Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Peneliti utama sekaligus dosen Politani Pangkep Zulfitriany Dwiyanti Mustaka saat menunjukkan hasil kain pewarna alami ZAPA Emas. Dok LPDP
Berita

Kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK-273) LPDP di Lanud Halim Perdanakusuma, Pembekalan Akademik dan Kebangsaan Diisi Profesional

Penulis
Tony Firman
Sabtu,
9 Mei 2026

Jakarta, 9 Mei 2026  — Ada yang berbeda dari kegiatan Persiapan Keberangkatan para penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sebanyak 200 peserta yang tergabung dalam Persiapan Keberangkatan angkatan 273 (PK-273) Abyssalara melaksanakan kegiatan PK di Pangkalan Udara Halimperdanakusuma, Jakarta Timur sejak Senin (4/5) hingga Jumat (9/5).

Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso menjelaskan bahwa lokasi pelaksanaan PK memang selalu dinamis, tidak hanya di hotel saja. Ia mencontohkan pada masa pandemi COVID-19, PK secara penuh hanya bisa dilakukan secara daring. Selama kebijakan efisiensi, PK pernah dilakukan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pajak.  

Pemilihan lokasi di Pangkalan Udara Halim kali ini juga tidak lepas dari pertimbangan efisiensi sekaligus ingin menghadirkan penguatan kedisiplinan, kebersamaan, mental, dan kebugaran. Sedangkan pembekalan materi kepada peserta PK tetap menghadirkan pemateri yang ahli di bidangnya.

“Materi yang lain sama persis seperti yang kita sudah lakukan sebelumnya, ada anti korupsi, dan Refleksi Merah Putih: Aku Pergi untuk Kembali yang menghadirkan narasumber keren-keren,” ujar Dwi Larso di kawasan Halimperdanakusuma.

Narasumber utama dalam tajuk Refleksi Merah Putih dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) Brian Yuliarto. Dalam dialog bersama peserta PK-273 di Halim, Brian membagikan banyak cerita pribadi saat dirinya dahulu juga berstatus sebagai penerima beasiswa. 

Guru Besar di Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) ini meminta para penerima beasiswa LPDP untuk memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan studi dengan terus belajar keras menggali semua manfaat dan keuntungan selama menjadi mahasiswa di luar maupun dalam negeri. Menurutnya etos belajar dan kerja keras yang ditunjukkan para mahasiswa di kampus-kampus top itu patut ditiru sehingga mampu memberi dampak kemajuan besar sekaligus membangun relasi global.

“Beasiswa itu bukan akhir. Jangan merasa selesai setelah mendapatkannya. Justru itu adalah awal untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi bangsa,” ujar Brian di Kompleks Sekolah Komando Kesatuan TNI Angkatan Udara (Sekkau) Halim pada Rabu (6/5) siang.

Sementara itu, Plt Direktur Utama LPDP Yon Arsal menyebut para penerima beasiswa LPDP merupakan calon pemimpin masa depan Indonesia yang diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Anggaran yang dikelola LPDP mencapai 180,8 Triliun Rupiah. Ini merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kapasitas SDM sebagai pendorong Indonesia tumbuh menjadi negara maju. Anggaran ini berasal dari APBN yang mayoritas berasal dari pajak. Jangan dibayangkan bahwa pajak ini hanya berasal dari mereka yang mampu saja. Penerimaan pajak ini sebagian besar dari PPN, yang dibayarkan setiap warga negara. Termasuk mereka yang ke Jakarta saja belum pernah, apalagi membayangkan bersekolah ke luar negeri. Untuk itu anda harus memanfaatkan kesempatan untuk belajar sebaik-baiknya dan kembali berkontribusi untuk Indonesia” kata Yon Arsal di hadapan peserta PK.

Kegiatan PK selalu menghadirkan pemateri yang relevan dengan kebutuhan pembekalan penerima beasiswa sebelum berangkat studi. Mulai dari akademisi, wirausahawan, publik figur, psikolog, dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Tidak terkecuali pada PK-273 Abyssalara ini.

Para pembicara lintas bidang yang hadir tercatat adalah I Made Andi Arsana yang dikenal luas sebagai dosen Teknik Geodesi UGM serta konten kreator edukasi, CEO Kakha Series Teguh Wibowo, News Anchor TVRI Valerina Daniel, psikolog klinis Tara de Thouars, Komite Reviewer LPDP Yanuar Nugroho dan Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Ali Gusman. 

Mereka masing-masing mengajarkan entrepreneurship, leadership, tantangan academic writing, communication skill, public speaking, dan banyak lagi terkait masa studi maupun setelah kelulusan.

PK-273 sendiri mengusung nama angkatan “Abyssalara”, istilah yang diambil dari filosofi bahasa Bugis yang bermakna “membentangkan layar dengan niat tulus dan kembali menjadi cahaya bagi negeri”.

Dari total 200 peserta, sebanyak 55 persen akan melanjutkan studi ke luar negeri dan 45 persen ke perguruan tinggi dalam negeri. Mayoritas peserta berasal dari rumpun STEM sebesar 67 persen, dengan tujuan studi tersebar di 10 negara. Australia tujuan menjadi negara tujuan luar negeri terbanyak dengan 28,6 persen. Sedangkan tujuan ke dalam negeri mencapai 44,2 persen.

Peserta PK-273 juga berasal dari 32 provinsi dan beragam latar belakang profesi, mulai dari pegawai kementerian/lembaga, dosen, peneliti, tenaga medis, anggota TNI/Polri, hingga pegawai swasta dan fresh graduate.

Terdapat 28 persen penerima beasiswa jalur afirmasi, 33 persen jalur targeted, dan 39 persen jalur umum. Domisili terjauh berasal dari Miangas, Sulawesi Utara serta Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, yang mencerminkan luasnya jangkauan program LPDP hingga wilayah terdepan dan terpencil Indonesia.

Kegiatan luar ruang memupuk sinergi dan semangat nasionalisme 

Pelaksanaan PK dengan suasana dan tema di lingkungan TNI AU sempat memunculkan kekhawatiran di ruang publik terkait suasana militeristik dan potensi perpeloncoan. Sejumlah peserta juga memiliki kekhawatiran yang sama. Namun setelah menjalani kegiatan, mereka mengaku situasi masih dalam batas aman dan penuh semangat kebersamaan. 

Keterlibatan TNI AU adalah sebagai fasilitator kegiatan khususnya di luar kelas. Peran fasilitasi TNI meliputi apel pagi, senam pagi, sarapan bersama, olahraga kebugaran, pengenalan lingkungan kedirgantaraan termasuk pengenalan pesawat terbaru milik TNI AU yaitu Airbus A400M Atlas.

“Sejauh ini tidak ada yang aneh-aneh. Dikenalkan baris-berbaris, push up juga cuma lima kali untuk cewek dan sepuluh kali untuk cowok. Dibangunkan jam empat dan itu tidak apa-apa. Bapak TNI-nya baik-baik,” ujar Hazi Rofiqoh, awardee tujuan University of Glasgow untuk program Master Bioresearch in Biochemistry and Biotechnology.

Perempuan asal Lombok Nusa Tenggara Barat itu mengatakan pengalaman tinggal di tenda selama kegiatan justru menjadi pengalaman baru yang berkesan. Ia juga menilai materi-materi pembekalan oleh para ahli dari sipil sangat relevan untuk membangun orientasi kontribusi setelah studi.

Hal senada juga diutarakan Haikal Putra Samsul, awardee Master of Public Policy di University of Auckland, menyebut suasana PK di Lanud Halim jauh berbeda dari anggapan yang berkembang di media sosial.

“Kami cukup bergembira di sini dan menikmati prosesnya. Teman-teman TNI juga very helpful. Apa pun yang kami sampaikan diterima dengan baik,” ujar alumni Universitas Indonesia yang kini bekerja sebagai analis pasar modal di Maybank Sekuritas Indonesia itu.

Haikal menegaskan tidak ada praktik perpeloncoan selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, aktivitas yang dilakukan lebih banyak berupa pembentukan disiplin dasar seperti baris-berbaris dan yel-yel kelompok.

“Tidak ada perpeloncoan sama sekali. Justru kami merasa lebih tenang karena ada rekan-rekan TNI yang sigap membantu kalau ada masalah,” katanya.

Testimoni serupa disampaikan Yustina, awardee program PhD Cancer and Pharmaceutical Science di King's College London. Ia mengaku sempat deg-degan sebelum mengikuti PK karena mendengar berbagai opini di internet terkait konsep kegiatan di kawasan militer.

“Tapi setelah dijalani, bapak-bapak TNI ternyata tidak semenyeramkan seperti anggapan di internet dan tidak semenyeramkan seperti yang kami bayangkan,” ujarnya.

Menurut Nana, materi pembekalan yang diberikan oleh para narasumber bukan militer telah memupuk rasa nasionalisme para awardee yang akan belajar di luar negeri dalam waktu cukup lama.

“Membayangkan nanti hidup di luar negeri tiga sampai empat tahun, pembekalan di Lanud ini benar-benar memupuk nasionalisme saya,” katanya. 

Berita Terkait

Beasiswa LPDP–UIII 2026 Resmi Dibuka, Untuk Jenjang Doktor di Empat Program Studi Pilihan

Berita | 05-05-2026

Beasiswa LPDP–UIII 2026 Resmi Dibuka, Untuk Jenjang Doktor di Empat Program Studi Pilihan

LPDP Pastikan Dukungan Penuh Dana Indonesiaraya, Ingin Tingkatkan Partisipasi Pelaku Budaya di Daerah 3T

Berita | 05-05-2026

LPDP Pastikan Dukungan Penuh Dana Indonesiaraya, Ingin Tingkatkan Partisipasi Pelaku Budaya di Daerah 3T

LPDP Danai Riset Bestari Saintek  dan Semesta tahun 2026 untuk Perkuat Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Lintas Sektor

Berita | 04-05-2026

LPDP Danai Riset Bestari Saintek dan Semesta tahun 2026 untuk Perkuat Hilirisasi Riset dan Kolaborasi Lintas Sektor