Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Risprostory

Deteksi Dini Kanker Nasofaring dengan NPC Strip

Penulis
Tony Firman
Selasa,
19 September 2023

Karsinoma nasofaring (NPC) adalah penyakit kanker yang menyerang area tenggorokan. Sesuai namanya, pertumbuhan sel secara tak normal yang menyebar cepat dan ganas ini terjadi di area nasofaring atau sekitar belakang hidung dan bagian atas tenggorokan. Penyakit ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan, nyeri tenggorokan, hingga yang fatal adalah kematian.

Secara global, kasus kanker nasofaring bisa dibilang rendah dibanding sakit kanker lainnya. Namun, di sejumlah belahan dunia termasuk Indonesia, tumor ganas ini memiliki angka kasus yang menonjol. Menurut data Kementerian Kesehatan 2019,  prevalensi kanker nasofaring di Indonesia adalah 6,2 per 100.000 penduduk dengan penambahan sekitar 13.000 kasus baru per tahunnya. Diperkirakan angka tersebut adalah bagian kecil yang berhasil terdokumentasi.

Baik anak-anak maupun dewasa bisa terserang kanker nasofaring. Gejala awal penyakit ini seringkali tidak terdeteksi dan menyaru ke sakit lainnya yang dianggap ringan. Menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Dewi Kartika Paramita, PhD, gejalanya biasanya adalah seperti pusing dan pilek berkelanjutan.

Menangani kanker nasofaring stadium lanjut harus dengan terapi kombinasi yakni radioterapi dan kemoterapi. Dua terapi ini diketahui menelan biaya yang mahal. Sayangnya, deteksi dini pada gejala nasofaring belum optimal dikembangkan. Padahal kanker nasofaring pada stadium dini dapat diatasi dengan radioterapi saja.

Sebagian besar penderita datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dalam kondisi stadium lanjut. Jika sudah begitu, tingkat keberhasilan penanganan penyakit pun menjadi rendah. Menangani kanker nasofaring stadium lanjut harus dengan terapi kombinasi yakni radioterapi dan kemoterapi. Dua terapi ini diketahui menelan biaya yang mahal.

Inilah yang mendorong Dewi Kartika untuk mewujudkan alat deteksi dini kanker nasofaring bernama NPC Strip A. Dewi Kartika beserta tim penelitiannya mengembangkan alat yang dinamai NPC Strip A. 

Mekanisme kerja kit alat tes NPC Strip A cukup ringkas, yaitu menggunakan sampel darah pasien. Setetes darah diambil dari ujung jari kemudian ditempatkan pada NPC Strip A dan akan menunjukkan hasilnya dalam waktu kurang dari 10 menit.

Perjalanan Mengembangkan NPC Strip

Ide dan riset terkait alat deteksi dini kanker nasofaring telah lama dikembangkan di lingkungan Fakultas Kedokteran UGM. Mulanya alat deteksi dini ini dikembangkan oleh Jajah Fachiroh, Ph.D, yang punya minat riset pada karsinoma nasofaring. Alatnya bekerja membaca hasil sampel darah dengan waktu pengerjaan empat sampai lima jam. Untuk biaya satu kali tes mencapai Rp 250 ribu.

Pada tahun 2014-an Dewi Kartika kemudian memperkenalkan IgG NPC Strip yang mampu mendeteksi antibodi IgG terhadap protein EA pada pasien kanker nasofaring. Dengan berbasis sampel darah yang sama, alat yang dikembangkan Dewi Kartika ini memiliki waktu pekerjaan lebih cepat, akurat dan berbiaya murah. Satu kit IgG NPC Strip dibanderol dengan harga maksimal Rp 50 ribu saja dan telah beredar dengan target pasar para dokter spesialis THT. 

Beberapa tahun berselang, riset Dewi Kartika terhadap NPC Strip berlanjut setelah mendapatkan pendanaan Riset Inovatif Produktif (RISPRO) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada tahun 2018. Ia mengembangkan NPC Strip yang dapat mendeteksi antibodi IgA.

“Kami beri nama A karena yang dideteksi itu adalah antibodi IgA,” ujar doktor bidang immunovirologi dan kanker lulusan Vrije Universiteit Belanda ini kepada tim Media Keuangan.

Adapun Antibodi IgA merupakan antibodi yang paling umum ditemukan di tubuh terutama di lapisan selaput lendir dan cairan sekresi tubuh lainnya seperti air liur, air mata, dahak, dan lainnya.

Tak berlebihan bila NPC Strip A menjadi piranti tes kanker nasofaring unggulan dunia. Pasalnya, alat pendeteksi kanker nasofaring masih terbilang langka. Dewi Kartika mengatakan di Eropa belum ada alat yang spesifik mendeteksi kanker nasofaring karena urgensinya yang rendah.

“Ada yang saya pernah temukan waktu itu di Eropa itu menggunakan biomarker yang mirip, artinya sumbernya itu dari virus yang sama.” ujar Dewi Kartika. Ditambah hasil tesnya pun lama, tidak secepat NPC Strip.

Bisa Selamatkan Lebih Banyak Nyawa

Akan banyak nyawa terselamatkan dengan NPC Strip A. Deteksi dini menjadi kunci untuk menangani dan menyembuhkan kanker nasofaring. Alat ini bisa diaplikasikan pada fasilitas kesehatan dasar yang paling dekat dengan masyarakat baik di perkotaan maupun pinggiran.

Segudang manfaat dari riset yang didanai LPDP sekitar 1,5 miliar rupiah ini pada akhirnya akan mampu menekan biaya pengobatan para penderita kanker.

”Karena kalau terdeteksi itu pada stadium yang lebih dini, kanker ini sensitif terhadap pengobatan radioterapi dan angka kesembuhannya bisa mencapai lebih dari 80%,” terang Dewi. 

Tentu saja biaya radioterapi pada stadium dini jauh lebih murah ketimbang saat pasien telah berada di stadium parah lantaran telat menyadari. Kehadiran NPC Strip A ini dapat melengkapi teknologi peralatan medis di Indonesia yang menganut prinsip kepraktisan, kemudahan, dan berbiaya terjangkau.

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua