Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Tiga awardee Beasiswa Kolaborasi LPDP - CSU yang kini berkarier di PT QMB New Energy.
News

Dari Kampus Tiongkok ke Smelter Morowali, Kontribusi Awardee LPDP–CSU untuk Memajukan Energi Baru

Penulis
Dimas Wahyudi
Senin,
27 Oktober 2025

Dunia terus bergerak ke arah energi terbarukan. Sejak meletusnya Revolusi Industri 1760, bahan bakar fosil menjadi tulang punggung penyokong suksesnya modernitas hingga abad ini. Minyak bumi, batu bara, dan gas inilah sumber energi utama yang menghidupkan berbagai penemuan canggih, dari mesin uap James Watt sebagai penanda revolusi, hingga gawai yang Anda pakai saat ini. 

Seiring waktu, makin masifnya penggunaan bahan bakar fosil telah menunjukkan berbagai masalah serius yang berkelindan seperti perubahan iklim, dampak kesehatan akibat emisi, hingga isu ekonomi ketergantungan. Transisi ke energi baru menjadi diskursus yang terus menggema sekaligus mengisi arah kebijakan global yang saling berlomba mencari dan mengarusutamakan temuan energi baru yang berkelanjutan.

Indonesia tidak ketinggalan dalam tren menatap masa depan energi yang lebih hijau. Ambisi besar pemerintah untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 mendorong transformasi besar di sektor energi dan industri strategis, termasuk nikel, komoditas kunci untuk baterai kendaraan listrik.

Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia sering disebut sebagai “raja nikel.” Data United States Geological Survey (USGS) mencatat, lebih dari 50 juta ton cadangan nikel terkandung di bumi Nusantara, angka itu mencakup sekitar 40 persen dari total cadangan global. Namun, meski menjadi penguasa bahan baku, status sebagai raja baterai dunia masih dipegang oleh Tiongkok, yang telah jauh lebih maju dalam penguasaan teknologi dan rantai pasok industri baterai.

Untuk menjembatani kesenjangan itu, Indonesia terus mempercepat agenda hilirisasi industri mineral kekayaan alam Indonesia. Di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) inilah menjadi rumah bagi berbagai perusahaan pengolahan nikel untuk diproses menjadi barang setengah jadi. Namun, infrastruktur dan investasi saja tidak cukup. Diperlukan sumber daya manusia unggul yang memahami teknologi pengolahan material dan siap bersaing di industri global. 

Di sinilah LPDP memainkan perannya melalui Program Beasiswa Kerja Sama Indonesia–Tiongkok (LPDP–Central South University–GEM Co. Ltd.) yang diluncurkan sejak tahun 2019. Dengan masa studi tiga tahun, program ini telah melahirkan dua angkatan alumni yang kini berkiprah langsung di industri strategis. Kami menemu mereka di PT QMB New Energy Materials, anak perusahaan GEM Co. Ltd., Tiongkok yang berperan penting dalam mengolah nikel menjadi bahan setengah jadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik.

Pertanyaan besarnya adalah, sejauh mana para alumni ini telah mampu mengisi posisi-posisi strategis di industri pengolahan mineral? Apakah mereka telah mampu menjadi motor penggerak dalam alih teknologi dan peningkatan daya saing bangsa? Apakah program ini sudah menjadi jawaban nyata atas isu sumber daya manusia unggul untuk menopang hilirisasi dan prioritas pembangunan nasional? Atau bagaimana iklim kerja dengan Tenaga Kerja Asing (TKA) di kawasan tersebut?

Guna menemukan gambaran dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami berbincang bersama tiga anak muda yang merupakan bagian dari Program Beasiswa Kerja Sama Indonesia–Tiongkok. Mereka adalah Ardi Alam Jabir asal Sulawesi Selatan, Stella Cheny Agnes asal Jawa Barat, dan Vinsensius Ardi Samperante asal Papua dalam episode terbaru Podcast LESSON LPDP. Dalam kesempatan ini, ketiganya juga berbagi kisah perjalanan dari pengalaman belajar di Tiongkok, adaptasi budaya dan bahasa, hingga kontribusi nyata mereka di lapangan.

“Program LPDP–CSU ini sangat unik, karena bukan hanya memberikan beasiswa penuh untuk studi metalurgi di luar negeri, tapi juga mengarahkan lulusannya untuk langsung berkontribusi di industri strategis seperti QMB,” ujar Ardi Alam Jabir, alumni batch pertama yang kini menjabat posisi manajerial di departemen Research and Development (R&D) QMB.

Ardi menuturkan bahwa divisi R&D berperan penting dalam memastikan efisiensi proses produksi sekaligus mengembangkan riset pengolahan limbah menuju konsep zero waste industry.

Sementara itu, Stella Cheny Agnes, alumnus batch kedua yang kini bertugas sebagai Public Relations Assistant, menjelaskan bahwa kerja di QMB tak hanya soal produksi, tetapi juga tentang membangun komunikasi lintas budaya di lingkungan kerja internasional. 

“Kami berupaya menjadi jembatan informasi antara perusahaan dan berbagai pihak di kawasan industri, termasuk masyarakat dan mitra kerja,” ujar jebolan Teknik Metalurgi, Universitas Jenderal Achmad Yani ini.

Adapun Vinsensius Ardi Samperante, mahasiswa batch ketiga yang sedang menjalani program magang di QMB, membagikan pengalamannya beradaptasi dengan bahasa melalui kegiatan mandarin camp serta riset metalurginya selama kuliah di Central South University yang semakin menemukan perkembangan melalui program magang yang ia jalani di PT QMB. 

“Etos belajar di sana tinggi sekali. Semua orang benar-benar serius. Itu jadi pelajaran penting ketika kami masuk ke dunia industri yang menuntut disiplin dan ketelitian tinggi,” ungkapnya.

Belajar di Central South University telah banyak membantu ketiganya dalam berinteraksi dan berjejaring dengan lingkungan internasional, termasuk ketika mereka berkarier di PT QMB yang juga diisi oleh tenaga kerja asal Tiongkok. Ketiganya mengaku bekerja dalam lingkungan yang heterogen memberikan kesan, pengalaman, dan pelajaran tersendiri. Dalam keseharian mereka melihat langsung bagaimana disiplin, efisiensi, dan orientasi hasil diterapkan secara konsisten di setiap lini pekerjaan.

“Yang paling terasa adalah kedisiplinan mereka. Mulai dari jam kerja, target harian, hingga standar mutu, semuanya dijalankan dengan konsisten. Mereka punya mindset bahwa setiap menit di pabrik bernilai,” ujar Ardi.

Hal senada disampaikan Stella, yang banyak berinteraksi dengan karyawan lintas negara melalui perannya di bidang komunikasi perusahaan. 

“Mereka fokus pada solusi, bukan alasan. Kalau ada kendala, mereka langsung mencari jalan keluar. Ritme kerja seperti itu membuat kami ikut terpacu untuk lebih produktif,” katanya.

Sementara Vinsensius mengaku pengalaman ini membuka matanya terhadap budaya kerja global. 

“Saya belajar bahwa kerja keras saja tidak cukup, harus disertai kecepatan dan akurasi. Mereka bisa bekerja panjang jam, tapi tetap efisien dan terukur. Itu yang saya coba tiru,” tutur lulusan Teknik Pertambangan, Universitas Cendrawasih, Papua ini.

Bagi mereka, bekerja di lingkungan multinasional bukan hanya tentang menjalankan tugas, tetapi juga kesempatan untuk benchmarking langsung bagaimana industri maju menanamkan budaya kerja unggul yang bisa diadaptasi di Indonesia. Kawasan industri Morowali menjadi saksi, bahwa investasi terbaik negeri ini adalah investasi pada manusia. Dan lewat program LPDP–CSU, kita bisa lihat dampaknya, bahwa ada teknologi yang masuk, kapasitas yang meningkat, dan yang paling penting, mimpi besar untuk Indonesia berdikari dalam pengolahan sumber daya alamnya. 

Saksikan perbincangan selengkapnya dalam episode terbaru podcast LESSON yang bisa Anda saksikan di kanal youtube LPDP RI. 


Relate Articles

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

Berita | 20-04-2026

LPDP Kumpulkan 814 Pewawancara untuk Coaching dan Perkuat Kualitas Seleksi

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Berita | 15-04-2026

200 Mahasiswa President University Antusias Ikuti Sosialisasi Beasiswa Akselerasi Magister LPDP

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul

Berita | 10-04-2026

Beasiswa Akselerasi Magister, Peluang Emas S1 Lanjut S2 dan Sejumlah Pertanyaan yang Muncul