Nama Fatih Indonesia sudah tak asing lagi di telinga penikmat busana muslim pria Indonesia. Muncul pertama kali dengan baju koko batik casual, produknya kini terus berkembang dengan menyediakan gamis, kurta, kimono, sarung, sajadah, dan lainnya.
Jika melihat di e-commerce, produk Fatih Indonesia telah terjual ribuan potong. Menandakan fesyen yang diusung Fatih ini berhasil menarik minat pasar muslim Indonesia. Berbagai produknya juga dapat dijumpai di markas Fatih Indonesia di kawasan Bintaro Sektor 7, Tangerang Selatan.
Fahmi Hendrawan adalah sosok di balik lahir dan berkembangnya Fatih Indonesia. Siapa sangka sebelum menekuni usahanya sekarang, ia justru punya latar belakang karier yang jauh dari dunia industri fesyen.
Kariernya justru diawali sebagai pegawai bank setelah rampung sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Pernah juga menjajal bidang event organizer hingga akhirnya menekuni industri fesyen.
“Saya memang selalu bermimpi untuk menjadi salah satu pelaku atau salah satu tokoh di industri kreatif Indonesia, salah satunya juga expert di bidang fesyen. Jadi memang dari dulu cita-cita saya seperti itu.” ujar alumni awardee LPDP angkatan PK-86 Panam Jagadhita ini.
Kepada tim media LPDP, Fahmi banyak bercerita tentang perjalanan karier, kehidupan, hingga mengapa para wirausahawan perlu sekolah lagi.
Dari Bankir, Event Organizer, dan Percaya Cashflow Quadrant
Perjalanan karier Fahmi seperti terus mencari makna untuk menetap dan menjalaninya dengan tekun. Debut karier pertama Fahmi setelah lulus sarjana dari IPB pada 2009 adalah menjadi pegawai di sebuah bank swasta ternama di Jakarta.
Menjadi bankir dengan jenjang karier yang jelas nyatanya tak membuat Fahmi menetap. Hasrat untuk mengeksplorasi lebih banyak peluang masih meronta. Pada 2013 ia memutuskan mengakhiri pekerjaannya itu dengan status terakhir sebagai asisten manajer.
Fahmi memilih terjun ke dunia event organizer (EO) dan wedding organizer sekaligus merangkap menjadi musisi di tiap kegiatan tersebut. Pengalamannya ini memperkaya dirinya dengan keterampilan dan pengetahuan baru.
Jiwa berbisnis dalam diri Fahmi sejatinya telah terpatri sejak lama. Di buku “Rich Dad, Poor Dad” karya Robert Kiyosaki yang ia baca sedari di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ada yang disebut dengan Caslow Quadrant. Itu adalah empat quadrant atau fase dalam menapaki jalan menjadi seorang pebisnis, yaitu dari employee, self-employee, business owner dan berakhir investor.
Sejak itulah Fahmi memang berpikir bahwa goal-nya adalah menjadi seorang pebisnis kelak. Maka melepas karier perdana saat menjadi karyawan adalah keputusan yang tepat.
“Aku sudah set goals tuh harus belajar bagaimana create system, belajar bagaimana networking dan lain-lain. Habis itu plan-nya lima tahun kemudian harus jadi self employee, next nanti pindah ke diagram quadrant, berikutnya itu ke business owner” ungkapnya saat ditemui di kantor Fatih Indonesia.
Melakoni self-employee di dunia entertainment juga tak lama. Fahmi disadarkan dengan tujuan hidupnya sendiri bahwa ia ingin membuat legacy, sesuatu yang bisa diwariskan dan dikenal lebih banyak. Bisnis fesyen pada akhirnya adalah jalan yang ia pilih.
“Karena memang dari dulu jiwanya sudah seniman, udah art, dan seneng aja gitu sama fesyen. Walaupun gak punya background itu, tapi yang namanya orang punya sense of art, punya bakat, jadi kayak ga susah untuk belajar (dunia fesyen)” tutur Fahmi.
Kelahiran Fatih Indonesia, Memulai Dunia Bisnis
Fatih Indonesia lahir dari kombinasi antara kecintaan Fahmi terhadap seni busana dan kesadarannya akan potensi besar pasar fesyen muslim di Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
Salah satu ceruk pasar yang belum banyak digarap kala itu adalah fesyen muslim pria. Meski tidak memiliki latar belakang formal di bidang fesyen, sense of art dan passion-nya telah membantu Fahmi melahirkan desain-desain yang unik dan menarik. Inilah yang membuat Fahmi mantap meluncurkan brand Fatih Indonesia pada 2015 yang telah dipersiapkan sejak 2011.
.png)
CEO Fatih Indonesia ini tidak hanya ingin menciptakan pakaian muslim yang stylish, tetapi juga mempromosikan identitas dan budaya Indonesia. Baju Koko produksi Fatih Indonesia, misalnya, selalu memadukan batik dengan gaya modern, menjadikannya pilihan yang fleksibel untuk berbagai kesempatan, mulai dari acara formal hingga santai.
“Karena memang banyak remaja-remaja putra ini mencari brand fashion muslim itu yang nggak kaku, tapi masih tetap menonjolkan identity as a muslim.” ungkap pria asal Garut ini.
Karena menggabungkan tiga elemen identitas muslim, batik, dan stylish muda, baju koko keluaran Fatih dapat dipakai di banyak kondisi selain urusan ibadah sholat.
“It’s very flexible, bisa dipakai ke kondangan, ke kantor, nongkrong seru juga oke” ujarnya.
Batik yang diusung di Fatih diambil dari berbagai daerah di nusantara seperti Tasikmalaya, Jawa, Solo, Bengkulu, Makassar. Memastikan desain batik Fatih diambil dari kekayaan nusantara.
Membangun Fatih Indonesia dari nol bukanlah hal yang mudah. Fahmi harus menghadapi berbagai tantangan seperti modal dan sepinya pembeli. Pernah saat Fahmi mendalami terkait produksi fesyen, ia magang selama tiga bulan di konveksi dan melakukan kegiatan mengangkut kain dan mengukur baju untuk pelanggan.
Orang tua Fahmi yang melihatnya merasa kasihan dengannya dan sempat menyuruh Fahmi untuk kembali bekerja di bank. Keraguan orang tua dapat dimaklumi. Berwirausaha memang dibayang-bayangi risiko mangkrak dan kebangkrutan.
Namun karena Fahmi memiliki tekad dan visi yang kuat, keraguan orang tuanya itu menjadi bahan bakar untuk membalikkan prasangka. Doa restu dari orang tua terus ia minta agar bersinergi dengan usaha kerasnya.
Kunci utama dalam memulai bisnis menurut Fahmi adalah memahami "why" atau alasan di balik keinginan menjadi entrepreneur. Fahmi percaya bahwa dengan mengetahui tujuan dan visinya, ia dapat terus maju meski menghadapi berbagai hambatan.
“At least, minimal ada karya ketika aku misalnya udah pergi dari dunia ini tuh kayak oh ini nih dulu sempat dibikin sama Fahmi Hendrawan nih. Nah itu yang menjadi why-nya aku sih” tutur pria asal Garut ini.
Dalam dunia bisnis, risiko selalu ada, tetapi dengan manajemen dan pengetahuan yang baik, risiko itu bisa diatasi dan ditekan seminim mungkin dampak kerugiannya. Prinsip "high risk, high return" selalu dipegang teguh oleh Fahmi, mendorongnya untuk mengambil langkah berani dalam mengembangkan bisnisnya.
Di saat Fahmi mengikuti pameran fesyen di Moskow, Rusia, dering tak diharap datang mengabarkan berpulangnya ibunda tercinta. Duka mendalam sangat dirasakan Fahmi menyusul beberapa tahun sebelumnya ditinggal ayah tercinta.
Tapi Fahmi merasa bersyukur dan boleh berbangga bahwa di saat kedua orang tuanya meninggalkannya, Keputusan berwirausaha yang ia perjuangkan telah menampakkan wujudnya.
Fahmi juga menekankan pentingnya mengelola risiko. Dalam dunia bisnis, risiko selalu ada, tetapi dengan manajemen yang baik, risiko tersebut bisa dihadapi dan diatasi. Prinsip "high risk, high return" selalu dipegang teguh oleh Fahmi, mendorongnya untuk mengambil langkah-langkah berani dalam mengembangkan bisnisnya.
“Passionate, presistance, dan kemudian ikhlas. Itu kunci untuk teman-teman melakukan apapun pekerjaan dan profesinya. Nilai-nilai entrepreneur yang universal seperti itulah yang memang harus dimiliki oleh anak-anak muda Indonesia” pungkasnya.
Memutuskan Kuliah Lagi untuk Mendalami Bisnis
Ada banyak hal dalam dunia bisnis yang perlu dipelajari. Menjalankan bisnis dengan background bukan pebisnis membuat Fahmi masih sangat haus akan ilmu. Setidaknya itulah yang melatarbelakangi Fahmi memutuskan untuk berkuliah S2 di jurusan Creative & Cultural Entrepreneur di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2016 dengan beasiswa LPDP.
Sebagai pribadi yang punya mimpi menjadi salah satu tokoh di industri kreatif khususnya bidang fesyen, menurutnya beasiswa LPDP bisa menjadi platform untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita tersebut. Tidak hanya untuk Fahmi sendiri, melainkan juga dapat dipakai oleh setiap anak bangsa, para generasi muda, putra daerah untuk merengkuh mimpinya masing-masing dengan pendidikan tinggi yang aksesnya telah disediakan oleh LPDP.
Apa yang didapati dari kuliah S2 di ITB itu jelas memberikan khazanah baru yang sangat berguna baik teori dan pengaplikasiannya pada dunia bisnis. Fahmi jadi belajar keuangan, bidang yang diakui sebelumnya kerap ia hindari. Kini harus dilahap demi menambah asupan fondasi ilmu dalam menjalankan bisnisnya. Ada juga mata kuliah terkait operasional, akuntansi, dan banyak lagi.
Kuliah bisnis juga sekaligus Upaya Fahmi untuk turut meningkatkan kualitas kewirausahaan di Indonesia. Dibanding negara tetangga, rasio penduduk Indonesia yang menjadi entrepreneur besar masih tertinggal. Singapura punya delapan persen penduduknya adalah entrepreneur. Disusul Malaysia dan Thailand di atas 3,45 persen. Sementara Indonesia masih di angka tiga persen dengan penduduk lebih dari 275 juta jiwa terbanyak.
Kini Fatih Indonesia telah berjalan sembilan tahun menuju satu dekade. Perjalanan masih panjang untuk mengepakkan bisnis makin besar. Banyak tujuan yang harus dan ingin dicapai. Sebagai alumni awardee LPDP, Fahmi menunjukkan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan visi yang jelas, seseorang bisa mencapai apa yang ia mau.
“Buat teman-teman semua, jangan pernah putus asa dengan apapun kehidupan kita sekarang. kita memang tidak bisa memilih lahir dari mana dan di mana. Tapi kita bisa memilih masa depan kita mau jadi apa dan seperti apa dan mau bermanfaat untuk siapa saja.” tutup Fahmi menyemangati generasi muda saat ini.



