Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Medelky Anouw saat ditemui di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Foto oleh Ghilman Aminullah
Awardeestory

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Penulis
Tony Firman
Kamis,
5 Februari 2026

Siang itu di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Medelky Anouw menyambut kami dengan hangat. Tidak ada kesan kaku, kami berbincang dengan nuansa penuh egaliter sambil mempersiapkan peralatan wawancara. Deky, akrab disapa, sehari-hari punya tugas mengawal dan memastikan penyaluran dana pendidikan untuk anak-anak Papua bisa bersekolah dengan baik. 

Jauh sebelum menduduki jabatan Plt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Deky sudah lama berkarier sebagai guru di sekolah swasta. Ia sangat mencintai dunia pendidikan khususnya bidang STEM dan mengajar Kimia, mengusung gaya yang disebutnya sebagai pendidikan kontekstual.

“Kami langsung contohkan penjumlahan dengan apa yang biasanya mereka lihat sehari-hari. Misal dengan ubi, wortel, atau misalnya hal-hal lain yang mereka jumpai di kehidupan sekitar itu bisa kita pakai sebagai alat peraga” tutur Deky.

Lulusan S2 Kimia dari Arizona State University ini melihat proses pengajaran haruslah bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari dari anak didik. Mencontohkan dengan berbagai situasi yang dihadapi untuk dipadukan dengan pelajaran dinilai ampuh mendongkrak minat sekaligus pemahaman siswa.

Latar belakang Deky secara umum sama dengan anak-anak Papua pada umumnya. Hidup dalam keterbatasan akses dan kesederhanaan. Untungnya ia punya orang tua yang sudah memahami bahwa pendidikan adalah jalan membuka masa depan lebih baik.

“Bapak saya itu sangat support untuk pendidikan. Pulang kantor, langsung ajarin kami baca, tulis, hitung. Kadang kalau malas, ya dihajar,” katanya sambil tersenyum mengenang.

Keputusannya pulang ke tanag Papua dengan bekal lulusan kampus top Amerika Serikat tak pernah membuatnya menyesal. Hatinya begitu besar bertaut dengan tanah air yang masih butuh banyak pertolongan. Deky sekarang di garda terdepan turun dari kampung ke kampung bermedan ekstrim yang hanya bisa dijangkau pesawat kecil.

“Saya lihat sekolah-sekolah yang ada di daerah konflik, sekolah-sekolah yang terbakar, sekolah-sekolah yang tidak ada guru.” tuturnya.

Kurang lebih satu jam kami mewawancarai Deky di ruang kerjanya pada akhir November 2025 lalu. Ia banyak bercerita terkait latar belakang, keputusan pulang kembali ke Papua, hingga tantangan dan peran pengabdiannya di posisi sekarang. Semua demi masa depan generasi Papua yang lebih baik. 

Akar dari Tanah Terpencil

Medelky dilahirkan di Beoga, sebuah distrik terpencil di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Ia lima bersaudara dan merupakan anak keempat dari ayah yang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS), ibunya mengurus domestik membesarkan anak-anak. Ayahnya juga kadang mengajar di saat ada kekosongan di kelas meski tidak pernah tetap. 

Lingkungan di sekitarnya tidak selalu ramah bagi pemimpi sekolah tamat. Banyak teman sebaya yang putus sekolah. Lem dan mabuk lebih cepat dikenal daripada buku dan mimpi. Deky sadar jika ia tidak memelihara kehendaknya sendiri, lingkungan akan menelannya. 

Benar saja, Deky menjadi generasi pertama di keluarganya yang menamatkan S1 dan S2. Sewaktu ayahnya meninggal saat Deky S1, pamannya datang memberikan support penuh hingga dirinya mampu menyelesaikan studi dan memulai karier menjadi guru.

Deky kemudian malang melintang di sejumlah kota Indonesia untuk mengajar, terakhir ia pulang dan mengajar kimia dan geografi di SMA Kristen Kalam Kudus, Jayapura. Di ruang kelas sederhana itulah Deky menemukan petunjuk pengajaran, bahwa anak-anak Papua bisa mencintai sains jika sains bicara dengan bahasa mereka sendiri. Namun ia juga sadar, pengetahuannya belum cukup. 

“Saya merasa harus S2,” ujarnya.

Informasi LPDP kala itu belum semasif sekarang. Deky mengetahuinya dari jejaring Facebook dan pengumuman BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Papua. Ia mendaftar, berjuang di pengayaan bahasa Inggris hingga sembilan bulan, jatuh bangun mengejar skor yang disyaratkan.

 “Yang paling penting adalah saya tidak menyerah,” katanya. 

Sebelum berangkat ke Amerika, Deky mengikuti program pengayaan bahasa yang merupakan paket beasiswa. Enam bulan pengayaan belum cukup, skor IELTS belum tembus. Ia bisa menyerah, tapi memilih tidak. Ia memperpanjang tiga bulan lagi dan berhasil.

Arizona State University akhirnya menyambut Deky. Ia belajar kimia, terlempar ke bidang Hydrothermal Organic Geochemistry karena pandemi menutup jalur pendidikan kimia murni. Laboratorium Amerika memperlihatkan dunia yang lain, alat lengkap, budaya bertanya tanpa rasa sungkan, dan profesor yang berkata, there is no stupid question paling ia ingat.

Pulang, Jalan Menuju Terang

Menyandang gelar dan lulusan kampus luar negeri jelas membuka peluang karier yang lebih cemerlang. Ia mengakui mengikuti beberapa seleksi kerja di Paman Sam hingga hampir selangkah lagi menjadi guru sains di New Jersey. 

Suatu malam, sebagai teaching assistant, ia mengoreksi laporan praktikum digital. Titrasi dilakukan lewat aplikasi. Semua rapi. Semua mudah. Dan tiba-tiba, Papua hadir di benaknya, sekolah tanpa guru, laboratorium minim alat, anak-anak tanpa buku.

“Di momen itu, saya seperti Tuhan memperlihatkan perbandingan langit dan bumi. Kamu mau kerja di sini, tapi di Papua masih sangat jauh. Dan saya menangis,” katanya.

Ia kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan ASN di Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah. Jabatan resminya PLT Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan. Tugasnya mengurus ratusan beasiswa: Siswa Unggul Papua, kerja sama perguruan tinggi, lebih dari lima ribu mahasiswa penerima bantuan. Angka-angka besar, tapi medan kerjanya justru sangat personal.

Terdapat program bergulir bernama Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang mengintegrasikan pendidikan formal, pembentukan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan disiplin dan mutu akademik. Ada juga program Sekolah Berpola Asrama yang terintegrasi dari tingkat SD, SMP, dan SMA di satu lokasi.

Program ini terkhusus diprioritaskan untuk Orang Asli Papua (OAP). Deky mendapat bagian tugas untuk terjun langsung ke lapangan mengawal berlangsungnya SSH. Seluruh daerah harus dijangkau tanpa terkecuali lokasi-lokasi yang kerap menjadi medan konflik seperti di Puncak, Intan Jaya, Puncak Jaya. 

Ada sekolah yang empat tahun tidak beroperasi karena sering terjadi ketegangan dan kontak senjata. Guru-guru tidak ada yang berani beraktivitas di sana. Sementara di pihak masyarakat mereka ingin kehadiran pendidikan.

“Hati saya hancur ketika lihat anak-anak harus naik turun gunung, jalan kaki tanpa alas, ke sekolah yang bukan sekolah mereka,” kata Deky saat berada di sana.

Mereka sangat antusias mendapati rombongan Deky datang. Ia menyapa mereka. Merekam perkenalan sederhana dan hangat bersama anak-anak itu. Memberi uang jajan dan tak kuasa menahan sedih. Deky langsung berkoordinasi dengan perangkat setempat untuk menghimpun segala kondisi dan melakukan tindakan.

Sebelum menjadi ASN, ia dan teman-temannya mendirikan Yayasan Pusat Sains Papua. Mereka mengajar matematika yang kontekstual. Misalnya ubi, wortel, hasil kebun menjadi alat hitung. Kini di dinas, terobosan itu meningkat menjadi kebijakan. Ia menyusun kurikulum sains kontekstual, misalnya menggunakan media buah merah dan terong Belanda sebagai indikator asam-basa saat menjelaskan reaksi kimia.

Ditanya berkali-kali terkait keputusannya pulang ke Papua, Deky konsisten menjawab tidak menyesal. Panggilan hati untuk membangun tanah airnya sudah begitu keras. Ia menikmati setiap proses perubahan dan rencana-rencana besar yang akan digapai.

Pemerataan pendidikan di Papua adalah hal mutlak yang dicita-citakan Deky. Mimpi besarnya ingin melihat dalam 10 sampai 20 tahun lagi para anak-anak Papua ini bisa menjadi versi terbaik dengan kemampuan mereka masing-masing.

“Dengan keputusan yang saya ambil, hari ini saya balik ke Papua saya tidak menyesal dengan apa yangs aya lakukan. Turun ke kampung-kampung sampai dari pelosok hati saya bergetar. Saya bisa lakukan hal-hal kecil saja buat anak-anak ini, itu udah kepuasan terbesar sih buat saya. Itu sudah kehormatan yang besar buat saya, itu sih yang paling utama. Bukan nilai uangnya.” tutup Deky.

Berita Terkait

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Cerita Ardi Alam Jabir, Pernah Narik Ojol demi Kuliah Kini Sukses Jadi Supervisor R&D di Industri Nikel Morowali

Awardeestory | 17-12-2025

Cerita Ardi Alam Jabir, Pernah Narik Ojol demi Kuliah Kini Sukses Jadi Supervisor R&D di Industri Nikel Morowali