Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Ajish Dibyo dan Ifa Isfansyah
Risprostory

Ifa Isfansyah: JAFF19 Jadi Titik Temu Sineas dan Industri Film Berkat Penguatan Dana Abadi Kebudayaan

Penulis
Dimas Wahyudi
Selasa,
24 Desember 2024

Jogja NETPAC-Asian Film Festival (JAFF) ibarat menjadi lebaran bagi penikmat film dan sineas tanah air hingga Asia. Dari tahun ke tahun, antusiasmenya nyaris tak pernah surut. Di tengah cuaca hujan yang kerap mengguyur Yogyakarta sepanjang perhelatannya di bulan Desember ini, tak menyurutkan antusiasme dari 24.462 orang audiens yang memadati Empire XXI Yogyakarta dari 30 November sampai 7 Desember. Ada 750 submisi film, 182 film screening, 75 online screening, 92 komunitas film, dan banyak lagi.

Festival yang berkembang secara organik sejak 2006 silam ini semakin meneguhkan posisinya sebagai salah satu ajang perayaan kreativitas sinematik paling bergengsi di Asia.

Tahun ini, JAFF yang mengusung tema besar “Metanoia”, sebuah ajakan lantang dan berani untuk merenungi peran sinema Asia yang membersamai masyarakat di tengah perubahan sosial dan teknologi yang kian dinamis, tantangan berat, dan situasi yang pelik.

Kemeriahan JAFF sebagai salah satu event strategis yang dimiliki bangsa ini juga tak lepas dari kebermanfaatan #UangKita melalui Dana Abadi Kebudayaan (DAKB) yang disalurkan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Yayasan Sinema Yogyakarta terpilih sebagai penerima manfaat DAKB melalui kategori Event Strategis sejak 2022. Hingga tahun ini, LPDP total telah menyalurkan lebih dari Rp7,8 miliar kepada yayasan ini untuk program bertajuk “Penguatan Kapasitas dan Perencanaan Strategis Berkelanjutan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

Tentunya ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan pendanaan ini. Salah satu yang berhasil dilahirkan adalah program baru bertajuk JAFF Market yang diselenggarakan di Jogja Expo Center (JEC) pada 3 sampai 5 Desember, sebuah program eksibisi yang difungsikan sebagai ruang titik temu antara sineas dan pelaku industri film. Di sinilah wadah networking yang mempertemukan para pelaku industri sinema, mencakup pembuat film, produser, distributor, kreator, pemilik kekayaan intelektual, komunitas, pemerintah, merek, maupun para penikmat film, konsep yang sama telah berkembang sebelumnya di gelaran Busan International Film Festival. Ada 151 gerai, 96 perusahaan yang berpartisipasi, dan 1.767 pertemuan bisnis yang terselenggara di JAFF Market edisi pertama tahun ini. Nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp36 miliar yang berasal dari nilai kontrak/kesepakatan bisnis yang dibuat.

Di sela-sela kesibukan memantau jalannya acara, kami berhasil menemui dua orang yang bisa dibilang dalang kunci keterlibatan terselenggaranya JAFF dari awal pendiriannya hingga saat ini, mereka adalah Ifa Isfansyah selaku Direktur Festival JAFF dan Ajish Dibyo, Direktur Eksekutif Yayasan Sinema Yogyakarta. Keduanya berbicara panjang lebar terkait JAFF, ekosistem perfilman yang disebut sedang bagus-bagusnya, hingga bagaimana menjadi sineas maupun sinefil.

Simak wawancara kami selengkapnya terkait dukungan manfaat DAKB bagi mereka.

Tentang Ifa Isfansyah: Ifa adalah sutradara dan produser film asal Yogyakarta. Ia menyelesaikan studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan mendirikan Fourcolours Films. Karya debutnya, "Garuda di Dadaku" (2009), sukses besar, disusul "Sang Penari" (2011), yang membawanya meraih Piala Citra untuk Sutradara Terbaik. Ifa juga memproduseri film Siti (2014) dan Kucumbu Tubuhb Indahku (2018) yang meraih banyak penghargaan. Terakhir ia menyutradarai series Gadis Kretek (2023) bersama istrinya Kamila Andini.

Saat ini JAFF memasuki edisi yang ke-19 dan mengusung tema Metanoia, apa inspirasi, pesan, dan goals yang ingin dituju dari gelaran JAFF tahun ini?

JAFF sebagai festival film memutuskan memiliki tema yang setiap tahun bisa berubah. Tema ini sebenarnya kita anggap seperti spirit atau semangat bacaan apa yang terjadi tentang pergerakan sinema Asia pada saat JAFF diselenggarakan kemudian apa proyeksi kita ke depan.

Dalam penerapannya, banyak sekali yang berubah di festival ini. Festival yang awalnya dimulai berbasis pada komunitas ini sekarang sudah merupakan titik temu dengan industri. Banyak sekali yang kita definisikan ulang, kemudian untuk pertama kalinya kita juga menyelenggarakan industri event yang kita beri nama JAFF Market. Jadi pemahaman-pemahaman ulang itulah yang sekarang terjadi terutama impact dari pandemi. Dan akhirnya metanoia kita pilih sebagai semangat atau tema yang kita aplikasikan di tahun ini.

JAFF menawarkan program baru bertajuk JAFF Market yang belum ada di tahun-tahun sebelumnya, apa esensinya?

Jadi memang sebenarnya bukan sebuah hal baru ketika sebuah festival film sudah menjadi hub, sudah mempunyai daya tarik untuk pengunjung-pengunjung. Dan bahkan di titik ini selama 2-3 tahun di belakang itu JAFF sendiri sebagai festival film sudah merupakan titik temu antara bakat-bakat baru dengan pelaku di industri. Dari situlah kemudian kita berpikir bahwa rasanya memang JAFF harus memberikan dukungan yang lebih jelas terdampak pada industri.

Kenapa baru tahun ini? Karena memang situasinya baru terjadi di tahun ini. Ini adalah respon dari apa yang terjadi di film Indonesia. Dari situlah kemudian kita inisiasi 2 tahun terakhir ini kita siapkan sistemnya, kita lakukan FGD di tahun lalu. Dan akhirnya tahun ini merupakan tahun yang tepat untuk kita menyelenggarakan JAFF Market karena memang situasi film Indonesia sedang bagus-bagusnya.

Festival ini ikut membantu mendiscover bakat-bakat baru, talenten baru, menjadi baru meter terhadap pencapaian sinema. Jadi kalau tidak ada, tidak ada benchmark, tidak ada referensi, tidak ada pondasi untuk dari mana akar sinema-kulture itu tumbuh. Di titik ini memang sedang bagus-bagusnya. Saya 20 tahun lebih di industri ini dan belum pernah ada di titik terbaik seperti ini. Secara potensi justru lagi banyak banget yang bisa digali. Terutama kemarin melihat potensinya di JAFF Market, semua bertemu dan sebagainya. Itu masih banyak banget yang rasanya akan jauh lebih baik daripada ini.

JAFF tahun ini kembali mendapat dukungan dana dari Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola oleh LPDP, seperti apa manfaat yang Anda dan JAFF rasakan?

Yang jelas setelah dana abadi ini memang terdampak sekali ya buat JAFF, karena JAFF terpilih dari beberapa event yang dianggap strategis untuk berdampak pada budaya sinema.

Sebelum mendapatkan dana abadi itu kita masih sangat struggling dan semua fokusnya itu untuk pelaksanaan saja, sudah habis secara pendanaan, secara energi dan sebagainya.

Dengan Dana Abadi Kebudayan ini kita juga concern dengan hal yang lain, tentang feasibilitas festivalnya, pengembangan programnya, dan yang paling penting adalah keberlanjutan organisasi. Tentang bagaimana organisasi yang menaungi JAFF yaitu Yayasan Sinema Yogyakarta menjadi sehat dan mempunyai program lain, mempunyai strategi lain. Dan bahkan bisa dibilang JAFF Market ini lahir karena hal tersebut.

Tentu saja harapan saya sebagai penyelenggara festival di JAFF, Dana Abadi Kebudayaan ini akan terus konsisten karena ini penting sekali. Event-event seperti ini harus berumur panjang Bahkan lebih panjang dari pada usia kita semua. Kalau kita lihat festival-festival film yang lain di dunia muncul bahkan di masa-masa krisis, di saat perang dan sebagainya, dan sekarang sudah berumur lebih panjang daripada pendirinya. Itu terjadi karena pendanaan juga karena sistem organisasi yang sehat. Jadi terima kasih sekali untuk selama ini kerjasamanya dengan Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola oleh LPDP.

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada sineas muda tanah air yang ingin pula memeriahkan industri sinema tanah air saat ini?

Untuk siapapun yang ingin mengembangkan dirinya, mencoba di dunia film, yakin saja karena industri ini sedang bagus-bagusnya. Semuanya sedang saling membantu, saling men-support. Semua elemen, baik itu film-makernya sendiri, pemerintah, penonton, media atau kritik filmnya sedang punya energi yang bagus dan saling mendukung. Dan kalau misalnya bingung caranya seperti apa, datang saja ke JAFF.

Kami mempunyai ruang yang banyak sekali untuk bakat-bakat baru, karena memang Jaff selalu berkomitmen mempunyai tiga pilar utama. Yang pertama adalah new generation, bakat baru, anak-anak muda. Kemudian yang kedua, profesional dari industrinya, pelaku-pelaku industri. Yang ketiga adalah edukasi dari teman-teman akademisi. Jadi tiga elemen itu yang akan selalu kita bawa terus dan mudah-mudahan akan terus konsisten.

Tentang Ajish Dibyo: Ajish adalah produser film Indonesia yang banyak terlibat dalam berbagai produksi film nasional. Salah satunya adalah produser di balik kesuksesan film "Penyalin Cahaya" (2021). Ajish juga memproduseri Benyamin Biang Kerok 1 dan 2 (2018 & 2020), Tilik (2018), Kartini (2017), Surga yang Tak Dirindukan (2015) dan banyak lagi.

Bagaimana perjalanan Yayasan Sinema Yogyakarta dan JAFF berkenalan dengan Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola oleh LPDP?

Mungkin jauh sebelumnya, Jaff itu memang selalu mendapat dukungan, sejak dari Kemendikbud sampai sekarang menjadi Kemenkbud, yang paling utama memang dari Direktorat Perfilman. Karena dukungan terus menerus yang berkelanjutan, sampai akhirnya di tahun 2022, kami berkenalan dengan tim dari Dana Abadi Kebudayaan. Kami sharing tentang bagaimana kondisi JAFF, apakah Jaff ini sudah berbadan dukung atau belum, bagaimana perjalanan lembaga tersebut, lembaga formalnya, dan hal-hal lainnya.

Kami senang sekali waktu itu, karena tujuannya adalah penguatan kapasitas organisasi. Itu kan sebenarnya bisa dibilang hal yang kami sendiri juga belum mampu untuk melakukannya, karena JAFF itu bergerak dengan sangat organik. Akhirnya, sejak saat itu, kami mulai lebih fokus untuk mengembangkan, untuk menseriusilah lembaga ini di beberapa lininya.

Lalu kemudian, dari situ, kita menyelenggarakan beberapa program-program, yang tujuannya adalah penguatan kapasitas. Kita melakukan studi banding, kita melakukan serangkaian FGD yang memang kemudian diperuntukkan untuk kepentingan internal. Kita mengundang stakeholder perfilman, kita mengundang pihak-pihak external untuk membicarakan internal kami, bagaimana kemudian supaya kami bisa terus bertransformasi dan menjadi lebih baik.

Dan juga tahun ini menjadi tahun yang luar biasa, karena JAFF menyelenggarakan JAFF Market, dan Jaff Market bisa dibilang sebagai buah atau hasil dukungan LPDP tersebut. JAFF Market itu bukan ide atau gagasan yang ada begitu saja, ini adalah perwujudan dari program-program yang kita inisiasi awal bersama LPDP. Salah satu rangkaian program yang menuju ke JAFF Market itu, kita menyelenggarakan satu FGD untuk mempertanyakan apakah Indonesia ini butuh market.

Balik mundur lagi di salah satu hasil FGD atau laporan penyelenggaraan atau laporan penggunaan dana abadi di tahun pertama, yang menjadi PR dari yayasan adalah agenda atau kegiatan apa yang bisa dilakukan oleh JAFF supaya bisa mendukung terwujudnya sustainability, kemudian kita berujung pada, oh ya harusnya kita punya film market. Dana yang kami ajukan sekitar Rp2,5M dan secara plotting besarnya itu untuk penguatan kapasitas organisasi dan untuk menyelenggarakan program utamanya yaitu JAFF.

Adakah kendala selama memanfaatkan Dana Abadi Kebudayaan ini?

Kalau kendala yang paling terasa di penyelenggaraan pertama, harus beradaptasi dengan sistem administrasi terus kemudian dan tata cara pelaporan. Untuk tahun-tahun berikutnya cenderung lebih lancarlah, lebih bisa saling tahu. Mungkin karena ini juga ya karena memang, karena penerima Dana Abadi Kebudayaan kan ada kalau nggak salah 11 atau 13 lembaga kan, itu mestinya memang semua report bareng. Cuma itu kan nggak mungkin terjadi juga karena JAFF ada di akhir tahun, ada teman-teman penyelenggara festival yang di tengah tahun, perbedaan-perbedaan waktu ini yang juga lumayan challenging lah di awal-awal. Selalu ada staf dari LPDP ataupun dari Kemendikbud yang selalu mendampingi begitu, atau paling tidak ada orang yang bisa ditanyain lah tentang hal-hal ini apa dan seterusnya.

Bagaimana pendapat Anda soal keberadaan Dana Abadi Kebudayaan saat ini? Bagaimana Anda menggambarkan manfaat yang Anda rasakan?

Oh sangat terasa, karena Jaffa semakin besar ya, dan hampir di semua penyelenggara festival besar di dunia itu hampir semuanya itu owned by the government. Hanya di kita dan di sedikit negara yang festival film itu diinisiasi oleh private company atau lembaga swadaya masyarakat, jarang banget karena memang bebannya besar, terus kemudian khususnya film itu masih belum cukup seksi dalam tanda petik di mata sponsor kan.

Kami JAFF merasa sangat beruntung, merasa sangat diperhatikan oleh pemerintah, keterlibatan pemerintah melalui Dana Abadi Kebudayaan LPDP ini sangat berguna. Itu kenapa kemudian JAFF sekarang pertumbuhannya menjadi semakin pesat karena dukungannya bukan hanya berkontribusi untuk penyelenggaraan tetapi juga berguna bagi tubuh penyelenggaraannya, karena salah satu program yang sangat bagus dari Dana Abadi Kebudayaan ini adalah penguatan kapasitas organisasi.

Bagi temen-temen yang menginisiasi lembaga seni, lembaga kebudayaan akseslah dana abadi kebudayaan LPDP karena dana tersebut akan berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan lembaga yang temen-teman semua inisiasi.

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua