Tenun adalah salah satu wastra kekayaan Indonesia. Tiap-tiap daerah punya motif tenun yang khas dengan kuat dipengaruhi melalui identitas budaya sendiri. Tenun memang tidak asing di telinga kita, tetapi jika dibanding dengan batik masih terasa nomor dua popularitasnya. Padahal keduanya melibatkan pembuatan yang rumit dan penuh sentuhan seni karya. Batik tercipta dari goresan canting dan celupan warna, sedangkan tenun terbuat dari rajutan benang demi benang hingga menjadi selembar wastra utuh.
Sebagian besar pencinta wastra nusantara tidak asing lagi dengan Kainnesia berkat produk tenunnya yang mampu dicintai kawula muda. Di tangan Kainnesia, Tenun tak lagi tampil tradisional, eksklusif, atau terkesan tua. Berbagai produk Kainnesia telah terjual laris di e-commerce. Sosok di balik Kainnesia ada Meilinda Damayanti yang mendirikan dan menjalankan usaha ini bersama sang suami tercinta, Nur Salam.
Kainnesia adalah tentang menggerakkan ekonomi sekaligus pelestarian para pelaku tenun. Ini sejalan dengan sejumlah tantangan yang dihadapi tenun Indonesia diantaranya rendahnya minat generasi muda dan susahnya akses ke pasar modern. Ia bermimpi suatu hari tenun bisa sejajar dengan batik, dikenal di dunia internasional. Unsur-unsur tersebut memenuhi
“Saya ingin kain tenun menjadi kebanggaan budaya Indonesia,” ucap Meilinda saat ditemui di gerai Kainnesia di Yogyakarta.
Ada yang menarik dari perjalanan Kainnesia. Mulai dari dirinitis jalur jastip, sampai latar belakang Meilinda yang justru adalah seorang dosen geografi. Tanpa meninggalkan profesi dosen sebagai panggilan hati itulah ia terus menumbuhkan Kainnesia bersama suami. Kini Meilinda sedang menempuh studi S3 Ilmu Geografi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Beasiswa LPDP.
Menjadi entrepreneur sekaligus akademisi tentunya butuh energi besar untuk menjalankannya. LPDP berkesempatan menggali cerita lengkapnya di markas Kainnesia di Umbulharjo Kota Yogyakarta beberapa bulan lalu.
Akar yang Sederhana, Mimpi yang Tinggi
Meilinda lahir di Cilacap. Tumbuh di keluarga sederhana pada umumnya. Ayahnya seorang koki hotel, ibunya ibu rumah tangga. Kedua orang tuanya tak pernah merasakan bangku kuliah, tapi untuk anak-anaknya, mereka menitipkan pesan sederhana yaitu sekolah setinggi mungkin.
Geografi telah menjadi menjadi mata pelajaran yang ia cintai sejak bangku SMA. Nilai ujian nasional yang sempurna 10 seolah meneguhkan kepintarannya di bidang tersebut. Menurutnya, ilmu geografi ini sangatlah aplikatif karena mempelajari banyak hal seperti tentang perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, dan perencanaan pembangunan.
Bekal kemampuannya tersebut mengantarkan dirinya melanjutkan studi S1 Geografi di Universitas Negeri Semarang angkatan 2012. Berlanjut S2 di UGM pada 2016 dengan fokus pada pengelolaan sumber daya pesisir mengingat ia lahir sebagai anak pesisir pantai selatan Jawa dan pernah bermimpi ingin membangun desanya di Cilacap. Tidak heran pula apabila dirinya kemudian menjadi seorang pengajar mengaktualisasi ilmu yang didapat.
Tercatat selepas lulus S1 ia langsung mengajar sebagai tutor di sebuah lembaga bimbingan belajar Neutron. Pernah mengajar di sebuah SMA internasional selama dua tahun pasca lulus S2, dan terakhir menjadi dosen di Universitas Budi Luhur (UBM) Jakarta hingga menuntutnya untuk melanjutkan S3 saat ini.
Kenyang di Luar Negeri, Pilih S3 di UGM
Malaysia, Filipina, hingga Jerman adalah negara-negara yang pernah disinggahi Meilinda saat menuntut ilmu non-degree selama studi S2. Ini tak lepas dari prestasinya tak lama setelah lulus S1 UGM yang mendapat beasiswa Erasmus+ di Georg-August-Universität Göttingen Jerman pada 2019 dan program Summer School di Universitas Putra Malaysia pada 2018. Sebelumnya Meilinda juga pernah mendapat beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di University of the Philippines Los Baños pada 2017.
Dari pengalamannya di sejumlah negara inilah dirinya berandai melanjutkan studi di luar negeri. Namun setelah menimbang banyak hal, Meilinda melihat S3 Ilmu Geografi di UGM memiliki kurikulum dan pengajaran yang sangat relevan dengan rencana penelitiannya nanti.
“Program S3 Ilmu Geografi UGM merupakan ranking satu di Indonesia. Ia memiliki KLMB (Klinik Lingkungan Mitigasi Bencana) dan juga progfra geomorfologi. Jadi saya tidak ragu untuk masuk di Geografi UGM” tuturnya menjelaskan.
Geliat perkembangan Kainnesia juga menjadi pertimbangan kuat bagi Meilinda untuk menempuh studi di dalam negeri. Bersama-sama dengan suaminya saling mendukung, mengurus, dan mengembangkan usahanya ini.
“Saya memiliki usaha. Sehingga saya berusaha agar bisa hands-on, bisa menjalankan usaha, menjadi mahasiswa, dan menjadi seorang ibu rumah tangga” ujarnya sambil mengakui peran multi itu tidak mudah, namun telah menjadi pilihan.
Perjumpaannya dengan Beasiswa LPDP sebenarnya juga sudah lama. Sedari 2015 silam ia sudah mendengar tentang adanya beasiswa S2 dan S3 yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan ini. Namun karena masih tergolong baru dan belum ada persiapan yang serius membuatnya belum mantab mencoba. Baru setelah menempuh S2 ia mengetahui lebih banyak tentang LPDP dan mulai mempersiapkan diri dengan serius.
Beasiswa LPDP yang diambilnya untuk S3 adalah jalur Reguler dengan mengikuti serangkaian seleksi administrasi, tes bakat skolastik, dan wawancara substansi yang semuanta dilalui dengan lancar lantaran sudah penuh persiapan matang sekaligus pengalaman kinerja yang tinggi.
Berwirausaha dari Jastip
Tidak terasa Kainnesia telah berusia kurang lebih tujuh tahun. Dari yang semula adalah jasa titip (jastip) kain tenun, kini berkembang menjadi produsen industri kreatif tenun yang telah punya nama di hati pencinta wastra nusantara.
Kala itu sang suami lebih dulu menekuni penjualan kain sebagai bahan mentah. Pasar yang stagnan membuat mereka mencari cara. Meilinda dan suaminya kemudian menambahkan sentuhan baru dengan mengubah kain tenun menjadi busana, tas, hingga sepatu. Dari sanalah jalan mulai terbuka.
Kainnesia terus bertumbuh menjadi salah satu produsen wastra yang mencuri perhatian. Bekerja sama dengan lebih dari 80 penenun dari berbagai daerah, menggandeng 30 penjahit di Yogyakarta, dan didukung delapan staf inti.
“Kini kita punya offline store dan marketplace yang cukup mumpuni untuk bisa menjajaki pasar nasional dan juga internasional. Saat ini Kainnesia satu tahun kebelakang sudah mulai menjajaki pasar Eropa, Amerika, dan juga ASEAN. Jadi banyak sekali produk-produk Kainnesia sudah mulai ekspor, jadi cukup berkembang.” papar Meilinda.
Disinggung soal persaingan yang mungkin tercipta, ia mengaku tidak memusingkan hal itu. Malah justru Kainnesia memiliki workshop yang dinamai Swantara. Di sana anak muda atau siapapun yang ingin belajar menenun diberi fasilitas dan tak menutup kemungkinan para lulusannya nanti membuka usaha tenun.
“Semakin banyak anak muda atau pebisnis yang memang berkecimpung di dunia wastra, saya sangat senang sekali dan bisa menjadi kolaborasi bersama. Di Swantara diikuti oleh para peserta dari beberapa kota dan berlangsung sehari. Lokasinya juga berpindah-pindah” tuturnya.
Kita mungkin bersepakat bahwa berwirausaha adalah keputusan yang besar. Ide dan gelombang semangat akan dihadapkan pada tantangan besar terkait bagaimana harus beresiliensi saat menghadapi tantangan keuangan dan dinamika pasar. Kainnesia tak terkecuali.
Meilinda menceritakan salah satu kenangan saat menyadari bahwa sisa saldo di rekening mereka tinggal Rp27 juta saja. Padahal ia harus membayarkan upah kerja kepada para penenun. Setelah ditelisik ternyata terdapat penumpukan stok yang belum terserap ke pasar.
Apa yang segera dilakukan oleh Meilinda dan suaminya adalah dengan menawarkan produk tenun secara door-to-door ke para desainer Jakarta dan mengikuti berbagai pameran. Usahanya terbukti berhasil sehingga mampu menjalin relasi bisnis baru.
“Fokus utama berwirausaha saya itu ya bagaimana bisa terbayar (upah) penenun, pegawai. Nanti kalau urusan kami bisa belakangan” tuturnya.
Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi dasar dari bisnis kain tenun beserta produk turunannya ini ialah pelestarian budaya dan memberdayakan para tenaga terampil sebagai ujung tombak. Baginya, untung atau minus, mereka tetap berwirausaha tenun berkat memegang dua prinsip motivasi tersebut.
Ketekunan Meilinda dan Nur Salam mengelola Kainnesia berbuah banyak pengakuan. Pada 2025, Nur Salam diganjar penghargaan bergengsi di ajang UMKM BUMN Award, menempatkan Kainnesia sejajar dengan pelaku usaha lokal terbaik tanah air.
Selain itu Kainnesia juga menjadi juara program Pertapreneur Aggregator Pertamina, menjadikannya contoh UMKM yang mampu naik kelas dengan dukungan kemitraan strategis. Kerja sama ekspor pun terjalin mulai dari sarung ke Malaysia senilai Rp800 juta hingga kiriman produk ke Belanda.
Kontribusi nyata melalui penciptaan motor penggerak ekonomi kreatif inilah yang telah ditunjukkan Kainnesia. Lebih dari sekadar pengusaha, Meilinda juga seorang akademisi sekaligus penerima Beasiswa LPDP yang kelak akan terus berkontribusi melalui pendidikan tinggi. Perpaduan perannya sebagai dosen, peneliti, sekaligus pelaku usaha menjadi fondasi kuat untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang membumi dan usaha yang memberi manfaat luas.



