Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Nadhifa Ramadhani, awardee LPDP PK-231 yang melanjutkan studi ke Columbia University
Awardeestory

Nadhifa Ramadhani, Atlet Basket Kursi Roda yang Mengejar Pendidikan Sampai Columbia University

Penulis
Dimas Wahyudi
Selasa,
10 September 2024

Membayangkannya saja mungkin sebagian besar dari kita tak akan sanggup. Kondisi tubuh yang sempurna sejak lahir seketika harus menyandang predikat sebagai difabel. Kaki yang biasa digunakan menopang tubuh, berjalan, berlari, kini harus direlakan salah satunya karena serangan kanker tulang. Amputasi itu mau tak mau harus diterima oleh seorang perempuan muda yang sedang gemar-gemarnya bermain basket, semata-mata untuk menyelamatkan hidupnya.

Adalah Nadhifa Ramadhani namanya. Perempuan berhijab penuh semangat hidup ini bergerak dengan bantuan kaki palsu. Kegemarannya memainkan bola basket nyatanya masih meletup-letup. Di atas kursi roda tak menghalangi bara semangatnya bermain basket hingga menjadi atlet di komunitas Jakarta Swift Wheelchair Ball. Menunjukkan bahwa memang sejatinya olahraga basket adalah inklusif untuk semua.

Lebih dari itu, Dhifa ingin lebih lama lagi di dunia olahraga. Peran gizi terhadap performa dan prestasi atlet menjadi minat yang menarik dirinya dalam menatap karier kontribusi di masa depan. LPDP berkesempatan mewawancarai Nadhifa di dua kesempatan yang berbeda saat melakoni tugas kegiatan sebagai awardee yang akan berangkat studi.

Serangan Kanker, Amputasi dan Bangkit

Tahun 2012 menjadi tahun yang tak mudah bagi Dhifa. Saat SMP, remaja itu divonis menderita kanker tulang atau osteosarkoma. Serangkaian pengobatan telah ia lakukan, namun ternyata dokter berpendapat lain, dengan kanker telah begitu cepat menyebar, nyawa Nadhifa harus segera diselamatkan, keputusan mengamputasi kaki terpaksa harus ditempuh. Tentu bukan keputusan yang mudah, seribu satu pertanyaan seketika memenuhi ruang pikirnya, bagaimana dengan stereotip orang lain? Bagaimana ia akan menghidupi mimpinya di arena basket kelak? Bagaimana ia akan melanjutkan hidup?

“Kalau boleh jujur perasaan pertama yang aku rasakan justru adalah sedih… coping mechanism-ku pertama adalah keluarga, keluarga benar-benar support system ku banget karena mereka adalah orang-orang yang benar-benar bisa bikin aku tetap ketawa gitu di saat-saat yang sulit karena aku harus menjalani kemoterapi yang kayak dulu seperti nggak ada ujungnya gitu, tapi mereka bisa tetap bikin aku semangat karena mereka selalu ada di situ”, ungkap Sarjana Ilmu Gizi Universitas Esa Unggul ini.

Padahal, saat itu Dhifa tengah gemar-gemarnya memainkan bola basket. Sakit yang diderita dan amputasi itu memaksanya untuk vakum bermain basket. Nadhifa kembali menemukan percikan semangat saat ia menonton pertandingan basket kursi roda di gelaran Asian Para Games 2018 lalu. Semangat itu kemudian membawa pertemuannya dengan komunitas Jakarta Swift Wheelchair Ball pada tahun 2019. Melalui klub tersebut, Nadhifa kembali aktif sebagai pemain basket, bahkan basket kursi roda telah membawanya bertanding hingga Bali dan Malaysia, kesempatan berprestasi justru dirasa makin terbuka lebar di keadaannya sebagai penyandang disabilitas, Nadhifa tak pernah berhenti bersyukur atas segala takdir Tuhan yang telah digariskan.

Tak hanya menyalurkan hobi, klub basket kursi roda pula yang mempertemukan dirinya dengan tambatan hati. Ali Amran Al Afif, lelaki yang kemudian ia pilih sebagai suami itu adalah sesama atlet basket kursi roda, “jadi kami berdua sama-sama atlet basket, awalnya sebagai teman saja, lama-lama setelah ngobrol dan menjadi sahabat, lama-lama kami merasa cocok lalu kami memutuskan untuk menikah”, kenangnya tersipu.

Couple Goals, Susul Suaminya ke Columbia University

Amran bukan hanya teman hidupnya, namun juga inspirasinya dalam menjemput mimpi studi lanjutnya. Suaminya itu telah lebih dulu melanjutkan studi master di salah satu perguruan tinggi terbaik dunia, Columbia University dengan bidang studi Social-Organizational Psychology pada tahun 2023 lalu dengan beasiswa LPDP. Melihat keberhasilan dan dukungan penuh dari sang suami, Nadhifa tergerak ikut mencoba, serangkaian ikhtiar seleksi membuahkan hasil, dan mulai September 2024 ini Nadhifa memulai perjalanan barunya sebagai mahasiswa Master di kampus yang sama, Columbia University dengan bidang studi Nutrition and Exercise Physiology.

“Sejujurnya saya juga mengikuti, karena saya juga terinspirasi oleh suami, jadi karena suami sudah mulai duluan satu tahun terlebih dahulu, jadi begitu suami dapat LPDP, saya ter-encourage untuk juga mendaftar LPDP karena menurut kami berdua pendidikan itu juga salah satu yang bisa menaikkan value kami sebagai seorang disabilitas. Karena mungkin karena disabilitas juga, kami perlu membuktikan lebih seperti itu kepada masyarakat bahwa dengan kedisabilitasan kami tidak sama sekali memberhentikan kami untuk menjadi orang yang lebih baik”, ungkap Awardee LPDP PK-231 itu.

Menemukan suami yang sekaligus berperan sebagai mentor adalah salah satu wujud karunia Tuhan yang kembali harus ia syukuri. “Dia sangat membantu saya dalam segala hal, kalau misalnya esai itu saya ada yang banyak salah, kurang tepat kalimatnya, dia bisa membantu untuk mengoreksi supaya esai dan semua dokumen yang diperlukan lebih baik”, terang Nadhifa menjelaskan peran suaminya. Berkaca dari kisahnya itu, tak berlebihan rasanya bila kita menyematkan predikat “Couple Goals” pada mereka, pulih bersama, berjuang bersama, dan menemui sukses bersama-sama.

Ingin Menjadi Ahli Gizi Olahraga

Kecintaan Dhifa pada olahraga pula yang membuatnya mantab memilih bidang studi Nutrition and Exercise Physiology. Di sana ia akan belajar lebih banyak terkait peran gizi kepada atlet agar pulang bisa menjadi ahli gizi olahraga.

“Jadi salah satu keinginanku adalah untuk membantu teman-teman atlet disabilitas untuk lebih mengerti terkait gizi, karena gizi pada atlet sangat berpengaruh kepada performa mereka” terangnya.

Di Indonesia, penyandang disabilitas masih dipandang sebelah mata. Kekurangan dan ketidakberdayaannya kerap kali mengundang remeh. Problem struktural hadir ketika mereka menjadi tersingkir dan sulit mengakses pendidikan tinggi dengan berbagai kendala yang ada. Padahal dengan bekal pendidikan inilah pengetahuan dan sumber daya manusia dapat terbangun.

Seiring dengan semangat inklusif, makin banyak bermunculan komunitas-komunitas olahraga profesional yang diisi oleh penyandang disabilitas. Semangat inklusifitas ini juga masih menyisakan celah-celah kosong yang perlu diisi oleh para penyandang disabilitas itu sendiri. Ia sadar kalau bukan mereka siapa lagi yang akan mengangkat komunitas disabilitas. Perlu lebih banyak ahli disabilitas di banyak bidang agar tak lagi dipandang kelas dua dan menjadi setara.

Beasiswa Penyandang Disabilitas LPDP adalah wujud nyata kehadiran negara agar semua bisa melanjutkan studi S2 dan S3 secara gratis. Amanat peningkatan kualitas sumber daya manusia ini semata-mata ditujukan untuk kemajuan bangsa, dengan mewujudkan kehidupan inklusif tanpa satupun pihak yang tertinggal.

Titip Harap untuk Masa Depan Bintang Muda Bangsa Penyandang Disabilitas

Keberadaan beasiswa LPDP untuk penyandang disabilitas adalah wujud komitmen dan keberpihakan pemerintah dalam membangun kemajuan SDM secara inklusif, no one left behind. Tak hanya mencakup beasiswa untuk penerimanya, penyandang disabilitas juga mendapat dukungan pendanaan untuk pendamping, hal yang tentu tak selalu bisa ditemukan pada program-program beasiswa lain. Keberpihakan ini pula yang turut dirasakan oleh Nadhifa, suaminya, dan banyak Awardee LPDP penyandang disabilitas lainnya.

“Yang pastinya kita juga punya kesempatan lebih, diberi kesempatan lebih untuk menjadi salah satu awardee di LPDP dan menurut saya jangan takut untuk mencoba karena sepertinya LPDP terlalu tinggi (sulit), tapi kita bisa lanjut sekolah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan tentunya bisa memiliki dampak yang lebih besar kalau kita memiliki pendidikan yang lebih tinggi juga. Jadi teman-teman disabilitas jangan takut, dicoba aja dulu”, tutup Nadhifa menyampaikan pesan dan harapannya untuk rekan-rekan sesama disabilitas.

Disabilitas mereka tak lebih dari sekadar masalah penyesuaian, kemauan untuk berprestasi tetaplah ada layaknya orang lain yang tak punya masalah yang sama, hidup harus terus berlanjut dan terus menyala.

Editor: Tony Firman

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri