Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Piyan Rahmadi
Awardeestory

Piyan Rahmadi, Anak Tukang Ojek Pengawal Teknologi HPAL di Morowali

Penulis
Tony Firman
Jumat,
7 November 2025

Tidak terasa ini tahun ketiga Piyan Rahmadi menghabiskan kariernya di PT QMB New Energy Material di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Posisi pemuda asal Bandung ini adalah supervisor di bagian High Pressure Acid Leaching (HPAL). Tugasnya adalah mengawal proses teknologi ekstraksi nikel yang menjadi bahan utama baterai mobil listrik.

Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) adalah rumah dari puluhan ribu anak bangsa yang menggantungkan hidup dari kekayaan bumi Sulawesi. Mereka datang dari berbagai penjuru. Ada anak-anak Sulawesi yang memegang porsi terbesar sebagai tenaga kerja lokal putra daerah, ada pula dari wilayah lain seperti Piyan Rahmadi.

Dari segi latar belakang pendidikan memang linier. Ia lulusan S1 Teknik Metalurgi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melanjutkan S2 Teknik Metalurgi di Central South University (CSU) dengan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) - CSU. Nasib Piyan berubah seiring dengan pendidikan tinggi dan ketekunannya dalam belajar hingga dapat bekerja di posisi saat ini.

Namun jauh sebelum mengenakan helm keselamatan di pabrik dan berbicara tentang hidrometalurgi, Piyan hanyalah anak seorang tukang ojek dan ibu penjaga warung yang bermimpi sederhana: bisa kuliah, dan mengubah nasib keluarganya.

Tukang Ojek, Warung Kecil di Bandung ke Gerbang Ganesha

Ayahnya mencari rezeki sebagai driver ojek online di Bandung, sementara ibunya membantu ekonomi keluarga dengan membuka warung kecil di rumah. Ia anak kedua dari dua bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana, Piyan tumbuh dengan kesadaran bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari lingkaran kesulitan. 

“Untuk kondisi dari keluarga ya, mungkin untuk makan dan sehari-harilah masih cukup. Tapi untuk biaya kuliah itu memang kurang, karena tahu sendiri lah biaya per semesternya itu berapa.” ungkap Piyan yang kakaknya lulusan SMA.

Sejak SMA ia menambatkan harapan pada beasiswa. Ia tekun menjaga nilai, mencari informasi dari guru dan teman tentang peluang bantuan pendidikan. Bagaimana bisa Piyan terpikir dengan kuliah di ITB? Ceritanya bermula dari ibunya. Pada saat kelas dua SMA, ibunya bercerita bahwa tetangganya ada yang masuk ke ITB jurusan pertambangan. 

Bayang-bayang biaya kuliah tinggi di ITB jelas menjadi tembok ratapan. Beruntung sekali guru wali kelas sangat peduli dengan Piyan. Pada saat kelas tiga ia banyak diberi asupan informasi terkait Beasiswa Bidikmisi. Sampai akhirnya kombinasi nilai akademik yang bagus dan informasi yang tepat sasaran membuatnya berhasil mengamankan satu kursi S1 Teknik Metalurgi di ITB.

Dari Skripsi Energi Terbarukan ke Negeri Tirai Bambu

Piyan mulai tertarik pada isu energi baru dan terbarukan saat menulis skripsi tentang lithium battery sebagai komponen penting mobil listrik. 

“Saya cukup banyak membaca tentang energi terbarukan yaitu litium baterai yang pada saat itu lagi bumi, seperti lithium cobalt oxide, kemudian juga ada nickel cobalt manganese oxide. Nah jadi dari situ saya tertarik terhadap isu-isu mengenai baterai listrik, terutama untuk mobil listrik” ujarnya.

Minat itu terbuka jalannya saat Kemenkomarves bersama LPDP mulai menawarkan program beasiswa kerja sama dengan Central South University (CSU) di Tiongkok yang berfokus pada bidang energi dan hilirisasi nikel.

Pada 2019, ia berangkat ke Changsha, Hunan, menempuh studi magister di CSU. Namun tantangan besar menantinya: bahasa, budaya, dan makanan yang jauh dari kebiasaan. 

“Kebanyakan orang di sana hanya bisa bahasa Mandarin. Saya harus belajar menyesuaikan diri,” ujarnya.

Ketika pandemi COVID-19 meledak, ia dan para mahasiswa Indonesia dipulangkan. Studi bergeser ke pembelajaran daring dari Indonesia, dan Piyan menyelesaikan tesisnya dengan penelitian di PT QMB Morowali, sebuah perusahaan hasil kerja sama Indonesia–Tiongkok yang menjadi pionir teknologi HPAL di Tanah Air.

Dari Magang hingga Supervisor

Awalnya Piyan magang sambil menyelesaikan tesis tentang kehilangan besi dan aluminium pada proses pelindian. Laboratorium saat itu masih terbatas, alat analisis harus dikirim ke IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park), menunggu hasil berhari-hari. Tapi kesabaran dan kerja keras terbayar: ia lulus tepat waktu.

Program kerja sama LPDP-CSU memang dirancang agar para lulusannya langsung diserap ke industri strategis nasional. Tak lama setelah wisuda, Piyan resmi bergabung dengan PT QMB Morowali, dan memulai karier dari posisi paling dasar.

“Awalnya saya di area Thickener, lalu pindah ke R&D, sekarang jadi supervisor di proses HPAL,” katanya.
Tiga tahun berlalu, Piyan kini memimpin tim yang mengawal proses pelindian nikel menggunakan asam sulfat bertekanan tinggi dalam autoclave. Ini sekaligus adalah teknologi canggih yang menjadi tulang punggung hilirisasi nikel nasional.

Ia juga menjadi mentor bagi operator lokal, melatih mereka agar kelak bisa mengambil alih kendali dari para tenaga asing. 

“Saya ingin karyawan Indonesia punya kompetensi yang cukup di bidang ini,” ucapnya penuh tekad.

Jelas mengikuti program Beasiswa LPDP - CSU adalah langkah cerdik untuk para penekun bidang metalurgi dan tambang terkait. Central South University, yang terletak di kota Changsha, memang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik global di bidang metallurgical engineering dan mining technology

Kampus ini berafiliasi dengan sejumlah perusahaan besar Tiongkok seperti GEM dan QMB, yang menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai listrik dunia.

“Dari segi kerja itu sudah terjamin. Karena kita yang ikut program ini itu akan direkrut  untuk masuk ke PT QMB atau PT GEM. sudah ada kerjaan yang menanti apabila teman-teman nanti lulus dari program ini” tuturnya.

Kultur Negeri Disiplin dan Arah Kemandirian Bangsa

Sudah mahfum bahwa orang-orang Tiongkok punya etos kerja yang amat tinggi. Tidak ada work life balance dalam kamus kesuksesan mereka. Bekerja di perusahaan yang berafiliasi kuat dengan Tiongkok memberi Piyan pelajaran berharga tentang semua itu.

“Pace kerja mereka cepat, laporan detail, dan disiplin luar biasa,” tuturnya.

Ia belajar arti ketepatan waktu dan tanggung jawab. “Telat briefing sedikit saja ada sanksinya. Tidak boleh main HP saat jam kerja. Semua harus fokus.”

Meski sistem di sana cenderung top-down, Piyan melihat sisi positifnya. Kerja menjadi terarah, target tercapai, dan kedisiplinan menjadi budaya. Dari sinilah ia menempa karakter profesionalnya yaitu tegas, presisi, dan pantang menyerah.

Banyaknya industri tambang nikel yang terafiliasi dengan Tiongkok bagi Piyan adalah awal dari investasi sumber daya manusia di masa depan untuk pengelolaan yang lebih mandiri. 

“Ahli hidrometalurgi di Indonesia masih sangat sedikit, padahal ke depan, ada rencana pembangunan lebih dari 50 smelter.” ujarnya.

Dengan teknologi seperti HPAL, nikel laterit dari tanah Sulawesi bisa diolah menjadi nikel sulfat yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik. Proses produksi hingga menjadi bahan setengah jadi ini adalah tanda penting bagaimana Indonesia mengelola dan menatap masa depannya di bidang tambang.

Suatu hari, ia bermimpi melanjutkan studi S3 di bidang material lanjutan, lalu kembali untuk mengajar. 

“Saya ingin membagikan ilmu yang saya dapat, baik dari kampus maupun industri,” katanya.

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri