Industri tekstil dan garmen telah di titik melampaui fungsi dasarnya sebagai penyedia sandang. Pakaian sudah menjadi panggung identitas, status sosial, dan bagian tak terpisahkan dari denyut budaya populer. Di Indonesia, industri ini menyerap hingga 2,5 juta tenaga kerja baik skala industri maupun kecil dengan potensi pasar domestik yang diperkirakan mencapai Rp 119,82 triliun pada 2024.
Masalahnya, skala produksi yang masif seiring dengan budaya konsumerisme fast fashion telah berkontribusi pada pencemaran lingkungan. Limbah kimiawi dari proses pewarnaan mencemari sumber air, merusak ekosistem, dan mengancam kesehatan manusia dalam jangka pendek maupun panjang. Penggunaan pewarna sintetis yang selama ini umum digunakan kurang sejalan dengan tren global yang mengarah pada praktik industri hijau.
Diketahui Sulawesi Selatan punya sejarah panjang terkait tekstil berupa tenun dan sutra dengan mengandalkan pewarna alami yang telah eksis sejak abad ke-15 M. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, seorang peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan (Politani Pangkep) di Sulawesi Selatan tergugah untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi tekstil warisan budaya yang saat ini cenderung meredup. Bersama dengan timnya di politeknik, ia mengembangkan zat pewarna alami berbasis limbah pertanian yang dinamai ZAPA Emas (Zat Pewarna Alam Ekosistem Mandiri dan Sejahtera).
Ide Zul untuk memanfaatkan limbah pertanian sebagai pewarna alami bisa dibilang menjadi satu solusi yang mengatasi dua persoalan sekaligus; pewarna tekstil, dan sampah. Hal ini karena reputasi Sulawesi Selatan sebagai salah satu lumbung pangan nasional ternyata diiringi pula dengan permasalahan melimpahnya limbah pertanian, sebut saja biji alpukat, kulit rambutan, kulit manggis, sabut kayu secang, maupun sabut kelapa dapat ditemukan berserak di banyak tempat, mulai dari kebun, pasar, toko buah, restoran, hingga di tempat sampah rumah tangga.
“Riset ini berangkat dari keprihatinan atas sandang yang ada di Sulawesi Selatan yaitu sutera dan batik yang selama ini beberapa perajin itu mengalami kesulitan ketika akan mengikuti event (pameran) internasional yang mensyaratkan adanya teknologi hijau/berkelanjutan tanpa merusak lingkungan. Sementara, program yang mereka jalankan saat ini dalam produksi itu masih menggunakan pewarna sintetis”, jelasnya.
Keunggulan ZAPA Emas
Pemilihan bahan baku pewarna alam ZAPA Emas berangkat dari kekayaan sumber daya yang sudah ada di tengah masyarakat. Sabut kelapa yang tersebar merata di hampir seluruh wilayah, ditambah rambutan, manggis, dan alpukat yang melimpah di sejumlah kabupaten, menjadi pertimbangan utama sehingga para perajin tidak lagi harus bergantung pada pasokan dari luar dan cukup mengekstrak bahan pewarna dari lingkungan mereka sendiri, bahkan dari rumah masing-masing.
Proses pengolahan produk ZAPA Emas diawali dengan pengubahan bahan baku alami menjadi zat pewarna instan. Sabut kelapa diproses untuk menghasilkan warna cokelat yang hangat, biji alpukat memberikan nuansa krem yang lembut, sementara kulit rambutan dan manggis menghasilkan gradasi merah hingga ungu yang khas. Seluruh tahapan ini dikerjakan secara cermat oleh tim periset Politeknik Pertanian Negeri Pangkep bersama para pengrajin lokal, guna memastikan warna yang dihasilkan menarik sekaligus memiliki ketahanan yang baik.
Mahasiswa Politani Pangkep turut terlibat langsung dalam setiap tahap produksi. Mereka mempelajari proses pencucian kain, teknik mordanting sebagai persiapan agar warna dapat melekat dengan optimal dan lebih awet, hingga tahap pencelupan dan pengeringan sebagai bagian akhir dari proses pewarnaan.
Inovasi ini sekaligus mematahkan stigma bahwa pewarna alam identik dengan proses yang rumit dan memakan waktu. Dengan hanya dua hingga tiga kali pencelupan, kain yang dihasilkan sudah mampu menunjukkan warna yang tahan terhadap paparan sinar matahari maupun deterjen.
Stigma “ribet” itu juga berhasil dipatahkan mana kala produktivitas perajin justru meningkat setelah menggunakan ZAPA Emas. Waktu untuk memproses selembar kain juga hanya rata-rata hanya membutuhkan waktu satu hari, tergantung tingkat kerumitan pola. Dari segi harga, pewarna alami juga tentu berhasil meningkatkan nilai kain dari para perajin.
“Nilai ekonominya ternyata juga cukup signifikan. Kalau pewarna sintetis itu harga jual kain mereka hanya sampai di Rp95.000 per meter, sementara melalui riset ini bisa mulai dari Rp150.000 sampai dengan Rp200.000 per meter”, ungkapnya.
Wujud ZAPA Emas dikemas dalam bentuk kering sehingga lebih mudah digunakan, memiliki daya simpan yang lebih lama, serta lebih ramah terhadap lingkungan. Produk ini telah melalui uji ketahanan luntur warna sesuai standar SNI 0279:2013, dan diaplikasikan pada kain sutera serta batik dengan motif yang mengangkat kearifan lokal Sulawesi Selatan.
Dampak Nyata Dirasakan Para Perajin dan Kelompok Usaha
Nurlela, wirausahawati dari label “Cantika Sabbena”, Soppeng, Sulawesi Selatan, telah beralih ke produk-produk tekstil berpewarna alami. Dalam testimoninya, ia menyoroti nilai jual produk dengan pewarna alami yang lebih tinggi dibanding mempertahankan produk berpewarna sintetis seperti sebelumnya. “Tetap warna alam lebih mahal, kalau warna alam kita jualnya Rp200.000 per meter, kalau sintetis kita di Rp100.000 per meter. Jadi manfaat dari penelitian ini kita mandiri akan zat warna, dulunya kan kita harus beli dari Jawa, sekarang dengan penelitian ini, daun-daun, buah, atau apapun di sekitar kita bisa diekstrak menjadi zat warna”, pungkasnya.
Testimoni senada hadir dari Norma, perajin kain dari label “Batik Ta”, Makassar. Menaungi sekitar 10 orang karyawan, Norma berhasil menghadirkan peningkatan pendapatan hingga dua kali lipat melalui pewarna alami ZAPA Emas, bahkan ia mengaku dapat menguliahkan putra-putrinya hingga jenjang S1 dengan lebih ringan.
“Alhamdulillah bisa menopang kehidupan. Kita bekerja dua-tiga lembar, sudah bisa di atas satu jutaan rupiah”, terangnya sambil tersenyum.
Tidak hanya itu, proses penelitian ZAPA Emas yang juga menghasilkan dua alat produksi berupa mesin pengering dan mesin pencacah yang turut menjadikan proses pengolahan bahan baku menjadi pewarna tekstil jauh lebih efisien. Jika sebelumnya pengeringan bahan baku limbah memerlukan waktu tiga sampai lima hari, kini dapat diselesaikan hanya dalam dua sampai tiga jam. Sementara itu, proses pencacahan bahan baku yang biasanya membutuhkan tiga orang selama satu jam kini cukup dilakukan oleh satu orang saja, dengan kapasitas mencapai 12–15 kilogram per jam.
