Jakarta, 6 Agustus 2026 - Industri kreatif di era sekarang tidak bisa lagi dipandang sebagai pelengkap. Pandangan yang serius dan berkelanjutan harus dilakukan dalam rangka menjadikan industri kreatif sebagai motor besar penopang ekonomi nasional.
Ekonomi kreatif Indonesia memang sudah cukup besar untuk disebut sebagai salah satu mesin ekonomi, tetapi belum cukup bertaji apabila dibandingkan industri ekstraktif yang selama ini telah kita kenal lama.
Anak bangsa yang mempunyai keahlian unggul di bidang ekonomi kreatif tentunya tidak sedikit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri kreatif menyerap sekitar 26,48 juta tenaga kerja pada 2024, meningkat menjadi 27,4 juta pekerja pada 2025 atau sekitar 18,7% tenaga kerja nasional.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai pemberi beasiswa yang turut banyak di berbagai jurusan terkait industri kreatif berinisiatif untuk menggelar sesi Community of Practice (CoP) bertajuk "Creative Innovation: dari Pengetahuan Menjadi Karya Berdampak" secara daring pada Kamis (6/7) siang.
Acara CoP sendiri telah menjadi wadah berjejaring para alumni LPDP untuk merumuskan masa depan tanah air yang dalam edisi kali ini adalah terkait industri kreatif. Sesi dibuka secara resmi oleh Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso yang sekaligus meresmikan buku kumpulan tulisan koordinator CoP berjudul COP LPDP Menyalakan Cahaya Pengetahuan dengan Kolaborasi Inovasi dan Manfaat Nyata.
"Kekuatan kreatif ini sangat dahsyat dan hebatnya kreativitas Indonesia ini industrinya bisa dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, beda dengan contoh industri pertahanan atau manufaktur... Ini bisa dijalankan oleh seluruh rakyat Indonesia dari Merauke sampai Sabang, dari Rote sampai Miangas," ujar Dwi Larso
Diskusi CoP Creative Innovation ini dipandu oleh Afia Maulidina, alumni LPDP King’s College London (KCL) dengan menghadirkan tiga narasumber utama dari kalangan alumni LPDP yang telah membuktikan kiprahnya di industri kreatif.
Narasumber pertama adalah Aliurridha (Alumni LPDP PK 84, Magister Linguistik Terapan Universitas Negeri Yogyakarta), seorang dosen di Universitas Mataram sekaligus penulis yang menyoroti hilirisasi riset sastra menjadi karya berdampak. Selanjutnya, Dina Herlina Suwanto (Alumni LPDP PK 136, PhD in Film and Television Studies, University of Nottingham), akademisi sekaligus Co-founder Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), membedah seluk-beluk ekosistem perfilman dan pentingnya ruang komunitas (hustle space).
Pembicara ketiga dari luar LPDP adalah seorang novelis terkemuka sekaligus sutradara, Habiburrahman El Shirazy (Alumni LPDP PK 115, PhD in Arabic and Islamic Studies, Leipzig University). Ia membagikan pengalaman teknis serta proses kreatif komprehensif di balik lahirnya karya-karya fenomenal bertaraf box office dan mega-bestseller.
Tantangan Autentisitas Karya di Era AI
Diskusi kemudian mendalami proses ekosistem kreatif dari hulu ke hilir. Aliurridha selaku dosen linguistik Universitas Mataram menyoroti tantangan serius dalam menjaga orisinalitas karya di era kecerdasan buatan (AI). Menjawab pertanyaan pada sesi Q&A terkait batasan AI, ia memperingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi tersebut dapat melunturkan esensi subjektivitas manusia yang justru menjadi pondasi utama lahirnya karya yang orisinal.
"Kita tidak bisa mendapatkan ide-ide yang benar-benar cemerlang [langsung] dari AI karena ada momen-momen spontanitas yang justru melahirkan ide-ide cemerlang tadi. AI tidak punya pengalaman, tidak punya tubuh untuk merasakan... the most subjective is the most creative," tegas pria yang akrab disapa Rido ini.
Membahas ekosistem pendukungnya, Dina Herlina Suwanto, Co-founder Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), membedah prasyarat tumbuhnya industri kreatif melalui kacamata komunitas film Yogyakarta. Menurut riset dan pengalamannya, lahirnya inovasi sangat bergantung pada keberadaan ruang-ruang informal (hustle space) di mana para kreator bisa saling terhubung secara organik.
"Tanpa informalitas, inovasi sebenarnya tidak mungkin terjadi. Hampir tidak mungkin inovasi terjadi dalam ruang yang 100% formal karena formal itu mengandung aturan, sedangkan inovasi seringkali harus melabrak tata cara itu," papar Dina.
Melengkapi dari sisi hulu penciptaan, novelis dan sutradara Habiburrahman El Shirazy membagikan dapur kreatif di balik karya-karyanya yang sukses di pasaran, seperti yang terkenal adalah Ayat-Ayat Cinta. Merespons keingintahuan audiens mengenai cara meramu tulisan yang kuat dan bermakna, ia menekankan pentingnya riset mendalam, menghargai detail kecil, serta menguatkan nilai-nilai (ideologi) penulisnya.
"Penulis sendiri itu memang harus punya perenungan yang kuat, penghayatan yang kuat, juga pengalaman yang kuat. Karya-karya besar yang secara umum sifatnya langgeng itu memang yang memiliki ideologi yang kuat." ujar sosok yang akrab disapa Kang Abik.
Acara ini kembali menegaskan bahwa langkah LPDP tidak hanya berhenti pada menyekolahkan anak bangsa, tetapi terus konsisten bertindak sebagai katalisator inovasi yang menghubungkan para cendekiawan agar memberikan dampak riil bagi masyarakat luas.
Simak keseruan lengkap acara CoP di kanal YouTube resmi LPDP berikut



