Lulus sarjana kerap dianggap sebagai gerbang awal menuju masa depan yang cerah. Namun, realitas di lapangan sering kali berkata lain. Bagi banyak fresh graduate, momen kelulusan justru menjadi awal dari babak penuh ketidakpastian, di mana ijazah tak selalu sejalan dengan peluang, dan semangat muda diuji oleh kenyataan pasar kerja yang kompetitif dan tidak selalu ramah bagi para pencari kerja pemula.
Tak jarang kebingungan memilih jalur karier atau minimnya pengalaman praktis membuat mereka yang baru lulus merasa tidak percaya diri dan menambah kesulitan dalam menjangkau bidang pekerjaan yang sesuai. Sebagai upaya mengurangi risiko yang tak diinginkan itu
Inilah yang ditangani oleh Acniah Damayanti, alumni Beasiswa LPDP yang merupakan kepala Career Development Center (CDC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM). Banyak kegiatan yang diselenggarakan CDC, mulai dari pengembangan kapasitas, pendampingan magang, pelatihan bahasa Inggris, konsultasi karier, simulasi interview, konsultasi psikologi dan banyak lagi.
“Kami berharap bahwa mahasiswa nanti selain siap secara kemampuan, mereka juga sehat secara psikis dan siap terjun di dunia kerja” ujar dosen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM yang akrab disapa Acni.
Nama Acni menjadi akrab di kalangan FISIPOL UGM karena selain kegiatan pengajarannya di Ilmu Komunikasi juga karena kiprahnya memimpin CDC sejak 2016 silam. Banyak mahasiswa menjadi terbantu dengan adanya CDC saat mereka tengah kebingungan melanjutkan babak kehidupan dewasa pasca lulus.
Hal ini kontras bila Acni mengingat saat lulus kuliah kala itu yang tidak mendapatkan tindakan serupa dan itu telah menjadi fenomena yang wajar bahkan hingga kini. Tetapi karier Acni sampai ke titik ini adalah perjalanan panjang meretas batas sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga yang lulus sarjana. Ditambah ia berhasil mendapat beasiswa LPDP menempuh studi Master of Science di University of Twente yang membuatnya semakin mengakar kuat dan menjulang berkarya kembali menjadi dosen di almamater UGM.
Tepis Stigma Buruk Kelakuan Para Gen-Z
Salah satu tantangan utama yang dihadapi CDC adalah menjembatani karakter generasi mahasiswa hari ini—Gen Z. Stigma seperti tidak punya loyalitas, kurang memercayai proses, banyak mengeluh dan gemar melontarkan kritik kerap dialamatkan kepada para Gen-Z.
Bagaimanapun tiap generasi membawa karakternya sendiri menandai pergerakan zaman serta merupakan cerminan hasil didikan dari generasi sebelumnya.
“Mereka eksploratif dan berani, tapi sering dianggap terlalu sensitif atau anti kritik,” ujar Acni. Namun ia melihat ini dari perspektif kekuatan: keberanian mengutarakan perasaan, artikulasi atas hak, serta kemauan untuk mengeksplorasi bisa menjadi modal penting jika diolah dengan bimbingan yang tepat.
Menurut Acni, mahasiswa seharusnya mulai mengenali potensi diri sejak awal masa studi. “Banyak mahasiswa yang baru bingung mau jadi apa setelah wisuda. Itu harusnya sudah mulai dipikirkan sejak awal kuliah,” tambahnya.
Di sinilah CDC membekali mereka dengan berbagai resiliensi untuk menghadapi segala kemungkinan atas ketidakmungkinan. Karakter eksploratif direspon dengan membekali berbagai pengetahuan yang cukup agar tiap keputusan yang diambil dipastikan adalah pilihan yang telah well-informed dan bertanggung jawab. Termasuk membekali Gen-Z tentang bagaimana merespon tantangan maupun hal-hal lain di luar ekspektasinya yang sangat mungkin datang menghantam.
“CDC Fisipol bukan hanya tempat mencari lowongan kerja,” tegas Acni. Unit ini hadir sebagai ekosistem yang membentuk kesiapan mahasiswa, tak hanya dari aspek teknis, tetapi juga psikis dan strategis. Dalam pengelolaannya, Acni mengembangkan program-program seperti pelatihan simulasi wawancara, kursus bahasa Inggris, hingga pendampingan psikologis yang menyentuh kebutuhan mahasiswa secara holistik.
Sebagai kepala CDC, Acni membawa napas baru dengan pendekatan berbasis data dan riset. Ia membangun instrumen seperti exit survey dan tracer study untuk mengukur keberhasilan alumni dan efektivitas intervensi karier yang dilakukan lembaga. Pendekatan ini menjadikan CDC FISIPOL sebagai salah satu unit pusat karier yang paling progresif di UGM.
Keberadaan CDC menurut Acni adalah jawaban atas kekosongan yang dulu ia rasakan saat menjadi mahasiswa. “Saya cukup buta waktu itu ketika ditanya, jenis karier apa yang cocok untuk lulusan Komunikasi? Tidak ada yang memberi arahan secara sistematis,” katanya. Kini, Acni berusaha agar mahasiswa hari ini tak perlu berjalan dalam gelap seperti dirinya dulu.
Dosen dan Mahasiswa Juga Perlu Terus Berkembang
Sebagai dosen, Acni memahami pentingnya bertransformasi seiring perubahan generasi. Ia mengandalkan pendekatan student-centered learning dan mendorong pelibatan aktif mahasiswa dalam proses belajar. Kreativitas, otonomi, dan kepercayaan menjadi prinsipnya dalam mengajar. “Mereka bukan hanya objek yang dijejali pengetahuan, tapi subjek yang berdaya,” ujarnya.
Tak hanya memberi ilmu, Acni menekankan pentingnya humility. “Menjadi dosen itu harus rendah hati. Karena rasa kurang itu yang membuat kita terus belajar,” katanya. Hal ini pula yang mengakar dalam visinya terhadap karier dosen sebagai profesi yang bukan hanya mulia, tapi juga menuntut kesiapan moral dan intelektual.
Kepada mahasiswa dan dosen muda, Acni berpesan untuk memetakan tujuan sebelum memutuskan studi lanjut. “S2 atau S3 itu tidak untuk semua orang. Hanya ambil jika memang dibutuhkan dalam karier atau karena hasrat mendalam untuk belajar,” jelasnya. Ia juga mengajak lebih banyak orang memanfaatkan fasilitas LPDP sebagai investasi jangka panjang yang tak ternilai.
Dunia yang terus bergerak maju, tantangan dan persaingan kian ketat. Sudah semestinya mahasiswa sarjana tak cuma disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar. Iklim kuliah yang jauh berbeda dari bangku sekolah memungkinkan para mahasiswa meningkatkan kapasitas diri untuk menggali mengenali lebih dalam tentang diri sendiri dan proyeksi di masa depan.
“Jejaring yang teman-teman bangun di bangku kuliah ini juga bisa bermanfaat dalam pengembangan karir profesional.” ujarnya.
Ia menyadari betapa besarnya perubahan yang dibawa LPDP terhadap lanskap pendidikan tinggi di Indonesia. Sebelum LPDP hadir, studi lanjut ke luar negeri—apalagi hingga jenjang doktoral—bisa terasa seperti mimpi yang sangat jauh dari jangkauan.
LPDP membekali para awardee dengan ekosistem pendukung, mulai dari pelatihan, seminar, jaringan alumni, hingga pelatihan karier setelah kembali dari studi. Bahkan ketika para awardee telah kembali ke tanah air, LPDP tetap hadir.
“LPDP tetap care ketika kita sudah jadi alumni. Contohnya, saya ikut pelatihan karir pasca studi dan itu sangat bermanfaat—membantu saya memutuskan jalur profesional yang saya pilih sekarang,” lanjutnya.
Kisah Acniah Damayanti adalah cermin dari bagaimana dedikasi, pendidikan, dan kesempatan bisa mengubah arah hidup seseorang. Dari sudut kampus UGM di Yogyakarta, ia bukan hanya mencetak generasi baru, tapi juga membentuk ekosistem karier yang lebih inklusif, sadar diri, dan siap menghadapi dunia.



