Satu dekade belakangan, minum kopi menjelma menjadi semacam ritual urban. Kedai kopi tumbuh di mana-mana hingga menjalar sampai ke daerah. Di gang-gang sempit, di pojok ruko, di bawah pohon rindang, suara mesin espresso memecah hening diiringi obrolan lepas, atau yang sedang asyik sendiri dengan buku dan laptop. Kopi memang telah menyatukan banyak tangan yang terlibat sebelum sampai ke cangkir. Petani di lereng gunung, barista yang hafal setiap karakter biji, hingga siapa saja yang menjadikannya bagian dari hari-hari mereka.
Angka berbicara. Tanah subur Indonesia memproduksi lebih dari 654 ribu ton kopi sepanjang 2024, menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari empat negara penghasil kopi terbesar di dunia. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar 1,04 kilogram kopi dalam setahun menurut Specialty Coffee Association of Indonesia, dan tren itu terus menanjak.
Jakarta, tentu saja, sudah lebih dulu akrab dengan kultur semacam ini. Kopikina menjadi salah satu nama yang lekat di mulut kawula muda. Cabangnya tersebar dari Tebet, Kemang, Cikini, sampai Kuningan. Dan semuanya nyaris tak pernah benar-benar sepi. Pagi hingga dini hari, orang terus datang dan pergi. Sesekali ruangannya berubah jadi panggung kecil untuk diskusi, pertunjukan musik, atau pertemuan komunitas yang hangat dan tanpa formalitas.
Dahulu Kopikina dimulai dari sebuah kedai kecil yang dirintis di Tebet. Ada nama Raras Cynanthia, yang memutuskan meninggalkan dunia korporasi untuk ikut membangun bisnis yang dirintis sang suami. Ayas, akrab ia disapa, adalah alumni penerima Beasiswa LPDP angkatan paling awal. Kini, sebagai Chief Strategic Officer, Raras berperan dalam merancang strategi pertumbuhan bisnis sekaligus membangun pengalaman pelanggan yang menjadi identitas Kopikina hingga hari ini.
Menempuh Pendidikan hingga Doktoral di Usia Muda
Raras Cynanthia atau akrab disapa Ayas, lahir dan besar di Jakarta dalam lingkungan keluarga yang cukup dan dekat dengan dunia pendidikan. Ayahnya berkarier di perbankan, sementara ibunya merupakan dosen di Universitas Gadjah Mada. Ketertarikannya pada manusia dan cara berpikir seseorang membawanya memilih Psikologi Universitas Gadjah Mada sebagai jenjang pendidikan sarjana.
Minatnya pada perilaku manusia terus berkembang hingga mengantarkannya melanjutkan pendidikan master di University of Sheffield, Inggris, dengan mengambil program MSc Marketing Management Practice. Tak lama setelah menyelesaikan studi masternya, beasiswa LPDP kala itu baru saja dibuka. Berbeda dengan proses rekrutmen beasiswa saat ini, kala itu LPDP masih mencari bibit-bibit unggul calon penerima beasiswa dengan strategi “jemput bola”, yakni menebar informasi ke kampus-kampus, termasuk di UGM tempat ibunya bekerja. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Ayas memutuskan ikut seleksi dan berangkat kembali ke Inggris untuk studi doktor di University of Manchaster, mempelajari consumer behavior dalam usia yang relatif masih begitu muda, yakni 23 tahun.
“Saya berangkat lagi ke Inggris untuk S3 di usia 23 tahun, lalu menyelesaikan studi pada usia 26 tahun,” ujarnya.
Sebagai bagian dari PK-1 atau generasi pertama program Beasiswa LPDP ini, Raras merasakan langsung bagaimana program beasiswa ini tumbuh bersama para awardee generasi awal. Menurutnya, LPDP bukan sekadar dukungan pendanaan pendidikan, melainkan kesempatan untuk memperluas perspektif dan membuka akses terhadap pendidikan terbaik dunia.
Belajar Memahami Manusia dan S3 di Usia Muda
Tahun-tahun yang Ayas habiskan di Inggris bukan sekadar soal menuntaskan gelar. Di sana, ia belajar sesuatu yang lebih susah dirumuskan, yaitu bagaimana manusia mengambil keputusan, membentuk selera, dan memaknai pengalaman. Lewat riset consumer behavior, ia mulai menyadari bahwa di balik setiap pilihan konsumen tersimpan lapisan psikologis yang kompleks—dan pemahaman itulah yang kemudian mewarnai cara berpikirnya sampai sekarang.
