Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Atus, dan Ayas, dua peserta PK-248 yang mengambil studi Magister di bidang Sosial Humaniora
Awardeestory

LPDP untuk STEM Saja? Dua Penerima Beasiswa LPDP yang Mengambil Soshum

Penulis
Tony Firman
Minggu,
16 Februari 2025

Sains dan Teknologi (Saintek) versus Sosial humaniora (Soshum), mana yang lebih bagus? Perdebatan ini tak semestinya dicari pemenangnya. Sejatinya setiap individu punya minat bakat masing-masing. Ada yang jago menggeluti rumpun Saintek, ada yang ahli di bidang Soshum, tapi juga tak sedikit yang fasih di keduanya.

Beasiswa LPDP membuka kesempatan seluas-luasnya bagi rumpun studi keduanya. Semua punya kesetaraan dalam peluang guna tumbuh untuk masa depan bersama yang lebih baik. Seperti yang dilakoni oleh Annisa Larasati dengan latar Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia. Ayas, akrab disapa, memilih melanjutkan studi Master of Global Media Communication di University of Melbourne.

Keputusan tersebut berangkat dari latar belakang profesi Ayas sebagai news anchor di stasiun Televisi Nasional Republik Indonesia (TVRI). Selain menjadi news anchor, Ayas juga seorang jurnalis yang turut turun tangan menggali data, meriset dan melakukan verifikasi. Ini adalah profesi yang memang ia impikan sedari lulus dari bangku kuliah. Bahkan setahun karier di Jepang saat freshgraduate dengan pendapatan yang bagus tak membuatnya merasa betah lantaran merasa bukan passion-nya.

Lima tahun berkarier dengan rutinitas yang sama, bertemu dengan banyak orang dan isu-isu pengetahuan yang kian bertambah membuat Ayas terpacu untuk mengembangkan diri. Tahun ini Ayas akan memulai babak baru dalam perjalanan akademiknya di Australia.

“Saya memilih Master of Global Media Communication di University of Melbourne karena menawarkan kelas yang gak cuma teori, tapi imbang dengan praktiknya. Ada kelas workshop yang akan ada audio visual production di sana. Skillset yang benar-benar aku butuhin pada saat pulang nanti” ujar Ayas saat ditemui di sela-sela kegiatan Persiapan Keberangkatan angkatan 248 (PK-248) penerima beasiswa LPDP di Jakarta.

Ini adalah percobaan kedua Ayas dalam mendapatkan Beasiswa LPDP. Kali pertama gagal pada tahap Seleksi Substansi atau tahap wawancara. Menurutnya kala itu mungkin ia kurang bisa memberi penjelasan yang kuat terkait pilihan kampus dan rencana studi yang diambil. Kegagalan itulah yang membuat Ayas semakin matang dan mencoba lagi hingga berhasil lolos seleksi beasiswa.

Jurnalis, pembawa berita, redaktur, dan seluruh insan media berhak meningkatkan kapasitas dan kualitas diri untuk membawa kemajuan bersama. Terlebih dengan dunia media berkembang cepat beriringan dengan kemajuan teknologi sehingga menghadirkan tantangannya sendiri baik dalam proses pengumpulan hingga penyajian berita kepada para audiens.

“To my fellow journalist, kita punya peran penting sebagai salah satu pilar dari demokrasi. Kita perlu menjaga bagaimana pemerintahan berjalan, bagaimana isu-isu strategis saat ini dijalankan. Dan juga saat ini dunia media itu kan selalu berkembang, selalu evolving, tidak selalu media itu ada satu saja.” ujarnya.

Meningkatkan Kapasitas Penelitian dengan Cultural Studies

Cerita lainnya datang dari Arifatus Sholihah. Atus, akrab disapa, berkarier sebagai peneliti di peneliti di Center for Digital Society (CfDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Ia memilih menempuh studi lanjut Master of Cultural Studies di University of Sydney, Australia.

Dalam menentukan kampus, Atus melihat ada kecocokan antara kurikulum yang ditawarkan dengan kebutuhannya terutama pada bagian pendekatan budaya secara umum dan melakukan analisis sosial kemudian. Ditambah ada sosok profesor yang ia minati untuk bisa membimbing tesisnya kelak.

Sama seperti cerita Ayas, ini adalah kali kedua Atus mendaftar Beasiswa LPDP dan akhirnya lolos. Ia gagal di percobaan pertama saat fresh graduate, menurutnya mungkin inilah saatnya dirinya membangun karier terlebih dahulu. Karier perdananya sebagai asisten peneliti dosen dan berselang setahun setengah menjadi peneliti di CfDS.

Bergelut di lingkungan akademik dan melihat berbagai peran dosen di dalamnya membuat Atus ingin mengikuti jejak yang sama. Maka semakin kuat pula alasan Atus harus melanjutkan studi bila ingin menjadi dosen sepulang dari Sydney kelak.

“Karena latar belakangnya adalah studi sosial secara umum dan pengalaman kerja di bidang digital, aku ingin lebih mendalami isu sosial budaya khususnya digital culture seperti isu-isu perilaku manusia di media sosial dengan pendekatan psikologi budaya.” tutur Atus yang juga peserta PK-248.

Atus juga cukup produktif menghasilkan tulisan populer berbasis kajian riset di isu-isu pop culture seperti fandom K-Pop, mindfulness di media sosial, hingga perilaku impulsif buying. Sejumlah tulisannya terbit di platform The Conversation yang berfokus menerbitkan tulisan hasil riset dosen dan para periset dan juga artikel jurnal di Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJOP).

“Secara garis besar pengen menjadi seorang peneliti yang hasil penelitiannya bukan dikonsumsi untuk akademisi dan diri sendiri tetapi banyak bisa digunakan oleh masyarakat.” pungkas perempuan asal Ponorogo itu.

Pembangunan Indonesia membutuhkan berbagai perspektif dan keahlian. Ilmu sosial dan humaniora berperan penting dalam memahami masyarakat, membentuk kebijakan yang inklusif, serta memperkuat identitas dan kebudayaan bangsa. Dengan dukungan #UangKita yang dikelola LPDP, para penerima beasiswa dari berbagai bidang dapat bersinergi untuk menciptakan perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan bagi Indonesia.

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri