Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Trem Otonom Bertenaga Baterai hasil riset ITB dan buatan PT INKA saat uji coba di Stasiun Purwosari, Surakarta
Risprostory

Menjajal Trem Otonom Bertenaga Baterai, Tonggak Sejarah Transportasi Massal Cerdas Karya Anak Bangsa

Penulis
Tony Firman
Senin,
23 Desember 2024

Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Surakarta, pemandangan langka tersaji. Sebuah trem meluncur membelah lalu lintas kendaraan bermotor dengan rute Stasiun Purwosari menuju Stasiun Solo Balapan pulang pergi. Tak jarang para warga menghentikan lajunya hanya untuk mengamati atau mengabadikan laju trem.

Ini bukan kereta Batara Kresna yang biasa melintas, melainkan trem otonom bertenaga baterai yang sedang diuji coba oleh tim Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan PT INKA. Sesuai namanya, trem beroperasi secara otonom alias tidak bergantung sepenuhnya pada kendali masinis lantaran berbasis artificial intelligence (AI).

Selama 15 hari uji coba di bulan November, trem menunjukkan performa luar biasa. Ia berhasil mengatasi kepadatan jalur yang sama dengan mobil, sepeda motor, dan pejalan kaki. Berbagai sensor yang tertanam berhasil menavigasi lingkungan ini dengan mendeteksi objek dinamis dan membuat keputusan mandiri, seperti membunyikan klakson atau melakukan pengereman darurat.

Trem ini memiliki dua mode, yaitu Tram Driving Assistance dan Full Autonomous Tram. Pada mode Tram Driving Assistance, sistem AI akan mengenali wajah masinis guna memantau tanda-tanda kelelahan, gangguan konsentrasi guna diberikan alarm peringatan. Mode ini juga mampu membatasi kecepatan trem secara otomatis saat melewati lintasan yang ramai objek.

Sementara pada mode Full Autonomous Tram, sistem akan sepenuhnya menggunakan berbagai perangkat sensor kamera, LiDAR, dan radar tanpa kendali masinis. Sensor-sensor ini sepenuhnya mengenali lingkungan sekitar trem lengkap dengan manuvernya pada jarak tertentu. Termasuk dapat mengambil keputusan mandiri dengan membunyikan klakson, melakukan pengereman, maupun akselerasi kecepatan.

Penggunaan tenaga baterai semakin melengkapi inovasi yang ditawarkan trem otonom berbasis kecerdasan buatan ini. Guna mengejar transportasi hijau ramah lingkungan.

Tonggak Transportasi Cerdas Nasional

Pengembangan trem otonom bertenaga baterai dapat diklaim sebagai terobosan pertama di Indonesia sekaligus wujud kemandirian bangsa. Riset dimulai pada 2019 secara bertahap antara ITB dan PT INKA. Prof Dr. Bambang Riyanto Trilaksono selaku Ketua Tim Peneliti ITB sekaligus Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB mengutarakan bahwa riset ini merupakan proyek kolaborasi berjudul “Pengembangan Sistem Otonom dengan Menggunakan Artificial Intelligence untuk Trem”.

Prof. Bambang yang sekaligus co-founder Pusat Artificial Intelligence ITB menceritakan bahwa mulanya proposal riset yang diajukan adalah terkait dengan self-driving car dengan memasang berbagai peralatan AI seperti sensor kamera, lidar, radar hingga GNSS (Global Navigation Satellite System).

Dari sinilah pengembangan dilakukan untuk transportasi massal pada trem yang juga akan melintasi jalanan dengan pola mixed-traffic. Sementara pengujiannya dilakukan menggunakan mobil yang dilengkapi dengan berbagai sensor cerdas itu.

“Sebagaimana trem yang beroperasi misalnya di kebanyakan negara Eropa di mana lintasan dari rail kereta atau tram itu menyatu dengan jalan raya. Jadi di sekitarnya ada kendaraan lain bahkan juga ada pejalan kaki.” paparnya.

Menariknya lagi, belum banyak negara-negara maju yang mengembangkan dan menjalankan trem otonom. Dalam studi banding yang dilakukan Prof. Bambang dan timnya, hanya di Jerman yang dilakukan oleh perusahaan Siemens Mobility dan di Tiongkok saja yang menggunakan trem otonom.

“Untuk mengatasi masalah kemacetan, transportasi massal itu sangat diperlukan di berbagai kota di Indonesia, dann satu moda transportasi yang ramah terhadap lingkungan itu sangat diperlukan. Supaya lingkungan kita menjadi lebih bersih dan bersifat modern.” pungkas Prof. Bambang.

Perbedaan dengan trem otonom dalam negeri yang sedang dikembangkan ini adalah pada jalurnya yang menggunakan rel kereta trem yang sudah tersedia sejak era kolonial akhir abad ke-19. Ditambah lagi pada tantangan kepadatan jalanan di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda dari di luar negeri.

Proses pengujian kemudian berlanjut dengan memasang perangkat sensor cerdas ini ke trem yang dikembangkan PT INKA di Madiun. Setelah dirasa cukup melakukan pengujian di perlintasan sebidang barulah dilakukan pengujian di jalur kereta yang menyatu dengan jalan raya yang ada di Madiun. Baru kemudian diboyong ke Surakarta sebagai lintasan trem sesungguhnya lengkap dengan kepadatan mixed-traffic.

Ada dua gerbong dalam satu rangkaian trem berjalan. Satu gerbong dapat menampung 40 sampai 60 orang maksimal. Meski diklaim dapat melaju hingga 40 kilometer per jam, namun di kondisi lalu lintas dapat beroperasi dengan aman antara 15 sampai 30 kilometer per jam.

Direktur Pengembangan PT INKA, Roppiq Lutzfi Azhar mengaku senang dengan kolaborasi riset trem otonom bersama ITB selama beberapa tahun belakangan.

PT INKA sendiri telah punya pengalaman mengerjakan kereta otonom yaitu LRT Jabodebek yang kini telah digunakan oleh publik. Namun mengembangkan trem otonom bersama ITB ini adalah hal baru dan menantang.

“Ini jenis trem yang memang tingkat kerumitannya lebih tinggi daripada LRT Jabodebek karena bersimpangan langsung dengan kendaraan. Nah ini yang pertama kali kita lakukan di Indonesia” ujar Rofiq saat menghadiri uji coba.

Trem otonom bertenaga baterai diperkirakan masih akan tersedia pada satu hingga dua tahun lagi. Sederet pengujian dan pengembangan berlapis terus dilakukan mengingat tingkat kerumitan yang tinggi pada transportasi campuran.

Harga finalnya dari trem otonom ini juga masih belum diketahui. Namun, ia memastikan bahwa harga bisa jauh lebih murah dibanding harus membeli trem otonom secara impor.

“Perbandingannya relatif antara mobil yang tanpa memiliki fitur safe driving dengan mobil yang memiliki kemampuan berjalan secara otonom itu sampai dua atau tiga kali lipat. Barangkali seperti itu harga final trem otonomus ini” jelas Prof. Bambang.

RISPRO LPDP Mewujudkan Kelahiran Trem Cerdas Otonom

Riset dan pendanaan adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Lahirnya trem otonom hingga sampai pada tahap uji coba ini tak lepas dari dukungan Dana Abadi Penelitian (DAPL) yang disalurkan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.

Tepatnya pada 2021, proposal berjudul “Pengembangan Sistem Otonomi Dengan Menggunakan Kecerdasan Artifisial Untuk Trem” yang diajukan Prof. Bambang beserta timnya di ITB mendapat dukungan pendanaan RISPRO Invitasi selama tiga tahun.

Total dana sebesar Rp10,447 miliar dari 2021 sampai 2023 dipakai untuk riset pengembangan trem otonom bertenaga baterai termasuk pada gelaran tahap uji coba ini. Baik ITB dan PT INKA selaku mitra industri mengapresiasi dan berterima kasih dengan dukungan pemerintah terhadap proyek penelitian transportasi massal modern. Berkat pendanaan besar seperti inilah proses riset hingga menjadi prototipe untuk pengujian bisa terlaksana.

Prof. Bambang mengaku senang dengan RISPRO LPDP yang tak cuma memberikan pendanaan, melainkan melakukan pendampingan dan pemantauan secara keseluruhan. Skema RISPRO LPDP juga memungkinkan kolaborasi lintas sektor yang mempercepat kesiapan teknologi untuk dikomersialisasikan.

“Mengucapkan terima kasih dan sekaligus penghargaan yang setinggi-tingginya kepada RISPRO LPDP yang memungkinkan autonomous tram kita dapat di uji di lingkungan yang sebenarnya. Satu pencapaian yang kami anggap cukup tinggi” ujar Prof. Bambang menutup wawancara.

Senada, Roppiq mengaku pendanaan riset besar ini tak mungkin bisa ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan sebesar PT INKA sekalipun yang punya reputasi tugas memproduksi moda perkeretaapian. Ia mewakili stakeholder mitra riset mengucapkan terima kasih besar kepada dukungan pendanaan LPDP.

“Kehadiran LPDP sangat membantu luar biasa. Untuk bisa mempercepat riset ini yang memang memerlukan pendanaan yang cukup besar” tutup Roppiq.

Pada akhirnya, uji coba trem otonom yang sukses dilakukan di Surakarta lebih dari sekadar pengembangan teknologi. Ini adalah cerminan dari visi besar Indonesia untuk menjadi negara maju berbasis inovasi. Menggunakan talenta cerdas anak bangsa untuk berkontribusi pada kemajuan bersama.

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua