Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Dwi Ermayanthi,
Risprostory

Ada Dana Abadi Kebudayaan di Balik Megahnya Ubud Writers & Readers Festival 2024

Penulis
Dimas Wahyudi dan Tony Firman
Jumat,
8 November 2024

Ubud, “The Heart of Bali”, destinasi wisata yang lazim kita kenal dengan kekentalan adat, kesenian, dan lanskap alam yang menjadi obat bagi pencari ketenangan, disulap menjadi pusat cerita, rimba petualangan kreatif, dan panggung dialog dalam gelaran Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).

Sebagai festival sastra/literasi terbesar, paling penting, dan paling bermakna se-kawasan Asia, UWRF tahun ini menawarkan atraksi yang lebih masif dari tahun-tahun sebelumnya. Sekitar 200 program menarik disiapkan, meliputi diskusi panel, kelas eksklusif bersama pembicara ternama, pemutaran film, pertunjukan seni dan musik, lokakarya, pembacaan karya, peluncuran dan penandatangan buku, hingga jamuan sastra, dan tur budaya.

“Satyam Vada Dharmam Chara” adalah tema yang dipilih untuk gelaran UWRF 2024 dari 23 sampai 27 Oktober kemarin. Diartikan sebagai “Speaking The Truth, Practice Kindness”, UWRF diharapkan mampu menghadirkan karya-karya penulis, diskusi, pameran seni, yang dapat membentuk wacana publik, memengaruhi norma-norma masyarakat, dan memperkuat nilai kebenaran dan kebaikan.

Sudah 21 tahun usia UWRF yang pertama kali diselenggarakan pada 2004 silam. Dengan usia lebih dari 15 tahun inilah UWRF mendapat inisiatif dukungan pendanaan berkelanjutan dari program Dana Abadi Kebudayaan atau juga dikenal Dana Indonesiana. Yayasan Mudra Swari Saraswati adalah organisasi di balik lahir dan eksisnya UWRF sampai tahun ini.

Ni Made Dwi Ermayanti selaku Direktur Yayasan Mudra Saraswati mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Dana Abadi Kebudayaan (DAKB) yang datang tepat saat geliat seni budaya dihantam pandemi. Tak cuma dinikmati sendiri, model pendanaan seperti ini juga telah membantu komunitas budaya lainnya untuk hidup. Bahkan mampu melahirkan even penting lainnya.

Simak wawancara lengkap kami dengan Erma di sela-sela gelaran UWRF di Bali beberapa pekan lalu berikut ini.

Mungkin belum banyak yang tahu tentang Yayasan Mudra Saraswati yang melahirkan UWRF. Seperti apa yayasan ini? 

Yayasan ini sudah berdiri sejak tahun 2004, diawali sebetulnya sebagai sebuah recovery program dari Bom Bali pertama. Jadi Yayasan ini diinisiasi oleh komunitas-komunitas pariwisata yang ada di Ubud, dengan waktu itu memanfaatkan dana hibah dari pemerintah sebagai pemulihan pariwisata Bali, dan event yang diselenggarakan pertama kali adalah Ubud Writers and Readers Festival di tahun 2004. Jadi tahun ini kami adalah penyelenggaraan yang ke-21.

Kemudian festival ini ternyata tetap berjalan hingga penyelenggaraan ke-21, dan sekarang misi kami adalah lebih kepada memperkenalkan budaya, sastra, dan seni Indonesia kepada masyarakat global melalui penyelenggaraan festival di Ubud. Saat ini tim yang terlibat, tim inti termasuk internship itu ada sekitar 40 orang.

Selain UWRF ini, apa saja kegiatan lain yang Yayasan Mudra Swari Saraswati selenggarakan?

Karena kami tahu kekuatan kami adalah penyelenggaraan event, jadi tahun 2015 festival yang lahir adalah Ubud Food Festival. Misinya sama seperti Ubud Writers, jadi kami ingin men-showcase kekayaan kuliner Indonesia kepada juga masyarakat global. Kemudian semenjak kami menerima Dana Abadi Kebudayaan dari 2 tahun lalu, kami juga aktif bekerja sama dengan komunitas lain yang ada di seluruh Indonesia dan juga di tempat lain di Bali untuk menyelenggarakan semacam mini event di berbagai titik, jadi tidak hanya di Ubud.

Seperti tahun lalu itu kami menyelenggarakan satelit event di Jambi, Lombok dan Maumere. Tahun ini kami akan menyelenggarakan satelit event di Solo dan Banggai Laut. Kemudian juga per tahun lalu kami melahirkan sebuah festival baru yang memang khusus kami dedikasikan untuk komunitas sastra di Bali, yaitu bernama Bali Berkisah.

Bisa bertahan hingga dua dekade ini. Apa tips yang bisa Anda bagikan kepada para penggerak komunitas budaya lainnya?

Kalau saya ditanya pertanyaan tentang sustainability ini jawaban saya pertama karena timnya keras kepala dulu. Jadi apa pun yang terjadi kita tetap berupaya festival tetap jalan. Perkara skalanya besar atau kecil itu tergantung kemampuan. Tapi intinya kita berupaya setiap tahun UWRF tetap ada. Kenapa? Karena kita ingin komunitas kita tetap percaya bahwa di bulan Oktober mereka bisa selalu yakin akan ada UWRF. Jadi penting bagi kita konsistensi. Apakah nanti festivalnya akan menjadi megah, atau misalnya harus dikecilkan karena dananya sedikit? Itu perkara beda.

Kemudian yang kedua mungkin dari sisi komunitas. Kami juga merasa komunitas yang dinaungi atau yang ada di UWRF ini begitu besar supportnya terhadap UWRF, sehingga mereka pun bersama-sama mendukung kami berupaya agar URF ini tetap ada. Karena kebanyakan dari yang hadir di UWRF itu memang sudah tahu UWRF sejak lama, jadi mereka juga merasa turut ingin berkontribusi bagaimana UWRF ini tetap ada. Dan kami pun membuka jalan untuk mereka bisa berkontribusi. Contohnya misalnya kami juga menyediakan acara yang bertiket. Jadi bagi mereka yang datang ke sini, mereka tidak keberatan beli tiket, karena mereka tahu ini demi sustainability festival. Kemudian mereka juga bisa berdonasi. Kami pun mengadakan fundraising. Mereka juga boleh menjadi sponsor kalau yang punya bisnis. Ada berbagai macam cara kami untuk mengajak komunitas juga turut berkontribusi akan keberlangsungan festival ini.

Bagaimana dukungan Dana Abadi Kebudayaan dalam program-program Yayasan Mudra Swari Saraswati ini?

Jadi Dana Abadi Kebudayaan ini sebenarnya masuk tepat sekali saat memang kami butuh bantuan. Jadi kami mengetahui keberadaan dana ini itu tahun 2022. Tahun 2022 itu memang tahun pertama kami menyelenggarakan festival kembali ke dalam format seperti full power setelah COVID, jadi memang timingnya sangat tepat. Waktu itu kami dihubungi oleh tim kurator dari Dirjen Kebudayaan bahwa kami terpilih sebagai salah satu penerima dana kegiatan strategis, event strategis bersama 12 festival lainnya yang ada di Indonesia. Kategori pemilihannya kalau tidak salah waktu itu adalah festival-festival yang sudah berumur di atas 15 tahun. Kalau untuk dana kegiatan event strategis ini, pagu yang bisa kami gunakan adalah Rp2,5 miliar. Jadi di tahun pertama itu kami coba di angka Rp2 miliar dulu, waktu itu terserap tahun ini kami coba full di Rp2,5 miliar.

Bagaimana Yayasan Mudra Swari Saraswati mengalokasikan dana tersebut?

Jadi memang lebih dari sekitar 60-70% itu untuk produksi event utama kami yaitu Ubud Writers & Leaders Festival. Kemudian per tahun lalu itu kami memang mengalokasikan cukup besar untuk dana kolaborasi antar institusi. Karena kami merasa Ubud Writers ini punya peran penting untuk men-stimulus juga teman-teman lain untuk bergerak bersama untuk mempromosikan sastra dan budaya terutama yang di Bali. Jadi dari dana tahun ini dan tahun lalu ada banyak sekali kegiatan yang tidak hanya di Ubud, tapi juga terselenggara di luar kota dan di kota Denpasar sebagai satelit event Ubud Writers & Readers Festival.

Di samping itu juga karena pada dana kegiatan event strategis ini, kami diperbolehkan untuk pengadaan aset, jadi ini menurut kami sangat membantu. Kami pun akhirnya mengadakan aset-aset yang sifatnya produktif, jadi ada sound system, lighting, projector, screen, yang mana aset ini kemudian kami perbantukan juga. Jadi kalau ada teman-teman komunitas yang butuh, mereka misalnya ingin screening film, atau mereka ingin mengadakan pertunjukan, kalau kami tahu mereka adalah dari komunitas atau kelompok-kelompok seni yang memang ada di bawah naungan UWRF, kami bantu gitu. Jadi itu cukup mengurangi produksi yang kuas mereka, kami memang tidak bisa support secara cash, tapi kami punya aset yang bisa mereka manfaatkan seperti itu.

Sebagai penerima manfaat Dana Abadi Kebudayaan, apa tantangan dalam pelaksanaannya? 

Kendalanya administrasi, tapi itu kami sadari sebagai konsekuensi dari dana yang cukup besar, memang harus dipertanggung jawabkan. Mungkin yang menjadi challenge adalah kami itu salah satu dari penerima dana di tahun pertama tahun 2022, jadi waktu itu memang secara struktur dan SOP masih agak abu-abu karena kami pun tahu ini melibatkan dua kementerian yang mungkin secara internal peraturannya juga berbeda. Jadi waktu itu cukup challenge karena berkali-kali revisi, kemudian tiba-tiba ada dokumen yang harus disubmit, belum dilengkapi. Di tahun kedua sudah jauh lebih baik karena ada eRISPRO, jadi kami bisa submit laporan secara reguler.

Kemudian di tahun kedua juga kontak person yang in charge baik dari Dirjenbud kemudian juga ada dari LPDP yang membantu kami monitoring itu juga sangat hands-on. Dan tahun ketiga ini secara alur jauh lebih jelas. Sebetulnya berkat penerimaan dana abadi kebudayaan ini, selain kami terbantu secara dana, arsip dan laporan keuangan kami juga jadi rapi karena dituntun, dibimbing, dan dibantu untuk bagaimana menyusun laporan keuangan yang baik dan benar.

Dengan kehadiran pemerintah melalui Dana Abadi Kebudayaan ini, apa yang ingin Anda sampaikan?

Terima kasih banyak saya ucapkan kepada Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola oleh LPDP. Jujur melalui dana ini bukan hanya UWRF, tapi saya rasa teman-teman penerima lain pun pada akhirnya kami merasa pemerintah hadir mendukung dan merangkul kami semua. Jadi saya setiap kali kalau diundang ke Jakarta untuk tandatangan kontra, ataupun ketemu dengan pihak LPDP, Ditjen Budaya, dan teman-teman BPK dan yang lainnya, itu kami merasa seperti punya bapak, setelah kami capek-capek di lapangan kerja, yang awalnya dulu kami independen, kami pakai dana sendiri, kemudian pada akhirnya pemerintah hadir dan sepertinya lelah kami terbayar dengan dukungan ini.

Jadi saya berharap program ini dapat terus berjalan, mungkin bukan hanya penerima yang sudah existing dan banyak lagi penerima di luar sana yang bisa dirangkul oleh pemerintah. Dan saya yakin ini akan berdampak besar, mungkin tidak kita lihat lima tahun lagi, mungkin 10 tahun lagi, kebudayaan Indonesia, warisan kita, budaya, sastra, dan seni itu akan dikenal oleh seluruh dunia melalui dukungan Dana Abadi Kebudayaan. Jadi untuk teman-teman komunitas, teman-teman kreatif di luar sana, ini salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan. Untuk teman-teman bisa turut serta mendapatkan fasilitas dana abadi kebudayaan melalui LPDP dan Ditjen Kebudayaan dengan adanya program ini, teman-teman bisa berkreasi seluas-luasnya, mendapatkan dukungan sebesar-besarnya dari pemerintah. Karena pada dasarnya ini juga adalah program yang diselenggarakan oleh rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat.

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua