Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Ilham Mustain Murda, Presiden Indonesia Art Movement sesaat sebelum pertunjukan Bakar Batu di Jakarta
Risprostory

Bakar Batu, Pertunjukan Penuh Makna Perdamaian dari Indonesia Art Movement

Penulis
Dimas Wahyudi
Rabu,
27 November 2024

Apa jadinya bila tradisi Bakar Batu -pesta adat yang cukup meriah dari Papua- itu dihadirkan di dalam sebuah ruang pertunjukan di Jakarta? Tepuk tangan dan rasa takjub riuh memenuhi auditorium Galeri Indonesia Kaya berkapasitas 150 an orang kala itu.

Indonesia Art Movement, perkumpulan kolektif seniman Papua terbang jauh dari Jayapura ke Jakarta dan menghadirkan satu jam pertunjukan Bakar Batu yang dibalut dalam elemen lecture performance. Melalui cara ini, tahap dan bagian dari Bakar Batu dinarasikan oleh aktor yang sekaligus berperan sebagai narator, menciptakan suatu pengalaman yang tak hanya menghibur namun juga edukatif.

Didirikan sejak 8 April 2016, Indonesia Art Movement menjadi wadah perkumpulan seniman Papua dan kreator dari 17 sub sektor ekonomi kreatif. Kelompok kolektif seni ini hadir dengan tujuan mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekosistem kesenian di Jayapura, Indonesia Art Movement aktif menyelenggarakan pameran, pertunjukan, pemutaran film, lokakarya, diskusi, dan distribusi karya dari 17 sub sektor ekonomi kreatif yang dinaunginya. Konsistensi menjaga kebudayaan Papua ini pula yang membuat Indonesia Art Movement terpilih menjadi salah satu dari 11 sanggar yang diundang untuk menampilkan karya di Galeri Indonesia Kaya dalam gelaran 1 Dekade Galeri Indonesia Kaya.

Indonesia Art Movement juga merupakan komunitas seni yang mendapatkan pendanaan Dukungan Institusional dari Dana Abadi Kebudayaan sejumlah Rp417 juta per tahun.. Di sela-sela persiapan sebelum pertunjukan Bakar Batu pada akhir Oktober lalu, kami menemui Ilham Mustain Murda, Presiden Indonesia Art Movement dan menanyakan testimoni manfaat dari dukungan pendanaan tersebut.

Walau mengaku sempat kesusahan dengan berbagai aspek administratif yang perlu dilakukan sebagai pertanggungjawaban, namun pria yang akrab disapa Iam ini juga menyadari bahwa uang tersebut bersumber dari dana publik. Ia merasa bersyukur bahwa LPDP hadir tak hanya sekadar “memberi uang”, namun juga terlibat dalam pengawasan dan pendampingan yang bersifat end-to-end. Ilmu baru tentang tata kelola penggunaan dana publik disadari Iam turut membantu iklim kerja di komunitas seninya menjadi lebih tertata dan lebih sustain/berkelanjutan karena dikelola secara lebih profesional.

Simak hasil wawancara lengkap kami berikut ini.

Seperti apa komunitas seni Indonesia Art Movement yang Anda bentuk ini? Bagaimana cerita perjalanannya?

Indonesia Art Movement itu lahir pada tanggal 8 April 2016, di mana pada saat itu saya baru balik dari kuliah pascasarjana di IKJ waktu itu, baliknya 2015. Dan karena waktu itu saya berkomunitas dari Freedom Squad, terus dari tahun 1999 sampai 2015 itu, saya berpikir 11 tahun merantau itu akan banyak perkembangan atau ekosistemnya mulai bertumbuh. Tapi pas balik ternyata tidak sama sekali meningkat, karena ruang-ruang bertumbuh dalam hal berkesenian itu sangat minim sekali. Terutama beberapa ruang-ruang yang dipunyai sama pemerintah provinsi saat itu ataupun kota itu tidak representatif. Akhirnya muncul inisiatif untuk menggerakkan anak-anak muda ini untuk membuat sebuah kolektif seni yang terdiri dari beberapa bidang ilmu di bidang seni, terutama seni pertunjukan, seni rupa, ada film, ada desain, ada fotografi, dan lain-lain itu.

Saya coba menggabungkan mereka, kita membuat visi-visi besar, yaitu membangun ekosistem seni budaya di tanah Papua. Karena saya berpikir harus ada satu ekosistem itu yang men-trigger biar teman-teman Papua ini bisa lebih bersemangat untuk hal berkarya. Di Indonesia Art Movement sudah banyak berganti regenerasi, dan di tahun 2023 kemarin kami ada sekitar 21 orang personil yang terdiri dari berbagai lintas bidang seperti itu.

Apa saja program-programnya?

Program kami, ada bicara tentang seni pertunjukan itu ada namanya I'm On Stage, ada juga tentang film itu kami punya program namanya Suns Day, terus ada buat seni rupa itu Habit Art. Program-program ini yang rutin kami buat, dan memang harapan kami itu ada program yang lain, khususnya kayak di bidang fashion, terus ada animasi, dan lain-lain. Yang menarik lagi pada tahun 2023 kami menginisiasi sebuah program untuk teman-teman disabilitas di Kota Jayapura, yaitu di Fable Love, di tahun ini akan kami lakukan di bulan Oktober.

Apa yang dilakukan Indonesia Art Movement di Galeri Indonesia Kaya ini? Mengapa kemudian memilih menampilkan tradisi Bakar Batu?

Momen kali ini kami diundang oleh pihak Galleria Indonesia Kaya, karena sebelumnya kami adalah salah satu pemenang dari 10 sanggar yang tampil di program 1 Dekade Galeri Indonesia Kaya, untuk Provinsi Papua sendiri, kami sendiri yang lolos. Kami akan tampil mempersembahkan pertunjukan lecture performance, yaitu bagaimana ceramah dan pertunjukan ini digabungin jadi satu, sehingga ada warna yang berbeda tentang pertunjukan.

Secara nilai atau makna dari peristiwa bakar batu itu sangat banyak, beragam sekali. Bukan hanya bicara tentang konsep religi, hiburan, dan lain-lain. Dalam konteks bakar batu sendiri secara makna adalah berbicara tentang kesatuan, kebersamaan, Karena bakar batu ini tidak bisa dilakukan oleh sendiri ataupun dua orang, tidak bisa. Dia sifatnya kolektif yang di mana kalau bicara konteks Indonesia secara luas, kita dengan beragam background ini akhirnya juga disatukan dengan Indonesia misalnya, sarat nilai yang saya pikir ini sangat menarik buat dipertontonkan ataupun dilihat oleh generasi muda saat ini.

Bagaimana iklim kesenian di Papua saat ini?

Secara umum yang saya lihat ekosistem di sana sebenarnya belum terlalu hidup. Kami sebutnya ada tiga ruang, ruang edukasi, ada ruang produksi, dan ruang apresiasi. Ruang apresiasi yang saya pikir di konteks Papua itu sangat minim. Banyak seniman atau pelaku budaya ini hanya menunggu momen setahun sekali dari inisiasi dari pemerintah ataupun swasta. Ini tidak bisa menjawab, produk-produk (seni) tidak bisa banyak ditampung di dalam konteks ruang apresiasi.

Menurut saya selain fasilitas atau sarana-perasarana, yang perlu kami berpikir adalah bagaimana mindset kita berubah sebenarnya. Bagaimana jangan menunggu panggung, tapi kita yang ciptain panggung sebenarnya, kita mengubah luka-luka itu dengan cara inisiatif-inisiatif menumbuhkan ruang-ruang tumbuh dalam hal berekspresi ataupun berkarya.

Sejauh ini saya melihat bahwa seni itu masih dilihat sebagai sebuah profesi yang tidak menjanjikan masa depan. Yang terjadi adalah dari contoh dari beberapa kota/kabupaten mahasiswa kami itu tidak banyak, jadi lebih banyak ke bidang-bidang yang umum (selain seni). Mindset ini perlu dirubah seperti itu bahwa seni sebenarnya menjanjikan, saya bisa buktikan dengan diri saya sendiri. Akhirnya saya pun juga bisa berkarya, di luar dari saya bekerja sebagai dosen misalnya, saya pun masih bisa eksis berbisnis dan lain-lain. Jadi saya pikir peluang-peluang itu harus diciptakan sama generasi muda karena dimensi kehidupan adalah seni.

Bagaimana komunitas Anda akhirnya mendapat dukungan Pendanaan dari Dana Abadi Kebudayaan?

Dana Indonesia saya dapat kabar itu dari melihat sosial media di Instagram, saya sering scroll @budayasaya waktu itu juga akhirnya dapat beberapa informasi bahwa ada Dana Indonesia. Sehingga kami coba, alhamdulillah lulus substansi, dan kemudian kami mencoba melengkapi administrasi yang lain. Dalam prosesnya, saya juga sering-sering bersama teman-teman yang sudah pernah menerima, bagaimana dan hal-hal apa saja yang harus dilengkapi seperti itu. Jadi informasinya banyak sekali, apa lagi ada grup WhatsApp juga sering lempar. Jadi untuk persyaratannya sendiri pun, menurut saya dan tim tidak merasa kesusahan ya.

Kami, di Dukungan Institusional ini mendapat sekitar Rp471 juta lebih. Kami gunakan untuk program peningkatan kapasitas internal, ada program publik, terus ada fasilitasi seperti sarana prasarana dan lain-lain, sampai program kolaborasi institusi sama pengembangan kapasitas atau managerial itu.

Dulu kami punya mimpi itu bisa mendatangkan sumber dana dari nasional, dan itu jarang kami dapat, pemerintah tidak memfasilitasi secara rutin. Sehingga memang momen dengan Dana Indonesiana ini sangat-sangat bermanfaat buat kami. Untuk total Rp471 juta itu hanya untuk satu tahun program 10 bulan. Dan kalaupun pelaporannya baik dan itu akan dilanjutkan di tahun kedua sampai tahun ketiga.

Apa yang Anda dan komunitas rasakan dengan hadirnya Dana Abadi Kebudayan ini?

Dana abadi kebudayaan menjadi salah satu hal yang bisa memacu kami buat terus beraktivitas dalam hal-hal kesenian dan kebudayaan. Dan saya yakin di teman-teman di seluruh Nusantara juga mendapat manfaat yang sama. Karena dengan Dana Abadi Kebudayaan ini tradisi ataupun nilai-nilai yang sudah ada dari leluhur ataupun turun-temurun ini pasti akan selalu dijaga, dirawat, dan dilestarikan.

Terima kasih buat dana abadi kebudayaan yang dikelola oleh LPDP. Jujur selama ini kami berproses dari hal kecil dan akhirnya kami bisa tumbuh dan berkembang itu karena ada Dana Abadi Kebudayaan tersebut salah satunya. Karena dengan itu kami bisa melanjutkan program-program kami dan melanjutkan visi misi besar kami, membangun ekosistem yang sehat, yang baik, di Tanah Papua khususnya.

Relate Articles

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua