Jakarta, 10 Desember 2024 - Kata “abadi” dalam Dana Abadi di Bidang Pendidikan yang dikelola oleh LPDP membawa konsekuensi bahwa tiap-tiap rupiah yang dihasilkan perlu dijamin keberlanjutannya agar dapat memberikan manfaat antargenerasi.
Aspek keberlanjutan tersebut kemudian berusaha dihadirkan dalam hulu-hilir proses bisnis dan layanan LPDP, tak hanya diterjemahkan dalam penyaluran manfaatnya semata, namun juga dalam proses investasi dana kelolaannya yang terus mengarah pada investasi berkelanjutan dalam kerangka ESG (Environment, Social, Government) dan SDGs. ESG sendiri merupakan suatu konsep untuk menilai dampak perusahaan terhadap lingkungan, kontribusi sosial, dan tata kelola perusahaan.
Portofolio investasi LPDP kini gencar ditempatkan pada obligasi berwawasan lingkungan atau green bonds yang diterbitkan oleh beberapa emiten dan penerbitan obligasi tematik oleh pemerintah. Kepemilikan LPDP pada obligasi berwawasan lingkungan juga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur LPDP, Andin Hadiyanto dalam sambutannya membuka Seminar Investasi LPDP bertajuk “Investasi Berkelanjutan: Kolaborasi untuk Indonesia”, pada Selasa (10/12) pagi di Jakarta.
Selain penempatan dana investasi pada green bonds, LPDP juga terus melanjutkan peran yang linear dengan dukungan pembentukan talenta unggul melalui beasiswa, pendanaan riset dan inovasi teknologi ramah lingkungan, dan menjadi fasilitator kolaborasi multi-pihak antara akademisi, praktisi, industri, pemerintah, dan masyarakat sipil menciptakan ekosistem berkelanjutan.
Tentunya dampak nyata yang akan dihasilkan dari investasi berkelanjutan meliputi pengurangan emisi karbon Investasi dalam energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, atau hidro, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
Berbagai proyek berkelanjutan berbasis green sustainability ini juga berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk dari aspek pendidikan dan akses kesehatan yang lebih baik.
“Investasi berkelanjutan sering kali mendorong inovasi, baik dalam hal pengembangan teknologi baru yang ramah lingkungan atau dalam menciptakan solusi untuk tantangan sosial. Misalnya, teknologi untuk mengurangi limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik”, terang Andin.
Kita Usahakan Investasi Hijau Berkelanjutan Itu
Sebagai Operator Investasi Pemerintah (OIP) yang mengelola dana Dana Abadi di Bidang Pendidikan, LPDP memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam rangka menggali perspektif, peluang, dan tantangan investasi hijau saat ini, dihadirkan tiga ahli perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Sarana Multi Infrastruktur, dan Bank HSBC.
Ketiganya sepakat bahwa aspek ESG tengah menjadi tren global yang harus dituruti baik oleh sektor perusahaan hingga kebijakan suatu negara. Terlebih pihak konsumen juga tengah melek kesadaran untuk membeli barang dengan value penarapn ESG. Oleh karena itu peran pendanaan menjadi kunci krusial dalam memuluskan tren ini.
Senior Analis OJK Dien Sukmarini menjelaskan bahwa lembaganya terus mendukung komitmen nasional dalam investasi hijau. Ini terlihat dari langkah-langkah yang sudah dilakukan OJK sejak 2015 yang menggulirkan berbagai regulator guna mendorong zero emision.
Tak hanya itu, Indonesia nyatanya juga menjadi negara pertama yang menerbitkan green sukuk guna mendukung komitmen Indonesia dalam memerangi perubahan iklim. Ada pula social bond dan sukuk, tematik sukuk, dan berbagai pilihan tabungan hijau lainnya.
“OJK memberikan potongan biaya pendaftaran sebesar 75% untuk penerbitan obligasi hijau, dan akan diperluas untuk obligasi tematik dan sukuk lainnya. BEI juga memberikan potongan biaya pencatatan obligasi hijau sebesar 50% dan akan diberlakukan untuk obligasi/sukuk tematik lainnya.” papar Dien.
Sementara itu Aradita Priyanti selaku Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI menjelaskan bahwa pihaknya turut sebagai katalis utama dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Dengan berbagai inisiatif seperti penerbitan Green Bond korporasi pertama di Indonesia dan program SDG Indonesia One Platform, PT SMI terus mendukung pengembangan proyek hijau, seperti transportasi ramah lingkungan dan energi terbarukan.
PT SMI memanfaatkan berbagai skema pembiayaan inovatif seperti Blended Financing yang biasa digunakan untuk proyek-proyek energi terbarukan seperti geothermal dan mikrohidro. Skema ini menggabungkan pinjaman, hibah, dan investasi swasta, green bond, dan Sustainability-linked Syndicated Term Loan (SLL) yang memungkinkan pembiayaan fleksibel untuk mendukung proyek hijau.
Terakhir, paparan dari Riko Tasmaya selaku Managing Director Wholesale Banking HSBC yang menekankan pentingnya pembiayaan berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon. HSBC mengaku berperan aktif dengan menyediakan solusi seperti Green Financing dan Sustainability-Linked Loans.
Riko juga menyoroti peran strategis HSBC dalam mendukung sektor-sektor prioritas, termasuk kendaraan listrik, teknologi, dan zona industri ramah lingkungan.
“Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan adalah kunci mencapai tujuan keberlanjutan,” katanya
Seminar ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mewujudkan investasi yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia.



