Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Penganugerahan Sarwono Award 2026 kepada Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia (UI) Prof Jatna Supriatna (tiga dari kiri) di Aula BRIN Jakarta, Senin (24/8/2026). Foto oleh Tony Firman
Berita

Dedikasi Empat Dekade Menjaga Ragam Hayati Nusantara Antarkan Jatna Supriatna Raih Sarwono Award 2026

Penulis
Tony Firman
Senin,
24 Agustus 2026

Jakarta, 24 Agustus 2026 - Indonesia sesungguhnya adalah salah satu laboratorium raksasa terbesar di dunia untuk keanekaragaman hayati yang terkandung di dalam kekayaan alamnya. Zamrud khatulistiwa ini menjadi rumah bagi lebih dari 17 persen jenis burung dunia (mencapai 1.835 spesies dengan lebih dari 540 di antaranya berstatus endemik), 12 persen spesies mamalia (lebih dari 770 jenis), 16 persen reptil dan amfibi, serta lebih dari 31.000 jenis tumbuhan berpembuluh. 

Kenyataan tersebut sekaligus menimbulkan paradoks terkait bagaimana bangsa Indonesia mampu memahami rumahnya sendiri sekaligus melakukan upaya konservasi demi kelestarian dan timbal balik kebermanfaatan bagi kehidupan manusia. Ancaman itu nyata mulai dari kepunahan akibat deforestasi, fragmentasi habitat, perburuan ilegal, dan krisis iklim global kian mendesak. 

Ratusan spesies satwa Nusantara kini berada di ambang jurang kepunahan dalam Daftar Merah IUCN, menjadikan konservasi berbasis data sains bukan sekadar opsi moral, melainkan benteng pertahanan terakhir bagi kedaulatan ekologi dan masa depan peradaban.

Urgensi penyelamatan kekayaan hayati inilah yang menjadi sorotan utama dalam panggung kehormatan ilmu pengetahuan tertinggi tanah air. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan menganugerahkan penghargaan bergengsi lifetime achievement Sarwono Award 2026 kepada Prof. Drs. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Biologi Konservasi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) di Auditorium Gedung B.J. Habibie, Jakarta Pusat pada Senin (24/8) siang.

Jatna Supriatna bukan nama sembarangan di bidang aktivisme konservasi maupun ilmuwan sekaligus pendidik. Ia mendedikasikan hidupnya selama lebih dari 40 tahun bagi pelestarian alam Indonesia. Mengawali kecintaannya pada riset saat meneliti orangutan dan lutung merah di belantara Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, ia terus konsisten membangun jembatan antara riset lapangan murni dan advokasi kebijakan lingkungan.

Kiprah kepemimpinannya terentang dari memimpin Conservation International di Indonesia (1995–2010), mendirikan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI) pada 2010 untuk merespons krisis iklim, hingga menginisiasi SDG Hub di FMIPA UI pada 2020. 

Di kancah internasional, ia dipercaya sebagai Co-chair Southeast Asia Primate Specialist Group IUCN serta dewan pengarah Center for Nature-Based Climate Solutions di National University of Singapore (NUS). Reputasi akademiknya tercermin dalam lebih dari 240 publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi tinggi seperti Science, Nature, dan Current Biology serta telah menerbitkan 30 judul buku bertema lingkungan.

Penghargaan ini saya terima bukan sebagai tanda bahwa perjalanan telah selesai, melainkan sebagai pengingat bahwa tanggung jawab kita terhadap ilmu pengetahuan dan alam Indonesia masih sangat panjang," ungkap Jatna dalam sambutannya menerima Sarwono Award di hadapan ratusan tamu undangan.

Atas dedikasi besarnya inilah Sarwono Award 2026 layak diberikan kepada Jatna Supriatna dan berhak memperoleh apresiasi sebesar Rp400 juta dari LPDP.

Orasi Ilmiah Membawa Riset Satwa Liar ke Meja Diplomasi

Rangkaian acara semakin berbobot dengan orasi ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 yang disampaikan oleh Prof. Dr. Gono Semiadi, seorang Profesor Riset di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Menekuni taksonomi mamalia dan konservasi satwa liar selama 40 tahun sejak mengawali karier di LIPI pada 1985, Gono membagikan perjalanan riset lapangan yang melintasi bentang alam ekstrim Nusantara, mulai dari survei gua karst, habitat satwa terancam punah di berbagai pelosok pulau, hingga memimpin Ekspedisi Lengguru di Papua Barat. 

Tak hanya berkutat pada eksplorasi liar, ia juga mengintegrasikan biologi reproduksi satwa di laboratorium dengan sains kuantitatif melalui formulasi teori pemodelan spasial (spatial modeling) yang ia gagas pada 2013, sebuah karya monumental yang hingga kini telah disitasi lebih dari 1.560 kali sebagai rujukan prediksi sebaran satwa global.

Bagi Gono, puncak dedikasi seorang peneliti terletak pada keberanian menghubungkan data sains ke meja pengambil kebijakan (science-policy interface) dan panggung diplomasi multilateral. Rekam jejaknya terbukti nyata melalui perannya dalam penetapan status keterancaman satwa di IUCN Red List, pengelolaan penangkaran ex-situ bersama GSMP, Koordinator Scientific Authority CITES Indonesia, hingga Manajer Kebijakan SKIKH BRIN. 

Di tingkat dunia, ia mengawal kedaulatan biodiversitas Nusantara di bawah naungan PBB sebagai Koordinator National Focal PointIPBES Indonesia (2018–2025), anggota Multidisciplinary Expert Panel IPBES 2026, serta dewan penasihat teknis Convention on Biological Diversity (CBD).

"Riset keanekaragaman hayati tidak boleh berhenti di etalase museum atau publikasi jurnal semata. Kekuatan sains sejati terletak pada kemampuannya menjadi bukti ilmiah (evidence-based) yang memandu arah kebijakan perlindungan alam, memperkuat kedaulatan diplomasi hayati Indonesia di forum internasional, dan memastikan pemanfaatan yang lestari bagi generasi masa depan." ucapnya saat berorasi Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026

Dalam kesempatan terhormat terpilih sebagai pembawa Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026, Gono berhak mendapat apresiasi sebesar Rp25 juta dari LPDP.

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa Sarwono Award bukan sekadar seremonial apresiasi, melainkan ikhtiar merawat nilai-nilai integritas yang diwariskan oleh Bapak Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Sarwono Prawirohardjo. Arif memberikan pujian khusus atas kontribusi konkret Prof. Jatna bagi sains dan kebijakan publik.

"Tentu beliau (Prof. Sarwono) bukan sekadar perintis ilmu pengetahuan, melainkan peletak dasar budaya riset yang menjunjung tinggi integritas, kemandirian berpikir, dan pengabdian tulus bagi tanah air. Prof. Jatna merupakan teladan nyata bagaimana ilmu pengetahuan mampu menjadi fondasi kebijakan konservasi yang berdampak luas bagi Indonesia dan dunia," tutur Arif Satria dalam sambutannya.

Arif menambahkan bahwa kolaborasi berkelanjutan antara BRIN dan LPDP merupakan fondasi strategis dalam menciptakan ekosistem riset yang berdaya saing, menghargai talenta periset berprestasi, serta melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi bangsa.

Adapun Plt Direktur Utama LPDP Yon Arsal menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan penghargaan tinggi yang didedikasikan untuk para peneliti nasional. Pihaknya menjamin peran LPDP yang terus mendukung akselerasi peningkatan kelayakan sumber daya manusia Indonesia termasuk kepada para peneliti yang telah berjibaku menggeluti ilmu pengetahuan terkait.

“Kami dari LPDP siap support selalu untuk kegiatan ini dan selalu akan support untuk penelitian. Karena kami merasa bahwa baik dari segi kuantitas ataupun kualitas penelitian kita masih tentu harus-harus ditingkatkan sekarang dan di masa-masa yang akan datang.” ujar Yon Arsal di hadapan awak media saat sesi konferensi pers.

Sarwono Award merupakan penghargaan lifetime achievement yang diberikan kepada sosok dengan rekam jejak panjang dalam penelitian, pengembangan, maupun penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Penghargaan ini ditujukan bagi individu yang secara konsisten menunjukkan kontribusi luar biasa sekaligus memiliki kepakaran yang terus dikembangkan dalam bidang yang ditekuninya.

Sementara itu, Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture merupakan forum orasi ilmiah yang menghadirkan tokoh, ilmuwan, maupun pakar yang telah memberikan gagasan dan inspirasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada penyelenggaraan 2026, forum ini secara khusus mengangkat isu konservasi keanekaragaman hayati.

Perhelatan yang digelar secara luring dan daring ini turut dihadiri oleh jajaran Dewan Pengarah dan pimpinan tinggi BRIN, pimpinan dan anggota Komisi X DPR RI,  jajaran Direksi LPDP, jajaran pimpinan dan sivitas akademika Universitas Indonesia, keluarga besar almarhum Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, serta para ilmuwan, periset muda, dan perwakilan organisasi konservasi hayati nasional maupun internasional.

Berita Terkait

Kolaborasi LPDP dengan BRIN, Periset Baterai Nasional Agus Purwanto Raih Indonesia Innovator Award 2026

Berita | 10-08-2026

Kolaborasi LPDP dengan BRIN, Periset Baterai Nasional Agus Purwanto Raih Indonesia Innovator Award 2026

Navigasi Biru Nusantara: Mengawal Kedaulatan Maritim Lewat Hilirisasi Riset di RTB Vol. 10

Berita | 08-08-2026

Navigasi Biru Nusantara: Mengawal Kedaulatan Maritim Lewat Hilirisasi Riset di RTB Vol. 10

Gelar CoP Industri Kreatif untuk Tingkatkan Masa Depan Ekonomi Kreatif, LPDP Hadirkan Tokoh Perfilman dan Sastra

Berita | 06-08-2026

Gelar CoP Industri Kreatif untuk Tingkatkan Masa Depan Ekonomi Kreatif, LPDP Hadirkan Tokoh Perfilman dan Sastra