Semua bisa sepakat bahwa pendidikan adalah jembatan menuju nasib yang lebih baik. Tetapi bagi orang-orang dengan fondasi keterbatasan, jembatan itu harus dibangun dengan ketekunan dan kegigihan yang ekstra. Itulah yang dilakukan oleh Ulfi Rahmawati, seorang perempuan asal Ponorogo yang membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk mengakses pendidikan tinggi kelas dunia.
Ulfi adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya seorang petani lulusan Sekolah Menengah Atas dan ibunya di rumah. Meski hidup dalam keterbatasan materi, ia tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan dukungan moral. Sang Ibu adalah arsitek pertama di balik kedisiplinan belajarnya. Sejak sekolah dasar, ibunya selalu membangunkan Ulfi pada pukul tiga atau empat subuh untuk belajar sebelum ujian dan selalu hadir menemaninya mengerjakan tugas.
"Itu menurut saya salah satu hal kecil waktu saya kecil dan sangat saya syukuri dalam pertumbuhan... Karena itu bisa membangun kebiasaan baik kedepannya." ujar Ulfi.
Nilai yang diterapkan ibunya itu yang menjadikan Ulfi sebagai sarjana pertama di keluarganya, sebuah langkah brilian yang menjadi panutan untuk adik-adiknya. Lepas kuliah ia pernah menjadi guru honorer di kampung halamannya mengajar Fisika. Tak cuma mengajar, ia turut membimbing anak didiknya hingga meraih juara nasional.
Banting setir, kini ia berada di kawasan industri pengolahan nikel terbesar nasional, tepatnya di PT QMB New Energy Material. Posisi yang diemban saat ini sebagai Assistant Production Engineer di Departemen Prekursor.
Bagaimana cerita perjalanan seorang perempuan tangguh ini menaklukkan keterbatasan, meruncingkan tekad, dan memberanikan langkah hingga sampai ke titik ini? Berikut lengkapnya.
Ingin Melihat Dunia Lebih Luas
Ponorogo bukan kota besar dan ramai. Pandangan mengenai lanjut kuliah pasca SMA belum menjadi arus utama anak-anak di sana. Di bangku SMA, Ulfi belum punya gambaran jelas akan kuliah di mana. Yang ia tahu, ada dorongan kuat untuk keluar dari batas geografis dan sosial yang selama ini membingkainya.
“Awalnya pengennya, bagaimana saya bisa keluar dari Ponorogo? Pengen melihat dunia lebih luas,” ujarnya jujur
Kesadaran itu tumbuh ketika ia melihat kakak-kakak tingkat dari Madrasah Aliyah mampu melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri ternama. Dari sana, tekad Ulfi menguat. Ia menempuh jalur yang tidak biasa, mengikuti lomba karya tulis ilmiah, penelitian, dan kompetisi kepenulisan.
“Menurut saya itu salah satu poin yang bisa membawa saya sampai ke kampus PTN,” katanya
Dengan dukungan Bidikmisi, Ulfi akhirnya menempuh S1 Fisika Murni di Universitas Negeri Yogyakarta. Di Jogja, ia menemukan makna baru dari pendidikan yang bukan sekadar lulus, tetapi tentang membangun cara berpikir dan membuka perspektif hidup.
Panggilan Guru dan Keputusan Pergi
Selepas lulus S1, Ulfi sempat menyimpan mimpi melanjutkan studi ke luar negeri dengan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Namun ia merasa kapabilitasnya belum cukup, terutama dalam bahasa Inggris. Pada saat yang sama, dunia pendidikan memanggilnya.
Pengalaman program Kampus Mengajar membawanya ke SD di daerah terpencil Ponorogo selama enam bulan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pendidikan yang sebenarnya itu berjalan di tempat-tempat terdalam seperti ini. Dari sanalah ketertarikan Ulfi pada dunia pendidikan menguat. Ia kemudian melamar menjadi guru honorer di MAN 2 Ponorogo, mengampu pula kegiatan karya ilmiah remaja.
Dalam waktu singkat, ia menyaksikan dampak nyata dari pendidikan yang membebaskan.
“Salah satu tim anak didik saya lolos LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) dan menjadi juara favorit yang diadakan oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),” ujarnya dengan nada bangga.
Ini tidak lepas dari cara Ulfi melakoni peran guru dengan hati dan visi misi. Ulfi punya harapan besar bahwa anak-anak SMA ini bisa melihat dunia perguruan tinggi sejak dini agar mereka tidak menghentikan pendidikannya di bangku sekolah menengah saja.
“Menurut saya, gimana caranya anak-anak ini sedini mungkin tahu dunia kampus itu seperti apa, minatnya di bidang apa seperti itu, bukan lagi soal salah jurusan. Itu sih harapan saya selama menjadi guru” tuturnya.
Namun menjadi guru sekaligus membuka matanya akan kompleksitas profesi tersebut. Ia memegang ijazah sebagai seorang Fisika murni, tidak ada sertifikasi seorang pendidik dan tentu jenjang karier menjadi sulit. Di sinilah harapan Ulfi untuk meningkatkan kapasitas diri juga masih membara.
Mengejar Pendidikan, Restu, dan Pengalaman Baru
Ulfi sudah mendengar ada program Beasiswa LPDP yang disediakan negara untuk peningkatan taraf pendidikan anak bangsa sepertinya. Dari berbagai skema dan program yang ditawarkan, informasi tentang program LPDP–Central South University (CSU) datang dari seorang teman.
Secara spesifik jurusan di CSU adalah Teknik Metalurgi. Namun dalam persyaratannya membolehkan lulusan jurusan Fisika sepertinya. Ia kemudian mulai mengikuti segala alur dan prosesnya tanpa berekspektasi lebih untuk langsung lolos. Prinsipnya yang terpenting sudah mengetahui dan mencoba luarnya.
Hasilnya melampaui ekspektasi sederhananya itu. Setelah mendaftar pada gelombang kedua tahun 2018, ia diterima sebagai mahasiswi CSU di negeri Tiongkok.
Keputusan ini tidak mudah, terutama bagi keluarganya. Di lingkungannya, melanjutkan S2 ke luar negeri ditambah seorang perempuan bukanlah hal lazim. Bahkan, Ulfi mengaku mendaftar tanpa izin ibunya terlebih dahulu.
“Saya daftar diam-diam dan alhamdulillahnya lolos,” ucapnya.
Penolakan awal sang ibu bukanlah larangan tanpa alasan, melainkan cerminan keterbatasan informasi dan kekhawatiran. Dengan peran ayah yang berpikiran lebih terbuka, Ulfi memilih jalan dialog yang pelan namun konsisten. Hingga akhirnya, izin itu datang tepat di akhir semester pertama saat harus berangkat ke CSU setelah menjalani kuliah online karena pandemi Covid-19.
“Bapak itu pemikirannya lebih terbuka dan bisa meyakinkan Ibu. Jadi kita ngomongnya bertahap, pelan-pelan, bukan sesuatu yang memaksa, dan Bapak juga ikut bantu buat ngobrol.” kenangnya.
Sebenarnya bukan pengalaman perdana bagi Ulfi menginjakkan kaki di luar negeri. Ia pernah mengikuti kompetisi di luar saat S1. Selain itu sudah melihat para kakak angkatannya yang diterima studi di luar negeri. Tentu pengalaman dan iklim tersebut telah membentuk benak Ulfi mengikuti jejak mereka.
Tantangan bahasa menjadi ujian awal. Meski pengantar kuliah menggunakan bahasa Inggris, Mandarin tetap hadir dalam diskusi teknis.
“Di situ saya menemukan poin, ternyata bahasa Mandarin itu sangat penting,” ungkapnya
Ia mengikuti kelas HSK (Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì) Mandarin Camp selama tiga bulan, hingga lulus HSK III sebelum magang.
Pengalaman di Tiongkok juga mengubah cara pandangnya tentang budaya belajar. Ia tertegun melihat pelajar SMP pulang larut malam dengan tumpukan buku, dan mahasiswa memenuhi perpustakaan bahkan di hari Minggu.
“Yang membuat saya tertegun adalah semangat belajarnya mereka,” katanya
Pulang, Mengaplikasikan Ilmu dan Terapannya
Program Beasiswa LPDP - CSU memang memiliki kerja sama karier dengan perusahaan di bawah naungan GEM Co Ltd. Salah satunya adalah PT QMB New Energy yang berlokasi di Morowali. Ulfi adalah salah satu alumni beasiswa tersebut yang mengambil kesempatan karier di sana.
Saat ini Ulfi bekerja sebagai Assistant Production Engineer di departemen prekursor PT QMB New Energy di Morowali. Ia melihat prekursor sebagai titik baru industrialisasi nikel Indonesia karena tidak lagi sekedar mengeruk material mentah dan dibawa lari ke luar negeri, tetapi meningkatkan rantai pasok yang lebih tinggi di dalam negeri.
Di lingkungan kerja yang serba cepat dan efisien ini, mengagumi kedisiplinan rekan kerja asal Tiongkok dengan tetap bisa menikmati work-life balance berkat fasilitas lengkap di perusahaan, mulai dari perpustakaan, kompleks olahraga, perpustakaan, hingga gedung bioskop.
Pandangan Ulfi terkait keberadaan industri pengolahan nikel di Morowali ini adalah sama dengan rekan-rekan lulusan LPDP - CSU lainnya. Bahwa anak bangsa harus menguasai bidang ini sepenuhnya agar lebih banyak terlibat mengambil alih hingga mampu berdikari. Maka yang terjadi saat ini tidak hanya sekedar bekerja, tetapi proses pembelajaran terus menerus dari Ulfi dan para alumni lainnya dalam semesta hilirisasi nikel.
Bagi Ulfi, perjalanannya saat ini adalah bentuk pertanggungjawabannya kepada rakyat Indonesia yang telah membiayai pendidikannya melalui LPDP.
"Terima kasih banyak kepada pihak LPDP dan tentunya ini semua tidak lepas dari kontribusi rakyat Indonesia... tanpa mereka semua, saya mungkin tidak bisa melanjutkan pendidikan saya sampai jenjang sekarang."
Ini belum akhir dari perjalanan Ulfi. ia tetap menyimpan mimpi untuk suatu saat kembali ke dunia pendidikan dan membagikan pengalamannya.



