Jakarta, 10 November 2025 - Habibie Prize, sebuah ajang penghargaan bergengsi kepada para ilmuwan nasional tahun resmi dimenangkan oleh lima tokoh terkemuka atas kontribusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, filsafat, agama, dan kebudayaan.
Penyerahan Habibie Prize dilakukan langsung oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada kelima ilmuwan di Aula Gedung BJ Habibie BRIN Jakarta pada Senin (10/11) siang.
Dalam diskusi terkait penghargaan di bidang masing-masing, kelimanya memperkenalkan riwayat dan latar belakang singkat dari penelitian panjang yang dijalaninya.
Dimulai dari Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti, S.Si., M.Sc. mendapat penghargaan bidang ilmu Pengetahuan Dasar atas kontribusinya dalam pengembangan riset kimia material berupa zeolit yang berorientasi pada solusi keberlanjutan bidang energi dan lingkungan.
Rino telah menekuni penelitian zeolit sejak di bangku S1 Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurutnya material zeolit di Indonesia melimpah karena hasil dari aktivitas vulkanik gunung berapi. Material inilah yang selama ini belum optimal dimanfaatkan padahal menyimpan banyak potensi strategis.
“Zeolit alam sendiri tentunya banyak aplikasi yang belum kita manfaatkan, contohnya sebagai pakan ternak, campuran pupuk. Itu bisa kita manfaatkan sebagai ketahanan pangan.” ujar pengajar ITB ini.
Penghargaan bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi diraih R. Tedjo Sasmono, S.Si., Ph.D. atas dedikasinya dalam riset bioteknologi molekuler dan pengembangan sistem diagnosis penyakit infeksi di Indonesia yaitu dengue.
Telah lebih dari 25 tahun Tedjo menghabiskan waktunya meneliti penyakit yang dekat sekali dengan masyarakat Indonesia, demam berdarah dengue (DBD). Saat ini telah teridentifikasi empat jenis virus dengue yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Banyak penelitian internasional terkait dengue. Tapi virus (dengue) di Indonesia masih terbatas. Jadi saya masuk ke dalam bagian virologinya dari virus dengue. Bagaimana dengue menular, jenis-jenisnya, behavior-nya, penyebarannya, genomnya.” ujar Tedjo.
Adalah seorang Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc. yang mendapat penghargaan bidang Ilmu Rekayasa dalam kiprah panjangnya menekuni riset nutrisi pakan dan sistem pertanian berkelanjutan berbasis ilmu rekayasa peternakan.
Risetnya adalah mempelajari terkait pelepasan gas metana dalam industri peternakan. Gas metana yang dilepas sektor perternakan ini telah turut berkontribusi pada peningkatan pemanasan global dan hilangnya energi metabolisme bagi para hewan ternak.
“Kemampuan metana dalam melepas panas itu 20-25 kali lipat lebih tinggi dibanding karbon monoksida. Untuk ternak sendiri harusnya metana hilang empat sampai 15 persen energi. Jadi kalau kita bisa tekan maka emisi lingkungan rendah dan sekaligus meningkatkan ketersediaan energi ternak.” ujar profesor muda Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Sementara itu penghargaan bidang Ilmu Sosial, Ekonomi, Politik, dan Hukum diberikan kepada Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. Kontribusinya adalah tentang pengembangan sistem hukum dan kelembagaan negara yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Nama Jimly selalu identik dengan reformasi. Ia menegaskan tentang pentingnya membangun sistem hukum yang tidak sekedar menghukum, tetapi memberikan pendidikan dan menjaga public trust.
“Reset Indonesia ini perlu kita mulai dari mana? Dari polisi” ujarnya yang menekankan pentingnya lembaga kepolisian mendapat reformasi lebih dahulu karena posisinya di garda depan penegakan hukum.
Terakhir, penghargaan diberikan kepada Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. berkat dedikasi panjangnya memperkuat dialog antara sains dan agama serta pemikiran islam yang moderat.
Sebagai pakar tafsir Al Quran, karyanya yang masyhur adalah Tafsir Al Misbah yang ditulis pada tahun 2001 silam. Ia menekankan pentingnya tafsir yang kontekstual di tengah dunia yang penuh disrupsi dan kebencian.
“Keresahan itu lahir dari kesadaran bahwa kita beragama sebagian kita tidak memahami agama kita” ujar Quraish saat ditanya terkait karya tafsirnya. “Beragama harus dengan pemahaman, bukan hanya hafalan. Ilmu harus dibarengi dengan adab,”
Kelima peraih Habibie Prize ini berhak mendapat masing-masing Rp400 juta rupiah yang diberikan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengelola Dana Abadi Penelitian. Ini adalah wujud nyata konsistensi LPDP dalam mendukung program apresiasi talenta ilmuwan nasional agar karya dedikasinya mendapat pengakuan penghargaan dengan layak.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko menyampaikan apresiasi dan selamat setinggi-tingginya kepada para peraih Habibie Prize. Habibie Prize bukan sekedar simbol prestasi, tetapi warisan nyata intelektual dari Prof. B.J. Habibie yang telah mempersatukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nasionalisme.
"Saya meyakini bahwa apa yang telah Bapak/Ibu capai, apresiasi yang diberikan oleh negara kepada Bapak/Ibu melalui kami dan LPDP pada kesempatan ini tidaklah sebanding dengan apa yang telah Bapak/Ibu berikan selama ini kepada negara kita. Sekaligus memberikan inspirasi untuk generasi muda mendatang yang akan membawa tongkat estafet negara ini berikutnya, di tahap berikutnya," ucap Laksana Tri Handoko.
Habibie Prize sendiri adalah acara tahunan yang telah berlangsung ke-25 kalinya sejak pertama kali diselenggarakan pada 1999 silam. Mulanya dikenal sebagai Habibie Award yang kemudian berganti Habibie Prize sejak tahun 2020 yang diselenggarakan bersama oleh Yayasan SDM-IPTEK, BRIN dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).



