Sosoknya ceria, murah senyum. Bicaranya lugas dan penuh percaya diri saat menjelaskan kiprah perannya menghadirkan dunia yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Marthella Rivera Roidatua Sirait adalah pendiri dari Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin) yang punya misi utama mendorong ekosistem inklusif di Indonesia.
Enam tahun berjalan sejak 2018, platform yang didirikan Marthella atau akrab disapa Thella bersama rekan-rekannya ini terus memberikan kinerja berdampak. Peran inisiatif Konekin dalam hal edukasi dan pemberdayaan penyandang disabilitas telah melahirkan berbagai proyek strategis, salah satunya yang terbesar adalah ajang tahunan Pesta Inklusi.
Konekin rutin mengadakan Pesta Inklusif sejak 2019, sebuah acara tahunan yang merayakan Hari Disabilitas Internasional. Bertujuan untuk mendorong nilai inklusif dan menyediakan panggung bagi talenta disabilitas, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Perundungan terhadap disabilitas telah menjadi persoalan yang kerap terjadi. Thella dan Konekin berupaya mengatasi fenomena tersebut dengan menerbitkan buku cerita tentang anak-anak disabilitas. Tujuannya adalah memasok bacaan edukatif untuk memperkenalkan sejak dini bahwa disabilitas adalah bagian dari perbedaan yang harus diterima dengan baik.
Tahun ini Pesta Inklusi diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada 9 Desember kemarin. Di sela-sela kesibukannya mengatur acara yang super padat melibatkan banyak pihak dan stakeholder, Thella menyempatkan diri berbincang tentang kariernya dan sebagai seorang penerima manfaat beasiswa LPDP saat berkuliah S2 di University of Birmingham pada 2015 silam.
Kepulauan Tanimbar, Sebuah Titik Balik
Terjun menggeluti dunia pemberdayaan disabilitas bagi Thella mungkin tak pernah terjadi apabila ia tidak pergi dan menetap di Desa Adodo Molu, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Kala itu, Thella bertugas sebagai seorang pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar pada 2013 sampai 2014.
Di sanalah Thella tinggal di desa terpencil tanpa listrik dan sinyal. Ia mengajar 30 siswa dengan tiga siswa disabilitas: seorang dengan cerebral palsy, seorang dengan kesulitan belajar, dan seorang lainnya dengan disleksia. Ketiganya pula memiliki kesulitan belajar masing-masing sesuai dengan keterbatasan yang dipunya.
“Tiga anak ini yang menjadi eye-opener buat saya, yang membuat saya menyadari bahwa Indonesia masih butuh banyak sekali orang-orang untuk bergerak demi kesetaraan disabilitas” ujar Marthella.
Pengalamannya berinteraksi dengan anak-anak Kepulauan Tanimbar inilah yang ternyata sangat membekas dan membentuk masa depan Thella. Perempuan lulusan S1 Hubungan Internasional Universitas Padjajaran ini memutuskan melanjutkan studi S2 menggunakan beasiswa LPDP. Bekal profil yang kuat ditunjang visi misinya untuk isu-isu inklusif telah menjadi modal penunjang untuk akhirnya mendapatkan Beasiswa Reguler LPDP.
University of Birmingham menjadi kampus tujuan Thella yang mengambil jurusan Policy into Practice. Selama studi inilah Thella mengaku banyak mendapat pengalaman berharga lantaran dapat belajar langsung dari para profesor yang prominent di isu disabilitas.
Tesisnya yang mengangkat tentang jaminan ketenagakerjaan untuk penyandang disabilitas di Indonesia juga dijadikan salah satu rujukan Kementerian Ketenagakerjaan untuk membangun akses kerja yang lebih inklusif.
Manfaat lain dari 12 bulan menimba ilmu di Inggris itu terus mengalir. Thella terlibat dalam penyusunan peraturan turunan UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas. Saat menjadi Tenaga Ahli di Kementerian PPN/Bappenas, ia turut membantu penyusunan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2019 tentang Perencanaan, Penyelenggaraan, dan Evaluasi terhadap Penghormatan, Perlindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas.
Karier Thella tercatat pernah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai Peneliti Ahli Pertama di Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) pada 2019. Ada banyak desa-desa di Indonesia yang disambanginya dalam rangka advokasi dan pemenuhan hak disabilitas. Kajiannya berjudul "Desa Tanggap COVID-19: Sudahkah Inklusif Disabilitas?" juga menyebabkan dirinya kerap dilibatkan dalam diskusi terkait Desa Inklusi di lintas Kementerian/Lembaga.
“Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan ketika berkunjung ke desa-desa terpencil dan bagaimana perspektif disabilitas orang di desa membuat saya jadi sadar bahwa perlu lebih banyak advokasi ke pemerintah daerah. Supaya semua pemerintah daerah di Indonesia itu benar-benar peduli sama disabilitas” ujar Thella.
Mendirikan Konekin, Mendorong Indonesia yang Inklusif
Konekin sendiri pertama kali didirikan pada 2018 sebagai wadah edukasi dan pemberdayaan disabilitas. Menjadi ruang aman dan nyaman bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang disabilitas. Dalam dinamika perjalanannya, Thella pada akhirnya memutuskan untuk bekerja fokus membesarkan platform-nya ini. Meninggalkan kariernya sebagai ASN.
“Ingin ada satu organisasi yang mungkin bebas dari hal-hal yang sifatnya kaku. Tapi lebih banyak mengajak orang-orang non-disabilitas untuk lebih paham isu disabilitas lewat pendekatan-pendekatan yang lebih modern” papar Thella.
Tidak ada kata disabilitas dalam nama Konekin sendiri. Ini pula yang dimaksud bahwa platform Konekin ditujukan untuk semua kalangan agar turut berperan aktif dan mengetahui lebih dalam tentang isu-isu disabilitas itu sendiri.
Lebih jauh, tujuan Konekin adalah membuat teman-teman disabilitas bisa menjadi talenta unggul dan mendorong agar lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan untuk bisa membuka akses dan kesempatan kerja bagi disabilitas.
Berbagai program acara yang dirancang Konekin menunjukkan komitmen kuat mereka menjadi platform pendorong inklusivitas. Menggandeng Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan berbagai perusahaan dan bank untuk pelatihan kepada HRD perusahaan, dan banyak lagi yang telah dikerjakan.
Gelaran Pesta Inklusif 2024 turut sama dan kian membesar. Menggandeng lebih banyak stakeholder dan diskusi publik seputar ekonomi, pendidikan, kesejahteraan, dan ketenagakerjaan yang terhubung pada isu-isu disabilitas.
Berjejernya booth UMKM dan pentas seni yang dikelola atau dihasilkan dari para teman-teman disabilitas turut mengukuhkan bahwa kesetaraan dan berdaya bukanlah sekedar wacana, melainkan bagian dari upaya menuju kemajuan bangsa yang digerakkan oleh seluruh lapisan masyarakatnya. Hal ini pula yang menunjukkan dedikasi, pengorbanan, dan visioner dari seorang Marthella, awardee LPDP yang menggunakan ilmunya untuk perjuangan hajat disabilitas.
LPDP sebagai institusi pemerintah pemberi beasiswa S2 dan S3 telah mengambil peran dalam memberikan keadilan akses bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Sejak 2018, program Beasiswa Penyandang Disabilitas yang masuk dalam kelompok Beasiswa Afirmasi resmi diluncurkan.
Hasilnya cukup signifikan. Dimulai dari tahun perdana yang menerima satu penyandang disabilitas, dan jumlahnya terus meningkat di tahun kedua dan ketiga. Sampai dengan tahun 2023 tercatat ada 279 penyandang disabilitas yang berhasil mendapat beasiswa LPDP jenjang S2 dan S3, di dalam maupun luar negeri
Sebagai alumni penerima beasiswa LPDP, Thella cukup senang melihat program LPDP yang memberikan jalur khusus bagi para disabilitas dan meningkatkan partisipasi, peluang, hingga menumbuhkan semangat. Menunjukkan bahwa LPDP semakin inklusif dan bentuk keberpihakan APBN dalam memberikan akses pemerataan SDM bangsa termasuk kepada teman-teman disabilitas.
“Saya ingin menyebarkan semangat dan mensosialisasikan program supaya semakin banyak lagi teman-teman disabilitas yang bisa mendapatkan kesempatan dari LPDP untuk menempuh pendidikan tinggi” tutup Thella yang turut menikmati manfaat beasiswa LPDP.



