Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Yolmita Deni, awardee LPDP PK-86 saat ditemui di Sumba Hospitality Foundation (SHF) tempat kerjanya pada Kamis (13/6) siang
Awardeestory

Jalan Sunyi Pengabdian Yolmita Deni, Mengajar untuk Generasi Penerus Sumba

Penulis
Dimas Wahyudi & Tony Firman
Sabtu,
24 Agustus 2024

Siang itu di teriknya Sumba, kami tiba dan meneduh di bawah bangunan beratap daun rumbia. Suasana komplek ini tampak asri, diterpa berkali-kali oleh angin semilir yang menenangkan. Sejauh mata memandang, bangunan berarsitektur tradisional Sumba sangat kental dan berpadu dengan sentuhan modernitas penuh keteraturan. Inilah komplek Sumba Hospitality Foundation (SHF), tempat di mana anak-anak Sumba menggantungkan harapan untuk bisa mengubah nasibnya. Di sini pula seorang perempuan, alumni beasiswa LPDP, mengabdikan diri bekerja di sini sebagai seorang pengajar.

Tak berselang lama saat kami mengabarkan telah sampai di SHF, perempuan itu datang. Sosoknya tampil sederhana, lengkap dengan seragam pengajar di SHF datang menyambut dengan ramah. Yolmita Deni namanya, wanita berdarah Minang kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah telah tiga tahun berkegiatan di sini.

Kedatangan kami bertepatan dengan jam persiapan ia mengajar. Kami melihat bagaimana Yolmita mengajar bahasa Inggris kepada belasan muridnya di sini. Cara bicaranya lugas, sorot mata penuh kasih sayang, ditambah punya dosis dan selera humor yang menyenangkan. Begitulah ia mendapat cinta dari banyak anak-anak Sumba yang dididik.

Latar pendidikan Mita, akrab ia disapa, cukup mentereng untuk ukuran lulusan sarjana pendidikan rata-rata. Ia tamat sarjana Pendidikan Matematika dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Master of Education di University of Adelaide Australia. Tak seperti jebolan luar negeri kebanyakan yang lumrah mencari pekerjaan prestise di pusat kota besar yang ramai, Mita justru menepi jauh dari sorot lampu keriuhan.

Di sudut Sumba Barat Daya yang sepi, Mita menuntaskan janji pengabdiannya dengan menjadi seorang guru bahasa Inggris. LPDP berkesempatan langsung mengunjungi tempat kerja Yolmita pada Juni lalu. Melihat bagaimana sosoknya menjadi pengajar untuk anak-anak prasejahtera Sumba yang ingin mengubah nasib.

Menemukan Arti Hidup di Sumba

Selepas lulus dari Adelaide University pada tahun 2020, Mita menjajal sejumlah profesi di bidang pendidikan. Ia sempat menjadi pengajar matematika daring bertepatan dengan Covid-19 mengamuk. Mita kemudian diketahui bekerja di perusahaan konsultasi pendidikan di Yogyakarta.

Saat menjadi konsultan pendidikan ternyata menyisakan pertanyaan di hatinya. Mita dibayang-bayangi oleh rencana kontribusi yang pernah ditulis saat mendaftar beasiswa LPDP. Rasa ingin mewujudkannya terus membuncah.

“Sebenarnya saya sudah mulai bertanya pada diri sendiri apakah betul-betul ini yang ingin saya jalani, apakah betul-betul ini kontribusi terbaik yang bisa saya berikan sesuai dengan apa yang saya janjikan di awal” ungkapnya mengisahkan pencarian jati dirinya kala itu.

Pada Desember 2021, ia diberi tahu rekannya terkait kesempatan bergabung menjadi pengajar di SHF. Jiwa petualang bercampur dorongan mengaplikasikan ilmu membuncah. Tak butuh waktu lama untuk Mita menyanggupi, mengikuti proses pendaftaran, dan akhirnya diterima.

