Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Ketua peneliti Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Ph.D, M.Epid, Sp.M bersama produk Ret-InnoQ saat acara peluncuran
Berita

Peluncuran Ret-InnoQ, Alat Pendeteksi Dini Kebutaan Akibat Diabetes Melitus

Penulis
Tony Firman
Rabu,
20 November 2024

Yogyakarta, 19 November 2024 - Tim peneliti dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah resmi meluncurkan alat kesehatan berupa fundus kamera portable untuk skrining dini gangguan penglihatan akibat komplikasi penyakit diabetes melitus atau disebut Retinopati Diabetika (RD).

Alat skrining RD ini diberi nama Ret-InnoQ yang berfungsi untuk mengambil citra fundus retina mata para pasien diabetes. Fundus retina sendiri adalah bagian belakang mata yang terdiri dari retina, makula, fovea, koroid, cakram optik, dan pembuluh darah.

Ketua Peneliti Ret-InnoQ, Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Ph.D, M.Epid, Sp.M menjelaskan, Ret-InnoQ yang didesain portabel ini diharapkan bisa membantu para dokter hingga tenaga kesehatan di layanan primer seperti Puskesmas untuk melakukan diagnosis dini terhadap penyakit RD. Permasalahannya, sering kali dijumpai pasien diabetes menderita RD dengan kondisi yang sudah parah secara terlambat.

“Apabila terdiagnosis lebih awal kemudian di-follow up dengan ketat maka treatment yang dilakukan lebih efektif dan tentu saja lebih murah biaya penanganan perawatannya” ujar Prof. Bayu di sela acara peluncuran Ret-InnoQ di Yogyakarta pada Selasa (19/11) pagi.

Cara penggunaan Ret-InnoQ pun mudah lantaran hanya membutuhkan kamera smartphone yang ditempelkan pada alat Ret-InnoQ untuk mengambil fundus foto retina pasien diabetes. Selain itu Ret-InnoQ juga bisa dilakukan oleh dokter mata maupun dokter penyakit dalam lainnya terkait pengecekan fundus retina mata sehingga potensi penggunaannya bisa cukup luas.

Proses penelitian dan pengembangan Ret-InnoQ tidak lepas dari dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan yang memberikan pendanaan riset kepada tim peneliti Ret-InnoQ.

Kepala Divisi Pendanaan Riset LPDP, Purwana yang hadir dalam acara peluncuran Ret-InnoQ berharap agar produk riset ini dapat menjadi pendukung transformasi sistem pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.

“Harapannya inovasi Ret-InnoQ ini dapat diadopsi secara luas sehingga dapat mengurangi risiko kebutaan permanen penderita diabetes terlebih lagi pada usia produktif yang berakibat menurunnya produktivitas nasional.” ujar Purwana dalam sambutannya.

Pada kesempatan ini Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi turut menghaturkan apresiasi tinggi kepada tim peneliti yang dengan gigih telah melahirkan inovasi di bidang kesehatan nasional.

Nadia juga menggaris bawahi pentingnya kemandirian riset dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat agar tidak selalu bergantung pada produk impor. Terlebih dengan dukungan LPDP melalui pendanaan riset yang besar ini menurut Nadia akan mampu mendukung lahirnya inovasi-inovasi baru di bidang kesehatan.

“Kami berharap upaya pengendalian gangguan penglihatan akan terus menjadi komitmen kita bersama. Mulai dari upaya preventif deteksi dini dan penanganan cepat sehingga kondisi yang lebih berat dapat terhindarkan.” ujar Nadia dalam sambutan langsungnya secara daring.

Selain peresmian peluncuran Ret-InnoQ juga dilakukan kegiatan workshop terkait implementasi layanan skrining RD yang dihadiri para tenaga kesehatan dengan penuh antusias hingga selesai.

Memangkas Biaya, Menekan Resiko Kebutaan

Diketahui bahwa gangguan penglihatan sebagai akibat dari komplikasi penyakit diabetes melitus atau yang disebut Retinopati Diabetika tidak bisa disepelekan. Hasil penelitian yang dilakukan tim FKKMK UGM di Yogyakarta pada rentang 2013 sampai 2016 menunjukkan prevalensi RD menyentuh angka 43,1 persen dari total seluruh penderita diabetes.

Dari data tersebut, sebesar 26,3 persen telah mengalami penglihatan yang sangat terancam kebutaan dan 12,4 persen mengalami kebutaan permanen. Angka ini dapat diklaim merupakan yang tertinggi dibandingkan penelitian-penelitian di negara lain di seluruh dunia.

Kondisi ini diperparah dengan sistem pelayanan kesehatan primer yang tidak memiliki fasilitas memadai baik dari segi peralatan maupun sumber daya untuk melakukan diagnosis dini TD pada penderita diabetes. Pemahaman masyarakat yang kurang mengenai RD semakin berkontribusi terhadap tingginya kebutaan akibat TD di Yogyakarta pada data tersebut.

Selama ini rata-rata biaya perawatan penderita RD yang ditanggung asuransi kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencapai Rp25 juta sampai 50 juta per mata. Ditambah, seseorang yang terkena RD dalam tahap tertentu cenderung susah untuk mengembalikan penglihatan seperti semula meski telah dilakukan tindakan dengan biaya yang tidak sedikit. Hal ini dapat dicegah sedini mungkin apabila dilakukan skrining RD lebih awal dengan Ret-InnoQ

“Bila RD ketahuan di tahap sedang, yang dibutuhkan itu misalnya hanya Rp100.000,00 atau Rp200.000,00. Nah, itu penghematannya yang cukup signifikan apabila dilakukan screening secara masif dengan Ret-InnoQ” ujar Prof. Bayu yang juga bertugas sebagai dokter konsultan retina di Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Sardjito, Yogyakarta.

Penelitian Panjang yang Didanai LPDP

Fokus penelitian mengenai retinopati diabetik telah dilakukan Prof. Bayu dan tim sejak tahun 2012 silam. Dimulai dari yang paling dasar yaitu mengumpulkan data beban penyakit RD di masyarakat berbasis populasi.

Upaya membuat image processing berbasis artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi RD pernah dibuat pada tahun 2016. Namun ternyata hal itu membutuhkan infrastruktur yang mahal. Dari sinilah muncul komitmen inisiatif untuk membuat alat skrining RD yang terjangkau, mudah diaplikasikan, dan bisa digunakan oleh lebih banyak tenaga kesehatan.

Ada cerita tersendiri saat proses perjalanan riset pembuatan kamera portable pendeteksi RD. Kala itu Prof. Bayu dan timnya berkolaborasi dengan sejawat di Hongkong University of Science & Technology untuk membuat desain bersama. Namun karena pada saat itu belum fokus pada kepemilikan HKI, pada akhirnya paten produk sepenuhnya menjadi milik mereka dan mitra di Taiwan. Alat tersebut juga telah masuk ke pasar Indonesia dengan harga yang cukup tinggi, sekitar Rp150 jutaan.

Kejadian itu memacu penelitian ini untuk mendesain alat kamera fundus yang sederhana namun tetap fungsional. Dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebesar lebih dari Rp2,2 miliar selama tiga tahun akhirnya mampu mewujudkan keberlanjutan realisasi riset karya anak bangsa.

Melalui skema RISPRO Invitasi yang dimulai pada 2019, tim peneliti akhirnya dapat menyempurnakan prototipe perangkat keras foto retina portable hingga membuat rancangan perangkat lunak penunjang sistem deteksi otomatis RD yang masih berlangsung.

“Terima kasih kepada LPDP yang sudah memberikan dana untuk mewujudkan mimpi kami, yang lebih penting lagi untuk menurunkan beban kebutaan akibat retinopati diabetes di Indonesia. Saya yakin itu merupakan bagian dari langkah strategis yang akan memperbaiki kualitas hidup masyarakat Indonesia” pungkas Prof. Bayu dengan optimis.

Selama perjalanan pendanaan riset Ret-InnoQ ini juga telah dihasilkan dua publikasi internasional, satu disertasi mahasiswa tingkat Doktor, dan tentunya perangkat alat kesehatan yang siap dikomersialisasikan.

Menggandeng Dua Mitra, Menawarkan Harga Terjangkau

Adalah PT IDS Medical Systems (IDSMed) dan PT Astra Komponen Indonesia (ASKI) yang berminat mengembangkan produk hasil riset dari UGM ini. PT ASKI bertindak sebagai produsen yang akan membuat Ret-InnoQ secara massal untuk kemudian didistribusikan oleh PT IDSMed.

Sugiri Wahyu Wijoyo selaku Marketing Manager PT ASKI menjelaskan bahwa keterlibatan perusahaannya dalam riset ini adalah membuat prototipe Ret-InnoQ termasuk melakukan desain produk dan menunjang segala proses kebutuhan uji coba alat. Selain itu, komitmen untuk turut mendukung dan memajukan riset dalam negeri juga melandasi dukungan mitra terhadap proyek riset kamera fundus ini.

“Pada waktu itu Prof. Bayu memaparkan bagaimana kita tertantang untuk membuat produk dalam negeri yang terjangkau dan bisa dimanfaatkan secara luas dari faskes terendah seperti Puskesmas hingga kalau perlu Posyandu. Maka alat yang kita kembangkan ini berprinsip ekonomis, praktis, dan portable” papar Sugiri.

Senada dengan itu, PT IDSMed yang bertindak sebagai distributor Ret-InnoQ turut melihat potensi peluang alat ini yang dapat digunakan secara massal. Disinggung soal harga alat Ret-InnoQ yang akan dipatok, salah satu distributor peralatan kesehatan terkemuka di Indonesia ini memastikan akan menawarkan harga yang jauh lebih rendah dibanding peralatan impor yang sudah beredar.

“Fundus kamera kan ada yang tabletop, ada yang portable. Yang tabletop itu harganya ratusan juta. Bisa hampir Rp200 juta, kalo yang portable itu harganya Rp100-an juta. Nah kita pastinya harga bakal jauh di bawah itu” terang Lionel Valdarant selaku Product Development di PT IDSMed.

Sementara Prof. Bayu mengatakan estimasi harga nantinya ada di rentang Rp15 sampai Rp20 juta meski belum bisa angka pasti untuk saat ini. Namun demikian, harga tersebut tentunya jauh lebih murah dibanding dengan harga kompetitor dari produk impor.

Saat ini Ret-InnoQ tengah mengurus izin edar termasuk proses pengajuan Penilaian Teknologi Kesehatan di Kementerian Kesehatan. Diharapkan tahun depan alat ini telah siap diproduksi secara massal dan mulai digunakan di banyak fasilitas kesehatan pusat hingga daerah.

Berita Terkait

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

Berita | 20-04-2026

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Berita | 15-04-2026

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul

Berita | 10-04-2026

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul