji mental si anak kampung Putaapa sekaligus membuktikan bahwa keberanian untuk meminta bantuan dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci bertahan di dunia baru. 

Felix Degei saat menunjukkan ijazah Master of Education di depan kampus The University of Adelaide. Dok Pribadi.

Felix juga menjelaskan bahwa dana beasiswa yang diterima dapat ia sisihkan sebagian untuk membantu membiayai kuliah S1 kedua adiknya. Mereka berkuliah di Yogyakarta, tepatnya di APMD (Akademi Pembangunan Masyarakat Desa), sebuah kampus yang dikenal dengan fokus pada pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat desa. Sementara adiknya yang lain melanjutkan studi di Universitas Cenderawasih, mengambil jurusan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). 

“Kembali saya harus mengucapkan terima kasih kepada LPDP, karena saya dapat beasiswa LPDP itu, kita berbagi juga dengan adik saya, dan mereka juga sudah selesai.” kata Felix.

Menolak Tawaran Karier Lain, Memilih Panggilan Guru

Peluang tentu terbuka lebar pasca merampungkan studi di Negeri Kangguru. Ia bisa kembali menjadi dosen tetap di Universitas Cenderawasih. Ia sempat diminta membantu staf atau tenaga ahli dari seorang anggota DPD RI di Jakarta. Secara rasional, semua jalur karier di depan mata itu menjanjikan semudah ia menyanggupi.

Namun Felix memikirkan Putaapa. Ia memikirkan sekolah-sekolah di pedalaman dengan gedung tanpa guru. Ia memikirkan siswa SMA yang belum lancar membaca dan berhitung. Ia memikirkan masa lalunya ketika Bahasa Indonesianya menjadi bahan ejekan saat SMA.

“Kalau saya menghilang, itu tidak baik,” katanya pelan.

Ia memilih kata hatinya untuk pulang ke Nabire. Bukan ke ibu kota, bukan ke pusat kekuasaan. Ia ingin hadir di tengah masyarakatnya sendiri.

Sejak 2019, rutinitas Felix nyaris tanpa jeda. Pagi hari ia mengajar di SMA Negeri 1 Plus KPG (Kolese Pendidikan Guru) Nabire sebagai guru honorer. Siang hingga sore ia mengajar di Unit Pelaksana Program PGSD milik Universitas Cenderawasih di Nabire. Ia juga mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) dan menjadi tutor Bahasa Inggris di sekolah persiapan Imam Katolik.

Di SMA KPG artinya mereka yang selesai dari SMA ini adalah yang ingin melanjutkan pendidikan sebagai guru. Oleh karena itu SMA ini mengedepankan penggemblengan berbagai pelajaran dasar untuk siap menjadi guru.

Anak-anak SMA yang diajar Felix mayoritas berasal dari pedalaman baik pesisir maupun pegunungan. Ia menerangkan bagaimana banyak dijumpai bahwa anak-anak SMA belum bisa baca tulis dan perkalian.

“Jadi perkalian 1 sampai 10 itu kita harus tunggu sampai menit, sampai lama keringatan mereka melafalkan membaca dengan lancar. Berbicara dengan baik itu jauh dari yang seharusnya di tingkat SMA.” tuturnya menerangkan kondisi anak-anak di sekolahnya.

Tidak jarang beberapa guru pendatang yang bukan orang Papua saat ditugaskan kerap terheran apakah mereka salah masuk kelas atau tidak mengingat kemampuan anak didik yang masih jauh.

Di sinilah panggilan Felix bahwa dengan kompetensinya, dan sebagai Orang Asli Papua (OAP) perlu ada di tengah-tengah mereka menjadi mercusuar teladan.

“Memang ini masalah yang harus semua pihak, semua stakeholder ambil bagian untuk peningkatan literasi, numerasi. Dan itu lagi-lagi dari selalu mengingat saya akan perjalanan saya hingga ke titik sekarang” kata Felix.

Kisah Felix memperlihatkan makna strategis Beasiswa LPDP, khususnya skema Daerah Afirmasi, Putra-Putri Papua. Program ini bukan sekadar pembiayaan studi, melainkan intervensi struktural untuk memperluas akses bagi wilayah dengan keterbatasan geografis dan ekonomi.

Afirmasi berarti negara hadir untuk mereka yang selama ini jauh dari pusat informasi dan kesempatan. Felix adalah manifestasi dari desain kebijakan itu. Investasi pada satu individu menjalar menjadi investasi pada komunitas. Setiap siswa yang ia ajar, setiap calon guru yang ia dampingi, adalah perpanjangan tangan dari kebijakan yang tepat sasaran.

Semua untuk masa depan Papua.


Berita Terkait

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri