Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Voni saat memakai noken Papua di salah satu kegiatan bakar batu di kampus PHLI.
Awardeestory

Voni Blesia, PhD Biomedical Science yang Memilih Pulang dan Memajukan Pendidikan di Papua

Penulis
Tony Firman
Kamis,
23 Mei 2024

Berkuliah hingga PhD di luar negeri lalu memilih pulang memajukan kampung halaman di Papua. Tak ada keraguan sedikitpun dalam diri Voni Blesia untuk mengambil keputusan itu. Memajukan Papua seperti sudah menjadi warisan mandat bagi tiap-tiap orang yang lahir besar di sana.

Jauh hari sejak perempuan kelahiran Sorong tahun 1990 silam ini memutuskan kuliah S1, tekadnya memang telah bulat untuk memberikan kontribusi berdampak bagi tanah airnya. Voni, akrab disapa, adalah penyandang gelar doktor di bidang Biomedical Science dari University of Westminster, London dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.

Saat pulang ke Papua, ia justru tercebur ke kolam pendidikan, area yang tak kalah pentingnya untuk ditangani selain kesehatan.

Kepada tim media LPDP Voni banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya sampai saat ini. Mulai dari semangat mengejar pendidikan, angkatan pertama program “Seribu Doktor”, mengambil keahlian di bidang kesehatan, sampai menjadi pendidik generasi emas Papua.

“Saat kita bicara mengenai Papua, banyak sektor yang perlu dibenahi, tapi dua yang terlihat perlu diperhatikan adalah pendidikan dan kesehatan” ujar Voni yang disertasinya meneliti kelebihan zat besi yang dapat berdampak pada kerusakan protein-protein yang berkaitan dengan penyakit diabetes tipe-2 ini.

Pendidikan yang Mengubah Cara Pandang

Voni lahir di Sorong, Provinsi Papua Barat Daya dan hijrah ke Timika, Provinsi Papua Tengah menghabiskan masa Sekolah Menengah Pertama dan Atas di sana. Ayahnya tidak sekolah, bahkan untuk membaca pun tidak terlalu lancar. Sementara ibunya hanya sampai tamat Sekolah Dasar.

Meski dengan modal sumber daya yang terbatas itu, ayahnya bisa bekerja di lingkungan pertambangan asing dan mengembangkan diri di sana. Bertemu orang-orang dengan latar pendidikan tinggi baik dari dalam dan luar negeri membuat pemikiran sang ayah menjadi terbuka.

“Jadi pemikiran terbuka yang diperngaruhi dari lingkungan pekerjaan serta lingkungan keluarga yang baik, berharap agar anak-anaknya mampu mendapatkan pendidikan yang tinggi meskipun dia tidak sekolah. Selain itu, biarlah bapa yang berasal dari dusun dan tinggal dengan kulit kayu ini dapat menghasilkan anak-anak yang jauh lebih baik” ungkap anak bungsu dari empat bersaudara ini.

Hasilnya, kakak tertuanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Timika, kedua di sektor kesehatan di Kabupaten Biak, ketiga bekerja di New Zealand dan juga merampungkan studi PhD.

Penyakit gagal ginjal telah merenggut nyawa ibu Voni saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kala itu akses terhadap pelayanan kesehatan memang buruk sekali. Inilah yang sekaligus memantik Voni untuk memilih jurusan kesehatan sejak S1 sampai terus bertahan di S3.

“Mungkin tidak harus menjadi dokter, tapi bahkan orang-orang yang bisa membuat kebijakan itu pun sangat membantu sekali” katanya.

Mengakses pendidikan tinggi sebagai perempuan Papua juga punya makna mendalam. Ia ingin menjadi bagian dari inspirasi anak-anak Papua agar melihat sosok perempuan yang bisa berkuliah tinggi sampai ke negeri jauh.

“Bahwa kata orang kita (perempuan) selalu kembalinya di dapur, ya itu kan role kita yang lain gitu. Tapi hal itu tidak membatasi kita untuk menggapai impian kita” tegasnya.

Pindah Haluan, Dari Kesehatan Merambah Pendidikan

Papua Hope Language Institute (PHLI) menjadi tempat berkarier Voni kini pasca rampung S3 pada 2020 lalu. Di kelas matrikulasi inilah Voni berkiprah sehari-hari menjadi pengajar sekaligus kepala student life dan membantu pengurusan pemerintah.

Kelas matrikulasi adalah kelas khusus yang berisi anak-anak asli Papua lulusan SMA untuk disiapkan dalam melanjutkan pendidikan sarjana ke luar negeri.

“Kami membuka recruitment bagi setiap anak Papua mulai yang bersekolah di kota maupun yang di kampung. Kami mempost link di social media platform & siapa saja bisa mengaksesnya” papar Voni sambil menjelaskan tahap-tahap berikutnya seperti kebutuhan berkas dan sejumlah tes yang diberikan.

Para murid yang mendapatkan pendanaan dari pemerintah daerah ini nantinya akan digembleng dengan berbagai materi pembekalan terutama kemampuan bahasa Inggris dengan berjenjang. Mereka juga diajarkan tentang pembentukan rohani, kepemimpinan, pendidikan karakter, dan penekanan identitas sebagai orang Papua.

Setelah melewati program persiapan universitas ini, mereka yang mampu mendapatkan standar skor Duolingo & baik secara akademik dinyatakan layak melanjutkan pengenalan materi kuliah langsung yang diampu oleh George Fox University sebagai partner. Jadi, kuliah yang seharusnya membutuhkan 4 tahun di luar negeri menjadi 3 tahun dikarenakan 1 tahun berkuliah secara daring di Papua dengan SKS di Amerika. Yayasan tersebut juga bekerja sama dengan kampus-kampus lain seperti Coban University, California Baptist University dan lainnya.

Sekelumit tentang kegiatan di tempat kerja Voni nampaknya memang jauh dari dunia kesehatan seperti yang ditekuni dari S1 hingga S3 terakhir. Ia justru tercebur ke dunia pendidikan.

“Saya melihat seperti gear saya ini sudah berpindah dari kesehatan ke pendidikan, yang mana pendidikan juga sangat penting sekali di Papua” katanya.

Dengan perannya sebagai pengajar sains dan kesehatan inilah segala materi dan wacana pengetahuannya hingga PhD ini menjadi punya arti yang mendalam saat disampaikan kepada anak-anak didiknya di sana. Kualitas sumber daya yang tinggi ini sangat membantu dalam proses pekerjaan pendidikan saat ini.

Lagipula proses selama S1 sampai S3 juga bagian dari pendidikan itu sendiri sehingga semuanya satu kesatuan yang melengkapi.

Perjuangan dan Sarat Prestasi

Mungkin bisa berkuliah di luar negeri sejak S1 adalah sebuah tanda akan prestasi dan privilese yang gemilang. Tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan itu termasuk bahkan untuk rata-rata anak di Pulau Jawa.

Voni yang memang dikenal sebagai siswi cerdas ini adalah bagian dari angkatan pertama program “1000 Doktor” yang dicanangkan oleh Gubernur Barnabas Suebu kala itu. Seperti namanya, program ini bertujuan untuk mencetak banyak anak-anak Papua yang mengeyam pendidikan tinggi hingga doktor.

Mereka yang lolos proses seleksi dan rekrutmen kemudian dikirim mengikuti training persiapan di bawah asuhan langsung Yohanes Surya yang dikenal sebagai tokoh pendidikan peduli anak-anak Papua.

Di Karawaci, Jawa Barat itulah Voni bersama rekan-rekan Papua lainnya mendapatkan bekal pendidikan hingga akhirnya berangkat ke Coban University mengambil Ilmu Kesehatan pada tahun 2009.

Hampir empat tahun di negeri jauh bukanlah waktu yang terlalu menyenangkan bila Voni mengingat. Pasalnya, persiapan yang cuma beberapa bulan itu tak cukup membuatnya mampu berbahasa Inggris dengan lancar.

“Melihat kemampuan bahasa Inggris yang menurut saya seharusnya saya tidak bisa berangkat. Tapi ya dengan kerja keras kemudian akhirnya bisa mendapatkan hasil (bahasa) yang sangat baik” kenang Voni.

Bagaimanapun kepintaran Voni akhirnya bisa tetap bersinar di tempat yang jauh sekalipun. Terus berlatih dan beradaptasi hingga mahir berbahasa Inggris. Namanya tercatat dalam database Coban University dengan predikat cumlaude di bidang Ilmu Kesehatan saat diwisuda pada Mei 2013.

Voni sebenarnya ingin langsung melanjutkan ke jenjang S2 lagi. Namun terkendala peraturan pemerintah daerah yang belum memberi kesempatan lagi.

Setelah berhasil meyakinkan pihak-pihak pemerintah daerah terkait bahwa S2 yang ingin ia tempuh akan punya dampak kontribusi bagi perkembangan Papua, lampu hijau kembali ke Inggris menyala. Voni resmi berangkat ke London lagi dengan mengambil Biopharmaceuticals di King's College London pada 2013.

Tantangan baru pastinya ada terutama dari bahasa lagi. Ia dituntut cepat belajar aksen British sementara sebelumnya telah mati-matian belajar Inggris aksen Amerika. Belum lagi lingkungannya yang bagaimanapun harus perlu ada adaptasi segera dalam waktu cepat mengingat kuliah S2 di Inggris hanya setahun saja.

 “Jadi memang berkuliah itu sendiri susah, tapi kalau kita punya komunitas yang tepat itu pasti sangat baik untuk membantu kita survive dan berkembang” ujar Voni.

Beasiswa S3 dengan LPDP

Tak terlalu sulit bagi Voni untuk mengetahui adanya beasiswa LPDP yang mampu mewujudkan keinginannya untuk merampungkan jenjang studi S3. Ia bercerita kala itu mendengar LPDP dari beberapa rekan dan orang-orang lainnya.

“Saya dengar dari percakapan-percakapan orang seperti itu, kemudian cari-cari di internet dan kemudian apply sendiri” kenang alumni PK-50 yang seingatnya ia sendiri perwakilan dari Papua.

Alumni SMA Negeri 1 Timika ini kembali ke London pada 2016. Disertasinya tentang kelebihan glukosa dan zat besi dapat memicu diabetes tipe-2 mengantarkannya meraih gelar PhD di tahun 2020.

Penelitian disertasi Voni juga terbit dalam jurnal PubMed berjudul “Excessive Iron Induces Oxidative Stress Promoting Cellular Perturbations and Insulin Secretory Dysfunction in MIN6 Beta Cells” pada Mei 2021.

Sebagai orang Papua yang berhasil meraih pendidikan tinggi lalu mengabdi pulang, Voni memandang Papua harus berkembang dan terus memproduksi orang-orang kritis untuk pembangunan sumber daya manusia guna meraih kemajuan.

Pendidikan adalah pintu masuk bagi masyarakat Papua untuk berkembang pesat. Karena pendidikan mampu memunculkan pemikiran kritis dan itu  yang dibutuhkan Papua saat ini, termasuk dengan adanya beasiswa LPDP.

“Kita punya banyak ide-ide, tapi apakah itu kritis dengan mengambil semua pertimbangan, semua faktor, karena kita biasanya berpikir hanya pertimbangan satu ini saja, gitu.” ujar Voni.

Jadi dengan pendidikan menurut Voni adalah salah satu yang menjawab kebutuhan tidak hanya mendapat knowledge tetapi proses pendidikan itu sendiri akan amat membantu untuk mengasah proses berpikir.

“Tinggalkan kenyamanan karena kita di daerah sendiri, berhenti punya sikap kegengsi-gengsian. Harus embrace dengan kehidupan modern dan siap berkompetisi agar tidak tertinggal.” tutup Voni memberikan pesan dan harap untuk masa depan anak-anak Papua.

Berita Terkait

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Awardeestory | 05-02-2026

Tidak Semua Mimpi Harus Pergi Jauh, Kisah Medelky Anouw Membangun Pendidikan di Papua

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Awardeestory | 20-01-2026

Perjalanan Hapu Ammah, Pengabdian Pemuda Sumba Mengentaskan Malaria di Tanah Kelahirannya

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri

Awardeestory | 31-12-2025

Ulfi Rahmawati, Perempuan Ponorogo yang Menolak Berhenti: Dari Guru, Tiongkok, dan Industri