“Ketika saya mendaftar beasiswa LPDP, salah satu kontribusi terbesar apa yang bisa saya berikan ke Indonesia. Dan di situ saya menulis, salah satunya adalah ingin berkarya di salah satu yayasan non-profit. Alhamdulillah, ternyata apa yang saya rencanakan, apa yang saya tulis itu kemudian tercapai seperti itu”, terang alumni PK-86 ini.

Bukan perkara sulit untuk mengambil keputusan pergi ke Sumba sebab keluarga begitu mempercayai pilihan Mita. Lahir sebagai anak pertama dari seorang single mother, Yolmita bisa dibilang tumbuh dalam lingkungan yang memaksanya dapat berpikir dewasa bahkan sebelum waktunya.

Ibu dan adiknya harus merantau ke Kalimantan untuk menyambung hidup, meninggalkan Mita dan neneknya sekian lama. Hanya selama SMA, Mita kembali tinggal bersama ibu dan adiknya.

“Dari situlah mungkin ibu melihat saya bisa tumbuh, bisa berkembang ketika saya keluar dari zona nyaman saya. Jadi saya bisa katakan didikan dari orang tua adalah menjadi seorang yang mandiri dan dewasa. Sehingga apapun keputusan yang dibuat tentu akan bisa dipertanggungjawabkan”.

Mita terbang ke Sumba. Di sudut kecil Sumba Barat Daya, ia memulai petualangan barunya sebagai pengajar bahasa Inggris, meninggalkan segala gemerlap Jawa dan kehangatan keluarga. Di Sumba, ia merasa lebih mindful, lebih tenang, meski punya jam kerja mengajar yang relatif sama layaknya jam kerja pada umumnya, yaitu dari jam sembilan pagi sampai jam setengah lima sore, dari Senin sampai Sabtu. Ia masih bisa merasakan work-life balance.

“Mau kemana-mana untuk melihat view yang cantik itu cukup dekat, sekitar tiga kilometer kita sudah bisa melihat pantai, sekitar tiga kilometer ke utara sudah bisa melihat bukit seperti itu. Kemudian keramah tamahan orang lokal juga dan mereka juga bisa, saat ini mereka sudah cukup teredukasi kalau menurut saya, dengan melihat oh iya orang ini (berjilbab) dari ini (luar daerah Sumba) berarti mereka punya preferensi ini sendiri terutama saat pesta (makanan atau minuman halal seperti itu”, semangat Yolmita menceritakan sukacita hidup di Sumba.

Bukan hanya suka, hidup Sumba ada dukanya. Sesederhana tak banyak pilihan untuk nongkrong misalnya, atau untuk membeli barang kebutuhan sebab Sumba tak punya banyak supermarket besar, termasuk juga untuk pilihan makanan, namun itulah risiko jalan pengabdian yang diambilnya. Menjadi seorang minoritas di lingkungan baru juga membuatnya lebih banyak belajar dan menghargai perbedaan, banyak hal tentang prinsip, nilai, dan keyakinan masyarakat Sumba yang turut ia pelajari bahkan dari anak didiknya.

Menjadi minoritas di lingkungan yang serba terbatas juga memberi ruang Yolmita untuk mengenal diri lebih dalam dan lebih bisa menghargai apa yang sudah dicapainya, tanpa harus pusing peduli dengan prestasi atau pencapaian dan kondisi finansial teman-temannya yang lain.

Kabar baik dari keberhasilan anak didiknya menambah motivasi dan ketetapan hatinya untuk makin berbuat lebih.

“Kemarin waktu mudik saya sempat mampir di Bali dan ketemu dengan beberapa alumni, ternyata mereka juga merasakan impact yang begitu bagus yang diberikan oleh yayasan ini. Dia bilang setelah setengah tahun magang, kemudian lanjut bekerja di Bali, mereka bisa menyimpan uang kemudian bisa membeli apa yang tidak mereka bisa beli, contohnya bisa beli motor untuk bekerja. Kemudian ada juga justru kemarin yang bisa akhirnya bantu menyekolahkan adeknya ke universitas. Dan bagi saya itu merupakan salah satu kebanggaan, karena tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan hal tersebut seperti itu”, kenangnya haru.