"Yang diinginkan adalah proses intelektualnya. Sebenarnya yang membedakan jenjang kuliah S1, S2, dan S3 itu adalah level of critical thinkingnya, itu sih, spirit of growthnya, growth mindset," ujarnya ketika ditanya soal motivasinya studi lanjut sampai jenjang doktor.
Ia tahu pilihannya tidak mudah. Melanjutkan studi doktor di usia muda berarti merelakan sesuatu—karier yang bagi banyak teman sebayanya sudah mulai menanjak. Di Indonesia, gelar S3 pun belum terlalu ramah bagi mereka yang ingin menjadi praktisi; jalur yang tersedia kebanyakan mengarah ke dunia akademik, sementara Raras justru ingin berada di lapangan.
"Mungkin secara gelar, mendapatkan sesuatu yang lebih as the outcome tapi secara proses untuk menjadi manusia produktif di masyarakat itu tetap left behind sama teman-teman yang tetap melanjutkan karier di masa itu," ungkapnya.
Tapi ia tidak menyebutnya sebagai kerugian. Masa studi itu, baginya, adalah ruang yang langka, tempat ia bisa membangun kedewasaan berpikir, melatih kepekaan terhadap manusia, dan mengasah kemampuan memecahkan masalah tanpa tekanan untuk segera menghasilkan sesuatu.
Ketertarikannya pada consumer behavior yang tumbuh di bangku kuliah kini bukan lagi sekadar minat akademik. Ia sudah menjelma jadi cara kerja: bagaimana ia merancang strategi bisnis, bagaimana ia memikirkan pengalaman pelanggan, bagaimana ia mempertemukan sebuah brand dengan kehidupan nyata orang-orang di sekitarnya.
Bagi Ayas, pendidikan bukan tentang apa yang tertulis di ijazah, melainkan tentang perspektif yang perlahan terbentuk, dan pada akhirnya memberi dampak di tempat-tempat yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Tumbuh Bersama Proses
Perjalanan Kopikina tidak lahir dari modal besar atau konsep coffee shop mewah. Di balik berkembangnya brand kopi tersebut, terdapat cerita tentang keberanian memulai dari keterbatasan, membaca peluang, dan membangun bisnis secara perlahan dari bawah.
Ayas bercerita bahwa sosok yang pertama kali merintis Kopikina adalah suaminya, Cornelius Swangga, seorang geolog lulusan Universitas Gadjah Mada yang pada saat itu masih bekerja di perusahaan tambang. Ketertarikan Angga terhadap kopi tumbuh dari pengalamannya menjelajahi berbagai daerah di Indonesia sebagai geolog. Dari sana, ia mulai mengenal kekayaan kopi Nusantara dan specialty coffee yang saat itu mulai berkembang di Indonesia.
Kopikina sendiri mulai dibangun pada 2013. Namun di masa awal, bisnis tersebut belum dijalankan secara serius sebagai perusahaan penuh waktu.
“Waktu itu company dijalankan hanya sebagai hobi saja. It’s not a real business. Kita nggak mikirin revenue atau profit,” ujar Raras.
Pada periode tersebut, tren coffee culture mulai masuk ke Indonesia, dipengaruhi oleh banyak mahasiswa Indonesia yang kembali dari Australia dan membawa kultur specialty coffee ke Jakarta. Bermunculan coffee shop dengan konsep modern dan modal besar.
Namun Raras dan suaminya menyadari mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing secara langsung dengan gelombang coffee shop besar yang sedang tumbuh saat itu. Alih-alih memaksakan diri membuka kafe yang tentu membutuhkan modal yang cukup besar, mereka memilih strategi yang berbeda.
“Kalau kita mau compete sama coffee shop yang fancy, kita nggak bisa. Jadi waktu itu kami berpikir, gimana kalau jadi supplier-nya saja,” katanya.
Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Kopikina. Dari sebuah warung kecil di pinggir Jalan Abdullah Syafi’i, Jakarta, Kopikina mulai berkembang sebagai roastery dan pemasok kopi untuk berbagai perusahaan. Dengan modal yang lebih kecil, mereka mulai melakukan roasting green bean dan menawarkan produk ke berbagai klien bisnis. Menariknya, pada masa itu coffee shop mereka justru bukan sumber utama pemasukan bisnis.
“Kafenya ada, tapi cuma sebagai branding saja. Suami saya waktu itu jadi kasir sendiri, jadi barista sendiri, semuanya dikerjakan sendiri. Kalau bicara revenue generator, jelas dari kontrak dengan B2B clients,” kenang Raras.
Di tengah perkembangan bisnis tersebut, kehidupan pribadi mereka juga mengalami perubahan besar. Setelah kelahiran anak kedua, situasi perusahaan tempat suaminya bekerja mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja. Peristiwa itu justru menjadi titik balik yang membuat suaminya fokus penuh membangun Kopikina.
Sementara itu, dengan latar belakang pendidikan doktoral dari Inggris dan fokus riset di bidang consumer behavior, Raras juga tengah berkarier di perusahaan besar, Sinar Mas, selama sekitar tiga tahun. Namun pengalaman tersebut membawanya pada refleksi yang lebih dalam mengenai makna pekerjaan dan kontribusi.
“Ketika saya bekerja di perusahaan besar, saya merasa hanya bisa mensejahterakan diri saya sendiri,” ungkapnya.
Sebaliknya, ketika membangun bisnis bersama, ia melihat ada dampak yang jauh lebih luas yang dapat diberikan kepada banyak orang.
“Tapi kalau saya memakai waktu, energi, dan pikiran saya untuk membangun sebuah bisnis, saya bisa membantu mensejahterakan banyak keluarga. Level of fulfillment-nya beda,” lanjutnya.
Pemikiran itulah yang akhirnya membuat Raras memutuskan meninggalkan dunia korporasi dan fokus penuh membangun Kopikina bersama suaminya sejak beberapa tahun terakhir. Kini, ilmu tentang consumer behavior yang dahulu dipelajarinya di ruang akademik menjadi fondasi penting dalam memahami pelanggan, membangun pengalaman, dan mengembangkan strategi bisnis Kopikina.
Membangun Kopikina dengan Growth Mindset
Bagi Ayas, salah satu nilai yang paling dijaga dalam membangun Kopikina adalah growth mindset. Menurutnya, sejak awal Kopikina dibangun dengan keyakinan sederhana: bisnis harus terus bertumbuh dan beradaptasi. Sebab ketika sebuah organisasi berhenti berkembang, di titik itulah ia perlahan kehilangan relevansinya.
“Spirit yang kita bangun dari awal sampai sekarang adalah growth mindset. Besok harus lebih baik daripada hari ini. When you stop growing, then you stop living,” ujarnya.
Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam budaya kerja yang sangat terbuka terhadap eksperimen, perubahan, dan proses trial and error. Memiliki growth mindset bukan berarti terus mencoba tanpa arah, melainkan memahami kapan sebuah strategi perlu dihentikan, diperbaiki, atau dikembangkan kembali.
“Ketika kita punya new business idea atau marketing campaign, kita cepat sekali untuk A/B testing, trial error, coba lagi. Jadi bukan sekadar trial-error-error, tapi kita ngerti when to stop and when to improve,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang membantu Kopikina bertahan di tengah perubahan industri kopi yang sangat dinamis. Pada awal perkembangannya, Kopikina lebih dulu tumbuh sebagai bisnis roastery dan pemasok kopi untuk berbagai perusahaan besar. Namun seiring waktu, perubahan harga kopi global mulai memberikan tekanan besar terhadap margin bisnis. Situasi tersebut mendorong Raras dan tim untuk kembali mengevaluasi arah pertumbuhan perusahaan.
“Ketika harga kopi melambung berkali-kali lipat, kita berpikir harus diversifikasi bisnis dan mencari model yang marginnya lebih besar,” katanya.
Dari situlah Kopikina mulai melakukan pergeseran fokus bisnis sekitar tiga hingga empat tahun terakhir: dari yang sebelumnya lebih dominan di sektor B2B menuju penguatan bisnis coffee shop dan end customer experience. Langkah tersebut diambil karena bisnis coffee shop memberikan ruang kontrol yang lebih besar terhadap banyak aspek, mulai dari produk, pemasaran, hingga pengalaman pelanggan.
Namun transisi tersebut juga menghadirkan tantangan yang berbeda. Jika bisnis roastery lebih berfokus pada kualitas produk, supply chain, dan ketepatan distribusi, maka bisnis coffee shop menuntut pemahaman yang jauh lebih kompleks terhadap perilaku manusia.
“Customers are very dynamic, apalagi di Jakarta. Everything is so rapidly changing,” ujarnya.
Bagi Raras, meskipun Kopikina bergerak di bidang makanan dan minuman, pada akhirnya yang mereka bangun adalah lifestyle brand. Karena itu, memahami perubahan tren, perilaku pelanggan, hingga kebutuhan emosional konsumen menjadi hal yang sangat penting dalam mempertahankan relevansi brand di tengah cepatnya perubahan kultur urban. Di titik inilah, latar belakang akademiknya di bidang consumer behavior kembali memainkan peran besar. Pendekatan berbasis observasi, eksperimen, dan pemahaman terhadap manusia menjadi fondasi dalam setiap strategi yang dibangun Kopikina hari ini.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Coffee Shop
Di industri kopi yang semakin sesak, Kopikina memilih untuk tidak sekadar bersaing lewat rasa. Menurut Ayas yang membuat Kopikina berbeda bukan hanya apa yang ada di dalam cangkir, melainkan apa yang dibangun di sekelilingnya. Selain menjalankan jaringan kafe, Kopikina juga mengoperasikan lini roastery berskala besar yang menjangkau berbagai mitra di seluruh Indonesia.
"Kita punya pabrik dengan kapasitas produksi sampai puluhan ton per bulan di Cikarang. Karena kita supplying B2B players di berbagai daerah, kita juga jadi semacam data center," jelasnya.
Dari jaringan distribusi itulah Kopikina bisa membaca denyut pasar secara langsung—kopi jenis apa yang paling dicari, wilayah mana yang konsumsinya paling tinggi. Bagi Raras, kemampuan membaca perilaku konsumen dari data nyata di lapangan adalah salah satu keunggulan yang tidak mudah ditiru.
Namun Raras cepat menambahkan bahwa kopi hanyalah satu bagian dari cerita yang lebih besar.
"The specialty goes beyond only the coffee," ujarnya.
Kopikina secara aktif merawat hubungannya dengan komunitas, seni, dan kultur anak muda. Cabang-cabangnya kerap menjadi titik temu berbagai kelompok—komunitas lari pagi, diskusi buku, kelas merajut, hingga pertunjukan musik. Dalam satu hari, sebuah cabang Kopikina bisa bertransformasi beberapa kali.
"Jam tujuh pagi penuh sama runner, lalu siangnya ada bedah buku, malamnya bisa ada music concert," katanya.
Kolaborasi lintas komunitas dan genre pun menjadi semacam tradisi di sini. Kopikina pernah menghadirkan Klasik Klasik Orchestra, juga musisi seperti Jason Ranti yang suaranya akrab di telinga anak muda urban. Semua itu, menurut Raras, berakar pada satu gagasan yang terus mereka jaga sejak awal.
"Kalau harus dirangkum, spirit-nya adalah specialty for everyone," ujarnya.
Gagasan itulah yang perlahan mengubah Kopikina dari sekadar tempat membeli kopi menjadi ruang hidup. Tempat orang datang bukan hanya untuk minum, tapi untuk bertemu, berdiskusi, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu. Di sinilah latar belakang Raras sebagai peneliti consumer behavior terasa paling relevan. Ia memahami bahwa pelanggan hari ini tidak cukup hanya ditawarkan produk yang baik. Mereka juga mencari pengalaman, rasa memiliki, dan koneksi yang nyata dengan sebuah tempat maupun komunitas. Membangun brand, bagi Kopikina, berarti membangun ruang yang benar-benar hidup di tengah keseharian masyarakat urban.
Bertumbuh Bersama Ratusan Petani Kopi Indonesia
Kopikina kini berkembang menjadi salah satu brand kopi yang memiliki ekosistem bisnis cukup besar di Jakarta. Saat ini, Kopikina menjadi lahan mencari nafkah bagi 260 karyawan yang seluruhnya berbasis di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Selain mengoperasikan roastery di Cikarang, Kopikina juga telah membuka sejumlah cabang kafe di berbagai titik seperti Tebet, Kemang, Senopati, Cikini, Plaza Festival, hingga Bogor.
Yang menarik, pertumbuhan itu tidak berdiri sendiri. Di baliknya ada rantai panjang yang melibatkan ratusan petani kopi dari berbagai penjuru Nusantara. Setiap bulan, Kopikina menyerap lebih dari 50 ton kopi dari mereka—diproses di roastery, lalu mengalir ke klien-klien B2B maupun ke meja-meja kafe milik mereka sendiri.
Bagi Raras, angka-angka itu bukan tujuan akhir. Pertumbuhan bisnis, menurutnya, harus bisa dirasakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya—petani di ladang, pekerja di roastery, barista di balik bar, hingga tim yang bekerja di balik layar setiap harinya. Komitmen itu bukan tanpa pengakuan: pada 2018, Kopikina pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu penyumbang pajak terbesar dari KPP Matraman.
Penghargaan itu mungkin hanya satu momen dari perjalanan panjang yang dimulai dari warung kecil di pinggir jalan. Tapi ia menjadi semacam penanda—bahwa usaha yang lahir dari keterbatasan pun bisa tumbuh menjadi sesuatu yang memberi dampak jauh lebih luas dari yang pernah dibayangkan di awal.
Editor: Tony Firman



