Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Para teman tuna netra saat menikmati film di Bioskop Berbisik
Risprostory

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Penulis
Tony Firman
Kamis,
7 Agustus 2025

Ruang-ruang gelap bioskop kecil tak lagi milik orang-orang bermata awas semata. Sebab di sana, film kini hadir dengan suara yang merangkul lebih banyak indera. Forum Sineas Banua (FSB), komunitas perfilman independen yang berbasis di Banjarmasin, berhasil membawa pengalaman sinematik yang lebih inklusif bagi masyarakat Kalimantan Selatan melalui program Bioskop Bisik.

Bioskop Bisik berhasil menarik perhatian dan patut diapresiasi. Para kawan netra dan tuli merasakan pengalaman menikmati film dengan cara yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Suasana haru dan kebahagiaan terpancar di setiap sesi pemutaran, memperlihatkan betapa pentingnya aksesibilitas inklusif di dalam seni.

FSB telah ada dan terbentuk sejak 2016. Sejak itu pula komunitas ini telah menyemai benih-benih literasi sinema di ruang-ruang alternatif, kampung-kampung, dan bahkan di halaman rumah warga. FSB terus menjadi mercusuar bagi para pegiat sinema lokal, menyediakan ruang bagi kreativitas dan kolaborasi khususnya di Banjarmasin. 

Munir Shadikin selaku Ketua FSB mengatakan mulanya mereka adalah kumpulan para pembuat film yang kemudian mengambil peran lebih dengan melakukan kegiatan kebudayaan berupa pemutaran film. Perkembangannya sangat pesat, mulai dari soal estetika dan kualitas film sampai merambah soal isu-isu yang dibawa di dalamnya, termasuk eksistensi budaya dan bahasa Banjar itu sendiri.

Terus berkembang, mereka menyadari bahwa keindahan sinema belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, khususnya teman-teman disabilitas. Berangkat dari kepedulian ini, ide Bioskop Bisik itu lahir.

“Bagi kami, film bukan sekadar tontonan estetika. Film adalah medium untuk menjangkau, mengajak, dan menyentuh siapa saja. Termasuk kawan-kawan tunanetra,” ungkap Munir.

Dari Inspirasi ke Eksperimen Inklusif

Ide awalnya bermula saat Edo Rahman, salah satu penggagas dan penanggungjawab program Bioskop Berbisik, menyaksikan pertunjukan serupa di Jakarta. Praktiknya adalah relawan secara langsung membisikkan narasi visual film kepada penonton tunanetra saat film diputar. Pengalaman itu membekas di Banjarmasin.

“Saya lihat relawan duduk di samping mereka, membisikkan adegan-adegan yang muncul di layar. Dari situ saya sadar, film bisa diakses dengan cara yang berbeda,” ujar Edo. 

Ketika kembali ke Banjarmasin, ia pun mengajak rekan-rekan Forum Sineas Banua untuk bereksperimen tentang bagaimana jika pembisikan visual itu direkam, dijadikan audio deskripsi, dan disalurkan lewat headphone nirkabel saja.

Melalui serangkaian uji coba, diskusi dengan komunitas disabilitas, serta sesi focus group discussion (FGD), lahirlah format teknis baru dengan bantuan visual reader yang akan menonton dan menceritakan ulang kepada para rekan tunanetra melalui perangkat headset. Bahkan tidak cuma para rekan tuna netra, tetapi teman tuli juga turut bisa menikmati Bioskop Berbisik.

“Kami rekam audio deskripsinya terlebih dahulu, dengan mengikuti SOP pendampingan bagi teman-teman tunanetra. Kami juga pelajari tata cara penyampaian bahasa isyarat, karena ini bukan sekadar menempel teks, tapi soal budaya komunikasi,” jelas Munir.

Juru bahasa ini diselipkan dalam frame bukan hanya menerjemahkan dialog, tetapi juga menjelaskan suasana dan bunyi latar yang penting dalam pemahaman cerita.

Mengusung Budaya Lokal ke Ruang Aksesibilitas

Film-film yang diputar dalam Bioskop Berbisik bukan film komersial. Sebagian besar adalah karya sineas muda setempat yang menggambarkan kehidupan, bahasa, dan budaya Kalimantan Selatan.

Para penyandang tunanetra yang hadir dalam pemutaran film juga diajak menonton kisah tentang lingkungan mereka sendiri yang lengkap dengan dialog dalam bahasa Banjar, lokasi yang akrab, dan tema yang menyentuh.

“Inklusivitas tidak cukup hanya memberi akses teknis. Kontennya pun harus bisa mereka pahami, rasakan, dan relasikan dengan keseharian,” tutur Edo. 

Kesan emosional pun muncul. Dalam salah satu pemutaran film bergenre horor, seorang penonton tunanetra berhasil menggambarkan wujud “setan” dalam film hanya lewat audio deskripsi. 

“Dia tahu rumahnya terpencil, jalan masuknya gelap, dan rupa hantunya. Kami yang mendengar itu merinding,” kata Edo. 

Edo dan tim merasa sangat puas karena film yang disajikan lewat audio dan deskripsi ini ternyata diterima melebihi ekspektasi. Imajinasi yang terbangun justru lebih kuat dari penonton awas.

“Film jadi bagus di kepala mereka” imbuhnya.

Peningkatan Kapasitas Dana Abadi Kebudayaan LPDP

Terselenggaranya Bioskop Berbisik merupakan terobosan inklusif yang apik dengan mendapat dukungan negara melalui penyaluran Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola LPDP.  Total 172 juta rupiah telah mengalir sejak 2024 guna mendukung kesuksesan gelaran Bioskop Bisik dan masih terus berlanjut.

Manfaat pendanaan juga terwujud dalam peremajaan peralatan pemutaran film, kebutuhan teknis untuk venue acara, hingga berbagai program pengembangan kapasitas untuk para sineas maupun volunteer mengenai produksi tontonan inklusif dan memberikan pelayanan untuk audiens disabilitas.  

Peningkatan kapasitas dan sarana prasarana telah dibelanjakan dengan optimal agar memastikan keberlanjutan program saat durasi pendanaan telah berhenti. Beberapa pengadaan alat produksi antara lain seperti peralatan pemutaran seperti proyektor, layar, headphone wireless, biaya produksi konten aksesibilitas (audio deskripsi dan juru bahasa isyarat), hingga honorarium narasumber dan pelatih dari komunitas disabilitas. 

“Mungkin yang berbeda dengan program lain adalah karena kami pengadaan headphone wireless untuk memfasilitasi kawan-kawan tuna netra agar mereka menerima audio yang berbeda.” papar Edo.

Sudah tiga volume Bioskop Bisik digelar dan peminatnya terus meningkat dari tiap volumenya. Keberadaannya pun menjadi angin segar bagi hidupnya dunia sinema di Banjarmasin dan Kalimantan pada umumnya. Konsep inklusivitas yang menjadi ruhnya turut membuktikan bahwa hiburan dan seni adalah hak semua orang tanpa terkecuali. Mulai dari komunitas disabilitas, pelajar, sineas muda, dan tentunya masyarakat umum. 

“Ini program yang menyentuh. Banyak orang yang bilang: ini pertama kalinya saya benar-benar paham apa artinya inklusif,” ujar Munir.

Bioskop Berbisik juga menerima banyak liputan dari media lokal dan nasional, serta mendapat sambutan baik dari berbagai pihak yang berharap program ini terus berlanjut dan diperluas hingga ke kabupaten-kabupaten di luar Banjarmasin. Hal ini termasuk harapan besar sekaligus rencana ke depan bagi Forum Sineas Banua yang masih terkendala faktor geografis Kalimantan yang luas.

Akhirnya, Forum Sineas Banua telah menjadikan sinema sebagai alat pemberdayaan. Lebih dari sekadar tontonan, Bioskop Berbisik menjadi laboratorium sosial dan kultural. Ia membongkar asumsi lama bahwa sinema adalah produk audio-visual eksklusif.

Program ini menunjukkan bahwa dengan sedikit keberanian, teknologi, dan kepekaan sosial, seni bisa menjangkau lebih banyak manusia. Peran Dana Abadi Kebudayaan sebagai bentuk amanah rakyat telah menemukan perannya yang sejati, menghidupkan seni yang berpihak pada semua.

“Kami sangat terbantu dengan program Dana Abadi Kebudayaan. Bisa terlaksana Bioskop Berbisik dan bisa memperluas jangkauan alih informasi secara audio visual, secara film kegiatan kami bisa menjangkau teman-teman netra, teman-teman tuli. Itu tidak bisa tercipta kalau tidak ada program ini” tutup Edo.

Relate Articles

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Merayakan Kekayaan Rempah Nusantara, Melestarikannya untuk Masa Depan

Risprostory | 25-03-2025

Merayakan Kekayaan Rempah Nusantara, Melestarikannya untuk Masa Depan