Pagi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) selalu dimulai dengan tempo yang sama: Deru mesin, desingan besi, dan derap langkah cepat para pekerja. Di antara pekerja yang berjalan bergegas itu, ada warna-warni helm yang menjadi penanda peran posisi. Helm merah misalnya, biasa dipakai untuk para pemeriksa yang memikul tanggung jawab dalam tim atau divisi. Satu di antara para pekerja yang mengenakan helm merah itu ada nama Ardi Alam Jabir, alumni penerima Beasiswa LPDP-Central South University (CSU)–GEM yang kini menduduki jabatan supervisor pada divisi Research and Development (R&D), PT QMB New Energy Materials.
Ardi, begitu sapaan akrabnya, bekerja dengan cukup nyaman di perusahaannya pengolah nikel ini. Pekerjaannya lebih banyak berkutat dengan alat-alat di laboratorium yang sangat krusial karena menentukan seluruh skema jalannya proses produksi dan pengembangan di lapangan. Hasil pembelajaran selama kuliah dan pengalaman selama tiga tahun terakhir telah membentuknya hingga ada di posisi middle manager sekarang.
Namun jauh sebelum itu, ia mengenang bagaimana ayah dan ibunya dulu merantau dari Makassar ke Kalimantan. Hari-hari mereka berjibaku sebagai penambang tradisional berbekal kuali dan mengais pasir emas di pinggir sungai demi nafkah keluarga. Dua generasi bekerja di bidang yang sama, namun dengan nasib dan keadaan yang telah berbeda.
Mendapat Beasiswa Bidikmisi, Belajar Dunia Pertambangan
Ardi Alam Jabir lahir dari keluarga sederhana. Setelah beberapa tahun merantau sebagai penambang rakyat, keluarganya kembali ke Makassar dan membuka toko sembako. Mimpi Ardi cukup sederhana, bisa lanjut kuliah selepas SMA, namun mimpi itu masih cukup mewah untuk bisa dibiayai oleh orang tuanya. Berkat ketekunannya menjaga prestasi dan nilai akademis selama sekolah, kesempatan itu ternyata hadir, Ardi berhasil kuliah di prodi Teknik Pertambangan UNHAS dengan beasiswa Bidikmisi.
Kesempatan untuk mengembangkan diri lebih jauh justru datang di ujung masa kuliahnya. Tawaran mengikuti program student exchange ke Jepang hadir bersamaan dengan pilihan yang tidak mudah. Jika menerima kesempatan tersebut, Ardi harus menambah satu semester tanpa lagi mendapat dukungan beasiswa Bidikmisi yang telah berakhir masa pembiayaannya. Namun jika menolaknya, ia dapat lulus tepat waktu tanpa perlu menanggung tambahan biaya satu semester.
Dengan hati yang mantap ia akhirnya memilih untuk student exchange ke Jepang walau ia kemudian harus putar otak mencari cara untuk memenuhi biaya kuliah dan biaya sehari-harinya.
“Jadi ketika saya extend perkuliahan ini saya memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan lainnya, pada saat itu saya memutuskan untuk narik ojek online untuk setidaknya untuk bisa mengcover biaya perkuliahan dan juga biaya sehari-hari saya selama berkuliah gitu”, jelasnya.
Exchange ke Jepang dan Studi Lanjut ke Tiongkok
Pengalaman exchange di Ehime University, Jepang menjadi momen yang membuka semangat dan optimismenya untuk bisa studi lanjut di luar negeri. Kepercayaan dirinya turut meningkat dan terasah seiring dengan pengalaman berinteraksi dan studi di komunitas internasional. Berita mengenai dibukanya program beasiswa kerja sama Indonesia-Tiongkok LPDP-CSU-GEM tak lama selepas kelulusannya langsung ia sambut baik. Tahun 2019 Ardi berangkat ke Central South University, Tiongkok, kampus metalurgi terbaik di dunia.
Pengalaman kuliah di Tiongkok menjadi sangat berkesan. Di luar kegiatan kuliah, Ardi mengaku banyak hal lain yang ia pelajari, misalnya soal kedisiplinan belajar, menghargai waktu, hingga etos kerja yang fokus, disiplin, dan minim kesalahan. Kekhawatirannya soal makanan halal hingga beribadah sebagai seorang muslim juga tak terlalu susah, ada kantin dan banyak restoran halal di kota Changsha, sebuah masjid di tengah kota juga membuatnya tak perlu khawatir bila harus menunaikan ibadah sholat Jumat.
Tak lama setelah Ardi memulai masa studinya, pandemi COVID-19 merebak dan mengubah banyak rencana. Ia harus kembali ke Indonesia dan melanjutkan perkuliahan secara daring. Program magang yang menjadi bagian wajib dari skema beasiswa pun terpaksa dilaksanakan di dalam negeri. Beruntung, mitra program, GEM Co. Ltd., telah lebih dahulu mendirikan fasilitas industri di Morowali melalui PT QMB New Energy Materials, sehingga Ardi tetap dapat menjalani magang sesuai bidang studinya.
Mengasah Kemampuan dan Berkarier di QMB
Lulus dari CSU pada tahun 2022, Ardi langsung bekerja di PT QMB New Energy Materials. Berkat magang yang dijalaninya di tempat yang sama, ia tak terlalu banyak menemui kesulitan dan adaptasi, khususnya ketika harus berinteraksi dengan rekan kerja dan atasannya yang merupakan tenaga kerja asing asal Tiongkok. Hanya dalam waktu yang relatif cepat, tiga tahun, Ardi kini telah menduduki jabatan manajerial sebagai Supervisor di divisi Research and Development.
“Jenjang kariernya sangat cepat. Untuk saya sendiri dan teman-teman yang seangkatan, bisa dibilang sekarang kami sudah berada di level manajerial. Ada yang menempati posisi supervisor, dan sebagian lainnya sudah memegang peran kepemimpinan”, terangnya.
Saat ini, Ardi lebih banyak berfokus pada upaya pengembangan, termasuk pengembangan karyawan melalui berbagai program pelatihan dan inisiatif peningkatan kapasitas lainnya. Dalam lingkup Research and Development, Ardi terlibat dalam berbagai proyek penelitian dengan fokus yang beragam. Tidak hanya berkaitan dengan optimasi dan penjagaan kualitas produk dari proses produksi yang sedang berjalan, penelitian tersebut juga diarahkan pada pengembangan produk-produk baru serta pemanfaatan potensi lain dari proses pengolahan. Salah satu fokus penting dalam pengembangan ini adalah upaya mengolah limbah hasil produksi agar dapat dimanfaatkan kembali, sehingga material yang semula dianggap sebagai sampah dapat diubah menjadi sumber nilai tambah.
Indonesia Butuh Lebih Banyak Ahli Metalurgi
Indonesia saat ini menempati posisi strategis dalam peta industri nikel global. Negeri ini menyumbang sekitar 48–50 persen produksi nikel dunia dan memiliki cadangan nikel terbesar secara global, yakni sekitar 52 persen dari total cadangan dunia, yang mayoritas berupa nikel laterit. Cadangan tersebut tersebar terutama di wilayah Sulawesi–tanah kelahiran Ardi–serta Maluku Utara, dengan kawasan seperti Morowali dan Halmahera menjadi pusat utama aktivitas pertambangan dan pengolahan.
Peran nikel pun semakin krusial. Selain menjadi bahan utama stainless steel, nikel kini menjadi komponen penting dalam pengembangan baterai kendaraan listrik, menjadikan Indonesia salah satu pemasok strategis dalam rantai pasok energi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai meninggalkan praktik ekspor bahan mentah dan mendorong hilirisasi nikel melalui pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan yang menghasilkan produk setengah jadi. Namun, untuk melangkah lebih jauh hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi seperti baterai kendaraan listrik, Indonesia masih membutuhkan investasi besar. Bukan hanya investasi pada infrastruktur dan teknologi industri, tetapi juga investasi jangka panjang pada sumber daya manusia yang mampu menguasai riset, pengembangan, dan teknologi pengolahan logam.
Di titik inilah peran talenta unggul seperti Ardi dan rekan-rekan lainnya alumni Beasiswa LPDP–CSU–GEM yang kini bekerja di sektor Research and Development industri pengolahan nikel, menjadi relevan. Bagi Ardi, kekayaan sumber daya alam Indonesia seharusnya diiringi dengan kemandirian industri dan penguasaan teknologi oleh anak bangsa.
“Harapan saya ke depan, Indonesia bisa memiliki industri pengolahan logam yang benar-benar murni dan 100 persen lokal. Sebenarnya, ada banyak sekali potensi yang bisa dieksplorasi di Indonesia bukan hanya dari kekayaan sumber daya alam yang sudah kita miliki, tetapi juga dari pengembangan ilmu di bidang metalurgi,” ujar Ardi yang ingin menjadi dosen.
Pengalaman menempuh pendidikan di Tiongkok turut membentuk pandangannya tentang masa depan industri logam nasional. Ia melihat bahwa kemajuan industri tidak selalu bergantung pada eksploitasi sumber daya alam baru, melainkan pada kemampuan mengelola dan mengembangkan teknologi.
“Di sana, limbah elektronik tidak lagi dianggap sebagai sampah, melainkan diolah kembali untuk menghasilkan logam. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pengambilan dari alam,” tutur Ardi.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa hilirisasi sejati bukan hanya soal membangun pabrik dan smelter, tetapi juga tentang membangun kapasitas manusia yang mampu mengolah sumber daya secara berkelanjutan. Investasi pada pendidikan dan riset, seperti yang dilakukan melalui program Beasiswa LPDP–CSU–GEM, menjadi pondasi penting agar Indonesia tidak hanya kaya akan nikel, tetapi juga berdaulat dalam penguasaan teknologi pengolahannya.
Editor: Tony Firman



