Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Hapu Ammah atau akrab disapa Endy saat berada di Malaria Microscopy Training Center, Sumba.
Awardeestory

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Penulis
Tony Firman
Selasa,
20 Januari 2026

Pagi di Desa Hoba Wawi, Kabupaten Sumba Barat, dimulai dengan keramaian kecil di sebuah klinik kesehatan sederhana. Orang-orang didominasi paruh baya mengantre dengan tertib di teras Sumba Foundation Malaria Clinic. Ini adalah sebuah klinik swasta yang digratiskan untuk penduduk sekitar. 

Di dalam terdapat satu dokter dengan dibantu sejumlah perawat memeriksa setiap keluhan kesehatan penduduk sekitar yang berdatangan. Salah satu perawat itu adalah Hapu Ammah, atau akrab disapa Endy. Seorang pemuda asli Sumba Timur yang tidak terasa lebih dari satu dekade mengabdikan diri di garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat milik Sumba Foundation.

“Saya tensi ya di lengan kirinya, permisi. Keluhannya apa? Belum pernah periksa sebelumnya ya. Sebentar ya.” ujar Endy. Sebuah kata-kata rutinitas berulang setiap hari yang dinanti para pasien.

Pulau Sumba dikenal dunia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Terdapat sejumlah destinasi wisata kelas premium. Namun dibalik itu, pulau ini juga menyimpan masalah kesehatan serius yang berkelindan dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Hingga kini, Sumba masih menjadi penyumbang kasus malaria tertinggi kedua di Indonesia setelah Papua. 

Endy adalah bagian dari kondisi masyarakat pulau tersebut. Ia menyaksikan sendiri bagaimana penderita malaria hadir hampir setiap hari di klinik. 

“Di lima klinik malaria yang kami (Sumba Foundation) punya, hampir setiap hari selalu ditemukan pasien dengan infeksi malaria,” katanya.

Beberapa pasien dengan keluhan seperti gejala malaria selalu diambil darah untuk diteliti. Dibutuhkan keahlian khusus untuk mendeteksi parasit pembawa penyakit ini dan Endy adalah salah satu spesialis paling berpengalaman.

Pendidikan bagi anak-anak di desanya pada masa itu adalah sebuah privilese. Bukan hanya soal biaya, tetapi juga soal ketersediaan infrastruktur. Ia ingat betul saat di kampungnya tidak ada SMP. Untuk melanjutkan sekolah setelah lulus SD, Endy harus meninggalkan rumah, menumpang tinggal di rumah keluarga lain sampai SMA.

“Untuk mau melanjutkan sekolah ke SMP, kita harus keluar dari rumah dan pindah untuk menumpang di keluarga lain,” tutur Endy.

Saat ditemui pada November 2025, Endy baru pulang dari Melbourne pada bulan Agustus. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan Master of Public Health di University of Melbourne Australia. Bukan berkiprah di luar Sumba maupun luar negeri, Endy justru pulang dan kembali menjalani rutinitasnya sebagai perawat sekaligus pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopis Malaria.

Inilah cerita perjalanan Endy, tumbuh besar di salah satu daerah termiskin di Indonesia yang tak pernah memadamkan cita-citanya mengenyam pendidikan tinggi guna membangun daerah asalnya.

Anak Yatim, Keluarga Sederhana, Menjadi Perawat

Ekonomi keluarga Endy ditopang oleh pekerjaan ibunya yang bergantung pada hasil kebun, peliharaan ayam, dan lainnya. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal pada 1997 silam saat dirinya masih kecil. Praktis, ia tumbuh dalam kekurangan ekonomi hingga harus berjuang keras untuk mengenyam pendidikan.

“Saya tahu waktu itu satu-satunya cara untuk mengubah kondisi hidup adalah dengan sekolah,” katanya

Selepas SMA, Endy sempat kebingungan menentukan arah. Cita-cita awalnya adalah ingin menjadi guru. Namun realitas berbicara lain. Tidak ada universitas di Sumba kala itu. Satu-satunya institusi pendidikan lanjutan yang tersedia adalah sekolah keperawatan. 

“Akhirnya saya memilih sekolah keperawatan karena satu-satunya sekolah yang ada di Sumba di tahun 2000 itu adalah sekolah keperawatan,” ujarnya

Pilihan itu kelak menjadi titik balik hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Keperawatan Waingapu, Endy bergabung dengan Sumba Foundation, sebuah organisasi yang salah satunya memberikan pelayanan kesehatan masyarakat sekitar termasuk pengendalian malaria. Di sanalah ia tidak sekedar berprofesi sebagai perawat, tetapi tumbuh sebagai pelayan masyarakat.

Hingga kini, Sumba masih menjadi penyumbang kasus malaria tertinggi kedua di Indonesia setelah Papua. Mengutip Annual Paracite Incidence (API) tahun 2025, Kabupaten Sumba Barat Daya ditemukan kasus malaria sebanyak 2.049 orang. Data Dinas Kesehatan NTT tahun 2022 menunjukkan ada 5.540 kasus di Sumba Timur, 5.730 kasus di Sumba Barat Daya, 1.903 kasus di Sumba Barat dan terendah di Sumba Tengah dengan 89 kasus.

Ini pula yang menjadi penggerak Endy untuk semakin mencintai pekerjaan lebih dari sekedar rutinitas belaka. Ketekunan berbalut keahliannya kemudian menjadikannya salah satu pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopis Malaria. Ini adalah inisiatif untuk memastikan tenaga kesehatan lokal mampu mendiagnosis malaria sesuai standar WHO. 

“Kami masih punya hutang untuk terus memastikan ketersediaan tenaga mikroskopis yang mampu mendiagnosis malaria dengan baik dan benar,” ujarnya

Lebih dari sepuluh tahun bekerja di klinik malaria, Endy mulai menyadari satu hal penting: persoalan kesehatan tidak cukup diselesaikan di level individu. 

“Saya ingin belajar melihat persoalan kesehatan secara lebih luas, tidak hanya pada level individu tapi pada level masyarakat, dari budayanya dan lingkungannya,” katanya.

Selama bekerja di Sumba Foundation itulah Endy bertemu dengan rekan kerja dari beragam asal. Mereka tampak terus mengejar pendidikannya di dalam negeri maupun di luar negeri lalu banyak memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat.

Dari situlah muncul tekad dan kesadaran untuk melanjutkan studi, sebagai anak Sumba asli yang ingin berbuat lebih banyak.

Beasiswa Daerah Afirmasi Mewujudkannya

Perjumpaannya dengan Beasiswa LPDP makin menghidupkan tekad Endy. Ditambah dukungan rekan kerja, dan pimpinan yang suportif, Program Beasiswa Daerah Afirmasi LPDP menjadi jembatan ia melanjutkan studi S2 secara gratis.

Sebelum itu, Endy tidak memiliki latar belakang bahasa Inggris. Ia gagal dua kali tes IELTS. Namun ia tidak berhenti karena syukurnya mendapat dukungan terutama dari pimpinan tempatnya bekerja.

“Saya belajar dari kegagalan itu untuk terus belajar,” tekadnya.

Tahun 2023, Endy resmi menjadi penerima Beasiswa LPDP. Seluruh kabupaten di Pulau Sumba tempatnya tinggal masuk dalam daftar daerah afirmasi. Salah satu keunggulan Beasiswa Daerah Afirmasi adalah para penerima beasiswa berhak mendapat program pengayaan bahasa. 

Di sini Endy merasakan betul manfaat itu karena kemampuan bahasa Inggrisnya terasah lebih tajam hingga akhirnya berhasil diterima di University of Melbourne (Unimelb). Pemilihan Unimelb bukan tanpa alasan. Setidaknya ia telah mengenal kolega di tempat kerjanya yang asal Melbourne.

Salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagi Endy saat berkuliah di sana adalah kesempatan menjadi pembicara di Rotary Club Melbourne. Ia membawakan materi program tidak hanya malaria tetapi temuan penyakit kusta di Sumba yang perlu mendapat perhatian serius.

Baginya, belajar ke Australia bukan tentang meninggalkan Sumba, melainkan mempersiapkan diri untuk kembali. Endy menepati itu dengan langsung pulang ke Sumba pada akhir Agustus 2025 setelah diwisuda di bulan yang sama.

“Alasan saya pulang pertama adalah Sumba adalah rumah saya,” katanya tegas.

Ia merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai putra daerah. Di saat banyak tenaga ahli datang dari luar untuk membantu Sumba, Endy ingin membuktikan bahwa anak Sumba juga mampu berdiri di garis depan perubahan.

Kini, selepas menamatkan studi, Endy kembali menjalani peran gandanya, sebagai abdi negara karena berstatus PNS, sebagai tenaga kesehatan di Sumba Foundation, dan sebagai relawan pendidik di bidang kesehatan itu. 

Di sela pekerjaannya, ia dan rekan-rekannya kerap mengumpulkan anak-anak desa untuk belajar membaca dan berbahasa Indonesia. “Saya tahu ketika anak desa menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dampaknya tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri,” ujarnya

Perjalanan Endy adalah kisah tentang daya tahan, tentang pendidikan sebagai jalan pembebasan, dan tentang pulang sebagai bentuk pengabdian tertinggi. Dari Hanggaruru hingga Melbourne, lalu kembali ke Sumba, ia menenun mimpi bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk generasi yang akan datang.

“Pendidikan tidak hanya untuk mengejar gelar,” katanya pelan namun penuh makna, “tapi untuk membuka pintu-pintu yang dulu tertutup bagi keluarga dan masyarakat”

Dan di Pulau Sumba, pintu-pintu itu kini perlahan terbuka.

Berita Terkait

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Cerita Ardi Alam Jabir, Pernah Narik Ojol demi Kuliah Kini Sukses Jadi Supervisor R&D di Industri Nikel Morowali

Awardeestory | 17-12-2025

Cerita Ardi Alam Jabir, Pernah Narik Ojol demi Kuliah Kini Sukses Jadi Supervisor R&D di Industri Nikel Morowali