Registration for LPDP Scholarship Batch 2 of 2026 is Now Open!
1 Days
:
11 Hours
:
57 Minutes
Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Aldian dan Novi
Awardeestory

Kiat Sukses Aldian dan Novi, Duo Alumni LPDP Membesarkan Nature Based Skincare Jinawi

Penulis
Tony Firman
Kamis,
30 Juli 2026

Matahari terasa tepat di atas kepala saat kami tiba di sebuah komplek daerah Sawojajar, Kota Malang pada pertengahan Mei lalu. Seorang pria jangkung menyambut dengan ramah dan mempersilahkan kami semua untuk masuk. 

Dari luar tempat ini seperti rumah cluster pada umumnya. Tak ada kesan pabrik kosmetik berskala besar. Tetapi inilah pusat produksi Jinawi, sebuah merk nature based-skincare produk anak negeri yang khusus dibuat untuk memahami karakteristik permasalahan kulit warga Indonesia di iklim tropis dan debu polusi ini.

Jinawi telah berdiri sejak 2019. Produk yang dibuat meliputi sabun cair, sampo bar, dan juga skrap wajah. Bila menengok produknya di e-commerce, penjualannya telah cukup deras diserap publik dengan belasan ribu telah terbeli. Angka totalnya sangat mungkin lebih tinggi dan berlipat. Produk Jinawi tersedia juga secara offline berkonsep refill station yang ada di BVGIL Gelato Malang.

Yang menyambut kami itu adalah Aldian Giovanno, alumni Wageningen University & Research (WUR) Belanda dengan ijazah Master's in Biotechnology di genggamannya. Mempelajari molekul memang telah menjadi kegemarannya. Terlihat dari kecemerlangan menyelesaikan Sarjana Kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sempat punya keinginan menjadi dosen dan peneliti.

Saat kami menengok keseluruhan proses produksi di tiap sudut ruangannya, semuanya dilakukan secara profesional sesuai standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ada lima karyawan yang semuanya perempuan di rumah produksi Jinawi.

Keputusan Aldian melanjutkan studi di Belanda sekaligus membawa misi pulang mendirikan bisnis di bidang pengolahan limbah khususnya daur ulang plastik dan popok bayi. Menurutnya ini langkah strategis dalam upaya keberlanjutan lingkungan. Namun ternyata modal besar menjadi ganjalan utama. 

Di saat memikirkan alternatif usaha itulah muncul sesuatu yang datangnya tidak terduga dan dekat sekali. 

Cerita ini berlanjut. Ruang tamu rumah produksi Jinawi menjadi titik temu Aldian dan istrinya, Novi Luthfiana Putri, bercerita banyak tentang perjalanan wirausahanya.

Di Persimpangan Dunia Akademik dan Wirausaha

Aldian Giovanno adalah anak muda yang lahir dan besar di Kota Malang pada 1992 silam. Keluarganya datang dari latar belakang beragam sehingga tidak mengenal cara pandang tunggal. Dua dunia berjalan berdampingan. Ayahnya seorang pengusaha yang terbiasa mengambil risiko dan melihat peluang, sementara ibunya merupakan seorang dosen yang menanamkan pentingnya pendidikan sebagai bekal hidup. 

Kakaknya pun memilih jalan sebagai wirausahawan yang salah satunya sukses melebarkan produk BVGIL Gelato. Perjumpaan antara dunia akademik dan dunia usaha itu secara perlahan membentuk cara berpikir Aldian sejak kecil. Dan tidak heran pula apabila dirinya punya keinginan kuat untuk berwirausaha seperti yang diangankan saat pulang ke Indonesia pasca S2.

Latar sosiokultural Aldian adalah mozaik identitas. Ia adalah kombinasi Tionghoa, Madura, dan Jawa serta anggota keluarga yang heterogen memeluk keyakinan berbeda-beda. Diskusi, perdebatan, bahkan ketidaksepakatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Lingkungan itu mengajarkannya untuk mendengarkan, menghargai perspektif yang berbeda, sekaligus terbuka terhadap gagasan baru.

Sejak menempuh pendidikan sarjana Kimia di UGM, Aldian memang menunjukkan ketertarikan pada persoalan lingkungan. Kegemarannya beraktivitas di alam membuatnya melihat bahwa ilmu kimia tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat digunakan untuk menjawab tantangan nyata terkait pengelolaan lingkungan maupun energi terbarukan. 

Kemauan sekaligus keingintahuannya yang tinggi terkait bidang lingkungan itulah yang menjadi dorongan Aldian untuk melanjutkan studi jenjang S2. Ia hampir tidak mengambil jeda bekerja, seluruh waktunya dicurahkan untuk mempersiapkan diri agar dapat diterima. 

Karena itulah, selepas menyelesaikan studi sarjana, ia hampir tidak mengambil jeda untuk bekerja. Seluruh waktunya dicurahkan untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke luar negeri, mulai dari mempelajari bahasa Inggris, mengikuti tes IELTS, hingga menyusun berbagai persyaratan beasiswa.

Rentetan inilah yang kemudian membawanya mantap mendaftar beasiswa LPDP (angkatan PK-53) dan terbang ke Belanda guna mengambil studi Environmental Science di Wageningen University and Research (WUR).

Di Wageningen, Aldian menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama belajar kimia. Bukan sekadar ilmu lingkungan, melainkan cara berpikir. Mahasiswa teknik berdiskusi dengan ilmuwan sosial. Peneliti lingkungan bertukar pandangan dengan ahli hukum, kebijakan publik, hingga ekonomi. Persoalan lingkungan ternyata tidak pernah selesai hanya dengan rumus laboratorium.

"Dulu saya berharap belajar teknologi. Ternyata justru saya belajar melihat persoalan dari banyak sudut pandang yang berbeda," ujarnya. 

Membangun Bisnis Sekaligus Membangun Keluarga

Momentum yang paling mengubah hidup datang ketika ia sedang menyelesaikan tesis.

Perdebatan panjang dengan dosen pembimbing di WUR membuatnya melakukan refleksi mendalam.

"Di momen itu menjadi titik balik saya bahwa mungkin potensi terbaik saya bukan di bidang akademis."

Alih-alih mengejar karier sebagai peneliti, Aldian mulai berpikir bagaimana ilmu yang dimilikinya dapat memberikan manfaat yang lebih luas melalui jalur lain. Ia pulang ke Indonesia dengan keinginan membangun usaha yang menyelesaikan persoalan lingkungan.

Tetapi Aldian pusing memikirkan bagaimana harus membuka usaha di bidang lingkungan pasca lulus S2 karena ternyata membutuhkan ongkos tidak sedikit. Takdir kemudian mempertemukannya dengan masalah yang jauh lebih dekat, terjadi di dalam keluarganya 

Keponakannya mengalami eksim parah. Berbagai produk termasuk sabun yang tersedia di pasaran tetapi masih nihil hasil. Sebagai seorang kimiawan, Aldian memilih kembali pada dasar keilmuannya. Ia mempelajari kembali formulasi produk perawatan kulit, memahami bahan, menyusun formulasi, lalu bereksperimen.

Istrinya, Novi, juga punya level pendidikan yang mumpuni yaitu Nutrition and Health di kampus yang sama di Belanda. Sejoli asal Malang sesama penerima Beasiswa LPDP yang cintanya bersemi di Wageningen ini berkolaborasi bereksperimen merancang sabun berbahan alami dengan komposisi sesederhana mungkin untuk kulit sensitif.

Mereka memulai eksperimen dari sebuah kamar kecil yang difungsikan sebagai ruang produksi, melakukan berbagai uji coba formulasi hingga akhirnya menemukan produk yang berhasil membantu meredakan eksim sang keponakan.

Keberhasilan kecil itu mengubah semuanya. Apa yang semula hanya ikhtiar keluarga, perlahan berubah menjadi peluang usaha.

"Alhamdulillah saat kami coba ke ponakan tersebut, perlahan eksimnya mulai mereda dan dari situ kami melihat sebuah peluang usaha, dan kami terus mempromosikan produk tersebut melalui komunitas internal kami dan lahirlah Jinawi sebagai brand." ujarnya.

Dari sanalah Jinawi lahir. Nama Jinawi yang diambil dari ungkapan Jawa yaitu Gemah Ripah Loh Jinawi yang bermakna tanah yang subur dan membawa kemakmuran. Filosofi tersebut menjadi fondasi perusahaan, tentang menghadirkan manfaat yang berkelanjutan, baik bagi konsumen, lingkungan, maupun orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Selama menempuh pendidikan di Belanda itu Novi juga banyak mengamati pesatnya perkembangan bisnis yang mengusung nilai sustainability. Nilai inilah yang kemudian mereka adopsi.

"Gizi itu tidak hanya untuk dimakan, tapi juga apa yang kita pakai di sehari-hari, seperti di kulit," jelas perempuan lulusan S1 Ilmu Gizi Masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB)

Perpaduan pemahaman antara kimia lingkungan dan nutrisi ini melahirkan diferensiasi yang kuat bagi racikan Jinawi di tengah ketatnya kompetisi natural body care. Produknya menggunakan bahan berkualitas namun dengan harga yang lebih terjangkau. Sabun zaitun (Castile Soap) dan sabun susu kambing (Sefre) menjadi produk pertama sekaligus produk yang hingga kini menjadi andalan perusahaan.

Bahan-bahan yang dipakai Jinawi adalah seperti minyak zaitun, minyak kelapa, minyak kastor, susu kambing, juga minyak biji kelor hasil kerja sama dengan petani lokal di Banyuwangi. Proses ekstraksi minyak dilakukan menggunakan metode cold press agar kandungan nutrisinya tetap terjaga.

Bisnis Bukan Semata Mengeruk Profit

Jinawi memilih berkembang secara bertahap namun berkelanjutan. Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan lima karyawan tetap dengan omzet sekitar Rp90–100 juta per bulan. Produknya dipasarkan secara nasional melalui marketplace, situs resmi, jaringan reseller, hingga telah mulai diekspor ke Singapura.

Ia menerapkan prinsip sederhana dalam menjalankan usaha, memegang People, Planet, Profit. Artinya, kesejahteraan manusia menjadi prioritas pertama, kemudian menjaga lingkungan, baru setelah itu berbicara mengenai keuntungan usaha.

Prinsip tersebut diterjemahkan dalam berbagai praktik nyata. Jinawi sengaja meminimalkan penggunaan mesin agar dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja.

"Jadi dalam berwirausaha, Jinawi ini punya semangat padat karya, jadi memang kita

meminimalisir penggunaan mesin," tegas Aldian.

Mereka mengembangkan refill station, tempat pelanggan dapat mengisi ulang sabun menggunakan botol lama sehingga mampu mengurangi sampah plastik sekali pakai. Pelanggan dapat berbelanja secara curah dengan membawa botol kemasan sendiri. Keunggulan inovasi ini tentunya menghadirkan harga yang jauh lebih murah dan secara langsung memangkas volume sampah plastik sekali pakai.

Bahkan pada kemasan aluminium yang digunakan pada beberapa produk juga dirancang agar dapat dipakai kembali.

"Kami ingin keberlanjutan bukan hanya menjadi slogan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat."

Proses produksi Jinawi turut memberdayakan komunitas petani dan UMKM lokal. Untuk mendapatkan minyak biji kelor yang menjadi bahan baku andalan shampoo bar (sampo padat), mereka menggandeng petani di Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebagai wirausaha, jatuh bangun adalah makanan sehari-hari. Aldian dan Novi kerap berhadapan dengan ketidakpastian dan kerugian finansial yang tak diajarkan di bangku kuliah. Namun, dengan menjaga core value empati, komunikasi, kekuatan spiritual, dan terus memelihara 'rasa lapar' untuk belajar, mereka mampu menjadikan setiap sandungan sebagai pijakan untuk bertumbuh.

Di masa awal Jinawi memproduksi hingga 30 SKU (stock keeping unit) produk, mulai dari sabun batang, lulur, hingga detergen. Namun benturan realita mahalnya biaya pengurusan legalitas dan izin edar memaksa mereka merampingkan lini produknya dengan berfokus ulang pada yang paling banyak digunakan konsumen yaitu sabun zaitun (Castile) dan sabun susu kambing (Chevre).

Ke depan, Aldian dan Novi ingin memperluas jaringan refill station agar semakin banyak masyarakat dapat berbelanja produk tanpa menghasilkan limbah kemasan baru.

Mereka juga ingin memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi Jinawi sebagai brand lokal yang konsisten membawa nilai keberlanjutan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia dan LPDP yang telah membuka akses pendidikan bagi kami. Harapan kami, kebermanfaatan yang kami bawa tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus mengalir kepada generasi-generasi berikutnya." ujarnya.

Relate Articles

Cerita Malika Rizky Aninditha, dari Teknik Sipil ke Wirausaha Mengembangkan Brand Yourkalle

Awardeestory | 25-06-2026

Cerita Malika Rizky Aninditha, dari Teknik Sipil ke Wirausaha Mengembangkan Brand Yourkalle

Dari Kedai Kopi Kecil Menjadi Lifestyle Brand, Ada Raras Cynanthia di Balik Strategi Kopikina

Awardeestory | 31-05-2026

Dari Kedai Kopi Kecil Menjadi Lifestyle Brand, Ada Raras Cynanthia di Balik Strategi Kopikina

Setiap Geraknya Adalah Karya, Perjalanan Arif Prasetyo Melampaui Batas, Menghidupkan Harapan

Awardeestory | 06-04-2026

Setiap Geraknya Adalah Karya, Perjalanan Arif Prasetyo Melampaui Batas, Menghidupkan Harapan