“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” penggalan lirik lagu Kolam Susu yang dipopulerkan grup musik legendaris Koes Plus hendak menunjukkan betapa suburnya tanah air nusantara. Narasi tanah Indonesia subur kemudian terus ditanamkan di tiap generasi sampai sekarang.
Kini lebih dari setengah abad usia lagu tersebut kala pertama diluncurkan tahun 1970. Masihkah klaim tanah kita tanah subur relevan? Pada tahun 2022 pernyataan almarhum Guru Besar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Iswandi Anas Chaniago sempat bikin ramai. Ia menyebut bahwa 70 persen tanah pertanian Indonesia sudah sakit atau rusak. Penyebabnya tak lain karena tingginya penggunaan bahan kimia pertanian terus menerus alih-alih pupuk organik.
Kondisi telah berbeda dari medio 1960-an di mana kala itu kadar organik di tanah pertanian Indonesia masih tinggi. Tanah pertanian yang babak belur karena eksploitasi pertanian yang semata berorientasi profit telah mengabaikan keberlanjutan. Bila terus menerus, tentunya membawa kerugian yang besar sekali. Tidak ada kehidupan yang sehat di atas tanah yang sakit. Ketahanan pangan nasional amat terancam. Tanah kita tanah subur hanya menjadi retorika belaka.
Solusi mengembalikan kesehatan dan produktivitas tanah pertanian adalah dengan meningkatkan penggunaan pupuk organik. Tetapi pupuk organik yang seperti apa untuk menjawab kebutuhan perilaku pertanian modern saat ini?
Paradoks Negara Agraris dan Solusi inovatif
Ini adalah paradoks. Sejak lama negara kita telah dikenal sebagai negara agraris. Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian yang hasilnya menjadi komponen utama bagi kehidupan domestik maupun ekspor. Namun kondisi saat ini tak lagi mencerminkan kedaulatan dan kemandirian pangan, banyak bahan makanan kita tak cukup secara kualitas maupun kuantitas, pasar kemudian dibanjiri sayur, buah, maupun produk hasil pertanian lain yang diimpor dari negara lain, walau potensi pertanian kita sebenarnya dapat pula menyediakannya.
Indah Prihartini menyebutkan ada tiga permasalahan pertanian Indonesia sudah sedemikian kompleksnya yang menyerang tanah, tanaman produksinya. Kondisi memprihatinkan ini tak lepas dari permasalahan yang dihadapi para petani lokal. Pengetahuan, teknologi, dan metode pertanian tidak banyak berkembang, sedangkan kondisi tanah dan tanaman terus dituntut untuk berproduksi.
“Yang pertama, kondisi tanah di lokasi pertanian kita itu sudah menurun. Jadi pH-nya di bawah lima, bahan organiknya di bawah dua, kemudian hara terikat senyawa kompleks yang tidak bisa diurai sehingga tidak bisa diserap oleh akar tanaman, kemudian juga bersarangnya sama penyakit yang ada di tanah, yang sudah tertimbun begitu lama. Yang kedua adalah masalah pertumbuhan tanaman, produktivitas tanaman kan tergantung kepada makanannya dia, hara yang diambil dari tanah itu sangat terbatas karena kondisi tanah tidak menyediakan hara yang baik untuk tanaman itu bertumbuh. Produktivitas tanaman (juga) terkendala dari hama penyakit, itu yang ketiga”, terang Indah.
Akan sangat banyak produk dan biaya yang dibutuhkan petani untuk mengatasi tiga permasalahan di atas satu per satu. Peneliti sekaligus Guru Besar Bidang Nutrisi dan Ternak Organik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat ramuan pupuk hayati yang diklaim multifungsi untuk peningkatan produksi hasil pertanian. Produknya itu dinamai Biofarm Pupuk Hayati Plus 5+1.
“Cukup satu saja, tetapi dia sudah bisa mengatasi seluruh permasalahan petani, dari mulai tanahnya sampai ke produksi pertaniannya” jelasnya.
Sesuai namanya, produk Biofarm Pupuk Hayati 5+1 ini mengandung lima manfaat sekaligus, yang mencakup:
- Biohayati yang mengandung mikroorganisme fungsional yang memiliki peran positif bagi tanaman dan membantu menyediakan unsur hara;
- Bioremediasi yang memiliki kemampuan untuk mengatasi permasalahan tanah akibat residu pupuk kimia;
- Biodegradasi untuk menguraikan bahan-bahan organik menjadi nutrisi yang lebih mudah diserap tanaman;
- Bioaktivator yang berperan sebagai aktivator yang mempercepat proses biologis di dalam tanah;
- Biofertilizer yang berfungsi sebagai pupuk yang dapat meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah;
dan terdapat satu fungsi tambahan:
- Bioproteksi untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit.
Dalam pengembangannya, muncul pula produk turunan bernama Biofarm Pupuk Organik Cair 3+1. Khasiat tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki mutu dan meningkatkan hasil tanaman pertanian dengan cara disemprotkan ke tanaman.
“Jadi kalau disemprotkan ini, saya jamin 100 persen mangga yang diproduksi di pertanian mangga akan manis. Jeruknya juga akan manis seperti itu. Jadi ini memperbaiki hasilnya.” papar Indah.
Indah memang berlatar belakang ilmu peternakan. Berbagai penelitiannya tentang pangan ternak telah lebih dahulu dilakukan. Misalnya identifikasi dan temuannya terkait 12 residu organoklorin paling berbahaya yang ada di hasil peternakan. Namun lingkup pengaplikasian risetnya secara prinsip juga bermanfaat untuk mengatasi kendala pertanian terkini.
“Prinsip saya nutrisi. Mau ternak., mau tanaman, mau tanah. Tanah sendiri itu kan ada ekosistem di bawah. Semua butuh nutrisi. Jadi yang kita siapkan adalah bagaimana mereka cukup mendapatkan nutrisi sehingga bisa beraktivitas secara normal. Kalau aktivitas normal, ya kesehatan optimal. Hama dan penyakit tidak akan menyerang. Produktivitas hasil tanaman meningkat” paparnya.
Telah Diuji dan Dirasakan Manfaatnya
“Saya pertama kali menerapkan ke tanaman apel. Di Malang, di Batu tanaman apel itu kan tanahnya sudah rusak ya. Padat, keras, pH-nya kurang dari lima, bahan organiknya cuma 1,9. Saya coba siramkan ke tanah kemudian disemprotkan ke tanaman. Hasilnya menurut saya sangat bagus ya” terang Indah.
Tantangan bukannya tidak datang. Memperkenalkan suatu teknologi baru kepada sejumlah kelompok tani berarti mengubah mindset mereka tentang cara dan kebiasaan bertani. Beberapa yang diingat seperti kultur masyarakat di Malang Selatan dan Bondowoso misalnya yang cenderung kaku untuk menerima perubahan baru.
“Memang kalau mengubah pola pikir petani itu istilahnya kalau orang Jawa tidak bisa sak deg sak nyeg, tidak bisa tiba-tiba. Hari ini kita pelatihan, besok dia berubah. Kita pendampingan dengan berbagai program sedemikian rupa” tuturnya.
Indah menyebutnya sebagai social engineering. Timnya diisi oleh orang-orang lintas disiplin seperti sosial budaya untuk memetakan dan pendekatan suatu masyarakat petani, agribisnis ekonomi untuk menghitung ongkos keuntungan yang didapat setelahnya. Dari formulasi inilah didapatkan trust dari petani untuk memahami akar masalah pertanian dan mau memperbaikinya dengan produk Biofarm.
Proses panjang penelitian membawa produk Biofarm Pupuk Hayati 5+1 ini mampu menurunkan penggunaan pupuk kimia sampai 50 persen atau bahkan 100 persen sebagai pengganti pupuk kimia menuju pertanian organik. Dari segi biaya produksi untuk pupuk maupun pestisida, produk ini turut menghemat biaya sampai 25 persen. Tak hanya itu, produk yang dihasilkan pun dapat meningkat signifikan secara jumlah hingga 25 persen.
Meski saat ini produk Biofarm Pupuk Hayati 5+1 masih menunggu izin edar untuk komersialisasi, namun uji mutu dan uji efektivitasnya telah masif dilaksanakan hingga ke lahan-lahan pertanian yang berbeda di 22 provinsi se-Indonesia. Dari tanaman buah, sayur, horti, umbi, padi, hingga perkebunan dan perhutanan, telah merasakan dampak positif. Penggunaan Biofarm Pupuk Hayati 5+1 dan produk turunannya terbukti mampu menjadi jawaban dari tiga permasalahan utama yang dihadapi petani sebelumnya,
“Yang pertama meningkatkan hasilnya, yang kedua menurunkan biayanya, yang ketiga meningkatkan harga dan mutu dari hasil pertaniannya, yang berikutnya meningkatkan kualitas tanahnya”, terang Ketua Produksi Pupuk Hayati Plus 5+1 ini.
Dalam penyebaran teknologi dan pengujian ini, tim peneliti UMM juga membangun kerja sama dalam pendampingan langsung kepada para petani, di antaranya dengan PT Permodalan Nasional Madani (PMN), Bank Indonesia, dan berbagai Pemerintah Daerah. Pendampingan ini dilakukan secara menyeluruh dengan menyediakan Standar Operasional Prosedur dari proses pra-tanam sampai pemasaran produk.
“Mereka (para petani) dengan senang hati mencoba produk saya di berbagai macam tanaman, di berbagai macam tanah, dan mereka laporan ke saya. ‘Bu, ini hasilnya. Bu kemarin panen’ mereka melaporkan khasiatnya”
Selain itu para petani juga diarahkan untuk memanfaatkan limbah lokal, khususnya limbah peternakan menjadi pupuk organik padat maupun cair. Produk tersebut kemudian diaplikasikan kembali guna meningkatkan produktivitas. Hasilnya, petani yang semula tidak menjual produk secara komersial kini mampu menghasilkan beras organik yang dipasarkan ke pasar modern.
Komitmen Dukungan Riset Strategis Berkelanjutan
Keberhasilan riset Biofarm tidak lepas dari dukungan pendanaan untuk melakukan segala aktivitas yang dibutuhkan tim peneliti. LPDP sebagai pengelola Dana Abadi Penelitian (DAP) berperan strategis dalam memastikan penyaluran dana riset berjalan lancar sekaligus melakukan fungsi pengawasan penggunaan anggaran.
Total sebesar Rp1,24 miliar telah disalurkan selama durasi tahun 2021 sampai 2022. Mitra industri CV Agro Gemilang Indonesia menjadi produsen Biofarm Pupuk Hayati 5+1 maupun Biofarm Pupuk Organik Cair 3+1. Harganya dipatok Rp60.000 per botol yang bisa digunakan untuk satu hektare tanah pertanian.
Produknya juga telah dibeli oleh banyak kelompok tani yang merasakan khasiat nyata peningkatan produksi dan nilai ekonominya. Saat ini penjualannya masih dilakukan secara terbatas oleh tim peneliti Biofarm sembari menunggu proses izin edar yang telah diajukan.
“Sekarang ini tinggal menunggu izin edarnya keluar saja. Kemarin harusnya awal tahun sudah keluar izin edarnya, tetapi sistem yang ada di Kementerian Pertanian belum begitu baik, sehingga kita agak terlambat untuk mendapatkan sertifikatnya.” ujar Indah yang juga menjadi Ketua Produksi Biofarm.
Telah merasakan manfaat yang begitu besar dalam mewujudkan produk penelitiannya, Indah Prihartini juga berharap agar semakin banyak peneliti-peneliti lain lebih bersemangat, termotivasi, dan mau memanfaatkan #UangKita dalam penelitiannya.
“Karena saya yakin Bapak-Ibu juga menghasilkan hasil riset yang sangat bagus, maka manfaatkanlah dana dari LPDP untuk kita bisa mengembangkan hasil riset kita dan bisa membantu hilirisasi dan komersialisasi hasil produk kita, sehingga teknologi yang Bapak-Ibu hasilkan itu tidak berhenti sampai dengan laporan saja tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat” tutupnya.
Editor: Tony Firman



