Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Uti Nilam Sari alumni Beasiswa LPDP PK-1 yang Menekuni Bidang Medical Illustration
Awardeestory

Uti Nilam Sari, Lulusan LPDP Angkatan Perdana yang Mempelopori Medical Illustration di Indonesia

Penulis
Dimas Wahyudi
Sabtu,
26 Oktober 2024

Siang itu di sebuah co-working space di bilangan kota Depok, kami memenuhi janji temu dengan sosok perempuan berhijab yang begitu ramah, sat-set dan gesit, perfeksionis, menebar energi positif yang tentu bisa dirasakan banyak orang di sekitarnya. Jebolan FKUI ini bisa dibilang adalah salah satu pelopor/paling awal dalam banyak hal, misalnya, ia adalah salah satu orang paling pertama yang mendapat beasiswa LPDP (PK-001), sekaligus pula menjadi yang paling awal dalam menyandang profesi “medical illustrator” di negeri ini yang lulus dari program terakreditasi dunia. Dengan bangga kami kenalkan ia kepada Anda, para pembaca, kisah inspiratif dari dr. Uti Nilam Sari, M.Sc., MIMI.

Mengaku tak pernah bermimpi menjadi seorang dokter, Uti sebenarnya lebih menyukai kegiatan menggambar dan desain. Penentuan jurusan kuliah ke kedokteran tak lepas dari permintaan dan dorongan orang tua. Benar saja, tantangan kuliah kedokteran itu benar-benar nyata. Pepatah bilang, dinding rumah sakit mendengar lebih banyak daripada dinding rumah ibadah, bagi orang dengan tipe “perasa” seperti Uti, pemandangan keadaan pasien dan keluarganya yang keluar masuk di RSCM tempatnya menjalani praktik cukup menguras emosi dan energi Uti, tak jarang air mata yang tumpah menemani malam-malamnya di sudut kamar indekos.

“Tapi Alhamdulillah ketemu caranya. Karena aku itu sangat passionate di design and technology, ketika menjalani kuliah, aku suka kayak mengerjakan design itu secara for free sebenarnya, untuk menjaga kewarasan lah kira-kira seperti itu. If you know the application, ‘Photoshop’ tuh udah jadi kayak jalan ninja ku gitu lah kira-kira”, jawab Uti ketika ditanya soal coping mechanism-nya keluar dari rutinitas kuliah kedokteran yang penuh liku. Meski cukup terseok-seok, komitmen Uti dan support system dari keluarga dan teman-temannya mengantarkannya tetap menuntaskan pendidikan dokternya bahkan dengan predikat Cumlaude.

Menemukan Grand Why, Memilih Jalan Akademik

Di sudut Rumah Sakit Kanker Dharmais, Uti muda sempat menjalani harinya sebagai asisten penelitian. Di tempat rujukan pasien berobat pasien kanker tersebut, ia kerap tenggelam dalam keresahan, kebanyakan orang baru berobat ketika penyakitnya telah mengganas menggerogoti pertahanan tubuh. “Too late lah kalau kita bilang ya. Dan itu menyadarkan bahwasanya kita sebenarnya perlu edukasi kesehatan publik yang lebih baik, dan I think kayak secara visual itu sangat bisa ditolong”, ujarnya.

Sepersekian detik Uti terdiam, mencoba memanggil kembali memori yang tersisa lebih dari satu dekade lalu, saat ketika Uti mengikuti proses seleksi beasiswa LPDP yang masih serba manual, sebuah esai yang ia tuliskan untuk menggambarkan motivasi studi lanjutnya. “Sungguh miris melihat buku-buku waktu aku kuliah di kedokteran, dengan ilustrasi seadanya ataupun mencatut dari luar dan dengan kualitas yang sangat terbatas. Dan aku tahu sebenarnya secara visual itu kita dapat memberikan informasi yang lebih daripada hanya teks”, kenang Uti tentang apa yang menjadi landasan motivasinya saat itu.

Perkembangan ilmu kebumian ditopang oleh pemetaan, pun dengan tubuh manusia, kualitas pendidikan ilmu kedokteran perlu pula ditopang oleh referensi yang dapat disajikan secara visual dan akurat. Selama menempuh kuliah kedokteran, salah satu buku yang sangat menginspirasi Uti adalah “Atlas of Human Anatomy” dari Frank H. Netter MD, “Aku bermimpi sebenarnya, gimana caranya aku menjadi Netter-nya Indonesia? Gimana caranya aku nanti create buku sebagus beliau punya?” jelasnya.

Keresahan itu dijawab oleh Sang Pemilik Hidup, bak dibayang ilham, Uti merasa terpanggil untuk memenuhi celah tersebut. Mengawinkan passionnya dalam teknologi dan seni dengan latar belakang ilmu kedokteran, Uti memutuskan untuk mengambil langkah pionir di bidang ilustrasi medis, sebuah bidang keilmuan yang barangkali bahkan belum pernah ada di negeri ini.

Jatuh Hati dan Jatuh Bangun di Skotlandia

Di negara-negara maju seperti Amerika, Kanada, dan Inggris, program khusus ilustrasi medis telah berkembang lebih dari 110 tahun, dan sepengetahuan Uti, belum ada satu pun orang Indonesia yang menempuh pendidikan formal di bidang ini. Melalui serangkaian proses pertimbangan, ia menjatuhkan pilihannya pada program Medical Visualisation and Human Anatomy yang merupakan hasil kolaborasi University of Glasgow dan The Glasgow School of Art.

Meski lahir, tumbuh besar, dan kini berprofesi sebagai dokter yang kerap dipandang berkecukupan, melanjutkan studi di Britania dengan kemasyhuran biayanya yang tak sedikit masih begitu berat untuk ditanggung sendiri. Anda jangan membayangkan beasiswa LPDP kala itu sama seperti saat ini, yang sekali klik di internet sudah berbanjir informasi, barang yang masih begitu baru ini tak ada yang akrab mengenal namanya, informasinya bahkan baru mengandalkan kabar mulut ke mulut.

Kabar beasiswa LPDP itu datang dari sang suami, Mohamad Sani yang akhirnya juga menjadi Awardee LPDP (PK-005) menempuh pendidikan S2 Mobile Design and Engineering di kampus yang sama, University of Glasgow. Sani yang kala itu tergabung dalam komunitas/program leadership mendapat informasi ini lebih dulu. Tanpa tahu menahu apa pun sebelumnya tentang beasiswa ini, mereka mencoba mengikuti seluruh seleksi yang kala itu masih begitu manual. Usaha mereka berhasil mengetuk pintu takdir, pasangan suami istri berangkat dan studi lanjut bersama ke Skotlandia.

Lebih dari separuh jalan telah terlampaui, kerikil itu justru hadir menjelang ujung akhir perjuangan ini, momen paling krusial dari kehidupan mahasiswa, ya, saat menyusun tesis. Tak pernah ada di benak Sani bahwa ia harus didiagnosis kanker di negeri orang, namun sebagai istri, Uti harus menjadi sosok yang kuat. Dengan penuh sabar Ia mendampingi dan merawat sang suami menjalani pengobatan, operasi, hingga kemoterapi, sambil sedikit demi sedikit menuntaskan tanggung jawab tesis.

“Dengan begitu aku harus bolak-balik, jadi aku begadang di lab untuk menyelesaikan tesis, kemudian pindah lagi nanti menginap lagi di rumah sakit, untuk ngurusin dan mendampingi suamiku. Alhamdulillah LPDP juga support”, kenangnya. Ketika banyak orang yang sakit ingin kembali kepada keluarga, Uti dan Sani bertekad tak pulang sebelum lulus.

Wujudkan Mimpi Melalui Medimedi

Pulang dari Skotlandia, predikat Uti sebagai lulusan program ilustrator medis terakreditasi tak kunjung memberinya ruang karier, “waktu itu responnya almost nihil mas, tapi aku berpikir bahwasanya tetap harus dimulai, sehingga aku selanjutnya memperkenalkan diri sebagai freelance illustrator medis di samping pekerjaan utamaku”, kenangnya. Dari satu klien hingga semakin banyak, Uti kemudian berinisiatif membangun lini bisnisnya sendiri yang ia namakan Medimedi (Medical Media), perusahaan yang mempunyai layanan pembuatan visual media untuk kesehatan, dengan tim kecil yang mempunyai keahlian dalam mengintegrasikan pengetahuan saintifik, visual art, dan teknologi digital. “Kita harus (membuat) ‘medically approved’ dan harus ‘visually attracting’. Dokter yang paham juga tentang teknologi dan art, dan anak-anak art dan tech yang mau dengerin dari sisi medisnya, nah itu jadi tektokan aja kerjanya di antara mereka”, sambungnya.

Sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2015, Uti sadar bahwa dampak yang ingin dicapai akan semakin besar, dan untuk mewujudkan hal tersebut, ia harus menambah tim dan beralih mengambil peran strategis sebagai entrepreneur. Medimedi kemudian beroperasi sebagai sebuah entitas bisnis sejak tahun 2018. Dimulai dari mengerjakan pesanan ilustrasi medis berbentuk gambar, berkembang menjadi animasi dan video, hingga kini berkembang ke arah teknologi Extended Reality (XR). XR adalah istilah payung untuk teknologi yang mengubah realitas dengan menambahkan elemen digital ke lingkungan fisik atau dunia nyata, termasuk Augmented Reality (AR), Mixed Reality (MR), dan Virtual Reality (VR). Medimedi bertekad untuk terus berinovasi dan menebarkan manfaatnya ke cakupan yang lebih luas, dengan misi jangka pendek dan menengah untuk membangun pusat pembelajaran kesehatan imersif yang didukung oleh tutor dan pasien virtual berbasis AI.

Sembari memakai perangkat VR yang menutupi matanya, Uti menerangkan apa yang kini sedang Medimedi kembangkan, “teknologi ini dapat membuat kita menduplikasi skenario di dunia nyata masuk ke dalam virtual. Kalau di kedokteran kita itu banyak mempunyai skenario yang masuk ke dalam framework DICE, yaitu Dangerous, Impossible, Counterproductive, Expensive or rare, itu cocok”.

Telah mafhum bahwa melatih seorang calon dokter membutuhkan biaya yang relatif besar, dan terkadang alat pembelajaran yang ideal kurang tersedia. Di Medimedi, pemanfaatan teknologi XR menjadi solusi bagi sebagian aspek pembelajaran. Teknologi XR memungkinkan pembelajaran dilakukan kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, bebas risiko, serta mampu menjangkau tiga learning domain sekaligus.

Learning domain kognitif, kemudian afektif seperti empati, kemudian psikomotor. Psikomotor ini memang tidak terlalu ideal, maksudnya kalau pakai controller ini, pastinya kita membelek pasien seperti ini ya, rasanya akan sangat berbeda. Tetapi what I mean is, secara psikomotor adalah kita membuat ‘muscle memory’, kita jadi bisa ingat langkah apa setelah apa, alatapa taruh di mana. Itulah latihan-latihan yang dapat diberikan kepada para mahasiswa sehingga pada akhirnya dia akan lebih siap berlatih dengan cara yang lebih real”. Terang Uti dengan bersemangat.

Anak Muda itu LPDP, LPDP itu Anak Muda

Sebagai orang yang paling pertama merasakan manfaat beasiswa LPDP, Uti menilai inilah oase yang selama ini anak muda Indonesia cari, tak sekadar untuk menggantung mimpi namun juga mewujudkannya. Dukungan UangKita yang digelontorkan untuk satu orang Awardee seperti Uti bisa menyentuh angka ratusan juta hingga miliaran rupiah, namun Uti menilai, dukungan tersebut harus dimaknai sebagai investasi, investasi kepada kekayaan bangsa yang paling bernilai, yaitu sumber daya manusianya.

“Ya, education is expensive, we know that, tapi stupidity is more expensive. Education is expensive, tapi ignorance is more expensive, di sinilah LPDP berada”, tegas Uti. Perkembangan Medimedi hingga saat ini juga mengunduh dari investasi tersebut, beberapa orang yang kini berkarya didalamnya sebagian adalah alumni LPDP. Uti pun menilai beasiswa LPDP tak hanya berhasil meningkatkan kapasitas pengetahuan mereka namun juga karakter dan etos kerja, hal yang tentu penting dimiliki oleh anak-anak muda Indonesia saat ini.

Menutup perbincangan kami, Uti juga menyampaikan bahwa fasilitas sudah ada, kini tinggal keputusan generasi muda bangsalah yang menentukan, mau untuk menggunakannya atau tidak. “Harapan aku teman-teman, coba pandang dulu LPDP ini sebagai privilege kita sebagai warga Indonesia, dan kalau ada kesempatan untuk mengambil itu, please do! Apalagi kalau ada yang privilege enough juga untuk (studi) ke luar negeri, karena apa yang aku rasakan tidak hanya secara ilmu dan skill yang aku bawa balik ya, tetapi lebih ke pengalaman secara overall”, pungkasnya.

Relate Articles

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri