Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Gie Sanjaya adalah founder di balik suksesnya Yayasan Kids Biennale Indonesia (KBI).
Risprostory

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Penulis
Dimas Wahyudi
Kamis,
18 September 2025

Di tengah riuhnya karya yang dipamerkan, sebuah lukisan sederhana menarik perhatian. Sosok anak berseragam sekolah digambarkan duduk memeluk lutut, wajahnya ditutupi coretan putih, seakan-akan identitasnya sengaja dihapus. Di sampingnya tertulis “Hi friend. The day you called me UGLY, I didn’t stop being friends with you, I started hating myself”, kalimat yang begitu jujur namun getir dan mengandung paradoks pilu, bukan permusuhan terhadap si kawan, melainkan pergeseran luka ke dalam diri. Si anak tidak membalas, tidak melawan, justru menelan kata itu bulat-bulat hingga menjelma cermin retak dalam batinnya.

Karya dari Parker Chairil (9) asal Jakarta berjudul “Apakah Aku Buruk Rupa?” itu menjadi salah satu dari 142 karya yang ditampilkan dalam pameran Kids Biennale di Galeri Nasional 3–31 Juli 2025 lalu. Seluruh karya tersebut adalah hasil cipta rasa dan karsa dari para seniman cilik usia 6-17 tahun dan seniman cilik disabilitas usia 6-22 tahun dari seluruh Indonesia Dengan mengusung tema “Tumbuh Tanpa Rasa Takut”, gelaran ini melantangkan pesan batin anak-anak Indonesia bahwa tumbuh kembang anak harus berlangsung dalam ruang yang aman dari kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Publik diajak untuk mendengar, memahami, dan menumbuhkan empati. Karena pada akhirnya, membiarkan anak tumbuh tanpa takut berarti memberi mereka hak paling mendasar, yaitu hak untuk mencintai dirinya sendiri.

Eksplorasi imajinasi seniman cilik hadir dalam berbagai wujud lintas disiplin seni. Selain menampilkan berbagai karya seni rupa seperti lukisan dan patung, visual-audivisual seperti musik dan film, pertunjukan, hingga sastra melebur dalam harmoni teratur yang terorkestrasi sempurna. Beberapa wahana interaktif juga terinstal menambah pengalaman menikmati pameran, seperti maze/labirin dan bilik aman yang mengajarkan banyak nilai dan sarana pendidikan karakter anak. 

142 Karya dan 10.000 Pengunjung

Selama dua bulan masa pengumpulan karya, Kids Biennale Indonesia 2025 berhasil menjaring 1.026 karya seni dari anak dan remaja di berbagai penjuru tanah air. Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 142 karya terpilih untuk dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia. Sementara itu, karya yang belum lolos kurasi tetap mendapat ruang apresiasi khusus melalui layar digital di Gedung B bagi peserta dari wilayah Jabodetabek.

Ke-142 karya yang dipamerkan lahir dari beragam latar belakang, mulai dari karya individu hingga kolektif kelompok dan komunitas. Pesertanya pun datang dari berbagai jalur pendidikan—sekolah formal tingkat dasar hingga menengah atas, kelas kursus menggambar di perkotaan, komunitas seni di pelosok hutan, hingga homeschooling dan sekolah luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus.

Gelaran Kids Biennale juga mendulang apresiasi yang luar biasa hangat dari para penikmat seni. Dalam 28 hari pameran, tercatat lebih dari 10.000 pengunjung, angka yang sangat tinggi dan signifikan. 

“Karena kami juga ada survei dan nantinya akan jadi bahan riset saya”, ujar Gie Sanjaya selaku Founder Yayasan Kids Biennale Indonesia (KBI) yang juga akan mempelajari feedback para pengunjung untuk bahan penyempurnaan pada pameran-pameran berikutnya. 

Perempuan bernama lengkap Agatha Anggira Paramita Putri Sanjaya ini telah malang melintang sebagai kurator independen. Berbagai pameran telah ia tangani, sampai akhirnya tertarik secara serius mengangkat isu-isu seputar anak dengan mendirikan KBI.

Ia percaya bahwa seni bisa membentuk karakter, menanamkan budi pekerti, dan menjadi agen perubahan. Di KBI inilah diisi berbagai ekspresi dan eksplorasi seni yang disuarakan anak-anak. 

Dukungan Dana Abadi Kebudayaan

Kehadiran Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola LPDP telah membuka keran para pelaku seni budaya untuk menggelar berbagai karya dari seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. 

Gie Sanjaya mengaku sebenarnya sudah cukup lama mengetahui keberadaan DAKB atau dikenal pula Dana Indonesiana. Dari mulut ke mulut dan masifnya pemberitaan DAKB pada berbagai program kesenian yang dijalankan kolega-koleganya, membuat Gie kemudian mencoba submit proposal pendanaan pada tahun 2024 lalu. Setelah proses panjang seleksi, Yayasan KBI berhasil mendapatkan dukungan pendanaan hingga Rp607.755.102.

“Nah, karena kita programnya panjang banget, hampir 10 bulan, jadi proses sosialisasi kita itu hampir 2 bulan setengah dan itu kan perlu adanya Zoom Meeting, lalu adanya program-program yang kami jalankan secara offline, sehingga dipantik bagaimana anak-anak ini bisa berproses membuat workshop, lalu juga shipping karya dan juga produksi. Nah, sehingga sebenarnya dana abadi sendiri bukan dinikmati buat yayasan Kids Biennale saja”, jelas Gie yang merupakan jebolan Program Magister Seni Rupa dan Spesialisasi Kajian Seni, ITB. 

Dana Abadi Kebudayaan bak cahaya harap di kalangan para pelaku seni dan budaya tanah air. Gie juga menyampaikan harapannya agar keberadaan dana dan dukungan ini tetap terus ada hingga ke generasi anak cucu kelak. Ia juga berharap gelaran Kids Biennale akan menjangkau lebih banyak kelompok anak di seluruh penjuru Nusantara, 

“Mungkin dananya harus lebih tinggi gitu. Karena kalau membuat pameran dananya cukup besar, apalagi kita melibatkan Sabang sampai Merauke. Sehingga ada program-program yang seperti Kids Biennale lakukan bisa ke daerah-daerah yang memang belum terpapar”, tutupnya menitipkan harap.

Kids Biennale tak akan berhenti di sini. Menjadi arena ekspresi yang
 lahir dari ruang batin anak-anak. Ini menghentak kita semua. Kita diajak merenung, apakah dunia sudah cukup ramah bagi mereka? Para anak-anak dan bahkan buah hati kita sendiri?


Editor: Tony Firman

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Merayakan Kekayaan Rempah Nusantara, Melestarikannya untuk Masa Depan

Risprostory | 25-03-2025

Merayakan Kekayaan Rempah Nusantara, Melestarikannya untuk Masa Depan