Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Penghargaan Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture 2026 di Gedung BJ Habibie, BRIN pada Senin (10/8) pagi. Dok Diky Andika
Berita

Kolaborasi LPDP dengan BRIN, Periset Baterai Nasional Agus Purwanto Raih Indonesia Innovator Award 2026

Penulis
Dimas Wahyudi & Tony Firman
Senin,
10 Agustus 2026

Jakarta, 10 Agustus 2026 - Tiga puluh satu tahun lalu, Indonesia menorehkan salah satu tonggak penting dalam perjalanan teknologinya. Pada 10 Agustus 1995, pesawat N-250 Gatotkaca berhasil mengudara, menandai kemampuan anak bangsa untuk merancang dan menerbangkan pesawat yang diproduksi sendiri. Peristiwa bersejarah tersebut kemudian menjadi momentum lahirnya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS), yang tahun ini diperingati untuk ke-31 kalinya.

Semangat untuk membangun teknologi dari tangan dan pikiran anak bangsa itu kembali menemukan relevansinya hari ini. Bertepatan dengan peringatan HAKTEKNAS ke-31, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali menghadirkan Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture pada 2026, sebuah bentuk apresiasi sekaligus ruang untuk mempertemukan talenta, riset, dan inovasi yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Semangat penguasaan teknologi yang ditandai oleh keberhasilan N-250 terus menemukan bentuknya dalam berbagai inovasi strategis yang dikembangkan anak bangsa. Salah satunya hadir di bidang teknologi energi pengembangan baterai yang menjadi bagian penting dalam ekosistem kendaraan listrik dan transisi energi. 

Penghargaan tertinggi inovasi di Tanah Air menyoroti sektor krusial masa depan, yakni teknologi energi berkelanjutan. Terdapat dua tokoh utama yang menjadi sorotan dalam gelaran tahun ini: Prof. Dr. Eng. Ir. Agus Purwanto, S.T., M.T. dari Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai pemenang inti Indonesia Innovator Award 2026, serta Dr. Eng. Ir. Aditya Farhan Arif dari Indonesia Battery Corporation (IBC) yang didaulat sebagai pemberi kuliah umum dalam Indonesia Innovator Lecture 2026 bertempat di Gedung BJ Habibie, BRIN Jakarta pada Senin (10/8) pagi.

Meneliti Baterai, Membawa Riset ke Industri

Perjalanan panjang penelitian baterai di Universitas Sebelas Maret (UNS) mengantarkan Agus Purwanto sebagai penerima Indonesia Innovator Award 2026. Guru Besar Teknik Kimia UNS itu telah menekuni pengembangan material dan teknologi penyimpanan energi selama lebih dari satu dekade. Ketertarikannya pada bidang ini membawa tim riset UNS mengembangkan berbagai material untuk baterai lithium-ion, sekaligus membangun kemampuan produksi yang dapat menjawab kebutuhan kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Riset baterai di UNS sendiri telah dimulai sejak 2012, ketika perguruan tinggi tersebut terlibat dalam pengembangan baterai untuk program Mobil Listrik Nasional (Molina). Dari proses yang panjang tersebut, tim yang dipimpin Agus kemudian menguasai pengembangan sejumlah material penting baterai lithium-ion, antara lain katoda Lithium Iron Phosphate (LFP), Nickel Cobalt Aluminum (NCA), dan Nickel Manganese Cobalt (NMC), serta anoda Lithium Titanate.

Salah satu capaian penting datang melalui penelitian yang berhasil mensintesis material berbasis Nickel Cobalt Aluminum Oxide (NCA) dan Lithium Titanate (LTO) sebagai bahan utama baterai lithium. Timnya juga mengembangkan metode daur ulang NCA untuk menekan biaya produksi dan membangun sistem produksi baterai yang efisien untuk berbagai aplikasi. Atas penelitian tersebut, Agus meraih Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) Science and Technology Award pada 2020.

Kiprah tersebut tidak berhenti pada publikasi dan pengembangan teknologi di laboratorium. Sejak 2020, Pusat Unggulan Iptek Baterai Lithium UNS mulai membawa hasil risetnya menuju tahap komersialisasi melalui kerja sama dengan PT Batex Energi Mandiri. UNS memberikan lisensi kepada perusahaan tersebut untuk memasarkan dan mengomersialisasikan baterai lithium hasil pengembangan kampus.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membawa teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi agar dapat digunakan lebih luas dalam berbagai aplikasi, termasuk sepeda listrik, mobil listrik, dan penyimpanan energi.

Perjalanan akademik Agus turut membentuk kepakarannya di bidang tersebut. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister Teknik Kimia di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sebelum melanjutkan studi doktoral di Chemical Engineering, Hiroshima University, Jepang, dan meraih gelar Doctor of Engineering pada 2008. Bidang keahliannya mencakup nanomaterial dan fabrikasi material berstruktur nano, termasuk pemanfaatannya untuk energi dan berbagai aplikasi teknologi.

Jejak penelitiannya tercermin pula dalam rekam akademiknya. Profil peneliti UNS mencatat 53 aktivitas penelitian, 142 publikasi terindeks Scopus, serta 33 paten yang telah dihasilkan. Saat ini, Agus aktif dalam kelompok riset Material Maju dan Energy Storage serta Teknologi Penyimpanan Energi Listrik. Agenda risetnya terus berkembang, antara lain mencakup pengembangan material katoda untuk baterai lithium-ion, baterai sodium-ion, graphene untuk fast-charging battery, hingga teknologi penyimpanan energi berbasis material baru.

Dalam kesempatan menerima penghargaan, Agus menyampaikan terima kasih kepada BRIN dan LPDP atas dukungan serta penghargaan yang diberikan. Ia berharap apresiasi tersebut dapat semakin memotivasi para peneliti untuk terus berkarya dan menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi Indonesia.

"Saya tidak menyangka bisa menerima award ini dan mudah-mudahan ini bisa menjadi penyemangat bagi kami. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada terutama rekan tim peneliti kami, mitra-mitra startup, yang dengan semangatnya masih bisa berkarya," ucap Agus dalam sambutannya.

Penghargaan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah inovasi tidak berhenti ketika penelitian menghasilkan temuan baru. Ada proses panjang untuk mengembangkan teknologi, membuktikan manfaatnya, melindungi kekayaan intelektual, hingga membawanya keluar dari laboratorium dan mendekatkannya pada kebutuhan masyarakat serta industri. Perjalanan Agus dan tim riset baterai UNS menjadi salah satu gambaran bagaimana proses tersebut dapat dibangun secara bertahap.

"Bisa menjadi inspirasi mungkin bagi adik-adik peneliti yang lebih muda bahwa tantangan di depan tidak harus kita putus asa, tetapi tantangan yang kita hadapi harus kita buktikan, harus kita pecahkan, dan harus kita cari solusinya semata-mata karena pengabdian kita kepada negara." tutup Agus.

Atas perjalanan tersebut, Indonesia Innovator Award 2026 menjadi bentuk apresiasi terhadap kiprah Agus dalam mendorong riset baterai dari pengembangan material, penguasaan teknologi, hingga upaya komersialisasi. Sebagai penerima penghargaan, Agus memperoleh apresiasi sebesar Rp400 juta.

Orasi Ilmiah Peraih Indonesia Innovator Lecture, Masa Depan Industri Baterai

Membicarakan masa depan industri baterai Indonesia, Dr. Eng. Ir. Aditya Farhan Arif melihat bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki modal yang sangat besar. Sebagai Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya menilai kekayaan mineral yang dimiliki Indonesia dapat menjadi pijakan untuk membangun kembali industrialisasi nasional, khususnya melalui pengembangan industri baterai.

Pandangan tersebut disampaikan Aditya dalam Indonesia Innovator Lecture 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian apresiasi talenta riset dan inovasi hasil kolaborasi BRIN dan LPDP.  Aditya menguraikan besarnya potensi sumber daya mineral Indonesia yang dibutuhkan dalam rantai produksi baterai. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, sementara komoditas mineral lainnya juga tersedia dalam jumlah besar. 

Potensi tembaga Indonesia pun masih sangat menjanjikan, dengan produksi yang diproyeksikan terus meningkat di tengah kecenderungan penurunan produksi di sejumlah negara lain. Semua itu  perlu diikuti dengan investasi yang lebih besar dan terarah. Pembangunan industri baterai tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan fasilitas produksi. Indonesia juga perlu memperkuat kapabilitas sumber daya manusia agar memiliki kemampuan untuk menguasai, mengembangkan, dan menerapkan teknologi yang dibutuhkan industri.

Pandangan tersebut sejalan dengan latar belakang Aditya yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan teknologi energi. Ia menempuh pendidikan Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung dan melanjutkan studi hingga meraih gelar Doctor of Engineering bidang Chemical Engineering dari Hiroshima University. Pengalaman akademik dan profesionalnya kemudian berkembang di bidang riset, pengembangan teknologi, perencanaan korporasi, hingga industri pertambangan dan mineral sebelum dipercaya memimpin IBC.

Aditya juga menyoroti perjalanan teknologi baterai dari tahap riset menuju komersialisasi. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan teknologi baterai secara lebih mandiri, tetapi proses menuju skala komersial masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya berkaitan dengan tata kelola bisnis yang perlu terus diperbaiki agar pengembangan teknologi dapat bergerak lebih cepat dari tahap riset menuju penerapan industri.

Lebih lanjut, ia juga membedah fenomena "Lembah Kematian" (valley of death) dalam dunia inovasi, di mana banyak penemuan brilian dari laboratorium gagal menembus fase komersialisasi di tingkat industri. Menurutnya, jurang pemisah ini bukan sekadar persoalan kapital, melainkan ada tantangan krusial pada fase riset dasar yang harus dijembatani bersama.

"Challenge paling besar adalah pendanaan. Tapi selain pendanaan, kita juga masih ada gap pada riset dasar," tegas  Aditya di hadapan para periset, akademisi, dan pengambil kebijakan yang hadir.

Mengakhiri kuliah umumnya, Aditya mengajak seluruh elemen ekosistem riset nasional untuk terus merapatkan barisan. Kedaulatan teknologi mutlak dibutuhkan agar kekayaan alam Indonesia tidak sekadar diekspor mentah, melainkan diolah secara mandiri menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

"Dengan dukungan Bapak-Ibu, kita bisa menghasilkan inovasi-inovasi yang jauh lebih baik dan untuk Indonesia, agar Indonesia memiliki kemandirian teknologi baterai yang berbasis sumber daya alam nasional," pungkasnya.

Atas kontribusinya dalam pengembangan dan penguatan ekosistem industri baterai Indonesia, Aditya menerima penghargaan Indonesia Innovator Lecture 2026 beserta apresiasi sebesar Rp25 juta.

Latar Belakang Penghargaan dan Peran LPDP

Indonesia Innovator Award atau sebelumnya dikenal sebagai BPPT Innovation Award telah digelar sejak tahun 2018 oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sebagai pendorong dan motivasi bagi para pihak yang terlibat pada inovasi dan penerapan teknologi, Indonesia Innovation Award dapat diberikan kepada perorangan atau kelompok yang mampu memberikan terobosan teknologi yang nyata untuk peningkatan kapasitas industri dalam negeri. 

Dalam perkembangannya, BRIN bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) meluncurkan Program Apresiasi Talenta Riset dan Inovasi yang terdiri dari lima penghargaan kepada para ilmuwan dengan salah satunya adalah Indonesia Innovator Award.

LPDP sendiri menjadi bagian integral dalam Program Apresiasi Talenta Riset dan Inovasi karena menyalurkan hadiah apresiasi kepada para ilmuwan terpilih dengan masing-masing Prize/Award mendapat Rp400 juta, dan untuk masing-masing orasi ilmiah memorial lecture memperoleh Rp25 juta.

Direktur Utama LPDP Yon Arsal turut hadir memberikan penghargaan secara langsung di atas panggung kepada kedua ilmuwan peraih Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture. Ia mengucapkan selamat atas pencapaian kinerja luar biasa penuh dedikasi dari keduanya.

"Penghargaan ini adalah bentuk penghormatan dan rasa terima kasih negara kepada para inovator kita. Mereka adalah pahlawan masa kini yang bekerja keras, mendedikasikan waktu dan ilmu pengetahuannya demi kemajuan dan kemandirian bangsa," ungkap Yon Arsal dalam testimoninya.

Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen lembaganya dalam menjaga momentum lahirnya inovasi-inovasi baru di masa depan.

"LPDP akan terus hadir dan memastikan bahwa talenta-talenta terbaik, para peneliti, dan inovator kita mendapatkan dukungan yang memadai. Harapan kami, Indonesia Innovator Award ini menjadi pemantik semangat bagi generasi periset berikutnya untuk tidak ragu menghasilkan karya-karya terobosan yang berdampak langsung bagi masyarakat," tegasnya.

Adapun Kepala BRIN, Arif Satria, menyoroti bahwa penganugerahan Indonesia Innovator Award merupakan instrumen strategis negara untuk menumbuhkan budaya apresiasi di kalangan ilmuwan. Ia menegaskan bahwa pembentukan ekosistem riset yang sehat harus dibarengi dengan penghargaan yang layak bagi para pelakunya, sehingga memicu efek domino bagi lahirnya inovasi-inovasi baru di masa depan.

Senada dengan visi penguatan ekosistem inovasi, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menitikberatkan perannya pada peran esensial perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai rahim bagi lahirnya raksasa-raksasa industri baru. Ia menekankan bahwa target akhir dari sebuah penelitian tidak boleh hanya berhenti pada publikasi jurnal atau purwarupa semata, melainkan harus bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

"Kita tidak hanya ingin berhenti pada kebanggaan akademis. Lebih dari itu, selain produk-produk yang tentunya memiliki dampak besar, kita juga ingin melahirkan daftar perusahaan berbasis teknologi yang lahir langsung dari laboratorium di BRIN maupun di kampus-kampus kita, yang produk-produknya ditunggu oleh seluruh dunia," tegas Brian.

Indonesia Innovator Award 2026 dihadiri oleh Mendiktisaintek Brian Yuliarto, Kepala BRIN Arif Satria, Direktur Utama LPDP Yon Arsal, Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto beserta LPDP lainnya, juga para anggota Komisi X DPR RI dan para tamu undangan terkait dari kalangan akademisi maupun umum.

Berita Terkait

Navigasi Biru Nusantara: Mengawal Kedaulatan Maritim Lewat Hilirisasi Riset di RTB Vol. 10

Berita | 08-08-2026

Navigasi Biru Nusantara: Mengawal Kedaulatan Maritim Lewat Hilirisasi Riset di RTB Vol. 10

Gelar CoP Industri Kreatif untuk Tingkatkan Masa Depan Ekonomi Kreatif, LPDP Hadirkan Tokoh Perfilman dan Sastra

Berita | 06-08-2026

Gelar CoP Industri Kreatif untuk Tingkatkan Masa Depan Ekonomi Kreatif, LPDP Hadirkan Tokoh Perfilman dan Sastra

Sosialisasi Beasiswa LPDP Hadir di Berbagai Pelosok Negeri, Membuka Jalan Talenta Daerah Menuju Kampus Top Dunia

Berita | 30-07-2026

Sosialisasi Beasiswa LPDP Hadir di Berbagai Pelosok Negeri, Membuka Jalan Talenta Daerah Menuju Kampus Top Dunia