Pergi Ke Amerika, Meneruskan Perjalanan Belajar dan Mengajar

Sumba bukan tempat akhir Mita. Pribadi pembelajar dan petualang ini ingin terus meningkatkan kapasitas diri di bidang pengajaran. Di sela-sela kesibukannya di SHF, ia menyusun target melanjutkan studi lagi. Beasiswa fellowship ke University of Pennsylvania (UPenn) dari Fulbright akhirnya berhasil ia genggam sampai Mei 2025 mendatang. Keberhasilannya itu juga berkat lingkungan yang suportif dan bertemu banyak jejaring pertemanan dalam dan luar negeri selama di SHF.

Di UPenn ia akan kembali belajar Teaching Methodologies dan sekaligus bertukar ilmu mengajar Indonesian Culture. Tentu Mita akan pulang dan mengabdi mengaplikasikan ilmu yang didapat.

“Setelahnya tentu saya juga ingin tetap melanjutkan karir saya entah itu nanti sebagai pengajar, entah itu sebagai trainer, ataupun sebagai salah satu pengembang kurikulum, harapan saya sih seperti itu. Saya bisa terlibat menjadi pengembang kurikulum dan juga pengembang program untuk memberdayakan teman-teman di wilayah yang tentunya belum banyak terjamah oleh teman-teman yang lain”, terangnya menatap masa depan setelah dari Paman Sam.

Pendidikan adalah kebutuhan dan hak dasar manusia. Bahkan posisinya semestinya bersanding sejajar dengan sandang – pangan – papan dalam satu tarikan ucap. Mita setuju, pendidikan memang tak menjamin orang menjadi cepat kaya, tapi melalui pendidikan, orang dapat memiliki kesempatan untuk mengolah perspektif, membuka peluang yang lebih besar, dan melihat berbagai banyak pilihan di depan, semua dilakukan guna meningkatkan taraf hidup yang lebih baik.

Titip Harap untuk Anak Muda Sumba

Secara kemampuan intelektual, anak-anak muda Sumba tentu tak bisa dibandingkan dengan anak-anak di pulau besar lain yang punya sumber daya akses lebih baik. Namun, di mata Mita yang telah mengajar dan hidup bersama anak-anak Sumba, dapat melihat kecerdasan emosional mereka lebih dari anak-anak seusianya di tempat lain.

Ia berharap pemerintah dapat benar-benar meningkatkan perhatiannya pada Indonesia Timur. Bukan hanya perkara infrastruktur fisik yang perlu digarap, tetapi juga fasilitas pendidikan.

“Coba lihat seberapa mumpuni, seberapa layak fasilitas pendidikan yang ada di wilayah timur Indonesia, terutama di sekolah-sekolah milik pemerintah. Saya rasa itu sih harapan saya kepada Indonesia ke depannya”, ungkapnya.

Mita juga menilai adanya potensi gentrifikasi yang ibarat bom waktu dapat mengikis bahkan mengasingkan masyarakat Sumba dari tanah airnya sendiri. Keindahan alam Sumba tak bisa dipungkiri mendatangkan banyak investor. Akibatnya, banyak masyarakat yang tergiur menjual lahan kepada investor asing untuk keuntungan instan. Ini tentu terjadi karena minimnya kualitas SDM dan pengetahuan masyarakat yang tak punya opsi lain untuk meningkatkan taraf hidup.

Kepada anak-anak muda Sumba yang dididiknya, ia berharap agar kekayaan permata Sumba tetap milik masyarakat Sumba. Keindahan Sumba dapat dinikmati oleh banyak warga dunia sekaligus memberi nilai tambah untuk kesejahteraan masyarakat, bukan duduk diam dan termangu sebagai penonton pembangunan. Pendidikanlah yang menjadi jawaban dari kondisi kemiskinan ekstrem Sumba yang masih dialami hingga saat ini.

“Sumba ini begitu luar biasa. Jaga juga lingkungannya dan tetap terus lestarikan budaya kalian. Marapu tidak ada di tempat lain selain di Sumba. Jadi tetap bangga dan tetap ceritakan hal-hal baik tentang Sumba ke teman-teman mancanegara dan teman-teman Indonesia” tutup Mita.

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri