Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Mohamad Afrillian Ramadhan saat berkuliah di Amerika Serikat. Dok Pribadi
Awardeestory

Perjalanan Afrillian Ramadhan, ASN Disabilitas yang Raih Beasiswa LPDP ke University of Illinois

Penulis
Dimas Wahyudi
Jumat,
5 Desember 2025

“Semenjak saya enggak bisa jalan, jujur ada rasa minder untuk ketemu orang”, terangnya. Hati siapa yang tidak terpukul saat vonis itu datang. Mohamad Afrillian Ramadhan sedang menikmati masa-masa akhir kuliahnya di Universitas Sriwijaya, ia kuliah seperti biasa, berkumpul dengan teman-teman seperti biasa, dan sesekali menghidupi hobi olahraga badminton dan berenang, namun hidup tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Tak seperti biasanya, ia terbangun dari tidur dengan kebingungan yang luar biasa, ia tak bisa menggerakkan kakinya.

“Pada saat itu saya langsung dirawat di rumah sakit dan dirawat cukup lama, sekitar satu bulan. Setelah pengecekan berbagai macam, dokter belum bisa menyimpulkan penyakit saya ini”, jelas pemuda yang akrab disapa Afri ini. Atas saran dari saudaranya, Afri dipindah ke salah satu rumah sakit di Bogor untuk mendapat perawatan yang lebih baik. 

Diagnosis dokter mengatakan dirinya menderita penyakit langka Mielitis transversa, sebuah kondisi yang menyerang sistem saraf dan membuat tubuh bagian bawahnya mati rasa akibat autoimun. Tanggal 1 Maret 2013 menjadi pagi yang mengubah sisa hidupnya, mulai saat itu, Afri harus bergerak dengan bantuan kursi roda. 

Tapi keterbatasan itu tak menghentikan langkahnya meraih masa depan. Afri kini adalah seorang pustakawan di Kementerian Pertanian dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jalan yang dipilih cukup berwarna. Ia sejatinya adalah penekun teknologi informasi, menyukai dunia akal imitasi (AI), dan lainnya. Terbaru, ia melanjutkan studi S2 di Amerika Serikat setelah lolos Beasiswa LPDP. Deretan perjalanan hidupnya ini adalah tentang tekad tekun yang tak kenal menyerah.

Bangkit, Menekuni IT, dan Menjadi Pustakawan

Perawatan yang harus dijalani selama berbulan-bulan sejak vonis membuatnya cukup tertinggal dengan teman-teman lain yang telah menuntaskan studi S1 mereka. Kekuatan dan dukungan dari keluarga terus meyakinkan Afri untuk melanjutkan hidup. Tekadnya untuk menuntaskan studi berkelindan dengan proses berdamai dan menerima keadaan diri sebagai seorang disabilitas, walau sama sekali tak mudah, Afri berhasil diwisuda dari program studi Sistem Komputer, Universitas Sriwijaya, tepat di tahun ketujuh. 

Selepas studi S1, Afri sempat membangun bisnisnya sendiri. Dasar ilmu artificial intelligence dan robotik yang pernah ia pelajari saat kuliah diaplikasikan dalam mesin 3D Printer. Setelah satu setengah tahun menekuninya, Afri disarankan keluarga untuk ikut seleksi CPNS di Kementerian Pertanian. Hasilnya, ia lolos dan bertugas memperkuat tim IT di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian/Pustaka Kementerian Pertanian, perpustakaan pertanian tertua dan terbesar se-Indonesia yang menjadi “rumah” dari pengetahuan agraris bangsa kita sejak zaman kolonial hingga detik ini. 

“Semenjak saya enggak bisa jalan, jujur ada rasa minder untuk ketemu orang”, terangnya. Pustaka Kementerian Pertanian, tak sekadar menjadi tempat Afri meniti karier, namun juga ruang baginya untuk belajar menerima diri. Dukungan dari atasannya perlahan membangkitkan kembali kepercayaan dirinya yang sempat runtuh. 

Kepercayaan atasannya yang lebih melihat kelebihan Afri alih-alih kekurangannya, membuat Afri kembali yakin pada dirinya sendiri dan membantu membuka potensi-potensi lain dalam dirinya untuk berkontribusi memperkuat tim IT di perpustakaan.

Ribuan koleksi dan referensi pengetahuan yang dimiliki Pustaka Kementerian Pertanian membuat proses pencarian informasi menjadi semakin rumit. Afri melihat peluang itu. Untuk mempercepat proses pencarian dan diseminasi informasi pertanian, Afri ingin menggabungkan data science dan artificial intelligence. 

Keinginannya ini disambut baik beasiswa LPDP, pada Agustus tahun 2025 ini, Afri resmi berangkat ke Amerika Serikat untuk studi Master di bidang Information Management, University of Illinois Urbana-Champaign.

Bukan tanpa alasan, kampus yang ia tuju adalah kampus dengan bidang ilmu perpustakaan dan informasi terbaik versi U.S. News & World Report, peringkat yang telah dipertahankan University of Illinois Urbana-Champaign hampir 30 tahun terakhir. 

“Dia menyediakan jurusan yang multidisiplin antara ilmu data dan ilmu perpustakaan, dan University of Illinois Urbana-Champaign itu memiliki salah satu disability service yang terbaik di Amerika menurut yang saya baca, karena itu saya mantap untuk meneruskan kuliah di sana”, terangnya. 

Setara Dalam Peluang, Tumbuh untuk Masa Depan

Keberadaan beasiswa LPDP untuk penyandang disabilitas adalah wujud komitmen dan keberpihakan pemerintah dalam membangun kemajuan talenta bangsa secara menyeluruh, inklusif, no one left behind. Bagi Afri, beasiswa inklusif seperti LPDP bisa menjadi pintu  untuk menunjukkan bahwa disabilitas bukan halangan untuk berkarya, belajar, dan memberi kontribusi.

Bersama keberangkatan ke Illinois, Afri memegang teguh keyakinan bahwa keterbatasan fisik tak akan membatasi semangatnya untuk terus belajar, berinovasi, dan membuktikan bahwa disabilitas bukanlah akhir, melainkan awal dari karya yang lebih bermakna.

Berita Terkait

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri