Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Ubaidillah Fatawi, Kepala Sekolah SMA Bumi Cendekia sekaligus alumni penerima Beasiswa LPDP
Awardeestory

Cerita Ubaidillah Fatawi: Kepala Sekolah Muda yang Menghadirkan Pendidikan Alternatif Membebaskan

Penulis
Tony Firman
Senin,
25 November 2024

Pagi itu di sudut Desa Tirtoadi Kabupaten Sleman Yogyakarta yang tenang, tampak terdapat kesibukan di sebuah komplek bangunan rumah kayu yang unik. Dari kejauhan sayup terdengar suara sekumpulan remaja. Semakin dekat barulah jelas terlihat adanya aktivitas belajar mengajar. Inilah sekolah Bumi Cendekia yang mengampu jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Atas.

“Seperti inilah Mas suasana sekolah kami. Di sini juga pesantren dan joglo di depan itu biasa dipakai untuk aktivitas mengaji dan sholat. Kebetulan baru saja kemarin ada akreditasi dan alhamdulillah semuanya lancar” ujar Ubaidillah Fatawi yang menyambut hangat kedatangan tim LPDP di Bumi Cendekia.

Pemuda yang akrab disapa Ubed ini tak lain adalah Kepala Sekolah untuk SMA Bumi Cendekia. Di usianya yang relatif muda, ia dipercaya memegang 48 siswa dengan 10 guru pengajar.

Ini tak lepas dari latar belakang dan rekam jejak Ubed yang begitu menekuni dunia pendidikan dan pengajaran. Ubed adalah sarjana Teknologi Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta dan mengantongi gelar Magister Teknologi Pembelajaran di kampus yang sama dengan Beasiswa LPDP.

Kiprahnya bekerja di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta yang terkenal dengan metode pendidikan alternatif turut memberikan pondasi pemikiran dan pengalaman berharga dalam melihat pendidikan dan model pembelajaran dengan sudut yang berbeda.

“Di sini adalah ruang ekspresi kami, ruang eksperimentasi kami, ruang belajar kami untuk mengembangkan satu konsep pendidikan yang humanis, kontekstual tapi juga memberdayakan anak” tegasnya.

Dari Keluarga Sederhana dan Mencari Pendidikan Alternatif 

Ubed lahir di kota kecil dan asri bernama Salatiga dan tumbuh dalam keluarga sederhana pada 1994 silam. Ayahnya adalah seorang guru honorer di SMP swasta dan ibunya berdagang di pasar. Di sore hari setelah bekerja, orang tua Ubed aktif mengajar anak-anak desa mengaji di sore hari.

Tak jarang Ubed diajak ayahnya ke sekolah maupun saat di pengajian. Suasana belajar mengajar di kelas telah lazim ia lihat sedari dini. Inilah yang menurutnya telah memupuk kecintaannya pada pendidikan sejak belia.

Meski lahir di Salatiga, orang tuanya sebenarnya berasal dari sebuah kota di pesisir utara Pulau Jawa bernama Pati. Di sana pula Ubed menjadi santri dan menempuh pendidikan SMK jurusan multimedia yang menurutnya cukup menggoreskan bekas hingga mengubah pandangan hidupnya dalam menatap masa depan.

Rata-rata orang tua rekannya di SMK berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Praktis, mereka tumbuh tanpa kehadiran peran orang tua dan tak juga terarah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Itulah yang mendorong diri Ubed untuk merantau menempuh pendidikan sarjana di Yogyakarta. Kondisi keluarganya juga mendatangkan rezeki saat dirinya mendapat Beasiswa Bidik Misi selama menempuh pendidikan S1.

Jurusan Teknologi Pendidikan mempelajari tentang bagaimana mempermudah proses pembelajaran itu sendiri. Tentang cara menginovasikan proses belajar di kelas termasuk ekosistemnya.

“Saya di kelas ini kok sering ngantuk, pembelajaran itu membosankan, gurunya hanya ceramah. Saya pikir apa memang pendidikan seperti itu. Maka di jurusan ini saya ingin mengulik apakah memang pakemnya begitu atau masih bisa kita ubah” paparnya merefleksikan kegelisahan kala itu.

Tidak hanya itu. Ubed turut menyoroti teori-teori dari tokoh yang diajarkan di jurusan Teknologi Pendidikan banyak berkiblat pada metode pendidikan barat.

“Di dalam teori-teori Barat itu tidak memasukkan keluarga dalam instrumen pendidikan kita. Tapi dalam konteks Tagore dan Ki Hadjar Dewantara misalnya, yang hidup dalam budaya Timur, mereka memasukkan keluarga sebagai bagian dari proses pengasuhan pendidikan anak.

Ubed bukannya anti terhadap produksi pengetahuan Barat. Melainkan ia turut bagian dalam kelompok yang mencoba menggugat instrumen pendidikan Indonesia yang telah lama bersandar ke Barat. Bahwa menurutnya kita perlu melihat teori-teori dari Timur juga.

Proses kegelisahan dan pencarian paradigma pendidikan yang dilakukan Ubaid ini turut didorong oleh aktivitasnya di luar kampus. Saat pendidikan S1 ia tercatat bergabung dengan sekolah alternatif di Yogya bernama Sanggar Anak Alam atau SALAM.

SALAM adalah sekolah non-formal yang didasarkan pada filosofi bahwa setiap anak memiliki hak untuk mengeksplorasi, bertumbuh, dan belajar sesuai dengan minat serta potensinya, tanpa tekanan kurikulum formal yang kaku.

Pengalamannya berkecimpung di Sanggar Anak Alam ini pada akhirnya memperkaya wawasannya bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses membangun kemandirian berpikir dan bersikap.

Selama di SALAM kegiatan Ubed tidak cuma mengajar, ia juga memberikan pelatihan untuk guru-guru di Indonesia terkait bagaimana membangun satu komunitas atau ekosistem pendidikan yang membebaskan, memerdekakan anak-anak.

Memilih Kampus Dalam Negeri dan Wawancara yang Berkesan

Rasa haus dan kegelisahan akan pendidikan telah membulatkan tekad Ubed bahwa ia harus melanjutkan pendidikan S2. Apa daya terganjal biaya. Sampai akhirnya ia diberi tahu rekannya bahwa ada beasiswa LPDP yang bisa diikuti untuk kelompok penerima Bidik Misi sepertinya.

Gayung bersambut, segala persyaratan yang diminta LPDP sangat cocok dengan profil sepertinya. Akhirnya Ubed mendaftar pada 2020 dan dengan mantap melanjutkan di kampus yang sama, alih-alih ke luar negeri.

“Saya memilih Tetap Indonesia karena saya merasa masih butuh waktu lebih untuk berkontribusi pada Indonesia. Saya merasa bahwa ketika saya mengambil S2 di dalam negeri, saya masih bisa terkoneksi dengan komunitas saya, untuk berkontribusi pada komunitas saya. Sehingga apa yang saya lakukan itu tidak putus.” tutur angkatan PK-169 Gunandhya Janitra ini.

Hal yang paling berkesan hingga diingat adalah saat proses wawancara. Apabila rekan-rekan yang lain wawancara antara 15 atau 20 menit, Ubed menghabiskan waktu satu setengah jam lantaran harus berdebat dengan pewawancara.

Pasalnya, Ubed yang besar di pendidikan alternatif menyampaikan idealisme perjuangannya sendiri terkait alasan mengapa harus melanjutkan pendidikan magister. Sementara kala itu sang pewawancara adalah seorang dosen pendidikan.

Sampai-sampai terlontar tuduhan subversif hanya karena gagasan pendidikannya yang dianggap menentang paradigma arus utama yang telah mapan. Namun alih-alih tersulut emosi atau tersinggung. Ubed justru meladeni dengan tenang dan menjadi sarananya beradu gagasan sehat yang ia yakini bahwa orientasi pendidikan harus kembali pada nilai-nilai mendasar: membebaskan anak dari belenggu pendidikan yang membosankan dan kaku.

“Sekarang kita lihat dengan proses pendidikan kita kayak gini, dalam 20 sampai 30 tahun kita begini. Apa hasilnya? Dan saya percaya bahwa kita jangan-jangan itu salah kiblat. Kita terlalu banyak berkiblat pada teori-teori Barat.” ungkapnya saat mengenang proses seleksi mendapatkan Beasiswa LPDP.

Satu jam lebih terlibat wawancara panas, dirinya sempat berpikir bahwa tak akan lolos seleksi wawancara LPDP. Namun ternyata hasilnya berbalik. Ia juga ingat bahwa sang pewawancara juga nampak menikmati proses perdebatan akademik selama meladeni argumentasi adu gagasan dan pandangan.

“Itu juga membuktikan bahwa ternyata LPDP cukup terbuka. Mungkin juga pewawancara yang bertolak belakang dengan saya itu menguji idealisme saya” tuturnya puas.

Menghidupkan Eksperimentasi Pendidikan di Bumi Cendekia

Yayasan Bumi Cendekia berdiri pada tahun 2018 dan mulai menerima siswa di tahun berikutnya pada tingkat SMP. Sebuah lembaga pendidikan yang mengintegrasikan pendekatan alternatif dan formal berbasis pesantren.

Baru pada November 2022 sekolah ini membuka kelas SMA dan Ubed bergabung menjadi Kepala Sekolah pada Januari 2023. Di sini Ubed memperkenalkan program-program inovatif salah satunya Riset Jati Diri, di mana siswa diajak menjawab pertanyaan besar tentang tujuan hidup mereka melalui penelitian kontekstual.

Selain itu, ada program Live-In yang mengajak siswa tinggal di lingkungan konservasi atau profesi untuk memperluas wawasan dan empati mereka. Ubet percaya, memberi siswa kepercayaan untuk mengelola program dan tanggung jawab mereka sendiri adalah inti dari membangun kemandirian.

Ia mengutamakan dialog, mendengarkan kebutuhan siswa, dan memberikan ruang untuk eksplorasi. Hal ini tercermin dari kebijakan sekolahnya yang fleksibel, seperti mengizinkan tidur siang bagi siswa jika mereka merasa kelelahan, atau menyusun jadwal belajar yang lebih manusiawi.

Kontribusi dan Refleksi Hari Guru

Melalui pengalaman pribadinya, Ubet sering mengajak generasi muda untuk tidak takut bermimpi besar. Baginya, beasiswa LPDP adalah pintu menuju pengembangan diri dan kontribusi nyata bagi bangsa.

"LPDP bukan sekadar beasiswa, tetapi wujud keberpihakan negara pada mereka yang ingin membawa perubahan," ungkapnya.

Masih di momen Hari Guru Nasional, Ubet mengingatkan bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan fasilitator kehidupan. Ia mengutip Ki Hajar Dewantara, bahwa guru adalah sosok yang "ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." Artinya, guru harus memberi contoh, membangun semangat, dan mendukung siswa untuk menjadi individu yang mandiri.

Ubet bercita-cita menciptakan pendidikan yang benar-benar berpihak pada anak. Ia bermimpi kelak akan ada lebih banyak sekolah yang menerapkan pendekatan humanis dan kontekstual.

"Kita tidak butuh pendidikan yang seragam, tapi pendidikan yang memberdayakan," tegas bapak satu anak.

Di penghujung wawancara, ia menutup dengan pesan mendalam.

“Pendidikan bukan tentang kita hari ini, tapi tentang masa depan anak-anak kita. Jangan pernah berhenti berjuang untuk itu.”

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri