Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Bontor Humala, CEO PT Iotera alumni penerima Beasiswa LPDP di TU Delf. Foto LPDP/Ghilman Aminullah
Awardeestory

Kembali ke Tanah Air, Cerita Bontor Humala Membangun Bisnis IoT lewat Iotera

Penulis
Tony Firman
Kamis,
29 Oktober 2026

Masih lekat di ingatan Bontor Humala (36) saat masa remaja di mana ia gemar sekali menghabiskan waktu mengutak-atik perangkat elektronik. Pemuda milenial yang akrab disapa Bontor ini tumbuh dan besar saat era teknologi perangkat elektronik menemukan ledakannya pada tahun 90-an dan berlanjut ke 2000-an saat mulai terkoneksi dengan internet.

Ketertarikannya bukan sekedar fase masa kecil, karena nyatanya terus dirawat dan dipupuk hingga dirinya mantap mengambil studi S1 Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2008 silam dan bahkan masih berlanjut dengan mengambil S2 di TU Delf Belanda. Semakin pintar dan mengantongi ijazah luar negeri sempat membuat Bontor berada di persimpangan untuk memilih berkarier di Eropa atau pulang. Bahkan muncul pula hasrat untuk melanjutkan studi hingga S3.

Sebelum ke Belanda ia memang sempat merintis usaha industri elektronik kecil-kecilan bersama rekannya. Sampai akhirnya rekan-rekannya di Indonesia yang merintis usaha serupa dengan keahliannya menelepon.

“Kamu jadi pulang nggak karena kalau nggak pulang apa kita tutup ini usaha?” ujar kawannya itu.

Di sini Bontor membuat keputusan yang bagi banyak orang apabila dibaca hari ini mungkin tidak populer. 

“Kalau di sini S3 atau membentuk perusahaan disini yang saya kembangin negara orang gitu. Sementara kalau pulang Indonesia yang saya kembangin negara saya yang saya bekerja dengan bangsa saya sendiri kayaknya lebih menarik aja sih” kata Bontor yang melatarbelakangi keputusannya kembali pulang.

Kini perusahaan teknologi yang ia rintis bersama rekan-rekannya mengelola sekitar 5.000 perangkat IoT setiap hari, sekaligus membuka ruang bagi insinyur Indonesia untuk mengembangkan teknologi sendiri.

Dari Olimpiade Matematika hingga ke Negeri Belanda

Ketertarikan Bontor pada teknologi tumbuh dari lingkungan keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Ia lahir dan besar di Jakarta, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Dalam keluarganya, pendidikan dipandang sebagai jalan untuk mengubah nasib.

“Bisa dibilang kami lebih baik nggak pernah liburan daripada nggak bayar uang sekolah,” tuturnya.

Bontor memang pemuda yang cerdas. Saat duduk di bangku  Sekolah Menengah Atas (SMA), ia pernah mengikuti Olimpiade Matematika dan ternyata cukup menjadi core memory terkait kesenangannya belajar STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang memantapkan pilihannya meneruskan studi sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Benar saja, Bontor sangat menikmati setiap pembelajaran di Teknik Elektro. Salah satu ingatan yang membekas adalah saat ia dan rekannya mengikuti lomba di desain chip di Jepang. Kala itu timnya kalah dan justru membangkitkan rasa lapar untuk terus mempelajari kekalahan yang didapat.

“Dari situ saya merasa saya dan teman-teman sudah bekerja keras luar biasa, tetapi tetap kalah. Jadi seperti kalau saya membayangkan itu ada jalur yang harus ditempuh supaya bisa di tahap pemenang” ujar Bontor yang meraup IPK 3.79 itu dari Kampus Ganesha.

Rasa lapar akan penasaran itulah yang kemudian memantapkan Bontor untuk  belajar lagi dengan mengambil S2 di TU Delf berjarak jeda tiga tahun dari kelulusannya dari ITB.

“Jadi apa yang membuat saya pengen S2 karena melihat ada tujuan yang kayaknya kalau nggak kuliah lanjut sulit dicapai. Karena kekalahan pas lomba di Jepang itu.” ujarnya mengungkap salah satu alasan melanjutkan S2 dengan Beasiswa LPDP pada tahun 2015 silam.

Yang dilakukan Bontor saat jeda tiga tahun dari lulus S1 itu adalah mencoba peruntungan dengan membuka usaha di industri teknologi yang ia sukai. Musim teknologi digital sedang bersemi kala itu, ditandai dengan kemunculan startup teknologi global.

“Itu zaman-zaman munculnya startup, Facebook, teknologi begitu masif dan dunia nggak ada perang. Jadi kayaknya di kondisi yang ini sangat subur, kondisi yang baik untuk memulai usaha. Jadi waktu itu memilih menunda S2 dan merintis usaha di bidang elektro teknik.” tuturnya.

Namun, merintis usaha ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pengalaman tersebut justru membuatnya menyadari bahwa ada kemampuan yang perlu ditingkatkan agar ia dapat mengembangkan teknologi dan mencapai tujuan profesionalnya.

“Tadi saya sempat cerita saya ikut lomba dan kalah, terus saya memulai usaha juga tidak terlalu baik. Di situlah merasa akhirnya perlu ada yang ditingkatkan lewat S2 ini,” ujarnya.

Bontor kemudian mulai mencari informasi beasiswa dan berdiskusi dengan teman-temannya. Dari seorang teman yang lebih dahulu diterima LPDP, ia mengenal kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri. Informasi tersebut menjadi awal perjalanan berikutnya: memperdalam keahlian melalui pendidikan magister, sebelum kembali ke Indonesia untuk membangun industri teknologi bersama rekan-rekannya.

Negeri Belanda dipilih karena memiliki ekosistem teknologi elektronika yang kuat, termasuk melalui perusahaan seperti Philips dan NXP, sementara program yang ditujunya secara khusus menawarkan bidang embedded systems. Ia mengambil bidang embedded systems, disiplin yang mempelajari sistem komputasi yang tertanam dalam perangkat elektronik.

Pilihan itu merupakan pergeseran yang disengaja. Jika desain chip berfokus pada komponen dasar, embedded systems memungkinkan Bontor mempelajari bagaimana komponen tersebut bekerja sebagai bagian dari produk yang bisa digunakan.

Bontor turut mempertimbangkan relevansi bidang tersebut dengan kebutuhan Indonesia. Menurutnya, membangun industri desain chip dari awal membutuhkan ekosistem yang panjang. Mengembangkan teknologi yang menghubungkan perangkat elektronik dengan sistem komputasi menjadi jalan yang terasa lebih dekat dengan penerapan di dalam negeri.

Pulang, Mengembangkan Iotera

Indonesia memiliki tantangan yang berbeda dari negara lain. Kualitas koneksi internet dan pasokan listrik tidak selalu sama di setiap lokasi. Perangkat yang bekerja dengan baik di satu tempat belum tentu memiliki kinerja serupa di tempat lain.

“Segala sesuatu dimodelkan,” ujarnya, menjelaskan pendekatan yang ia pelajari selama studi. Risiko kegagalan koneksi, gangguan listrik, dan kemungkinan masalah lain perlu diperhitungkan sejak awal agar produk mampu menghadapi situasi di lapangan.

Bontor sebenarnya memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi doktoral setelah menyelesaikan pendidikan magisternya. Ia bahkan sempat mengikuti kegiatan riset selama beberapa bulan untuk mempersiapkan kemungkinan tersebut.

Namun, rekan-rekannya di Indonesia yang menghubunginya itulah kemudian membuat pilihannya makin rasional untuk pulang. Mereka sedang merintis usaha dan membutuhkan kepastian apakah Bontor akan kembali.

Iotera didirikan pada 2019 dan menjadi bagian dari PT Tricada Intronik, perusahaan yang menurut Bontor telah berkecimpung sekitar 30 tahun di industri teknologi informasi nasional. Bidang utama Iotera adalah IoT, teknologi yang memungkinkan perangkat seperti mesin, sensor, dan peralatan elektronik terhubung melalui internet sehingga dapat dipantau atau diakses dari jarak jauh.

Ada tiga solusi yang menjadi fokus perusahaan.

Pertama, sistem pelacakan dan pengelolaan aset untuk perusahaan, termasuk membantu memantau keberadaan serta akses terhadap aset seperti surat berharga dan emas. Kedua, sistem pembayaran nontunai dan otomasi untuk mesin penjual otomatis, kursi pijat, mesin permainan, dan perangkat sejenis. Ketiga, sistem pengelolaan bahan bakar untuk memantau penggunaan BBM pada armada, termasuk di sektor penerbangan dan pertambangan.

Di antara ketiganya, sistem pembayaran nontunai menjadi produk yang paling dekat dengan keseharian masyarakat. Pengguna cukup memindai kode QR untuk membeli minuman, mengambil barang dari mesin penjual otomatis, atau mengaktifkan layanan tertentu.

Namun, solusi teknologi yang dikerjakan Iotera tidak berhenti pada sistem pembayaran. Perusahaan ini mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunaknya sendiri, mulai dari desain papan sirkuit elektronik (printed circuit board atau PCB), pemilihan komponen, pembuatan casing, hingga perakitan, pemasangan, dan layanan purnajual.

Bontor melihat proses tersebut menarik karena mempertemukan rekayasa teknis dengan persoalan operasional. Produk yang sudah terpasang harus tetap berfungsi setiap hari. Ketika ada gangguan, tim perlu memastikan penyebabnya dan memperbaikinya.

Sampai saat ini setidaknya belasan klien korporasi sedang ditangani seperti Telkomsel, Mitratel, Lintas Arta, Bank Syariah Indonesia (BSI), Pegadaian, Pertamina Patra Niaga, PT KAI, Jasa Marga, Hutama Karya, Komatsu Indonesia, KPP Astra Mining, Nestlé Professional, Kapal Api Group, AEON Fantasy, Perfect Relax, RedBoks, dan PT CKJT pengelola Tol Cisumdawu. 

Dari sisi produk dan implementasi, Iotera mengembangkan empat lini solusi utama, yaitu Smart Site, Smart Vending, Smart Inventory, dan Smart Health. Skala implementasinya cukup besar: solusi Smart Site telah digunakan untuk memantau lebih dari 1.000 lokasi di Indonesia, sementara ekosistem Smart Vending telah menjangkau lebih dari 1.500 gerai otomatis. 

Secara alat, sekitar 5.000 perangkat yang dikelola Iotera tersebar terutama di Pulau Jawa, dengan jangkauan juga di Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lain. Jumlah perangkat terbanyak berasal dari mesin penjual otomatis, mesin permainan, kursi pijat, dan perangkat sejenis. Sementara itu, pelanggan di sektor perbankan dan barang konsumsi bergerak cepat (fast-moving consumer goods atau FMCG) menjadi bagian penting dari bisnis pelacakan aset.

Pertumbuhan itu turut mengubah skala organisasi. Dari tiga orang pada masa awal, Iotera kini memiliki sekitar 30 orang dalam timnya. Menurut Bontor, sekitar 80 persen tenaga kerja perusahaan merupakan insinyur, baik berlatar belakang elektro maupun pengembangan perangkat lunak.

Komposisi tersebut menunjukkan ke mana perusahaan mengarahkan sumber dayanya: pengembangan teknologi. Iotera tidak hanya menjual perangkat, tetapi juga membangun kemampuan teknis yang diperlukan untuk merancang, menguji, dan memelihara sistem tersebut.

Terus Menjaga Keberlanjutan 

“Saya pribadi memiliki ego,” katanya. Ia pernah mengikuti kompetisi desain IC, memiliki ambisi teknis, dan kemudian harus berhadapan dengan pekerjaan yang jauh lebih beragam: memasang kabel, membersihkan layar perangkat, menangani keluhan, hingga menerima ide yang tidak disetujui calon pelanggan.

Pengalaman itu, menurutnya, mengajarkan kerendahan hati. Perusahaan tidak akan bertahan tanpa tim yang bekerja bersama dan pelanggan yang bersedia memberikan kepercayaan.

Kini, ia berharap pertumbuhan Iotera tidak hanya berhenti pada 5.000 perangkat. Dalam beberapa tahun mendatang, ia membayangkan jumlah itu meningkat hingga 20.000 perangkat. Ia juga ingin mengambil peran sebagai mentor, mendorong anggota timnya untuk mendirikan usaha teknologi sendiri.

Harapan tersebut berangkat dari cita-cita yang ia bawa sejak mendaftar beasiswa: membangun industri elektronika yang mampu menyediakan pekerjaan dengan keterampilan tinggi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ia membayangkan Indonesia memiliki ekosistem teknologi yang semakin matang, seperti yang berkembang di Jepang dan Taiwan.

Dalam pandangannya, pendidikan tinggi menjadi salah satu modal penting untuk mewujudkan cita-cita itu. Ia tidak menganggap gelar magister atau doktor sebagai satu-satunya jalan menjadi pengusaha teknologi. Namun, pendidikan lanjutan dapat membantu seseorang menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Kontribusi alumni, dalam cerita Bontor, tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan publik, perusahaan besar yang dikenal luas, atau penemuan yang langsung mengubah kehidupan banyak orang. Ia bisa tumbuh melalui pekerjaan yang berlangsung di balik layar: merancang perangkat, membangun sistem, mempekerjakan insinyur, dan memastikan teknologi bekerja ketika dibutuhkan.

Dari 50 mesin laundry hingga ribuan perangkat yang terhubung setiap hari, perjalanan Iotera memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang diperoleh melalui beasiswa dapat diterjemahkan menjadi usaha yang nyata. 

Tentunya Iotera masih terus bertumbuh. Bagi Bontor, mimpinya akhirnya bukan sekadar membesarkan satu perusahaan, melainkan turut andil membangun kepingan industri teknologi Indonesia yang lebih mandiri.

Berita Terkait

Kiat Sukses Aldian dan Novi, Duo Alumni LPDP Membesarkan Nature Based Skincare Jinawi

Awardeestory | 30-07-2026

Kiat Sukses Aldian dan Novi, Duo Alumni LPDP Membesarkan Nature Based Skincare Jinawi

Cerita Malika Rizky Aninditha, dari Teknik Sipil ke Wirausaha Mengembangkan Brand Yourkalle

Awardeestory | 25-06-2026

Cerita Malika Rizky Aninditha, dari Teknik Sipil ke Wirausaha Mengembangkan Brand Yourkalle

Dari Kedai Kopi Kecil Menjadi Lifestyle Brand, Ada Raras Cynanthia di Balik Strategi Kopikina

Awardeestory | 31-05-2026

Dari Kedai Kopi Kecil Menjadi Lifestyle Brand, Ada Raras Cynanthia di Balik Strategi Kopikina