“Buku adalah jendela dunia, membawamu bisa melihat ke seluruh penjuru dunia.
Ungkapan jamak ini nampak masih dan akan selalu relevan bila merefleksikan keberadaan buku dengan aktivitas membaca yang akhir-akhir ini ramai di kalangan generasi muda. Memang, ruang digital yang ada di gawai telah menyediakan banjir informasi dari segala penjuru dunia. Klaim buku sebagai jendela informasi memang tidak bisa lagi mutlak.
Ini yang membuat fenomena bagaimana generasi muda khususnya Gen Z dipandang sinis terkait aktivitas membaca buku yang terutama lazim dilakukan generasi sebelumnya saat gawai dan masifnya teknologi informasi seperti saat ini.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 memang menunjukkan tantangan serius dalam kemampuan membaca siswa Indonesia. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 74 persen. Pada level tersebut, siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dan informasi dalam teks serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks.
Menariknya, di sisi lain data Perpustakaan Nasional menunjukkan adanya perkembangan dalam kegemaran membaca. Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat meningkat dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat juga meningkat dari 61,55 pada 2020 menjadi 73,52 pada 2024.
Dua kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa Gen Z yang mewakili populasi anak muda terbanyak di Indonesia saat ini punya gaya literasi yang unik dan tidak bisa sepenuhnya diklaim mutlak dengan rendahnya literasi. Justru tantangan literasi Indonesia bukan semata-mata soal apakah masyarakat mau membaca atau tidak. Ada persoalan mengenai kualitas bacaan, kebiasaan, kemampuan memahami teks, dan yang tidak kalah penting yaitu akses terhadap buku yang sesuai dengan kebutuhan pembaca.
Inilah yang disadari betul oleh Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, sebuah hajatan buku terbesar tahunan di tanah air yang diselenggarakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dari tanggal 30 September hingga 4 Oktober kemarin bertempat di Jakarta International Convention Center (JICC).
“Kalau Gen Z dibilang tidak suka membaca, itu saya tidak setuju. Mereka itu suka kok.” kata Wedha Stratesti Yudha selaku Ketua Panitia IIBF 2026 saat LPDP mewawancarainya pada Rabu (30/8) di sela acara pembukaan hari pertama.
Wedha, akrab disapa, setidaknya menganalisis dari dua fenomena. Pertama, penjualan buku justru menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan naiknya populasi Gen Z dan ledakan media baru. Kedua, acara seperti IIBF ini selalu menyedot animo masyarakat tidak terkecuali Gen Z untuk berbondong-bondong datang mengikuti berbagai acara yang tersedia.
“Gen Z itu memang mereka sejak lahir itu digital native. Mereka mungkin pertama kali bisa itu bukan menulis tapi mengetik anak-anak yang sekarang itu. Jadi kalau mereka screen time-nya lebih banyak daripada orang-orang yang lebih tua atau yang nggak digital native ya itu wajar.”
Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-46 IIBF. Bermula sebagai Indonesia Book Fair, penyelenggaraan ini berkembang menjadi skala internasional pada 2014. Sejak itu, IIBF terus berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan pembaca dan ekosistem perbukuan.
Perubahan itu terlihat dari program-program yang ditawarkan. Ada forum diskusi, Story Market yang mempertemukan pemilik intellectual property (IP) dengan rumah produksi, produser dan layanan OTT, hingga Illustration Wall yang mempertemukan ilustrator dengan penerbit dan industri yang membutuhkan karya visual.
“Cita-cita besar kami selain pameran buku, kami ingin IIBF menjadi hub untuk industri kreatif yang ada di seputar buku,” ujar Wedha sekaligus menunjukkan strategi bagaimana agar buku tetap terhubung dengan kawula muda di era sekarang.
Di titik ini, pameran buku tidak lagi dipandang sebagai aktivitas membuka lapak dan menjajakan buku saja. Buku yang memuat sebuah cerita dapat berpindah medium menjadi film, serial, animasi, ilustrasi, bahkan menjadi bagian dari industri kreatif yang lebih luas.
Dari Kebiasaan Membaca ke Masa Depan Bangsa
Bagi Wedha, membangun budaya membaca bukan proyek yang hasilnya dapat dilihat dalam hitungan hari. Ia adalah investasi antargenerasi.
“Kalau sejak muda anak-anak itu sudah membaca, dia akan membaca sampai tua,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut kemudian dapat diwariskan di dalam keluarga. Anak yang tumbuh melihat orang tuanya membaca akan memiliki kemungkinan untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kesehariannya. Dari kebiasaan itu pula diharapkan lahir generasi yang kelak mengambil keputusan-keputusan penting bagi masyarakat dan negara.
“Keputusan-keputusan yang mereka ambil itu adalah kebijakan-kebijakan yang memang hasil dari pemikiran-pemikiran yang mereka dapatkan dari pengetahuan yang mereka baca sejak mereka muda.”
Dengan demikian, buku tidak hanya berbicara tentang pengetahuan. Ia juga memberi ruang bagi imajinasi, memperluas perspektif, dan melatih seseorang untuk berhadapan dengan gagasan yang berbeda. Kemampuan membaca dengan baik pada akhirnya bukan hanya kemampuan memahami kalimat, melainkan kemampuan memahami dunia.
Di sinilah budaya membaca bertemu dengan agenda pembangunan sumber daya manusia. Bangsa yang ingin menghasilkan manusia unggul membutuhkan masyarakat yang terbiasa mencari pengetahuan, mempertanyakan informasi, memahami konteks, dan membangun gagasan dari berbagai sumber.
Karena itu, IIBF 2026 tidak hanya menyasar pembaca dewasa. Tahun ini untuk pertama kalinya diselenggarakan Children's Book Festival yang secara khusus menghadirkan ruang bagi pembaca anak, termasuk mereka yang belum memasuki usia sekolah. Penerbit buku anak, kegiatan, diskusi, dan kompetisi disatukan dalam ruang yang dirancang khusus bagi mereka.
Di sisi lain, IIBF juga mempertemukan para profesional melalui Indonesia Rights Fair. Penerbit Indonesia dapat bertemu dengan penerbit atau agen dari negara lain untuk memperdagangkan hak cipta dan menerjemahkan karya Indonesia ke bahasa asing. Pada IIBF 2026, terdapat 125 peserta dari 18 negara, baik penerbit maupun agen.
Dengan begitu, ekosistem yang dibangun IIBF bergerak dalam dua arah sekaligus: membawa masyarakat Indonesia semakin dekat dengan buku dan membawa karya Indonesia semakin jauh ke dunia.
Dukungan Besar LPDP di Balik IIBF 2026
Lebaran buku IIBF 2026 yang berlangsung megah selama lima hari itu mendapat dukungan pendanaan langsung dari LPDP selaku pengelola Dana Abadi Kebudayaan (DAKB). IIBF melalui IKAPI mengikuti program Dana Indonesiaraya yang dijalankan Kementerian Kebudayaan dengan realisasi pendanaannya melalui LPDP. Total IKAPI menerima Rp4,7 miliar dengan salah satu penggunaan besarnya untuk menyelenggarakan IIBF 2026.
Dukungan tersebut bukan hanya membantu keberlangsungan pameran selama lima hari, tetapi memungkinkan lahirnya berbagai program yang memperluas manfaat bagi ekosistem perbukuan.
“Dana ini kami manfaatkan untuk membiayai venue, mengadakan program-program yang menarik, dan juga kami adakan translation funding program,” ujar Wedha.
Program pendanaan penerjemahan tersebut ditujukan untuk membantu karya-karya Indonesia diterjemahkan oleh penerbit luar negeri. Artinya, manfaat dukungan tidak berhenti pada pengunjung yang datang ke arena IIBF. Ia dapat mengalir kepada penulis, penerbit, pemilik IP, penerjemah, hingga pembaca di negara lain yang kelak mengenal karya Indonesia melalui bahasa mereka sendiri.
Selain itu pendanaan ini juga membuka ruang agar industri perbukuan Indonesia tidak hanya tumbuh secara domestik, tetapi memiliki peluang untuk masuk ke pasar global.
“Mewakili Ikatan Penerbit Indonesia dan Indonesia International Book Fair 2026, kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan apresiasi sebesar-besarnya kepada LPDP, Kementerian Kebudayaan, dan Indonesiaraya yang telah mendukung kegiatan kami sehingga kegiatan kami dapat berjalan dengan lancar,” kata Wedha.
Pada akhirnya, membangun budaya membaca adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang daripada menyelenggarakan sebuah pameran buku. Ia dimulai dari seorang anak yang menemukan buku yang disukainya, berlanjut menjadi kebiasaan, kemudian berkembang menjadi kemampuan memahami pengetahuan dan dunia.
IIBF mungkin hanya berlangsung beberapa hari dalam satu tahun kalender. Namun gagasan yang dibawanya jauh lebih panjang, bahwa sebuah buku dapat menjadi awal dari sebuah imajinasi, sebuah pengetahuan, sebuah karya, bahkan sebuah perubahan dan tentunya roda ekonomi yang berputar di seputar perbukuan.
