Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Indra Nafi Akhsani, penerima Beasiswa LPDP saat menjalani program magang di Singapura segera setelah ia lulus. Dok Pribadi
Awardeestory

Cerita Indra Nafi Akhsani, Bisa Magang di Luar Negeri Usai Lulus S2 Beasiswa LPDP

Penulis
Dimas Wahyudi
Rabu,
17 September 2025

Tak harus langsung pulang ke Indonesia, para penerima beasiswa LPDP kini diberikan ruang yang lebih lapang untuk menapaki jalan pasca-studi. Para alumni bisa magang, bekerja, atau mengembangkan bisnis di luar negeri hingga dua tahun maksimal lamanya. Relaksasi kebijakan ini bukan cuma kelonggaran administratif belaka, justru ajang membuka kesempatan strategis bagi para alumni untuk mengasah keterampilan secepatnya, memperkaya wawasan, dan tentunya membangun jejaring global yang dapat mendukung perjalanan profesional maupun reputasi bangsa.

Kepekaan baru, gagasan segar, serta energi transformasi adalah sederet harapan manfaat jangka panjang dalam kerangka membangun talenta unggul berdaya saing global. Memastikan para alumni LPDP menjadi motor penggerak transformasi di berbagai sektor. Memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia, serta berkontribusi dalam menjawab tantangan pembangunan nasional.

Salah satu alumni yang telah memanfaatkan kebijakan ini adalah Indra Nafi Akhsani. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Kimia ini telah merampungkan studi Master of Sustainable Energy di University of Queensland, Australia. Sadar akan kebutuhan melengkapi pengetahuan teoritisnya dengan praktik di lapangan, ia memanfaatkan kesempatan magang selama dua tahun Energy Studies Institute, sebuah lembaga riset yang bermarkas di Singapura selepas lulus. 

Seperti apa kisah lengkapnya? Simak wawancara kami dengan Nafi berikut

Latar Belakang dan Mengapa Memilih Magang di Luar Negeri? 

Saya adalah awardee LPDP tahap pertama tahun 2023 dan merupakan bagian dari PK 214 Sattva Anjani. Saya berkesempatan menempuh studi Master of Sustainable Energy di University of Queensland, Australia. Selama studi di Brisbane, saya mendalami bidang energi terbarukan, khususnya energi hidrogen hijau.

Sejak awal studi, saya telah merencanakan untuk mengambil tesis sebagai mata kuliah pilihan. Saya memandang tesis memberikan keleluasaan untuk merancang riset, memperdalam pengetahuan, serta mengembangkan pola pikir kritis. Saya memilih topik energi hidrogen hijau yang merupakan bidang minat saya.

Ketika mengerjakan tesis, saya menyadari bahwa peluang riset mendalam mengenai energi hidrogen hijau di Indonesia masih terbatas, terutama dalam konteks kesiapan menjadi negara pemasok energi bersih. Hal ini mendorong saya untuk mencari kesempatan magang di luar negeri, termasuk di Energy Studies Institute (ESI) di Singapura.

Saat ini saya magang di Energy Studies Institute (ESI), lembaga riset di bawah National University of Singapore (NUS) yang berfokus pada pengembangan energi dari aspek teknologi, kebijakan, dan keekonomian. Saya menjabat sebagai Research Associate dan ditempatkan di proyek studi kelayakan rantai pasok hidrogen, termasuk energi hidrogen hijau. Tugas saya mencakup:

  • Mengkaji perkembangan teknis dan komersial rantai siklus hidrogen, mulai dari produksi, konversi, penyimpanan, transportasi, penanganan, hingga konsumsi.

  • Melakukan perhitungan dan studi kasus terhadap berbagai pilihan teknologi dan kebijakan untuk menurunkan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH).

  • Mengkaji aspek lingkungan, termasuk perhitungan emisi karbon dioksida dan dampak lingkungan lain di setiap peta jalan hidrogen.

Apa yang membuat Anda tertarik magang di Energy Studies Institute, Singapura? Apa relevansinya dengan bidang studi atau riset Anda?

ESI adalah salah satu lembaga riset terkemuka di Singapura yang bekerja sama dengan pemerintah dan berbagai perusahaan serta memiliki reputasi dalam riset energi, termasuk energi hidrogen hijau. 

Proyek yang saya jalani di ESI relevan dengan cita-cita saya saat mendaftar Master of Sustainable Energy melalui LPDP, yang juga tercermin dalam esai kontribusi dan topik tesis saya. Pengalaman ini memperdalam pengetahuan, keterampilan, dan wawasan saya setelah menempuh studi di Australia.

Ini adalah kebijakan baru dari LPDP untuk memberi ruang awardee magang atau bekerja dengan maksimal durasi dua tahun. Bagaimana kebijakan tersebut mendukung perjalanan profesional Anda?

