Bogor, 27 Juni 2023 - Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan inovasi teknologi citra satelit beresolusi tinggi guna memetakan objek tanaman kelapa sawit yang lebih baik dan mendetail. Teknologi ini diberi nama Oil Palm Identification Based on Machine Learning-IPB (OPTIMAL-IPB) yang resmi diluncurkan dalam acara Launching Hasil Penelitian Unggulan IPB: Sawit 4.0.
Riset ini berangkat dari permasalahan produktivitas kelapa sawit rakyat yang dianggap masih tergolong rendah. Padahal, saat ini luas perkebunan kelapa sawit rakyat telah mencapai 40 persen dari total luas kebun kelapa sawit nasional.
Prof. Ernan Rustiadi selaku inovator OPTIMAL-IPB menjelaskan, teknologi pemetaan berbasis area atau poliglon yang saat ini umum digunakan belum mampu menangkap ketampakan bidang tanaman. Dengan OPTIMAL-IPB yang berbasis deep learning, pemetaan objek tanaman menjadi kian detail hingga mampu mendeteksi small object berupa tanaman kelapa sawit bahkan pada lokasi yang sempit, tersebar dan bercampur dengan objek tanaman lainnya.
“OPTIMAL-IPB dikembangkan sebagai model pemetaan berbasis objek yang dalam hal ini adalah tegakan pohon kelapa sawit. Inovasi ini mampu mendeteksi objek kelapa sawit pada citra satelit resolusi tinggi berbasis pada model deep learning,” jelas Prof. Ernan Rustiadi selaku inovator OPTIMAL-IPB saat memberi sambutan dalam acara launching yang digelar Direktorat Riset dan Inovasi IPB University di IPB International Convention Center, Bogor (27/6).
Prof Ernan melanjutkan, dengan produktivitas dan harga minyak sawit yang kompetitif, tanaman kelapa sawit menjadi tidak hanya dibudidayakan oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh masyarakat. Pasalnya, kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan yang menjadi salah satu penyumbang devisa besar bagi negara.
Hasil deteksi tanaman kelapa sawit menggunakan teknologi OPTIMAL-IPB sangat berguna sebagai data dasar untuk mendelineasi perkebunan kelapa sawit rakyat. Basis data spasial perkebunan kelapa sawit rakyat menjadi kunci untuk memastikan bahwa program yang dilaksanakan tidak salah sasaran, yaitu tidak diberikan kepada perkebunan sawit rakyat di kawasan hutan, kawasan lindung ataupun lahan-lahan yang tidak sesuai.
Riset OPTIMAL-IPB yang berbasis teknologi 4.0 tidak lepas dari dukungan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema pendanaan Riset Inovatif Produktif (RISPRO).
LPDP melalui pendanaan RISPRO Kompetisi (Kebijakan/Tata Kelola) memberikan pendanaan riset dengan Ketua Periset Prof. Dr. Ernan Rustiadi, M. Agr, sejak 18 September 2020 dengan menggandeng dua mitra, yaitu Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan Direktorat Jenderal di Kementerian Pertanian.
Riset yang berjudul “Pengembangan Teknologi Informasi Spasial untuk Pemetaan Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat”, menghasilkan teknologi yang digunakan untuk Pemetaan Sawit Rakyat menggunakan citra satelit.
Direktur Fasilitasi Riset dan Rehabilitasi Pendidikan Wisnu Sardjono Soenarso yang hadir dalam acara peluncuran OPTIMAL-IPB mengatakan, LPDP sangat berharap kepada Direktorat Riset dan Inovasi IPB, selaku penanggungjawab pengelolaan riset di IPB, Kementerian Pertanian dan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi selaku mitra, serta seluruh pihak yang mendukung riset besar ini untuk memaksimalkan produk hasil riset ini untuk peningkatan kebijakan tata kelola sawit.
“Kolaborasi dengan semua stakeholders menjadi hal penting agar Indonesia bisa mengatasi berbagai tantangan terkait dengan sawit diantaranya pengelolaan limbah sawit, kebutuhan pupuk, pemberantasan hama dan penyakit kelapa sawit, peremajaan kelapa sawit, maupun dalam rangka mengatasi gugatan atau isu lingkungan terkait minyak sawit dengan negara atau lembaga lainnya seperti dengan European Union (EU).” ujar Wisnu Sardjono Soenarso dalam pemaparannya.
Selain LPDP, dukungan bagi industri sawit juga diberikan oleh riset – riset berbasis pemerintah seperti dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Perguruan Tinggi, BRIN, Lembaga Litbang Kementerian serta beberapa Lembaga litbang yang lain.