Produk batik dan sutera dengan pewarna alami ZAPA Emas kini menunjukkan peningkatan nilai jual hingga sekitar 30 persen, sekaligus memperluas akses pasar, termasuk melalui kolaborasi dengan sektor pariwisata dan perhotelan. Sejumlah mitra strategis seperti Hotel Kubah 99 Kendari dan Hotel Mercure Makassar telah bekerja sama dalam pemanfaatan pewarna alami untuk daur ulang sprei dan bedcover, serta menghadirkan “Pojok Batik” di area lobi. Mal Phinisi Point Makassar turut menginisiasi aktivitas membatik bersama pengunjung. Selain itu juga turut mengantarkan produk perajin ke pangsa pasar internasional dan peminat dari kalangan masyarakat ekonomi tinggi penikmat fashion luxury berbasis handmade.
Sejumlah unit usaha baru yang mengakomodir ZAPA Emas turut lahir seperti Unit Produksi Sutera Pewarnaan Alam Salipuri Textile di Soppeng dan Zelaras Textile Indonesia di Makassar, serta delapan UMKM baru seperti Az Zahra Coll, Nur Putri, Indah Coll, An Najah Store, Bung, Darma Coll, dan Batik MT. Hal ini menjadi bukti konkret bahwa hasil riset ZAPA Emas mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Sulawesi Selatan.
Output Maksimal dalam Penelitian
Selesainya penelitian ZAPA Emas tidak muncul dengan sendirinya. Ia merupakan bagian dari Program Katalisator Kemitraan Berdikari yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan fokus mendorong riset di sekolah vokasi yang menjawab tantangan permasalahan di daerah. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan punya peran krusial dengan mendukung penuh pendanaan riset dalam Program Katalisator Kemitraan Berdikari ini. Ini sejalan dengan tujuan Program RISPRO LPDP dalam mendorong hilirisasi riset dan inovasi agar dapat memberikan manfaat langsung bagi pembangunan nasional.
Adapun penelitian ZAPA Emas mulai dilaksanakan sejak akhir tahun 2024 dengan total pendanaan sebesar Rp 399 juta dan melibatkan tim peneliti dari Politeknik Pertanian Pangkajene dan Kepulauan, Politeknik Negeri Ujung Pandang, dan Politeknik Bosowa. Dana riset Rp 399 juta yang digunakan dalam pendanaan riset ZAPA Emas ini relatif kecil jika dibandingkan dengan output yang dihasilkan. Artinya nilai kebermanfaatannya bisa jauh lebih besar berlipat dari dana riset yang dilakukan. Terlebih hasil output-nya tidak hanya paket pewarna alami, tetapi juga prototipe dua buah mesin produksi pewarna alami yaitu mesin pencacah dan mesin pengering.
Pada 11 Desember 2025 lalu, ZAPA Emas secara resmi diluncurkan di kawasan Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di hadapan perajin batik, organisasi perempuan, mahasiswa, serta para pemangku kepentingan daerah, peluncuran itu memamerkan proses produksi secara langsung. Mulai dari ekstraksi pewarna alami, membatik, teknik colet, hingga pembuatan jilbab dilakukan secara kolaboratif.
Harga produk ZAPA Emas yang ditawarkan cukup beragam. Zat pewarna dibanderol Rp35.000 untuk paket spesial dan Rp100.000 untuk paket premium, kain hasil pewarnaan alami dijual kisaran harga Rp500.000 hingga Rp750.000 per lembar, hingga produk fashion seperti outfit yang dibanderol sekitar Rp450.000 sampai Rp1.200.000 dan jaket di rentang Rp1.500.000 hingga Rp2.600.000.
ZAPA Emas adalah contoh nyata bagaimana riset yang terarah dan kolaboratif mampu menjawab tantangan industri sekaligus mengoptimalkan potensi lokal. Diharapkan inovasi serupa melalui pendanaan riset dari LPDP dapat terus berkembang dan memperkuat kontribusi riset dalam mendorong ekonomi hijau serta daya saing produk Indonesia di tingkat global.
Editor: Tony Firman



