Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Prof. Wellyzar Sjamsuridzal (tengah) saat melakukan talkshow diskusi bertajuk “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Gedung ANTARA Heritage, Jakarta Pusat pada Rabu (2/9) siang. Foto oleh Tony Firman
News

Membangkitkan Kembali Keanekaragaman Tempe Nusantara, LPDP Danai Riset oleh Periset FMIPA UI

Penulis
Tony Firman
Rabu,
2 September 2026

Jakarta 2 September 2026 -  Hampir seluruh lidah penduduk Indonesia telah sangat akrab dengan tempe di piring makanan sehari-hari. Bisa dibilang tempe adalah salah satu mahakarya kuliner nusantara paling menonjol sampai kini. Olahannya pun terus berkembang mengikuti inovasi seperti keripik, mendoan, orek, dan lainnya.

Tetapi mungkin belum banyak yang tahu atau luput bahwa ada mikroorganisme yang berperan integral dalam mengubah kedelai menjadi pangan tempe, lengkap dengan tekstur, aroma, dan cita rasa yang akrab di meja makan Indonesia. Dia adalah ragi yang berisi spora kapang Rhizopus, mikroorganisme pemain kunci dalam proses fermentasi tempe. 

Selain itu masyarakat di berbagai daerah sebenarnya mengembangkan tempe dengan bahan baku, teknik fermentasi, pembungkus, serta starter atau ragi yang beragam. Tempe benguk, tempe gembus, tempe lamtoro, tempe bongkrek hingga berbagai olahan berbasis tempe menunjukkan bahwa tradisi tempe sesungguhnya memiliki spektrum yang jauh lebih luas dibandingkan gambaran tempe kedelai putih yang umum dijumpai saat ini.

Di sinilah titik masuk riset keragaman ragi nusantara yang dibawa oleh Prof. Wellyzar Sjamsuridzal dan timnya dari Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI). Mereka melakukan eksplorasi mikroorganisme ragi pembuat tempe lewat tiga spesies sekaligus yaitu RhizopusR. delemar, R. arrhizus, dan R. microsporus. Campuran tersebut dirancang untuk menghasilkan proses metabolisme berurutan yang diharapkan membentuk cita rasa dan keanekaragaman tempe muncul kembali.

Memasuki bulan keempat penelitian berjalan, dilakukan diseminasi publik oleh peneliti UI dengan FKS Group sebagai mitra industri melalui kegiatan bertajuk “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Gedung ANTARA Heritage, Jakarta Pusat pada Rabu (2/9) siang.

Dalam diskusi tersebut Wellyzar Sjamsuridzal menjelaskan bahwa saat ini cita rasa tempe yang tersebar pembuatannya di berbagai daerah cenderung memiliki keseragaman. Padahal jauh ke belakang masih ditemukan citarasa khas tempe berdasarkan asal pembuatannya. Hal ini karena jenis rhizopus ragi tempe yang digunakan masih beragam.

“Kami melihat bahwa ternyata sejak tahun 2015 itu keragaman jenis rhizopus tempe terjadi penurunan, artinya ada lost diversity. Jadi hampir semua ragi tempe di Pulau Jawa hanya terdiri dari satu jenis rhizopus. Padahal dulu ada empat spesies rhizopus yang terlibat dalam fermentasi tempe tradisional.” ujarnya.

Lebih lanjut Wellyzar menjelaskan bahwa ragi itu sangat menentukan kualitas dari keanekaragaman tempe nusantara. Di sinilah penelitian itu berangkat dengan bekal UI yang memiliki koleksi mikroorganisme terdiri dari beberapa fungi dan bakteri pembentuk ragi pada proses fermentasi tempe.

Penelitian yang dilakukan Wellyzar ini adalah bagian dari Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains (Kemendiktisaintek) dengan sumber pendanaan penuh dari LPDP senilai lebih dari Rp654 juta. Adapun mitra riset yaitu FKS Multi Agro turut memberikan komitmen pendanaan sebesar Rp 200 juta untuk turut andil melakukan scale up produk menjadi komersil.

Dhani Setyawan Kepala Divisi Penyaluran Riset LPDP yang hadir memberikan tanggapan mengatakan bahwa LPDP sebagai penyandang dana terbesar dalam riset ragi tempe ini mendukung penuh langkah yang sedang ditempuh oleh para peneliti UI bersama mitra ini. Harapannya tentu hasil riset akan memiliki nilai guna yang mampu mendongkrak perekonomian banyak khalayak.

“Kami ingin dorong membuat skema bagaimana industri bisa chip in. Kalo kita bisa bangun skema pendanaan riset ke kebutuhan industri, maka LPDP bisa top up di situ dan kami sangat mengapresiasi FKS Food yang akan menjadikan riset ini dapat dinikmati oleh khalayak luas” ujar Dhani.

Keberadaan FKS Multi Agro sebagai mitra riset adalah langkah strategis mengingat perusahaan ini punya reputasi besar di bidang pangan. PT FKS Multi Agro Tbk bergerak dalam perdagangan, distribusi dan logistik bahan pangan serta pakan, dengan jaringan distribusi yang menjangkau lebih dari 200 kota di Indonesia. Salah satu komoditas utamanya adalah kedelai, bahan baku penting dalam produksi tempe.

Produk makanan yang lazim dijumpai seperti Taro, Mie Kremezz, Gulas, Mie Ayam 2 Telor, Superior, Bihunku, dan banyak lagi adalah merek consumer food yang mereka kelola. Tentunya ini memberikan keuntungan bagi periset karena inovasinya bakal ditangkap dan dilakukan scale up ke tingkat produksi massal.

Yanuar Samron selaku VP Commercial FKS Group menilai pangan memiliki posisi fundamental dalam membangun ketahanan dan kedaulatan bangsa. Menurutnya, kecukupan pangan dan gizi bukan hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga menjadi salah satu pondasi kekuatan bangsa. Dalam konteks tersebut, tempe memiliki posisi strategis karena telah menjadi bagian yang sangat melekat dalam kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia.

“Tempe adalah salah satu ikon budaya yang sangat melekat di masyarakat. Jadi, kita bangun keroyokan untuk menjadi pilar bangsa.” ujar Yanuar.

Sementara itu Wakil Menteri Diktisaintek Fauzan menyoroti bagaimana pentingnya Program Bestari Saintek untuk menjembatani inovasi perguruan tinggi menuju penyerapan temuan di skala industri agar lebih berdampak. 

Fauzan dalam sambutannya mengatakan selama ini terdapat ambiguitas ketika melihat perjalanan kampus dari dahulu sampai sekarang yang terlalu berkutat di dunia akademik dengan meninggalkan jarak pada pendekatan aplikatif tepat guna. Hal ini tidak salah karena regulasi iklim akademik memang mendukung ke arah tersebut. 

“Riset sudah ada, bahan sudah ada, inovasi produknya nanti bisa kita buat. Kita tinggal cari off taker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor.” ujar Fauz

Di sinilah Diktisaintek melalui Bestari Saintek ingin menghubungkan para periset perguruan tinggi dengan industri agar hasilnya memiliki dampak yang luas ke khalayak. Peran LPDP menjadi penting karena menjamin pendanaan yang dibutuhkan selama proses riset berlangsung.

“Ini adalah salah satu tekad yang diusung Kemendiktisaintek dalam rangka mewujudkan misi besar bagaimana Diktisaintek berdampak.” tutup mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang periode 2016 - 2024 ini.

Program Bestari Saintek 2026 resmi diluncurkan pada akhir April kemarin. Sebanyak 122 tim riset dinyatakan lolos dan mendapatkan pendanaan dengan salah satunya adalah riset terkait ragi tempe dari UI ini. Judul proposal risetnya adalah “Inovasi Ragi Tempe Adaptif Sebagai Solusi Teknologi Tepat Guna bagi Perajin Tempe dalam Menghadapi Anomali Cuaca dan Meningkatkan Cita Rasa Tempe Indonesia”

Penelitian yang dilakukan Wellyzar ini adalah bagian dari Program Bestari Saintek yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains (Kemendiktisaintek) sejak 2025. Tahun ini Bestari Saintek 2026 resmi diluncurkan pada April kemarin dengan tetap mendapat dukungan pendanaan penuh dari LPDP.

Total terdapat 122 tim riset yang dinyatakan lolos dan mendapat pendanaan LPDP, salah satunya adalah riset ragi tempe ini dengan judul proposal “Inovasi Ragi Tempe Adaptif Sebagai Solusi Teknologi Tepat Guna bagi Perajin Tempe dalam Menghadapi Anomali Cuaca dan Meningkatkan Cita Rasa Tempe Indonesia”.

LPDP mendanai senilai lebih dari Rp654 juta dan mitra riset FKS Multi Agro turut memberikan pendanaan sebesar Rp 200 juta sebagai wujud komitmen melakukan scale up produk menjadi komersil. Durasi pendanaan riset akan berjalan selama satu tahun penuh dan diharapkan selesai sesuai komponen target capaian.

Acara diseminasi Ragi Nusantara sengaja menggandeng ANTARA untuk menguatkan komunikasi publik terkait apa dan bagaimana riset ini punya posisi strategis dalam memperkaya khazanah kuliner nusantara, biodiversitas, serta tentunya dukungan stakeholder terkait untuk membawa hasil riset ragi tempe menjadi produk pangan unggulan.

Hadir pula dalam diskusi ini Wira Hardiansyah, pakar gastronomi, pangan, sejarah kuliner sekaligus chef, Ahmad Arif, jurnalis, kolumnis, dan penulis Kompas. Berbagai jurnalis media nasional turut hadir beserta puluhan tamu undangan lainnya.

Relate Articles

Program Beasiswa LPDP-Georgetown Sambut 34 Mahasiswa Baru, 11 Ikuti Akselerasi Magister Angkatan Pertama dan 23 Program MDIA

Berita | 26-08-2026

Program Beasiswa LPDP-Georgetown Sambut 34 Mahasiswa Baru, 11 Ikuti Akselerasi Magister Angkatan Pertama dan 23 Program MDIA

Dedikasi Empat Dekade Menjaga Ragam Hayati Nusantara Antarkan Jatna Supriatna Raih Sarwono Award 2026

Berita | 24-08-2026

Dedikasi Empat Dekade Menjaga Ragam Hayati Nusantara Antarkan Jatna Supriatna Raih Sarwono Award 2026

Kolaborasi LPDP dengan BRIN, Periset Baterai Nasional Agus Purwanto Raih Indonesia Innovator Award 2026

Berita | 10-08-2026

Kolaborasi LPDP dengan BRIN, Periset Baterai Nasional Agus Purwanto Raih Indonesia Innovator Award 2026