Saya mengapresiasi kebijakan LPDP yang memberi kesempatan awardee untuk mengaplikasikan ilmu dan keterampilan melalui magang, pekerjaan, atau pengembangan startup di luar negeri hingga dua tahun setelah studi. 

Kebijakan ini membantu saya meningkatkan kompetensi dan daya saing global. Program Master selama 1,5 tahun perlu dilengkapi dengan pengalaman lapangan dan proyek nyata agar ilmu dan keterampilan yang diperoleh lebih berdampak dan bermanfaat.

Pengalaman paling berharga adalah mempelajari cara bekerja secara efisien dan efektif serta mengembangkan pola pikir peneliti yang mempertimbangkan aspek riset sekaligus komersialisasi pasar. Saya juga mempelajari berbagai teknologi dan perangkat lunak untuk optimasi teknis dan perhitungan biaya, yang memudahkan pengambilan keputusan berbasis teori dan data.

Apakah magang ini memberi kesempatan membangun jejaring internasional dan bermanfaat saat kembali ke Indonesia nanti?

Tentu. ESI menjunjung keberagaman etnis dan budaya, sehingga saya bekerja bersama rekan-rekan dari berbagai negara. Selain itu, ESI memfasilitasi pegawai untuk mengadakan workshop dan seminar internal yang menghadirkan pakar energi terbarukan, termasuk hidrogen hijau. Kami juga berpartisipasi dalam konferensi internasional untuk mempresentasikan hasil riset dan memperluas jejaring. Dari forum-forum ini, saya mendapatkan banyak peluang kolaborasi untuk masa depan.

Selain menambah pengalaman internasional, proyek yang saya kerjakan turut melibatkan Indonesia sebagai salah satu studi kasus, di mana Singapura berencana mengimpor hidrogen atau amonia dari Indonesia. Ini memberi saya kesempatan untuk mengeksplorasi potensi produksi hidrogen di Indonesia, termasuk strategi konversi dan distribusinya. Pengetahuan ini diharapkan membantu Indonesia mempersiapkan diri sebagai pemasok energi bersih.

Apa rencana kontribusi Anda untuk Indonesia setelah masa magang selesai?

Setelah magang, saya berharap dapat berkarier di perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang energi terbarukan, khususnya hidrogen hijau. Saya ingin mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang saya peroleh di Singapura untuk mendukung kemandirian energi nasional dan terlibat dalam proyek strategis terkait hidrogen dan amonia bersih.

Pesan Anda untuk awardee yang berminta memanfaatkan kebijakan ini?

Sebagai sesama awardee, saya memahami tantangan pasar kerja di Indonesia. Saya mendorong teman-teman untuk memanfaatkan kebijakan ini jika relevan dengan tujuan karier masing-masing. Mendapatkan pengalaman magang atau pekerjaan di luar negeri bukanlah hal mudah, namun memberikan bekal keterampilan dan jejaring yang akan sangat berguna untuk pembangunan Indonesia ke depan.

Menurut Anda, mengapa kebijakan relaksasi ini penting dan patut didukung publik?

Tidak semua program Master memberikan pengalaman lapangan atau proyek nyata yang kompleks dan lintas disiplin. Kebijakan LPDP ini perlu didukung publik karena memfasilitasi awardee untuk memperluas wawasan global dengan pemantauan yang baik dari LPDP. Kehadiran orang Indonesia di panggung internasional juga memperkuat citra bangsa dan membuka peluang kolaborasi strategis, misalnya untuk mendukung target emisi nol bersih.

Terakhir. Bagaimana Anda menjaga komitmen sebagai awardee LPDP untuk tetap pulang dan berkontribusi, walau sempat magang di luar negeri?


Saya berkomitmen menyelesaikan magang dengan baik agar pengalaman, keterampilan, dan wawasan yang diperoleh dapat diaplikasikan untuk Indonesia. Saya terus memantau perkembangan pasar kerja nasional sambil memaksimalkan peluang belajar di ESI. Saya yakin akan ada waktu yang tepat untuk pulang dan berkontribusi, khususnya untuk mempercepat pengembangan energi hidrogen hijau di Indonesia.

***

LPDP telah secara resmi membuka kesempatan peluang magang/penelitian bagi alumni penerima beasiswa LPDP. Adapun dokumen yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  • Surat pernyataan izin.
  • Offering Letter (dengan tanggal mulai & selesai).
  •  Esai singkat: relevansi, manfaat, rencana karier, instansi tujuan.

Untuk ketentuan utama adalah sebagai berikut:

  • Ajukan maksimal 60 hari setelah kelulusan.
  • Wajib dimulai ≤ 3 bulan pasca kelulusan.
  • Durasi izin: hingga 24 bulan.
  • Alumni PNS: lampirkan surat izin instansi.

Tujuannya jelas, untuk mendukung pengembangan kompetensi dan jejarang global, memberi ruang kontribusi nyata, dan menjaga komitmen pengabdian alumni LPDP. 

Editor: Tony Firman

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri